
Di tempat yang cukup jauh dari Nala, Novan diam membisu dan hanya menatap nanar pada seorang pria yang berdiri di hadapannya.
"Siapa yang kau hubungi barusan?" bentak pria itu, sembari melayangkan tatapan tajam ke arah Novan, menegaskan bahwa dialah yang lebih berkuasa.
Kendati begitu, Novan tak gentar sedikit pun. Jawaban juga sama sekali tak terdengar dari bibirnya. Pikir Novan, biarlah pria itu akan melakukan apa saja, yang penting kejahatan Karel bisa dicegah.
"Jika kamu terus diam, aku akan melaporkanmu pada Bos!" teriak pria itu lagi, memberikan ancaman yang tidak main-main.
Ya, semua memang keteledorannya dalam mengawasi Novan. Ia kecolongan. Novan berhasil mendapatkan ponsel yang sudah disita, dan entah menghubungi siapa. Tidak bisa diperiksa lagi karena ponsel sudah dihancurkan, berikut dengan SIM card-nya. Tak disangka, Novan cukup cerdik juga.
"Jawab aku! Siapa yang kau hubungi barusan?" Pria itu telah habis kesabaran. Dicengekramnya kerah kemeja Novan, yang posisinya saat ini terikat di kursi.
"Kau melakukan apa pun, aku tetap tidak akan menjawab. Kau mau lapor Karel, silakan, aku tidak takut. Tapi, satu yang harus kamu tahu, tidak selamanya Karel menggunakanmu. Mungkin setelah ini, giliran kamu yang dibuang," jawab Novan, tidak takut meski cengkeraman itu serasa mencekik leher.
Tak berselang lama, pria itu melepaskan cengkeramannya, dengan makian dan sumpah serapah tentunya. Lantas, dia pergi dan meninggalkan Novan sendirian di dalam ruangan.
"Semoga Nala ngerti dengan maksudku tadi," batin Novan dengan kepala yang tertunduk.
Hatinya kini diselimuti penyesalan. Andai waktu bisa diputar, dia tidak akan pernah bekerja sama dengan Karel, lelaki seperti iblis yang tak pernah menepati janji.
'Aku akan membuat Devan hancur dan mengambil alih semua asetnya. Lantas, aku akan menikahi Nala sebagai satu-satunya wanitaku. Sebenarnya, dari dulu aku sangat mencintai dia. Sayangnya, dia hanya memandang Devan.'
Janji manis Karel kala itu, sebelum mereka deal bekerja sama. Sebuah janji yang hanya tinggal janji, karena sekarang Karel sudah menjalin hubungan dengan wanita lain lagi, yaitu janda kaya raya yang usianya tujuh tahun di atas Karel.
__ADS_1
"Katanya kamu mencintai Nala, tapi kenapa kencan dengan janda itu? Kamu ingin mempermainkan Nala?" protes Novan dua hari yang lalu.
"Dia banyak uang, aku hanya mengambil keuntungan darinya. Kalau berhasil mendapatkan hartanya, Nala juga kan yang ikut menikmati?" Karel menjawab dengan entang, dan dari situ kepercayaan Novan mulai goyah.
"Harta keluarga Devan sudah banyak, untuk apa mencari lagi? Itu saja nanti kita kembangkan bersama-sama. Karel, aku tidak suka ya kamu mengkhianati adikku. Dia masih gadis dan rela menyerahkan semuanya ke kamu. Tapi, beginikah balasanmu?" Emosi Novan mulai terpancing, sampai meninggikan intonasi.
"Jangan berani bicara keras di hadapanku, di antara kita ini tidak ada yang lurus! Kamu mengkhianati Devan hanya karena dia menolak menikahi adikmu, padahal kamu tahu kalau dia sudah punya istri. Dan sekarang kamu mau mau menuntut kesetiaan padaku? Heh, konyol! Dengar baik-baik ya, aku ... memang mengkhianati adikmu, karena selain tubuh, dia tidak punya apa-apa lagi. Jadi, bukankah lebih baik aku mencari wanita yang lebih menguntungkan?"
"Kamu___"
"Asal kamu tahu. Kau dan adikmu hanya batu loncatan bagiku untuk menyingkirkan Devan. Dan aku bisa sewaktu-waktu menyingkirkan kalian jika berani membangkang!"
Setelah berselisih, Karel tidak segan-segan menyuruh anak buahnya untuk mengurung Novan di dalam gudang. Ponselnya diambil, sehingga dia mati kutu dan tidak bisa menghubungi siapa pun.
Sayangnya, hanya itu yang bisa ia lakukan. Sedangkan kabur dari tempat itu, masih jauh dari jangkauan. Malah barusan, tindakannya dalam mengambil ponsel juga ketahuan. Sedikit keberuntungan ia bisa menghapus jejak dalam waktu yang tepat, meski setelahnya berakhir diikat.
________
Tepat pukul 10.00 malam, Karel bangkit dari ranjang dan meninggalkan sang istri yang sudah terlelap. Ia menuju kamar mandi sambil membawa serta ponselnya. Satu yang menjadi tujuan utamanya adalah menelepon bawahan yang mengawasi Novan, setelah tadi siang mendapatkan laporan bahwa lelaki itu diam-diam menghubungi seseorang.
"Dia sudah mengaku?" tanya Karel ketika sambungan telepon sudah terhubung.
"Belum, Tuan." Seseorang di sana menjawab dengan takut. Bagaimana tidak, Karel adalah bos yang sadis. Satu saja kesalahan bisa membuatnya berhenti bernapas.
__ADS_1
"Saya benar-benar minta maaf, Tuan. Tadi saya___"
"Cukup, aku tidak butuh penjelasanmu. Yang kubutuhkan adalah tanggung jawabmu!" pungkas Karel dengan nada dingin.
"Saya pasti akan bertanggung jawab, Tuan. Saya akan memaksa dia sampai mengaku. Bagaimanapun caranya."
"Tidak perlu. Bungkam saja dia, selamanya!" perintah Karel tanpa beban sedikit pun.
"Maksudnya ... Tuan?"
"Dia sedang terikat, tidak sulit kan membungkam dia dalam keadaan seperti itu?" jawab Karel.
"Itu ... tidak, Tuan. Tapi ... bagaimana kalau ternyata yang dia hubungi adalah polisi?"
"Menurutmu apa dia berani? Sudah, jangan banyak tanya, bungkam saja dia! Lakukan dengan rapi, jangan ceroboh lagi! Jika sudah, aku akan memberimu upah lelah," sahut Karel.
"Baik, Tuan. Saya akan melakukannya dengan baik."
Jawaban seseorang di seberang membuat Karel tersenyum licik. Satu lagi sandungan akan hilang malam ini. Sempurnanya, dia meminjam tangan orang lain. Jadi seandainya perbuatan tersebut terendus pihak berwajib, bukan dirinya yang mendapat sanksi, melainkan orang suruhannya. Dia akan punya sejuta cara ntuk membela diri andai saja namanya diseret-seret. Yah, memang sematang itu dia dalam merencanakan sesuatu.
"Posisinya sekarang sebagai buronan, mana berani menghubungi polisi. Paling, hanya adiknya yang dia hubungi. Tapi, apa faedahnya? Wanita bodoh itu sudah ada dalam genggamanku. Nggak akan berani berbuat sesuatu tanpa izin dariku," ucapnya, dengan penuh kemenangan.
Bersambung...
__ADS_1