Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Fakta Masa Lalu


__ADS_3

"Bawa orang tuamu kemari dan buktikan kalau kamu memang serius dengan adikku!" ucap Devan usai Juna menyatakan niat tulusnya.


Tanpa berpikir panjang, Juna langsung mengangguk. Dia sangat sanggup dengan syarat itu. Karena berkat Sherin, dia pelan-pelan bisa memperbaiki hubungan dengan ibu dan ayah sambungnya.


Pertemuan itu pun diakhiri dengan sesuatu yang manis. Baik Sherin, maupun Juna, masing-masing merasa bahagia karena cinta yang dirasa tidak bertepuk sebelah tangan. