
Alunan musik reggae yang lumayan keras mewarnai ruangan berbau nikotin. Di antara ranjang dan perabotan lain yang tampak elegan, seorang lelaki duduk sambil mengepulkan asap rokok.
Ekspresi di wajahnya tidak menampilkan sesuatu yang baik, malah sebaliknya. Namun, memang itulah yang ia rasa.
"Keluar dari penjara, Novan langsung menemukan kebahagiannya. Tapi aku ... malah harus bertahan di sini," batin lelaki yang tak lain adalah Juna.
Usai mengembuskan napas berat, Juna membuang puntung rokok. Lantas, telentang sambil menatap langit-langit kamar. Kilasan tentang masa lalu pun kembali terulang. Hari di mana dia harus menyaksikan perpisahan orang tuanya.
Bukan hal mudah bagi Juna untuk menghadapi semua itu. Dia tahu ayahnya sangat mencintai ibunya. Namun, wanita itu memilih pergi dengan pria kaya. Katanya, sudah lelah hidup dalam kemiskinan.
Sejak saat itu, ayahnya sering sakit. Bahkan terakhir kali, ia divonis menderita jantung koroner. Kerja keras tak cukup untuk menutup biaya rumah sakit, membiarkannya mati tanpa diobati juga tak mungkin Juna lakukan. Alhasil, ia melakukan tindakan kriminal untuk mendapatkan uang secara instan.
Satu kali dua kali masih aman, tapi setelah ketiga kali ia tertangkap dan harus berakhir di penjara. Ayahnya pun mengembuskan napas terakhir satu minggu setelah dirinya ditahan.
"Terkadang ... aku merasa penjara lebih baik dari tempatku sekarang," batin Juna. Seperti pengecut yang menyesali jalan hidup, namun tidak ada usaha untuk mengubahnya.
Akan tetapi, apa yang bisa ia lakukan? Juna bukan Novan yang punya skill dan modal. Sebagai lelaki yang tak menempa pendidikan tinggi, pun terbiasa bekerja kasar, sulit baginya untuk naik dengan kaki sendiri.
Sekarang saja, dia hanya membantu usaha ibu dan ayah sambungnya. Sesuatu yang tak ia sukai, tapi sayang tak ada pilihan.
'Maafin Mama yang dulu ninggalin kamu gitu aja. Sekarang, biarkan Mama menebus kesalahan itu. Setelah ini tinggallah bareng Mama, apa yang kamu butuhkan akan Mama penuhi. Mas Bagas juga akan senang kalau kamu mau tinggal dengan kami.'
Ucapan Nimas ketika Juna masih mendekam di penjara.
Begitu baik dia dan Bagas memperlakukan Juna, bahkan juga membantu meringankan hukuman lelaki itu.
Dari sana, Juna mengira kekecewaan masa lalu akan terkikis, makanya setuju saja tinggal dengan mereka. Namun nyatanya, perlakuan baik tidak bisa menghapus luka yang telah ada. Makin hari, kekecewaan itu malah makin terasa dan menyisakan sakit yang menyesakkan.
"Ahh!" Desa-han kasar keluar dari bibir Juna. Namun, tak mengurangi beban dan segala ketidaknyamanan yang ia rasakan. Entahlah ... harus apa dia setelah ini.
Di saat Juna masih memejam dan mencoba menepis semua dari pikiran, tiba-tiba ponsel di sampingnya bergetar. Ada satu pesan dari nomor tak dikenal.
Juna mengernyitkan kening, lalu dengan agak malas membuka pesan tersebut.
__ADS_1
'Besok temui aku. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu. Pukul 07.00 malam di Kafe Purnama, meja nomor 5.'
Berkali-kali Juna membaca pesan itu, namun masih tak bisa menebak siapa gerangan yang mengirim itu.
Karena tak ingin penasaran, Juna membalas pesan tersebut dan menanyakan identitas pengirim. Kalau saja hanya salah nomor.
'Besok kamu akan tahu, Juna Putra Nugraha.'
Juna terdiam cukup lama. Seseorang di sana sangat tahu siapa dirinya, tapi dia sendiri sama sekali tak tahu siapa itu.
"Ditemui nggak ya?" gumam Juna. Cukup dilema dia dengan itu semua. Di satu sisi tak ingin datang karena bisa saja niat orang itu buruk, tapi di sisi lain dia juga penasaran. Siapa orang itu dan apa yang akan dibicarakan nantinya.
___________
Pukul 07.00 malam di depan Kafe Purnama, Juna sudah berdiri tegap dengan penampilan santainya—celana selutut dan kaus hitam polos.
