Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Makin Dekat dengan Novan


__ADS_3

Di dalam ruang tamu yang sederhana, dua insan duduk berhadapan di atas kursi rotan yang agak usang. Sekotak martabak manis tersaji di atas meja, lengkap dengan dua cup cappucino yang masih utuh.


Dalam beberapa menit, tidak ada yang memulai bicara. Keduanya hanya diam sambil sesekali menarik napas panjang. Baik Novan maupun Tiara, masih sibuk memilah kata yang tepat untuk bicara. Entah itu melayangkan pertanyaan atau menjelaskan keadaan.


Rasa tak menentu dalam hati Tiara, bermula dari kabar tentang Nala. Wanita yang pernah ia temui dalam keadaan bugar, cantik dan menawan, sekarang sudah mendiang. Sementara Novan, ia pun melihat sisi pahit Tiara di tempat itu. Dia yang harusnya tinggal bersama anak kecil, nyatanya hanya sendiri.


"Nala mengalami kecelakaan ketika pulang kerja, setahun setelah ia keluar dari penjara. Yah, aku memang nggak becus jadi kakak. Gagal mendidik dan mengarahkan dia dengan baik. Mungkin ... itu alasannya mengapa Tuhan mengambil dia lebih awal, karena aku nggak bisa menjaganya dengan benar."


Akhirnya, Novan yang lebih dulu bicara. Menjelaskan tentang kematian sang adik yang mendadak, yang sebelumnya tak pernah terbayangkan olehnya.


"Dia dipenjara juga?" tanya Tiara. Suaranya agak pelan karena memendam kegelisahan.


"Iya, tapi hanya sebentar. Nggak seperti aku yang lama, sampai lima tahun."


"Aku nggak nyangka dia pergi secepat ini."


Novan tersenyum masam, "Takdir Tuhan emang nggak ada yang tahu, Ra. Setelah kalut karena kehilangan orang tua, aku masih dihadapkan dengan kehilangan adik. Jika nggak takut dosa, aku akan bilang kalau Tuhan nggak adil. Tapi jika dipikir lagi, kita manusia, sedangkan Dia Sang Pencipta. Pasti Dia-lah yang lebih tahu mana yang baik untuk kita. Aku nggak bilang kalau kuat dan tegar, aku juga sedih, Ra. Nggak jarang aku nangis setiap kali ingat Nala. Dia terkapar saat aku nggak ada di sampingnya. Entah sebesar apa sakit yang dia rasa, hanya dihadapi seorang diri. Penyesalan itu menyisakan luka yang nggak begitu dalam, Ra. Tapi, aku tahu, merutuk dan meratap nggak akan mengubah keadaan. Sulit atau nggak, aku harus tetap menerima semua ini."


"Aku juga kehilangan." Tiga kata terlontar dari bibir Tiara.


Tak tahu dari mana datangnya keinginan untuk terbuka. Tiba-tiba ada perasaan yang mendorong kuat.


"Kehilangan ... Shaka maksudmu?"


Tiara menggeleng lemah, "Anakku."


Novan menelan ludah guna membasahi tenggorokan yang tiba-tiba mengering. Benar ternyata, ada kisah kelam yang Tiara alami selama mereka tidak bertemu.

__ADS_1


"Aku dari dulu tinggal sendirian. Malam itu ... nahas, aku jatuh dan nggak ada yang tahu, baru esok paginya ada tetangga yang nolong. Tapi, udah terlambat. Anakku meninggal sebelum melihat dunia." Mata Tiara berkaca-kaca. Sekilas terlintas kembali bayang-bayang anaknya yang pucat pasi tanpa nyawa.


"Kamu yang sabar ya. Tuhan tahu kamu kuat, makanya diuji seberat ini. Percayalah, Ra, pasti ada hikmah di balik musibah yang terjadi dalam hidup kita. Yang penting, kita berusaha menerima. Sesakit dan seperih apa pun luka itu, kita pasti bisa menyembuhkannya."


Tanpa sadar, Novan menggenggam tangan Tiara yang kala itu berada di atas meja. Mengusapnya pelan sebagai bentuk dukungan. Tiara pula tak menolak. Pikirannya terlalu larut dalam kisah pahit, sampai tak sadar jika ada sentuhan dari sosok di hadapannya.


