
Permintaan maaf Dewi pada malam itu, ternyata bukan kepura-puraan belaka, memang tulus dari hatinya yang paling dalam. Terbukti dari sikap-sikap dia selanjutnya.
Tak jarang ia berkunjung ke tempat Juna dan Sherin—di Kota Malang, dan bertemu dengan Tiara. Sapaan dan senyuman ramah pun selalu terulas dari bibirnya.
Bukan Dewi saja, Devan pula dari waktu ke waktu makin ramah. Walau tidak sedekat dulu lagi, tetapi dalam perjumpaan selanjutnya, ia mau bicara panjang lebar dengan Novan. Meski yang dibahas hanya seputar pekerjaan, tetapi sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa baiknya hubungan mereka kini.
Puncak dari sikap-sikap itu adalah malam ini, di mana Tiara mengerang kesakitan karena akan melahirkan. Dewi dan Devan yang kebetulan sedang ada di Malang, langsung meluncur menuju rumah sakit begitu mendengar kabar dari Juna. Sherin pula turut serta ke sana.
Setelah menunggu sekitar tiga jam, Dewi dan yang lain baru melihat sosok Juna, yang baru keluar dari ruang bersalin.
"Bagaimana keadaan Mbak Tiara?" Sherin yang lebih dulu bertanya.
"Dia masih kelelahan, tapi tidak apa-apa, dokter sudah merawatnya. Bayi kami juga sudah lahir, laki-laki." Novan menjawab sambil tersenyum haru.
Ya, kepada merekalah Novan berbagi kebahagiaan. Karena mau ke mana lagi? Dia sudah tidak ada orang tua, dan paman bibi Tiara pula belum tiba di sana. Mereka masih dalam perjalanan dari Surabaya.
"Syukurlah, Tante ikut senang mendengarnya," sahut Dewi.
"Aku juga senang. Akhirnya kamu menjadi ayah," imbuh Devan.
"Terima kasih banyak." Novan tak bisa berkata-kata lagi. Melihat kehadiran buah hatinya, juga kehadiran orang-orang yang dulu pernah saling membenci, merupakan anugerah yang teramat indah. Tuhan memang tidak pernah salah dalam merancang jalan untuk hamba-Nya.
"Duduklah, biar kucarikan minum. Kamu tampak lelah, Van," ujar Juna, yang kemudian ditanggapi dengan anggukan oleh Novan.
Sembari menunggu Juna yang pergi mencari minum, Novan berbincang dengan Dewi dan sesekali juga Devan. Tak seperti biasa yang membahas pekerjaan, kali ini yang dibahas seputar anak yang lahir beberapa saat yang lalu.
Cukup lama Dewi dan yang lain sekadar bertemu dengan Novan. Hampir satu jam, barulah dokter keluar dari ruang bersalin. Dia mengatakan bahwa kondisi Tiara sudah lebih baik dan bisa dijenguk secara bergantian.
"Van, boleh kan kalau Tante dulu yang menjenguk?" tanya Dewi sebelum memasuki ruangan.
"Iya, Tante."
__ADS_1
Usai mengulas senyum, Dewi melangkah memasuki ruangan, menghampiri Tiara yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Sementara bayinya, tampak tidur di dalam inkubator.
"Tiara!"
Tiara menoleh. Setelah beradu pandang dengan Dewi, ia pun tersenyum. Terlebih saat wanita paruh baya itu duduk di sampingnya.
"Bagaimana keadaan kamu?"
"Masih lemah, Tante. Tapi, kata dokter nggak ada yang serius. Terima kasih banyak ya, Tante udah menyempatkan diri ke sini," jawan Tiara dengan suara pelan, karena kondisi tubuhnya memang masih lemah.
"Nggak perlu berterima kasih gitu. Kebetulan Tante lagi jenguk Sherin dari kemarin." Dewi beralih menatap anak Tiara. "Anak kamu sangat tampan dan juga sehat. Selamat, ya," sambungnya.
Perasaan Tiara makin menghangat, "Sekali lagi makasih ya, Tante."
Dewi mengangguk-angguk. Tatapannya berubah penuh rasa bersalah.
"Maafkan Tante ya. Anak kamu yang dulu___"
"Ya, Tante mengerti. Nggak akan membahas lagi," sahut Dewi. Ia pun diam dan menyimpan sendiri rasa bersalahnya.
