
Dua minggu telah berlalu, sejak Karel menyuruh anak buahnya untuk membungkam Novan, yang akhirnya benar-benar direalisasikan. Nyawa lelaki itu sudah melayang, tanpa diketahui oleh orang luar, termasuk Nala.
Dia hanya tahu bahwa sang kakak hilang kabar, sedikit pun tak menduga Karel akan tega melenyapkannya.
Sementara itu, rencana licik Karel berjalan lancar tanpa hambatan. Di samping Devan yang sudah tidak diakui oleh keluarganya, Karel juga dibuat tenang dengan kepatuhan Tiara dan Nala.
Tiara menjalani keseharian seperti biasa, tak ada lagi keinginan untuk putus hubungan. Bahkan ketika Karel mengunjunginya pun, Tiara tidak memaki lagi. Meski tak sehangat dulu, tapi setidaknya masih menerima kehadiran Karel.
Sedangkan Nala, wanita itu juga percaya dengan janji-janji Karel. Entah dia tidak paham dengan maksud Novan, atau memang sengaja abai karena telanjur cinta dengannya, Karel tak mau tahu. Yang penting baginya, Nala tetap tunduk dan menuruti apa pun yang ia mau.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jadi mana mungkin aku pergi atau berkhianat. Aku tuh malah udah nggak sabar untuk nikah sama kamu," ujar Nala kala itu, ketika Karel menegaskan bahwa dirinya tidak akan memaafkan segala bentuk pengkhianatan.
"Dasar orang-orang bodoh." Karel membatin puas saat mengingat keberhasilannya dalam memainkan taktik. Bangga pada diri sendiri yang nyaris tak pernah gagal.
"Tuan!" panggil sopir pribadi Dewi, yang sejak lama sudah berpihak pada Karel.
Karel yang saat itu masih berada di meja makan, sendirian, karena Sherin baru saja pergi untuk melihat anaknya, bergegas menoleh dan melayangkan tatapan intens.
"Bagaimana?" tanyanya.
Lelaki itu tersenyum, "Beres, Tuan."
__ADS_1
Tak banyak komentar lagi, Karel langsung mengambil amplop cokelat dari dalam tas kerjanya, dan memberikannya pada sopir pribadi Dewi.
"Ini upahmu. Pastikan rahasia ini tidak seorang pun yang tahu," ujar Karel.
"Siap, Tuan. Saya tidak akan mengecewakan Anda." Lelaki itu menjawab dengan wajah yang sumringah. Kemudian, membawanya pergi meninggalkan ruang makan.
Karel benar-benar puas kali ini. Semalam ia memerintahkan lelaki itu untuk mengotak-atik mobil Dewi agar remnya tidak berfungsi, dan barusan sudah ada kabar baik. Lelaki itu menjalankan perintahnya, dan Dewi pun sudah pergi menggunakan mobil tersebut. Berkat kelicikan sopir pula, Dewi hanya pergi seorang diri. Dapat dipastikan setelah ini dia akan mengalami nasib sial seperti anak dan suaminya.
"Dulu kupikir rencana ini akan gagal karena bawahanku bodoh, kusuruh mencelakai mobil Devan, tapi malah mobil Shaka yang diotak-atik. Tapi ternyata ... makin ke sini rencanaku makin berjalan mulus. Sebentar lagi, wanita tua itu akan mati dan semua aset akan berada di bawah kendaliku," batin Karel. Tak sabar membayangkan bagaimana menariknya ketika pihak rumah sakit mengabarkan berita buruk itu.
Masih dengan perasaan yang luar biasa puasnya, Karel bangkit sambil membawa tas kerja. Usai berpamitan pada sang istri, ia pun keluar rumah dan bergegas masuk ke dalam mobil.
"Siapa?" gumam Karel dengan sedikit heran.
Lantas hanya dalam hitungan detik, Karel membuka pesan tersbeut. Tidak ada tulisan apa pun yang tertera di sana, sekadar dua gambar yang membuat Karel membeku seketika.
Gambar pertama adalah foto sopir pribadi Dewi yang sedang mengotak-atik mobil majikan. Sedangkan gambar kedua, foto dirinya yang memberikan amplop cokelat pada sopir tersebut. Latar belakangnya ruang makan, dan bisa dipastikan gambar itu diambil beberapa menit yang lalu.
"Brengsek! Siapa yang melakukan ini?" maki Karel dengan napas yang memburu.
Dua gambar barusan sudah cukup menjadi bukti bahwa ada seseorang yang mengetahui rencananya. Entah itu pelayan atau malah istrinya sendiri.
__ADS_1
Di saat Karel masih panik dan berusaha memecahkan masalahnya, satu pesan kembali masuk ke ponselnya. Masih dari nomor yang sama.
Kali ini, jantung Karel berdegup kencang. Matanya melotot seiring tangan yang mengepal erat.
"Tiara ... apa yang dia lakukan di belakangku?" geram Karel.
Dia sangat benci dengan gambar yang ada di layar ponsel—sebuah lembaran hasil tes DNA milik anak Tiara yang dipegang tangan laki-laki.
Karel nyaris frustrasi. Selain tak bisa menebak tangan siapa gerangan, ia juga bingung harus bagaimana sekarang. Ia tak rela jika rencananya gagal di tengah jalan.
Demi memastikan bahwa Tiara harus bertanggung jawab atas perbuatannya, Karel pun dengan cekatan menghubungi sang bawahan yang ditugaskan untuk mengawasi Tiara. Namun, laporan yang ia terima sungguh di luar dugaan.
"Maafkan saya, Tuan, saya kehilangan jejaknya. Semalam dia masih pulang seperti biasa, tapi pagi ini dia tidak ada."
"Bedebah! Bodoh kamu! Cepat, cari sampai ketemu!" bentak Karel, tak bisa lagi mengendalikan amarah.
Sialnya, tak sampai di situ saja kabar buruk yang ia terima. Sesaat setelahnya, Karel mendapat telepon dari luar kota, yakni dari bawahan yang mengawasi paman dan bibi Tiara. Di sana, mereka juga kehilangan jejak Yanti dan Seno.
Ini bukan kebetulan, begitulah pikir Karel. Ia yakin ada seseorang yang sengaja mengaturnya. Tapi, siapa?
Bersambung...
__ADS_1