Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Penyesalan Tiara


__ADS_3

Penolakan Tiara membuat Dewi murka. Namun, ia tak bisa memaksa karena Tiara tetap kukuh pada pendiriannya. Alhasil, ia langsung pergi dengan sumpah serapahnya.


Sementara itu, Yanti protes dan menyayangkan sikap Tiara.


"Seharusnya kamu iyakan saja permintaannya tadi. Kalau sudah tahu itu cucunya, akan malu sendiri dia. Tidak akan berani angkuh lagi," ucapnya.


Tiara tersenyum, "Apa gunanya, Bi? Jika dari awal udah nggak percaya, tes DNA juga nggak akan membawa hasil baik. Kalaupun nanti udah tahu hasilnya, pasti masih ada hal lain yang dipermasalahkan. Aku dituduh merayu Mas Shaka misalnya, memaksa dia lah, atau apa lah."


Yanti terdiam. Apa yang dikatakan Tiara memang ada benarnya.


"Aku memang salah, Bi. Tapi ... aku juga nggak mau jika harga diriku terus-terusan diinjak. Biar saja dia lahir tanpa pengakuan siapapun. Aku sendiri yang akan berjuang untuk dia," lanjut Tiara sembari.


Yanti mengangguk-angguk, lantas mengusap lembut punggung Tiara.


"Apa pun keputusan kamu, semoga itu yang terbaik. Bibi hanya bisa mendoakan saja."


Tak berselang lama, Tiara dan Yanti keluar dari rumah sakit. Keduanya pulang, tapi dengan tujuan yang berbeda. Yanti untuk kembali, sedangkan Tiara hanya untuk mengambil baju.


Tidak banyak yang terjadi ketika Tiara menapakkan kaki lagi di rumah itu. Hanya tatapan tajam Seno yang kemudian ditanggapi dengan ucapan maaf oleh Tiara. Meski tidak mendapat respon yang baik, tapi Tiara paham, kesalahannya memang fatal.

__ADS_1


Akhirnya, sambil menahan sesak, dia keluar dari rumah itu. Meninggalkan tempat yang penuh kenangan, sembari membawa semua barang miliknya. Awalnya, Yanti menangis tersedu-sedu. Kemudian agak tenang ketika Tiara mengatakan bahwa saat ini sudah mendapat tempat tinggal—berkat bantuan kawan.


Sebenarnya tidak bohong. Memang kawan yang membantunya. Hanya saja ... kawan yang berbeda.


_________


'Sudah kusiapkan kontrakan untuk kamu. Sudah kubayar sampai enam bulan ke depan.'


Satu pesan masuk ke ponsel Tiara, ketika ia masih duduk di dalam angkot. Alamat yang dimaksud pun disertakan dalam pesan itu.


Tiara menghela napas panjang. Tak ada niatan untuk mengirim balasan, masih kacau perasaannya saat ini. Malah ... ada sedikit penyesalan yang perlahan menyusup dalam benak.


Andai waktu itu tidak terjerat bujuk rayuannya.


'Yang penting jangan mau kalau disuruh tes DNA. Itu nggak baik untuk kamu. Aku sudah punya istri, dan hubunganku dengan Shaka juga dekat. Nanti kamu malah dicap sebagai pelakor. Aku nggak mau kamu dipandang rendah oleh orang-orang.'


Satu pesan kembali masuk ke ponsel Tiara. Dibuka dan dibaca perlahan. Sekilas seperti pernyataan peduli, tapi ... entahlah. Mungkin itu sekadar pembenaran atau pembelaan atas sikapnya saat ini, yang bisa dibilang mangkir dari tanggung jawab.


'Aku mencintaimu tulus, bukan hanya terpengaruh naf-su. Jadi, aku akan selalu menjagamu, sedikit pun nggak akan kurusak. Aku akan menyentuhmu nanti ... jika ikatan kita sudah sah secara agama dan pemerintah.'

__ADS_1


Tiara tersenyum miris ketika mengingat jawaban Shaka—sewaktu dirinya bertanya 'kenapa tidak pernah meminta yang macam-macam, bahkan mencium saja tidak.'


Sebuah jawaban yang istimewa, namun dianggap remeh oleh Tiara. Dia lebih memilih bibir manis yang begitu lihai memuji lekuk tubuhnya. Sangat bodoh!


Tak lama kemudian, lamunan Tiara dibuyarkan oleh ucapan sopir angkot. Rupanya, ia telah sampai di depan kontrakan.


Saat Tiara turun dari angkot, wanita paruh baya menyambutnya dengan ramah. Dia adalah pemilik rumah tersebut, yang tinggalnya tidak jauh dari rumah yang akan ditinggali Tiara.


"Semoga Mbak Tiara betah tinggal di sini," ucap wanita itu, usai mengantar Tiara masuk dan menunjukkan beberapa ruangan yang ada.


"Terima kasih, Bu." Tiara tersenyum, memberikan kesan baik pertemuan yang pertama.


"Sama-sama, Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu."


Selepas kepergian sang pemilik rumah, Tiara masuk ke kamar dan merebahkan diri di atas ranjang. Tanpa sadar, air matanya perlahan berlinang.


Mulai detik ini, ia akan menempuh kehidupan baru. Kehidupan yang sendirian, yang pasti akan banyak cacian dan hinaan. Bagaimana tidak, ia hamil tanpa ikatan pernikahan.


Dalam negara yang masih menjunjung tinggi norma dan agama, hal itu sangat tabu. Keberadaanya tidak mungkin dipandang baik oleh masyarakat sekitar.

__ADS_1


"Aku nggak nyangka akan ada di poisi ini. Apakah ini karma karena aku sudah mengkhianati Mas Shaka? Atau malah, karma karena aku menodai rumah tangga orang lain, yang jelas-jelas istrinya ... ah, tapi bukan niatku juga seperti ini. Dia yang lebih dulu merayu dan menawarkan hubungan gila ini. Bodohnya aku karena nggak bisa menolak, justru meladeni dengan senang hati." Tiara bicara sendiri, sembari memikirkan nasib yang entah akan seperti apa nantinya.


Bersambung...


__ADS_2