Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Sherin—Wanita dengan Hati yang Amat Rapuh


__ADS_3

Sherin merasa dongkol, bahkan tangannya sampai mencengkeram tali tas. Namun, bibirnya tetap mengulum senyum lebar. Dia tak mau menunjukkan kemarahannya, karena sama saja dengan menyerah di tengah jalan.


"Kamu luar biasa. Sangat beruntung wanita yang menjadi istrimu, zaman sekarang udah jarang lelaki yang memegang teguh kesetiaan. Aku saja ... gagal menemukan lelaki yang kayak gitu," ucap Sherin sambil tersenyum masam. Tatapan pula tampak sendu, seolah ingin menunjukkan betapa rapuh hatinya kala itu.


Novan sempat menatapnya sekilas. Tak ayal dia juga teringat dengan pengkhianatan Karel dulu terhadap Sherin. Kasihan memang, tetapi mau bagaimana lagi, itu juga di luar jangkauannya, dan lagi sudah masa lalu.


Masa sekarang tinggallah dirinya yang sudah menikah dengan Tiara. Apa pun alasannya, tak akan membuka celah untuk wanita lain lagi, sekalipun itu Sherin.


"Jadikan pelajaran aja, agar ke depannya lebih selektif lagi dalam memilih pasangan." Novan menyahut dengan tatapan yang sudah dialihkan ke arah nampan.


"Iya, kamu benar." Sherin menarik napas panjang. "Ya udah, sekali lagi makasih untuk kemarin. Aku ... langsung pulang aja, kayaknya udah malem juga ini. Kapan-kapan aja aku ke sini lagi. Duluan ya, Van," sambungnya.


"Iya." Singkat saja, bahkan senyum juga hanya sekilas.


"Siapa barusan, Bang? Kayak akrab banget, nggak bahaya nih?" goda Ferdi setelah Sherin menjauh dari mereka.


Novan mengedikkan bahu, "Adiknya temanku dulu. Nggak tahu lah kenapa tiba-tiba ramah lagi, padahal udah lama nggak interaksi."


Ferdi hanya mangut-mangut. Ekspresi Novan yang berubah masam membuatnya enggan untuk bertanya lebih lanjut. Meskipun akrab, tetapi lelaki itu adalah majikannya. Tidak sopan rasanya jika terus bertanya, sementara sang majikan terlihat enggan.


Pada saat yang sama, Sherin sudah tiba di depan pintu kafe. Seperti yang dia harapkan, Tiara muncul di sana—walau sebenarnya berharap Tiara datang ketika dirinya sedang berbincang dengan Novan. Namun, tak apalah. Bertemu dalam keadaan seperti itu pun masih ada kesempatan untuk membuat kesalahpahaman.


"Tiara!"


"Sherin!"


Keduanya saling bergumam, menyebutkan nama masing-masing. Sama seperti Tiara, Sherin juga mengernyitkan kening, berlagak terkejut dengan pertemuan itu.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Sherin sambil melipat tangan di dada, menampilkan keangkuhan seperti biasanya.


"Kamu sendiri?" jawab Tiara dengan tenang, meski dalam hati sudah tak nyaman.


"Kamu tahu kan bisnis keluargaku itu nggak kecil, jadi jangan heran dong kalau lihat aku di kota yang beda. Soalnya ... mengepakkan bisnis di tempat baru, itu udah menjadi keseharianku."


"Oh." Tiara hanya menjawab singkat.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku. Kenapa kamu ada di sini?" tanya Sherin, sengaja menahan Tiara yang hampir melangkah pergi.

__ADS_1


"Aku tinggal di kota ini."


Sherin tertawa sumbang, "Dunia sempit banget ya. Kayak nggak ada manusia lain aja, lagi-lagi ketemunya sama kamu."


Tiara tersenyum simpul, "Iya, sempit. Sesempit pemikiran manusianya."


Sherin melangkah mendekat. Lantas, memegang bahu Tiara sambil berbisik di telinganya, "Jangan merasa di atas angin, belum tentu sesuatu itu terus menjadi milikmu. Sesekali tengok kembali ke masa lalu, apa yang udah kamu tabur ... itulah yang akan tuai sekarang."


Tanpa menunggu jawaban Tiara, Sherin langsung melenggang pergi. Membiarkan Tiara terdiam sendiri dengan bermacam pikiran.


"Mas Novan bukan Karel, mereka jauh berbeda," batin Tiara, meyakinkan diri bahwa suaminya tidak mungkin menodai pernikahan mereka.


Dengan perasaan yang agak kacau itu, Tiara berjalan memasuki kafe. Senyumnya tampak masam ketika Dika menyapanya. Beruntung kala itu banyak pengunjung, jadi Dika tidak curiga dengan ekspresi yang ia suguhkan.


Sesampainya di dapur kafe, mata Tiara tak hanya menatap suaminya, melainkan juga kotak makan bening yang berisikan kue. Sekali tebak, Tiara langsung tahu dari mana asal muasal makanan itu—Sherin.


"Tunggu sampai kita pulang, aku bisa menjelaskan semuanya," bisik Novan sambil memeluk istrinya sekilas. Dia sudah menduga bahwa di depan barusan pastilah bertemu Sherin, terbukti dari gestur wajahnya yang masam.


"Tenang saja. Aku percaya sama kamu, Mas." Tiara tersenyum.


