Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Penyakit yang Disembunyikan Shaka


__ADS_3

Dalam lembaran kertas tersebut, tertulis jelas hasil pemeriksaan penyakit yang diderita Shaka. Ternyata, dia mengidap sifilis—penyakit kela-min yang biasa menular melalui aktivitas sek-sual.


Dengan adanya penyakit itu, sudah cukup menjelaskan bahwa Shaka bukanlah lelaki yang menjaga keperjakaannya. Bisa dipastikan bahwa dia sudah pernah melakukan hubungan intim, dan mungkin dengan beberapa wanita yang berbeda.


Tangan Tiara yang sedang menggenggam lembaran itu pun bergetar. Ingatannya kembali ke masa silam, di mana Shaka masih ada di sampingnya dan menunjukkan cinta yang luar biasa tulusnya.


"Tante ... apa ini akurat?" tanya Tiara, mencari kepastian kabar yang sungguh sulit dipercaya.


Dewi menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan.


"Dulu aku yakin bahwa didikanku sudah benar. Tapi ternyata ... ada satu yang gagal. Iya, apa yang kamu lihat itu sudah akurat. Memang sulit dipercaya, tapi itulah kenyataannya."


Kendati Dewi sudah menjawab demikian, tetapi Tiara masih menggeleng-geleng. Dia belum percaya bahwa Shaka pernah mengidap sifilis.


"Tante sudah mendatangi rumah sakit itu, berikut dengan dokter yang memeriksanya. Dan benar, penyakit itu memang ada dalam diri Shaka. Cukup lama dia menjalani pengobatan, dan sampai kalian akan menikah pun penyakit itu masih belum sembuh," ucap Dewi, menjelaskan apa yang ia ketahui tentang penyakit yang diderita Shaka.


Tiara belum menjawab, sekadar menatap Dewi dengan lekat.

__ADS_1


"Dokter yang menangani saat itu adalah teman SMA-nya, jadi Shaka banyak bercerita tentang masalah pribadi juga. Termasuk tentangmu," lanjut Dewi.


Tiara masih setia dalam diamnya. Hanya tatapan yang seolah menuntut penjelasan.


"Dia tidak pernah menyentuhmu karena takut kamu tertular penyakitnya. Dia berusaha sembuh dulu agar tidak membahayakan kamu. Shaka senang bermain wanita di luaran, tapi dia hanya memilih kamu untuk menjadi istri. Dia tidak mau, anak-anaknya terlahir dari wanita yang sering menjajakan diri. Setidaknya samai dia meninggal, di matanya kamu adalah wanita yang baik. Wanita mulia yang senantiasa menjaga kehormatannya." Dewi kembali menyambung kalimatnya.


Tiara menunduk dengan genggaman yang makin mengerat, sampai-sampai ujung kertas itu lecek tak karuan.


Banyak hal yang kini memenuhi pikiran Tiara. Mulai dari sisi lain Shaka yang luar biasa mengejutkan, sampai pandangan Shaka terhadap dirinya. Lelaki itu telah tertipu oleh tampang polosnya.


"Maafkan Tante, Tiara. Dulu hanya menyalahkan kamu, tanpa tahu bahwa anakku sendiri juga melakukan kesalahan yang lebih fatal."


"Mungkin, memang inilah jalan yang terbaik, Tiara. Kamu dan Shaka gagal menikah. Karena jika pernikahan itu tetap lanjut, kalian pasti sama-sama terluka. Masa depanmu dipertaruhkan karena penyakit yang diderita Shaka. Sementara dia, harga dirinya yang dipertaruhkan karena merawat anak lelaki lain." Dewi berbicara lagi, membuat Tiara makin menunduk.


Cukup lama keheningan terjadi di antara mereka. Masing-masing hanya fokus dengan hati dan pikirannya sendiri, belum ada yang punya rangkaian kata untuk diutarakan.


Sampai akhirnya, malah Novan yang lebih dulu datang. Ia khawatir melihat sang istri dibawa pergi oleh Dewi dan tidak kembali dalam waktu yang cukup lama. Jujur ... ia berprasangka buruk.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?" Novan menghampiri Tiara, kemudian melayangkan tatapan ke arah Dewi, "Tante, apa yang Anda lakukan pada Tiara?" tanyanya.


Dewi menggeleng, "Tidak ada. Aku hanya minta maaf dengannya."


Novan mengernyitkan kening, bingung dan tak bisa menafsirkan apa maksud ucapan Dewi.


"Aku memang minta maaf dengannya. Masalah dulu, kesalahan ada juga pada diriku dan Shaka. Jadi atas nama kami, aku meminta maaf. Dan jika berkenan ... aku ingin menjalin hubungan baik lagi dengan Tiara," ucap Dewi.


Tiara dan Novan mendongak serempak. Keduanya kembali dikagetkan oleh kalimat yang keluar dari bibir Dewi.


"Mungkin sulit memaafkan aku, karena dulu ucapanku terlalu menyakitkan. Tapi kali ini aku benar-benar tulus. Aku sudah tahu mana salah benarnya, jadi kuharap semua masih bisa diperbaiki," kata Dewi.


"Tante ... maaf, tapi menurutku ... ini terlalu mendadak. Aku jadi berfikir ... Tante punya alasan lain di balik kata maaf ini," sahut Novan dengan tatapan penuh selidik.


Dewi tersenyum, "Memang sulit menyembunyikan sesuatu dari kamu. Ah, ya, memang ada alasan lain, yaitu Sherin. Selama ini dia masih saja mencintai Karel, dan itu yang membuatku selalu benci dengan apa pun yang berkaitan dengan Karel, termasuk kalian. Tapi sekarang ... Sherin sudah bisa melupakan lelaki itu dan mencintai laki-laki lain. Sekarang Sherin sudah bahagia. Dari sanalah, kebencianku luntur dan ingin memperbaiki hubungan lagi dengan kalian."


Tiara dan Novan saling pandang, seolah berdiskusi lewat tatapan mata.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2