Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Menangislah!


__ADS_3

Bibir Sherin mengatup rapat, tak membalas sedikit pun kalimat Juna yang panjang lebar. Malah sesaat kemudian, air matanya yang menetes perlahan.


Juna salah tingkah dibuatnya. Niat hati ingin mengusap dan menenangkan, tetapi ada rasa canggung. Kedekatan mereka selama ini sebatas mengobrol, tidak pernah ada kontak fisik meski sekadar antar tangan. Jadi, lancang rasanya jika sekarang Juna menyeka air mata di pipi itu.


Namun, di sisi lain Juna tak tega juga membiarkannya. Dalam keadaan menangis begitu, rapuhnya hati Sherin makin jelas terlihat. Cinta dan kepedulian terus merongrong, memaksanya untuk bangkit dan mendekap erat wanita yang dicintainya.


"Aku tulus mencintainya. Aku nggak peduli status sosial dia gimana, pandangan orang lain tentang hubungan kami gimana. Yang kutahu cuma aku mencintainya dan keluargaku menerima baik dirinya. Begitupun dengan Tiara. Aku dan keluargaku menerima dia tanpa mempersalahkan latar belakangnya. Tapi, kenapa begitu mudahnya mereka berkhianat? Apa salahnya aku, Juna? Apa kurangnya aku? Kenapa mereka setega itu sama aku?"


Suara serak Sherin di tengah tangisnya yang makin menjadi, membuat tak bisa menahan diri lagi. Persetan dengan canggung dan lancang, yang penting saat ini hanyalah menenangkan.


Tanpa ragu, Juna bergegas bangkit dan mendekati Sherin. Lantas, menyeka air mata yang membasah di wajah Sherin.


Tidak ada penolakan. Sherin biarkan Juna mengusap habis air matanya, tak keberatan meski tangan lelaki itu terasa kasar di pipi mulusnya.


Saat ini dia memang butuh seseorang, entah untuk bersandar atau sekadar berbagi. Ada yang tulus—keluarganya, tetapi Sherin tak mau. Bukan hanya karena jarak yang saat ini cukup jauh, melainkan juga karena memikirkan ibunya. Sherin tak mau membebani wanita yang tak lagi muda itu.


"Menangislah jika itu bisa membuatmu lega. Wajar kok menangis itu. Jangankan kamu yang perempuan, aku yang laki-laki aja kadang juga menangis," ujar Juna sambil duduk di sebelah Sherin, juga mengusap pelan bahu wanita itu.


Terkadang, beban memang terasa ringan jika dilampiaskan dengan air mata. Mungkin, Sherin juga butuh itu. Jadi, biarlah dia menangis tanpa rasa malu.

__ADS_1


"Di sini sakit, Juna. Sakit." Sherin bicara sembari memegang dadanya sendiri.


Sebelum Juna sempat menjawab, Sherin sudah menyandarkan kepala di dadanya. Menumpahkan tangis di atas kemeja yang ia kenakan kala itu.


"Menangislah!" ucap Juna pelan, seraya merangkul tubuh Sherin dengan erat.


Dalam posisi yang seperti ini, angan-angan Juna melambung tinggi, mengharapkan kebersamaan yang nyata. Sejenak Juna melupakan perbedaan kontras di antara mereka.


"Aku belum bisa menerima semua ini," bisik Sherin dengan suara yang makin serak.


"Aku paham dengan apa yang kamu rasain. Nggak perlu dipaksa, Sherin, pelan-pelan aja. Aku yakin kamu pasti bisa," jawab Juna tanpa mengurai pelukan.


"Aku tahu itu sulit, tapi percayalah, pasti bisa. Sibukkan hati dan pikiran kamu dengan hal-hal lain yang lebih berguna. Seiring berlalunya waktu, pasti hatimu akan menerima sendiri atas apa yang telah terjadi. Aku bicara begini bukan mengutip kata-kata bijak, tapi berkaca pada hidupku sendiri. Kamu juga paham kan, cerita hidupku kayak gimana? Sulit untuk menerima semua itu, tapi ... akhirnya aku bisa. Aku yakin kamu juga bisa," sambung Juna.


Dia tidak berdusta. Memang saat ini dia sudah bisa menerima sikap ibunya di masa lalu, berikut ayah sambung yang sekarang ada di dekatnya. Hanya saja ... Juna tidak menjelaskan bahwa Sherin-lah yang banyak berperan dalam semua itu. Ya, cintanya untuk Sherin yang membuat Juna mampu meredam benci dan kecewa yang bertahun-tahun hinggap dalam hatinya.


Sejatinya memang seperti itulah manusia. Benci dan kecewa akan menghilang dengan sendirinya jikalau menemukan sesuatu yang lebih indah dari akar kebencian itu sendiri. Lantas jika sebaliknya, benci dan kecewa pastilah menjelma dendam yang membara.


"Tapi, aku tetap nggak bisa terima selama Tiara masih bahagia. Dia yang mengkhianati aku dan Mas Shaka, tapi kenapa nggak ada karma untuk dia? Malah sekarang mendapatkan lelaki yang setia seperti Novan. Apa ini adil? Apa karma nggak berlaku untuk dia?" Sherin mendongak. Air matanya masih berurai meski intonasi suaranya meninggi.

__ADS_1


"Aku nggak bermaksud membelanya, tapi ... tahun-tahun sebelumnya, dia sudah melewati sesuatu yang nggak mudah."


Sherin mengusap air matanya sendiri, lalu memandang Juna dengan tatapan menuntut. Ya, dia sudah tak sabar mendengar penjelasan yang lebih rinci dari lelaki itu.


"Dia menanggung cacian dan hinaan yang nggak sedikit, bahkan paman dan bibinya aja nggak menerima dia lagi. Akhirnya dia memilih pergi dari Surabaya dan tinggal di sini. Dalam keadaan hamil tanpa suami, tanpa siapapun, dia berjuang keras untuk menyambung hidupnya, juga hidup anaknya kelak. Tapi ... Tuhan berkata lain. Anak yang akan menjadi satu-satunya keluarga, malah berpulang sebelum waktunya," ungkap Juna. Ia ceritakan jalan hidup Tiara, seperti yang pernah Novan katakan padanya.


Sherin tertegun. Dia masih tak paham dengan kalimat 'berpulang sebelum waktunya'.


"Karma itu ada, tapi ampunan juga ada. Terkadang sesuatu yang baik terjadi karena seseorang telah menyadari kesalahan dan berusaha memperbaiki diri, bukan karena tidak ada karma sama sekali," ujar Juna lagi.


"Apa maksudmu berpulang sebelum waktunya?" tanya Sherin.


"Meninggal." Juna menarik napas panjang, "Tiara jatuh di kamar mandi, pendarahan dan pingsan. Tetangga baru tahu esok harinya. Udah terlambat ... anak dalam kandungannya udah tiada," lanjutnya.


Bulu kuduk Sherin serasa meremang. Tak terbayangkan olehnya bahwa anak Tiara dengan Karel akan meninggal.


"Sherin kamu baik-baik aja?" tanya Juna, agak khawatir melihat wajah Sherin yang mendadak tegang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2