Setelah semalaman berpikir, akhirnya ia memilih datang. Pikirnya, dia laki-laki dan Kafe Purnama adalah tempat umum, jadi tidak mungkin orang itu mencelakai secara terang-terangan.
Tanpa pikir panjang, Juna bergegas ke kafe tersebut. Pandangannya langsung tertuju ke meja nomor lima, dan Juna terpaku cukup lama. Di sana sudah duduk seorang wanita cantik dengan penampilan yang terkesan mewah dan elegan. Seumur-umur, Juna tidak pernah kenal dengan wanita itu.
"Hai," sapa Juna ketika sudah tiba di meja nomor lima.
Wanita yang sebelumnya fokus dengan ponsel, kini mendongak dan melemparkan senyuman.
"Duduklah!"
Juna agak gugup. Ternyata dia tidak salah tempat. Memang wanita itu yang menghubunginya semalam.
"Siapa dia? Kelihatannya bukan orang sederhana," batin Juna.
"Langsung saja ... aku membutuhkan bantuanmu untuk melakukan sesuatu. Imbalannya ... aku akan membayarmu dengan mahal. Sebutkan saja nominal yang kamu mau," ucap wanita yang tak lain adalah Sherin.
"Melakukan apa? Dan ... boleh aku tahu siapa namamu?"
__ADS_1
"Kamu bisa memanggilku Sherin."
Juna berpikir sesaat. Sekilas nama itu tidak asing baginya. Namun, dia tidak ingat pasti siapa gerangan.
"Pekerjaan yang kutawarkan nggak terlalu sulit. Cukup bantu aku dekat dengan Novan. Buat dia meninggalkan istrinya dan bertekuk lutut padaku," ujar Sherin tanpa ragu.
Tekadnya sudah bulat untuk menghancurkan rumah tangga Tiara, seperti yang Tiara lakukan padanya dulu.
Dia juga ingin membuat Novan tergila-gila padanya, lantas ditinggalkan begitu saja. Ibarat peribahasa, sekali tepuk dua nyamuk mati.
Sementara itu, Juna mulai ingat dengan siapa ia berhadapan. Sherin, adiknya Devan. Lelaki yang pernah ditipu oleh Novan. Rupanya, sekarang Sherin datang membalas dendam.
"Aku tahu kamu butuh uang. Kamu ingin pergi dari rumah ibu yang telah membuatmu kecewa."
Juna kembali terkejut. Tak disangka ternyata Sherin sudah tahu banyak tentangnya.
"Novan sahabatku." Dua kata yang akhirnya meluncur dari mulut Juna.
Bukan sekadar kepura-puraan, melainkan memang benar adanya. Novan sudah dianggap sahabat, dan rasanya tak mungkin dia berkhianat.
"Dia sudah menikah. Kalaupun masih menganggapmu sahabat, pasti hanya di mulut saja. Dia tidak akan selalu ada waktu untuk membantu kamu, karena yang diprioritaskan pasti istri, apalagi kalau nanti sudah punya anak. Terus kamu ... mau jika selamanya jalan di tempat dan terus tinggal dengan ayah sambungmu? Seseorang yang membuat ibumu lupa diri, yang secara nggak langsung mempercepat kematian ayahmu?" jawab Sherin, membuat Juna tak bisa berkata-kata.
"Kita nggak usah munafik. Zaman sekarang, yang paling penting itu uang. Kamu bisa mendapatkan semuanya dengan uang, bahkan sahabat sekalipun."
Pertahan Juna makin diuji.
"Kesempatan tidak datang dua kali. Kalaupun sekarang kamu menolak, aku bisa mencari orang lain untuk membantuku karena yang dekat dengan Novan bukan hanya kamu. Tapi kamu ... yakin bisa mencari orang lain yang mau memberimu banyak uang?" lanjut Sherin sambil tersenyum miring. Melihat diamnya Juna, dia yakin lelaki itu tak akan menolak tawarannya.
"Aku sudah lama kenal Novan, dan paham seperti apa sifatnya. Dia nggak akan mudah tergoda wanita lain, jadi kemungkinan besar kamu akan gagal," ujar Juna setelah diam cukup lama. Itu bukan sekadar alasan untuk menghindar, memang faktanya Novan demikian.
Sherin melipat tangan di dada sembari menyandarkan punggung. Lalu menatap Juna dengan lekat seraya berkata, "Gagal tidak tergantung cara mainnya. Kamu cukup mengikuti arahanku. Nggak usah memikirkan hasilnya."
Juna kembali diam.
__ADS_1
"Jadi gimana? Mau bekerja sama denganku?" tanya Sherin untuk yang kesekian kali.
Bersambung...