
Guyuran hujan yang memeluk bumi pagi ini, menambah hawa dingin yang biasanya menjadi ciri khas Kota Malang.
Dalam balutan piyama panjang bermotif panda, Tiara duduk sambil menyeruput secangkir kopi yang baru saja ia buat. Matanya tak lepas dari kaca jendela yang menampilkan suasana luar. Bagaimana dedaunan basah, juga air yang menggenang di halaman rumah. Syahdu dan menyisakan pilu tersendiri baginya.
Lima tahun silam, di tengah hujan yang mengguyur kota pada tengah malam, dia merintih sakit seorang diri. Tidak ada siapapun yang menemani, bahkan alam saja seakan enggan memberi bantuan untuknya.
Dalam kesakitan yang teramat sangat, Tiara hanya meringkuk di dalam kamar mandi. Membiarkan darah mengalir di antara kedua paha, bersimbah dan menggenang di lantai. Mau bagaimana lagi, dia sudah tak kuat berdiri. Mau meminta bantuan, ponselnya juga tertinggal di kamar.
Berawal dari buang hajat, Tiara terpeleset ketika hendak keluar. Lantas ia terjatuh, pantatnya menghantam lantai cukup keras. Setelah itu, rasa sakit menyerangnya tanpa ampun. Ia lemas dan kesakitan, hingga kepala sakit dan mata berkunang-kunang. Dalam keadaan yang seperti itu, Tiara malah dihadapkan dengan darah yang mengalir deras.
Ketakutan dan keterkejutan membuat sakitnya makin parah. Sampai akhirnya semua gelap dan ia tak ingat apa-apa lagi.
"Anak Anda berhasil kami keluarkan, tapi maaf, tidak bisa diselamatkan lagi."
Pernyataan dari dokter kala itu membuat Tiara berteriak histeris. Anak yang dia nanti kehadirannya, ternyata berpulang sebelum ia sempat melihat dunia.
Ya, menurut keterangan dokter, anaknya meninggal karena pertolongan datang terlambat. Dirinya pun kala itu tidak sadar sampai dua hari.
Namun, mau menyalahkan siapa. Dia memang tinggal sendirian. Ia pingsan tengah malam, tetangga mana yang akan tahu. Hujan begitu deras, rintihan dan teriakannya tenggelam dalam gemuruh itu.
"Bahagialah dalam pelukan Tuhan, Nak," batin Tiara dengan mata yang terpejam.
Terlintas kembali hari paling kelam itu. Di mana dia dihadapkan pada sebentuk tubuh mungil yang pucat pasi. Tubuh yang akhirnya disemayamkan di dalam tanah.
"Ah!" Setetes air mata Tiara jatuh, menembus kelopak yang berusaha ditutup ratap.
Tangis itu, selalu gagal ia tahan setiap kali mengingat anaknya. Bayi kecil yang harusnya tumbuh menjadi bocah cantik, nyatanya dipanggil Tuhan sebelum ia melihat senyumannya atau sekadar menatap matanya.
__ADS_1
Sejak itu, Tiara kembali berandai-andai. Kalau saja ia tidak bodoh, sudah tentu anak yang dikandung adalah milik Shaka, di tengah pernikahan yang sah. Kejadian semacam itu pun tidak akan terjadi, karena ia akan hidup berkeluarga. Kalaupun ada sesuatu, pertolongan tidak akan datang terlambat.
Tetes air mata Tiara jatuh makin deras, membasahi pipi dan juga punggung tangan tempat ia menyeka. Pada malam itu, dia layaknya wanita hina. Yang sendirian terkapar tanpa seorang pun yang tahu.
"Ah, tidak. Bukan hanya malam itu. Sejak aku merelakan kesucianku direnggut Karel, saat itu pula aku sudah hina," batin Tiara.
Di luar, hujan masih deras. Perlahan Tiara membuka mata, menatap jam dinding yang masih menunjuk di angka enam. Satu jam lagi dia berangkat kerja, menjadi karyawan di sebuah butik besar yang tak jauh dari kontrakannya.
