Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Janji Manis yang Berakhir Tragis


__ADS_3

Satu bulan sudah Tiara tinggal di kontrakan. Kandungan yang kini sudah memasuki usia tiga bulan, mulai kelihatan di perutnya. Namun, Tiara bisa mengantisipasi dengan memakai baju longgar.


Sejauh ini tidak ada masalah yang berarti, selain penyesalan yang masih kerap menghantui. Bahkan, keuangan juga masih bisa ia atasi. Sejak dua minggu lalu Tiara bekerja di Soyami Cookies&Cake—toko roti yang tak jauh dari kontrakan. Meski jam kerjanya sehari penuh, tapi cukup ringan, karena hanya menunggu dan melayani pengunjung.


"Akhirnya ... bisa rebahan juga," gumam Tiara sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Pulang dari kerja—sore tadi, ia langsung mencuci baju dan membereskan dapur. Cukup melelahkan. Punggungnya sampai terasa nyeri.


Sialnya, niat awal yang ingin rebahan mendadak kandas ketika mendengar seseorang mengetuk pintu. Siapa gerangan?


Dengan kening yang mengernyit, Tiara bangkit dan keluar dari kamar, menuju pintu utama dan membukanya dengan lebar.


"Kamu," ucap Tiara. Di hadapannya kini sudah berdiri sosok lelaki yang pernah ia kagumi. Lelaki yang sudah tahu luar dalamnya, bahkan sudah meninggalkan benih di rahimnya.


"Aku bawa martabak cokelat, kesukaan kamu."


Lelaki itu langsung masuk sembari meletakkan martabak ke atas meja. Lantas, melepaskan masker dan hoodie hitam yang ia kenakan. Sebagai lelaki beristri, tak mudah baginya untuk menemui wanita lain. Harus rapi agar semuanya berjalan sesuai keinginan. Termasuk menutup penampilan dan tidak menggunakan mobil pribadi.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Tiara dengan sedikit enggan.


Cinta, kagum, terpesona, dulu memang iya, tapi sekarang tidak. Tiara sudah sadar jika cinta yang sesungguhnya adalah dari Shaka. Sayangnya, ia bodoh dan tak bisa melihat semua itu. Malah tergoda dengan bujuk rayu yang nyata-nyata hanya naf-su.


"Kok kamu jutek gitu sih? Nggak mudah loh aku sampai ke sini." Lelaki itu menarik tangan Tiara dan membimbingnya duduk berdekatan. "Aku kangen kamu, juga kangen sama anak kita," sambungnya sambil mengusap perut Tiara.


"Aku lagi nggak pengin begini." Tiara menepis pelan tangan lelaki itu, juga beringsut dan memberi jarak di antara mereka.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Tiara berbuat demikian, melainkan sudah malas dengan segala macam ucapan manis, yang ujung-ujungnya akan berakhir dengan adegan intim.


Tiara sudah hafal betul. Sejak dulu, tak pernah ada pertemuan tanpa bercinta. Sekarang pun Tiara yakin, niat lelaki itu masih sama.


"Kamu kenapa? Kayak badmood banget. Tadi tokonya ramai ya? Sini aku pijitin, biar berkurang capeknya."


Lagi-lagi Tiara menolak.


Lelaki itu bergeming. Tak bicara atau menyentuh Tiara lagi. Dia mulai sadar, ada sesuatu yang beda dengan tatapan wanitanya.


"Kamu cinta nggak sama aku?" Pertanyaan Tiara membuat lelaki itu terkesiap. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba Tiara bertanya cinta. Kenapa?


"Bukannya aku udah sering bilang kalau aku itu sangat mencintai kamu. Bahkan, cintaku lebih besar ke kamu, daripada ke istriku sendiri," jawabnya begitu manis.


"Kalau begitu, kamu mau dong membuat pengakuan?" Tiara kembali bertanya.


"Ya pengakuan kalau kita ada hubungan, dan yang kukandung ini anak kamu."


"Kamu jangan aneh-aneh, aku udah punya istri. Apa kata orang nanti kalau kita ketahuan punya hubungan. Kamu mau dicap pelakor, dipandang rendah sama orang-orang?"


"Kamu pikir hamil di luar nikah nggak dipandang rendah?"


"Iya, aku tahu. Tapi, mau bagaimana lagi kita? Kalaupun aku menceraikan istriku dulu lalu nikah sama kamu, orang tetap akan memandang rendah, karena kamu calon istrinya Shaka. Dan semua orang tahu gimana hubungan kami."


Tiara diam. Sekian banyak jawaban sudah cukup menjadi bukti bahwa selama ini hanya naf-su yang ada. Sedangkan cinta yang berulang kali diutarakan, tak lebih hanya umpan untuk mendapatkan kenikmatan.

__ADS_1


"Aku menyesal kita terlambat ketemu. Andai saja bisa lebih awal, kita nggak akan terjebak dalam situasi ini. Aku hanya perlu mencintai kamu dan menikahimu, tanpa menjalin hubungan dengan wanita lain."


"Simpan saja omong kosongmu, aku tahu itu bukan murni dari hati." Tiara menatap lawan bicaranya dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku udah sadar, dari dulu sampai sekarang kamu nggak pernah mencintaiku. Yang kamu miliki hanya naf-su. Makanya kamu nggak pernah serius memikirkan aku. Asal hasratmu tersalurkan, persetan dengan yang lain. Begitu, kan?" lanjutnya.


"Kamu salah paham, aku___"


"Dulu aku memang bodoh. Mengkhianati cinta Mas Shaka hanya demi lelaki seperti kamu. Tapi, sekarang aku sudah bisa berpikir. Jadi, kamu jangan berharap bisa menyentuhku lagi, aku nggak mau. Dan kalau perlu ... kita nggak usah bertemu lagi. Urus saja istrimu!" potong Tiara.


Lelaki itu mengembuskan napas panjang, "Sepertinya hari ini kamu banyak pikiran. Baiklah, kalau begitu aku akan pergi. Lain waktu kita bicarakan lagi."


Tanpa menunggu jawaban Tiara, dia langsung bangkit dan memakai masker serta hoodie. Kemudian melangkah pergi dan meninggalkan Tiara sendirian.


'Aku mencintaimu, nggak bisa hidup tanpa kamu. Kuharap kita selalu bersama-sama, selamanya. Kalaupun nanti hubungan kita tercium istriku atau juga Shaka, tolong jangan korbankan hubungan kita. Aku rela kehilangan segalanya, asal bukan kamu.'


Tiara menggigit bibirnya kuat-kuat. Mengingat janji manis yang dulu terlontar dengan mudah, kini menguar dan raib begitu saja.


Sebenarnya, mudah bagi Tiara untuk membongkar semuanya. Namun, masih banyak pertimbangan. Lelaki itu ada hubungan dekat dengan Shaka, citranya akan semakin hancur jika semua orang tahu skandal itu.


Lagi pula, kalaupun terbongkar, apa yang bisa dia dapatkan?


Pernikahan?


Apa gunanya menikah dengan lelaki yang tak pernah mencintai, dan hanya naf-su belaka. Yang ada hari-harinya akan suram karena dipaksa melayani, apa pun keadaannya. Tidak! Tiara tidak mau terbelenggu dalam ikatan yang semacam itu.


Cukup sekali ia bertingkah bodoh, jangan sampai terulang untuk kedua kali.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2