Bukan cinta buta yang menjadi alasan kepercayaannya, melainkan fakta yang ada. Novan sudah terbukti menjadi pasangan yang baik selama ini, sedangkan Sherin selalu menunjukkan ketidaksukaan semenjak tahu tentang skandalnya bersama Karel. Orang dengan kepintaran standar pun pasti paham, mana yang salah dan mana yang benar.


Dua bulan sudah waktu berjalan. Selama itu pula rencana Sherin hanya jalan di tempat. Bukan sekali dua kali dia mencoba mendekati Novan, melainkan berulang kali. Namun sayangnya, tak ada hasil yang memadai. Selalu penolakan yang ia dapat.


Hal yang sama juga terjadi ketika dirinya membuat Tiara salah paham, berjuta hasutan sudah ia lontarkan, tetapi Tiara tetap mempercayai Novan. Sekali saja Sherin tak pernah berhasil membuat mereka bertengkar.


Lelah? Menyerah? Tentu tidak.


Kini malah bukan hanya dendam yang berkobar dalam hatinya, melainkan juga ambisi untuk kepuasan hatinya sendiri. Rasa kecewa karena dikhianati Karel, membuatnya menginginkan kesetiaan Novan.


"Udah dua bulan, dan tetep gagal. Kamu yakin masih mau ngelanjutin ini?" tanya Juna yang saat itu sedang duduk berhadapan dengan Sherin.


"Tentu saja."


"Aku nyerah aja." Juna mengambil kantong plastik hitam dari dalam tas kecilnya. "Uang yang pernah kamu kasih, aku balikin. Aku nggak bisa bantu apa-apa lagi," lanjutnya.


"Aku nggak bisa terima ini. Kita udah deal kerja sama. Kamu harus mau bantu aku sampai selesai," bantah Sherin. Sama sekali tak menerima keputusan Juna.

__ADS_1


"Tapi, hasilnya akan tetep kayak gini. Apa kamu nggak ngerasa sayang, buang-buang waktu untuk sesuatu yang sia-sia? Apa nggak lebih baik lupakan saja dendam itu, dan memanfaatkan waktu untuk menata sendiri hati kamu?"


"Tujuanku sekarang bukan hanya dendam. Dan kali ini ... kupastikan akan berhasil." Sherin menjawab dengan sungguh-sungguh.


"Maksudmu?" tanya Juna.


"Novan adalah lelaki yang setia. Aku butuh lelaki seperti dia untuk menjadi suamiku."


Jawaban Sherin membuat Juna tersentak. Sekian lama sering bersama, tak sedikit pun menduga bahwa Sherin akan menginginkan Novan secara nyata. Dia tak rela! Bukan karena Novan sudah menikah, melainkan karena dirinya sudah menyimpan rasa ... cinta. Dia menginginkan kebahagiaan wanita itu, dan tentunya tidak mungkin ada jika bersama Novan.


"Kamu mencintainya?" tanya Juna sambil menahan kecemburuan.


"Aku nggak tahu ini apa namanya. Yang jelas aku ingin dia menjadi suamiku. Aku ingin suami setia seperti dia."


"Jika dia berhasil menjadi milikmu, artinya dia bukan lagi lelaki yang setia," ucap Juna. Cukup benar dan masuk akal.


"Setidaknya lebih setia dibanding lelaki kebanyakan."


"Lelaki kebanyakan atau lelaki yang pernah menjadi suamimu?" sahut Juna, sukses membuat Sherin membeliak.


"Kamu nggak bisa menilai semua lelaki, hanya berdasarkan pada satu-dua lelaki saja," lanjut Juna.


"Tapi___"


"Dan lagi ... berpikirlah dengan jernih. Apa yang akan kamu dapat jika berhasil menikah dengan Novan? Predikat pelakor dan kekecewaan kakak serta orang tuamu, itu yang pasti. Lain dari itu, apakah ada lagi? Yang kiranya amat sangat baik dan bisa menutupi dua hal tadi?" pungkas Juna.


Sherin terdiam.


"Carilah lelaki lain. Di luar sana masih banyak yang jauh lebih setia dibanding Novan. Bahkan, bisa mencintaimu dengan tulus dan menerima anakmu. Sayangi dirimu sendiri, Sherin. Kejarlah kebahagiaan yang tidak membawa luka. Baik bagi dirimu atau orang terdekatmu," ucap Juna lagi.


Makin ke sini ia makin paham siapa Sherin—wanita dengan hati yang amat rapuh. Dia berdiri di atas kekecewaan dan luka yang dibawa dari masa lalu. Dia melangkah ke depan, tetapi hati dan pikiran masih tertinggal di masa silam.


Satu cara untuk membuatnya pergi dari belenggu itu hanya satu, yakni menuntun dengan pelan dan menunjukkan bahwa cinta sejati masih bisa dicari. Memberinya kisah kasih yang lebih indah dibanding cerita masa lalunya. Menempanya menjadi wanita yang mampu mengikhlaskan segala hal yang pernah terjadi.


Dengan begitu, maka dendam dan kebencian akan menguar dari dalam dirinya. Dan Juna ... akan menjadi sosok yang selalu siap menuntunnya.


"Kalaupun kamu nggak berakhir denganku, setidaknya berakhir dengan lelaki yang benar-benar mencintaimu. Aku yakin kamu bukan wanita jahat, hanya saja kegagalan membuatmu sedikit tersesat," ucap Juna dalam hatinya. Kini ia cukup sadar, siapa Sherin dan siapa dirinya. Jadi, tak lagi memaksakan prinsip 'cinta harus memiliki'.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2