Novan pun tak membiarkan itu terjadi lama. Sepintas saja ia tersadar akan perbuatannya, lantas dengan pelan menariknya sebelum Tiara salah paham.


"Kita sama-sama terluka oleh keadaan. Nggak ada salahnya saling berteman dan menguatkan satu sama lain. Kamu mau, kan?" sambung Novan karena Tiara masih tertahan dalam lamunannya sendiri. Bahkan karena itu, Novan sampai menahan untuk bicara tentang Karel. Pikirnya, masih ada waktu nanti.


"Nggak tahu ini namanya berteman atau bukan. Tapi ... ya, aku nggak akan hindarin kamu lagi," jawab Tiara setelah diam cukup lama.


Novan tersenyum lebar. Tak tahu mengapa, ada kelegaan tersendiri ketika Tiara tak lagi menghindar. Mungkin karena Tiara-lah satu-satunya orang yang pernah ia kenal selain Juna.


Setelah selesai berbagi kisah sedih itu, Novan dan Tiara bersama-sama menyantap kopi dan martabak yang kini sudah dingin. Namun, tetap nikmat, karena dalam diri masing-masing ada seberkas kehangatan setelah sekian waktu membeku dalam kerasnya luka.


Dalam dunia ini, apa pun bisa terjadi, tergantung bagaimana Tuhan mengaturnya. Terkadang, perbedaan lah yang saling melengkapi dan menyempurnakan. Namun, tak jarang juga justru kesamaan yang membuat sesuatu lebih indah dan bermakna.


Seperti halnya yang terjadi pada Novan dan Tiara. Bermula dari hati yang sama-sama rapuh dan terluka, keduanya bisa saling terbuka dan berbagi dukungan, hingga masing-masing keluar dari kubang luka yang sekian lama menjerat. Meski belum sembuh sempurna, tapi setidaknya bisa diredam dengan senyuman. Kepribadian yang ceria pun, dari waktu ke waktu makin terlihat di antara mereka.


Kini, sudah tiga bulan penuh Novan tinggal di Kota Malang. Kafe yang ia rencanakan waktu itu sudah beroperasi sejak dua bulan lalu. Hasil tidak jauh beda dengan standar yang ia targetkan. Memang kemampuannya dalam bisnis cukup andal.


"Besok kamu libur, kan?" tanya Novan pada suatu malam, ketika keduanya pulang bersama-sama.


"Iya. Pak Bagas dan Bu Nimas mau ke rumah saudaranya di luar kota, jadi butik tutup."


"Kita jalan yuk! Hitung-hitung ngilangin suntuk, setiap hari kerja mulu."

__ADS_1


"Emang kamu nggak jaga kafe?" Tiara balik bertanya. Obrolan keduanya kini lebih ringan, tidak ada kecanggungan lagi seperti dulu.


"Tutup dulu lah."


"Ya udah deh, asal nggak jauh-jauh."


"Nggak lah, sekitar sini aja."


Ketika Novan masih melanjutkan kalimatnya, dengan menjabarkan beberapa tempat yang kiranya akan dikunjungi besok, Tiara malah tertegun di tempatnya. Bahkan, langkah kaki pun sampai terhenti begitu saja.


Sayangnya, Novan terlalu asyik dengan rencana esok, hingga dia tak sadar jika Tiara sedikit tertinggal di belakang.


"Dia___" batin Tiara ketika matanya menangkap sosok lelaki yang amat sangat dia kenal, lelaki yang pernah berpengaruh di masa lalunya.


Lelaki itu baru keluar dari sebuah toko, menenteng goodie bag dan membawanya ke dalam mobil.


Awalnya, Tiara sempat berpikir bahwa dia salah lihat. Namun, makin jeli ia memandang, makin jelas bahwa lelaki itu adalah orang yang dia kenal. Akan tetapi, entah mengapa berkeliaran di sana.


"Kenapa dia ada di sini?" batin Tiara dengan tangan yang mencengkeram erat. Baru saja ia berdamai dengan masa lalu, tapi keadaan sudah mengkhianati lagi. Ahh!


"Tiara, kamu baik-baik aja?" tegur Novan sambil mengikuti arah pandang Tiara.


Sayangnya, lelaki tadi hanya terlihat punggungnya saja. Itu pun hanya sesaat karena tak lama kemudian masuk ke mobil.


"Kamu kenal dia?" sambung Novan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2