Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Kehancuran Devan


__ADS_3

"Apa yang menimpa Alan ini ada hubungannya dengan kamu, Devan?"


Satu pertanyaan yang pertama kali Devan terima ketika bertemu ibunya. Wanita yang selama ini selalu menaruh kepercayaan padanya, begitu tega mencurigai sampai sedalam itu.


"Ma, aku nggak akan selicik itu. Aku justru butuh dia untuk menjelaskan semua ini. Berani sumpah, Ma, aku nggak pernah meminjam uang itu." Devan mengacak rambutnya dengan kasar.


Setelah tadi kacau saat menyaksikan pemakaman Alan, sekarang malah dicurigai oleh ibu dan istrinya sendiri.


"Aku yakin ada yang nggak beres dengan Karel, Ma. Dia pasti punya rencana buruk untuk keluarga kita. Aku mohon, kali ini Mama percaya sama aku," sambung Devan.


"Yang kamu bicarakan itu berbeda jauh dengan kenyataan, Devan. Kamu ngotot yang salah Karel, tapi faktanya semua kesalahan itu mengarah ke kamu. Nggak lupa kan dengan keterangan saksi tadi? Dia bilang Alan semalam akan pergi ke kantormu. Kebetulan langsung kecelakaan dan tewas, sedangkan kemarin ... kita semua menunggu penjelasan darinya. Coba, Devan, katakan ke Mama gimana caranya agar percaya sama kamu?"


"Aku emang nggak ada bukti apa-apa sekarang, Ma. Tapi, aku beneran nggak bohong. Ini pasti ulah Karel yang sengaja jebak aku. Mama___"


"Karel memang bukan anak kandung Mama, tapi dia suaminya Sherin. Hubungan mereka baik-baik, dan selama ini Karel berjasa banyak ke perusahaan. Sekarang ini, Mama juga sudah mendiskusikannya dengan Sherin. Nggak ada yang aneh dengan Karel. Malahan, dia itu sangat cemas karena kamu mangkir dari janji. Dia juga kacau setelah tahu bahwa Alan kecelakaan," pungkas Dewi. Dia lebih memercayai Karel dan Sherin, dibanding Devan.


"Mama boleh percaya dengan Sherin, tapi jangan percaya dengan Karel. Bisa aja dia juga membodohi Sherin, Ma." Devan masih tak menyerah. Meski jalan untuk mencari bukti masih buntu, tapi ia akan tetap mengejar kepercayaan dari ibunya.


Dewi sekadar menghela napas berat.


"Mama percaya kan kalau anak-anak Mama pasti bermoral? Saat itu Mama sampai menyudutkan Tiara karena sangat memercayai Shaka. Sekarang, nggak bisakah Mama percaya denganku?" potong Devan.

__ADS_1


Alih-alih mendapat jawaban yang memuaskan, Devan malah mendapat tamparan keras.


"Ma!"


"Kamu mengungkit dia, jangan-jangan ... memang benar dugaan Alina. Kamu ... adalah ayah dari bayi yang dikandung Tiara." Suara Dewi syarat akan emosi.


Devan sudah kehabisan kata-kata. Setelah tadi pagi istrinya memutuskan pergi dari rumah, kini ibunya yang begitu murka.


"Masih untung masalah Alan tidak tercium hukum, jadi kamu bisa lolos dari sanksi. Tapi, Devan, Mama sangat kecewa sama kamu. Ini bukan sikap yang Mama ajarkan. Ke depannya, jangan mendatangi Mama lagi. Urus saja hidupku sendiri. Mama sudah capek menghadapi kamu!" bentak Dewi.


Di luar ruangan, Karel mendengar pertengkaran itu sambil tersenyum lebar. Rencananya berjalan lancar. Sang mertua tidak percaya lagi dengan Devan, dan secara tak langsung sudah mencoret nama Devan dari daftar ahli waris. Kini, tinggal Sherin satu-satunya nama yang akan menjadi pemilik seluruh aset.


"Selangkah lagi, semua akan ada dalam genggamanku!" batin Karel dalam keserakahannya.


Wanita yang tak lain adalah Nala, sedari tadi hanya menatap ponsel, melihat pemberitaan tentang kecelakaan tunggal yang menimpa Alan.


Baginya, Alan bukan orang asing. Sudah beberapa kali mereka bertemu dan bertegur sapa. Selain itu, dia juga tahu keterlibatan Alan dalam rencana yang disusun Karel. Ia tahu informasi itu karena akhir-akhir ini menjadi teman kencan Karel.


"Orang yang dipilih Karel, harusnya bukan orang sederhana. Tapi ... begitu mudahnya dia kecelakaan sampai fatal. Apa mungkin, ada sesuatu di balik kecelakaan ini?" gumam Nala seorang diri.


Lantas, ia menopang dagu sembari memikirkan Karel—lelaki tampan dan romantis, namun juga memiliki sisi yang mengerikan.

__ADS_1


"Setelah Devan tersingkir dan semua aset jatuh ke tangan Sherin, aku akan mengambil alih. Saat itu pula, aku akan menceraikan dia dan menikahi kamu sebagai satu-satunya wanitaku."


Janji Karel yang begitu manis, kembali terngiang dalam ingatan Nala. Sebuah janji yang akhirnya membuat dia luluh dan merelakan kesuciannya. Bukan cinta yang mendasari kepsrahan Nala, melainkan obsesi untuk membalas Devan, yang telah menolak cintanya secara terang-terangan. Impiannya, dia bisa mengungguli lelaki itu dan membuatnya menyesal.


Namun, sekarang justru Nala sendiri yang menyesali keputusan itu. Makin ke sini, perangai Karel makin menyeramkan menurutnya, dan itu membuatnya tidak nyaman menjalani kehidupan yang sekarang. Meski keuangan tidak pernah kurang, tapi nyaris tak ada ketenangan dalam keseharian.


"Harusnya aku dulu sadar diri, Mas Devan udah nikah. Ya, meski Alina mandul. Tapi, mereka memang saling mencintai. Sekarang, keadaan udah telanjur keruh. Aku nggak tahu gimana cara membenahi semua ini," ucap Nala dengan perasaan yang tak menentu. Ada ketakutan, kecemasan, juga kebingungan yang begitu nyata.


Ketika Nala masih berkelana dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba ponsel di genggamannya bergetar. Ada satu pesan masuk dari Novan, yang saat ini sedang bersembunyi di tempat rahasia—milik Karel.


'Pergi jauh, Nala! Jangan dekat-dekat lagi, dia nggak ada di pihak kita!'


Dua kalimat yang cukup singkat dan sulit dipahami. Nala sampai mengernyit dan berulang kali membacanya, agar tidak salah menafsirkan 'dia' yang dimaksud Novan.


"Apa yang dimaksud 'dia' itu Karel?" batin Nala.


Tak ingin salah menduga, ia pun bergegas menghubungi sang kakak. Sialnya, nomor tersebut sudah tidak aktif. Dicoba berulang kali, hasilnya tetap sama.


"Mas Novan," gumam Nala dengan bibir yang gemetaran. Mendadak ia dihinggapi rasa takut yang teramat besar.


Apa yang terjadi dengan Novan? Masihkah ia baik-baik saja?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2