Selama lima tahun hidup di Malang, memang tak banyak perubahan dalam segi materi. Mau bagaimana lagi, setelah kehilangan anak, mentalnya agak terganggu dalam waktu yang cukup lama, sekitar dua bulan. Jadi, tabungan habis untuk makan di kala kalut saat itu. Masih untung biaya rumah sakit digratiskan, mengingat kondisi materi yang jauh di bawah standar.
"Pasti ini yang terbaik. Mungkin, dia terlalu suci untuk menanggung aib di kemudian hari. Karena serapat apa pun aku menyembunyikan asal usulnya, nggak menutup kemungkinan bisa terbongkar juga," ucap Tiara, berusaha menenangkan hatinya yang kacau karena hujan, yang otomatis mengingatkannya pada hari kelam itu.
Tak ingin terus larut dalam kesedihan, Tiara pun beranjak dan membersihkan diri. Bersiap-siap untuk kerja karena hujan tidak membuat butik tutup.
Setelah membalut tubuhnya dengan pakaian rapi, Tiara berangkat kerja dengan menggunakan payung. Ia berjalan kaki, menapaki jalanan yang terdapat banyak genangan air.
"Maaf, aku tidak sengaja. Aku___"
Lelaki yang menabrak Tiara, menunduk dan hendak menolong. Namun, ucapan dan gerakan tangan itu terhenti seketika saat melihat siapa yang dia tabrak. Tiara, wanita yang pernah ia kenal, yang beberapa waktu sering ia pikirkan. Kini, begitu mudah Tuhan mempertemukan mereka kembali.
Tak beda jauh dengan lelaki itu, Tiara juga terkejut. Meski lima tahun lamanya tak pernah bersua, namun Tiara masih hafal dengan wajah itu.
"Tiara, ini beneran kamu?" Lelaki itu mengulum senyum. Lantas jongkok sembari mengulurkan tangan untuk membimbing Tiara bangkit.
Ia melupakan hujan yang tadi dihindari dengan berlari-lari. Bertemu Tiara, ia tak keberatan meski harus basah kuyup.
Akan tetapi, Tiara tak begitu saja menerima uluran tangan itu. Ia memilih bangkit bangkit sendiri, lalu menunduk ketika sadar dipandang terlalu lama. Tiara tak suka, bahkan pertemuan ini pun. Jika boleh memilih, dia tak mau lagi bertemu dengan mereka yang pernah melihat masa lalunya.
__ADS_1
"Tiara___"
"Kamu kenapa ada di sini?" pungkas Tiara dengan cepat, tanpa memedulikan lelaki yang kini makin basah karena terguyur hujan.
"Aku ... aku ikut teman ke sini. Dia menawarkan pekerjaan yang menggiurkan. Nggak disangka kamu juga ada di sini," jawabnya agak gugup. Perlu usaha keras baginya untuk menahan kebahagiaan yang membuncah.
"Oh."
"Kamu ... mau ke mana?"
Tiara menarik napas berat, "Kerja."
"Kerja di mana? Terus ... anak kamu sama siapa?"
Mendengar pertanyaan itu, Tiara mencengkeram erat gagang payung yang sedari tadi ia pegang. Perasaan yang belum sempat tenang, kembali berantakan karena pertanyaan barusan. Sialnya, lelaki itu tak menyadari hal tersebut.
"Aku buru-buru, permisi!" ujar Tiara sesaat kemudian.
Lantas, ia melangkah pergi meninggalkan lelaki itu seorang diri.
"Apa ada yang salah dengan pertanyaanku barusan?" gumamnya sambil memandang punggung Tiara yang makin jauh.
Rasa bahagia barusan pun kini berangsur hilang, berganti cemas dan was was. Tak tahu datangnya dari mana, tiba-tiba ada firasat yang mengatakan bahwa hidup Tiara sekarang tak semudah yang ia bayangkan.
"Nggak tahu apa yang terjadi sama kamu, tapi dengan pertemuan ini ... mungkin kita bisa saling berbagi. Seperti dulu, berdiri di kapal yang sama demi melawan badai yang ada, karena sekarang ... hidupku juga nggak mudah." Lelaki itu menunduk. Membiarkan setetes air matanya jatuh dan luruh bersama hujan.
Kehilangan ... nyatanya mengubah dia menjadi lelaki yang cengeng.
__ADS_1
Bersambung...