Tak ingin canggung dalam keheningan yang begitu lama, Dewi kembali membuka suara, yang tentu saja tidak berhubungan dengan masa lalu.
"Ngomong-ngomong ... kamu udah ada persiapan nama untuk dia?"
"Gandhi, Kalandra Gandhi. Itu nama yang udah aku dan Mas Novan persiapkan sejak jauh-jauh hari."
"Nama yang bagus, pasti serasi dengan wajahnya yang tampan," puji Dewi, dan lagi-lagi Tiara berterima kasih.
Setelah sepuluh menit berlalu, Dewi pamit keluar dan berganti Sherin yang masuk. Tak jauh beda dengan ibunya, Sherin juga menanyakan keadaan Tiara dan kemudian memberikan ucapan selamat atas lahirnya Gandhi. Untuk kesekian kalinya, Tiara kembali mengucapkan terima kasih.
"Kamu sendiri gimana sekarang? Kata Mas Novan, kamu dan Juna udah mau punya anak lagi," ujar Tiara.
__ADS_1
"Ya, emang udah ada rencana sih. Dan ... bulan ini tamuku juga belum datang, udah telat dua minggu. Tapi, nggak tahu, sekedar telat atau udah ada isinya. Belum berani berharap lebih, takut kecewa," jawab Sherin sambil mengusap-usap perutnya yang ramping.
"Mudah-mudahan beneran ada isinya, sesuai harapan kalian."
"Amiin, Mbak." Mata Sherin berbinar, membayangkan ada buah hati yang benar-benar tumbuh dalam rahimnya. Ahh, pasti sangat senang.
Setelah cukup lama berbincang, Sherin juga pamit keluar dan Novan-lah yang kembali masuk ke ruangan. Tidak dengan tangan kosong, melainkan sambil membawa makanan dan obat.
"Kamu makan dulu ya, setelah itu minum obat," ucap Novan dengan lembut. Makin besar saja cinta dan kasihnya untuk sang istri. Wanita itu telah bertaruh nyawa demi melahirkan buah hatinya. Sebuah hutang yang tidak akan bisa ia bayar dengan uang, sebanyak apa pun itu.
"Iya, Mas."
Dengan telaten, Novan membimbing Tiara untuk setengah duduk. Lantas menyuapinya tanpa buru-buru.
Usai menghabiskan makanan dan meminum obatnya, dokter menyarankan Tiara untuk menyusui Gandhi.
Tiara tak keberatan. Meski kondisinya masih lemah, tetapi ada kebahagiaan tersendiri ketika melakukan itu. Menatap Gandhi dalam dekapannya, juga merasakan kehangatan dari bibir mungilnya, membuat Tiara nyaris menangis karena haru. Dua kali hamil, dua kali melahirkan, namun baru kali ini dia merasakan nikmatnya menyusui. Baru kali ini pula dia bisa menatap manik indah sang buah hati, pun menyentuh pipi lunaknya yang hangat.
Terima kasih, Tuhan. Dalam jalan berliku yang Engkau berikan, ternyata ada anugerah yang teramat indah. Dalam lena dosa yang digeluti tanpa mengingat-Mu, masih ada kasih dan ampunan yang tak bisa diukur dengan lautan, bahkan dengan dunia dan seisinya.
"Sayang, keluarkan air mata itu, jangan ditahan. Aku tahu apa yang kamu rasakan," ujar Novan sambil memeluk Tiara.
Usai mendengar ucapan Novan, Tiara tak menahan lagi. Ia tutup wajahnya dengan lengan, lantas menumpahkan tangis yang sedari tadi begitu sesak di dada.
Sementara Novan, memejam demi menghalau air mata yang juga ingin melesak keluar. Selain tak tega melihat Tiara, ia juga teringat akan Nala, sang adik yang sudah lama tiada.
Detik itu, selain bahagia yang membuncah, juga ada luka yang menganga di dalam hati keduanya.
Memang ... ada bayaran mahal untuk setiap kesalahan yang dilakukan oleh setiap manusia. Namun, ada buah manis pula bila rela bersabar dan memperbaiki apa yang telah rapuh.
TAMAT
__ADS_1