Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Bukan Masuk Angin Biasa


__ADS_3

Sherin tak jua menjawab, bahkan sampai Juna mengulangi pertanyaan.


Sherin masih terpaku sendiri dengan hati dan pikiran yang mendadak berantakan. Berawal dari Karel sendiri yang dijatuhi hukuman mati, Nala juga meninggal setelahnya, lalu wanita kaya yang sempat menjadi simpanan Karel juga meninggal tak lama setelah Nala. Sekarang ... dia kembali dihadapkan dengan berita kematian yang juga berhubungan dengan Karel.


Ternyata ... tersisa dirinya saja yang tidak mengalami musibah pasca berpisah dengan Karel. Ia dan anaknya masih hidup baik-baik, sehat dan berkecukupan.


Sebuah ujian yang menimpa, yang membuatnya berpikir bahwa Tuhan tidak adil karena tak ada karma untuk Tiara, nyatanya ... karma telah datang begitu besar.


"Makasih udah membuat aku sadar," gumam Sherin setelah berhasil menenangkan hatinya. Sejauh ini, Tuhan telah memberinya banyak keberuntungan—dari segi yang lain. Bisnis berkembang pesat, anak sehat dan cerdas, keluarga yang selalu mendukung. Hanya saja, dirinya terlalu fokus dengan dendam, sehingga tak bisa melihat semua itu.


"Nggak perlu makasih begitu. Aku ngomong gini juga karena nggak mau kamu kenapa-napa."


Sherin menatap Juna, seolah menangkap sesuatu yang lain dalam ucapannya barusan.


"Ada yang salah dengan perkataanku?" tanya Juna, merasa salah tingkah karena dipandangi cukup lama.


"Nggak kok, nggak apa-apa." Sherin menggeleng sambil mengalihkan tatapan ke arah lain.

__ADS_1


Juna pun tak bertanya atau menjelaskan lebih lanjut. Biarlah perasaannya tersimpan dalam diam. Yang penting Sherin tenang dan bahagia, sudah cukup baginya.


_________


Pagi masih begitu dingin. Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri, baru mengintip separuh di kaki langit timur. Namun, suasana di rumah Novan sudah gaduh. Bukan karena kesibukan memasak atau kegiatan suami istri yang lain, melainkan karena Tiara tak kunjung selesai bolak-balik kamar mandi.


Sejak subuh tadi, dia mengeluh masuk angin. Berulang kali muntah, sampai badannya lemas dan agak pucat. Novan sudah membuatkan teh hangat untuknya, juga mengoleskan minyak kayu putih di perut dan punggung. Namun, masuk angin yang mendera Tiara tak juga reda.


"Sayang, kita ke rumah sakit aja ya. Kamu sampai pucat kayak gini loh," bujuk Novan untuk yang kesekian kalinya.


"Sayang___"


"Nggak usah lah, Mas. Kamu belikan obat aja. Nanti setelah makan, aku minum obatnya terus istirahat, pasti sembuh. Ini palingan gara-gara semalam, aku nggak bisa tidur dan malah kupakai buat main HP sampai dini hari," ujar Tiara dengan suara pelan.


"Tapi___"


Ucapan Novan terhenti karena Tiara kembali bangkit sambil menutup mulut. Dengan langkah yang terhuyung-huyung, Tiara lagi-lagi menuju kamar mandi. Novan dengan sigap mengikutinya di belakang, memijit tengkuk Tiara ketika dia kembali muntah.

__ADS_1


"Sayang, kali ini aku nggak mau meluluskan keinginan kamu. Kita ke rumah sakit, nggak ada penolakan lagi," kata Novan sembari membantu merapikan rambut Tiara.


"Baiklah, Mas." Kali ini Tiara tak menolak lagi. Selain Novan sudah tak mau dibantah, lama-lama tubuhnya memang makin lemah. Alih-alih membaik, kondisinya malah kian parah.


Akhirnya, pagi itu Novan mengantar Tiara ke rumah sakit. Dia langsung mendapat penanganan dari dokter yang sedang berjaga.


Setelah diperiksa beberapa menit, dokter mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan bagi Tiara dan Novan.


"Ini bukan masuk angin biasa. Bu Tiara, apa Anda sudah telat?"


Tiara dan Novan saling pandang. Telat, hamil, dua hal yang tidak terpikirkan oleh keduanya, karena sejak kemarin lusa tamu Tiara sudah datang.


"Tidak, Dokter. Malahan, sekarang saya sedang haid."


Usai mendengar jawaban Tiara, dokter memijit pelipis, seolah memikirkan sesuatu yang tidak sederhana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2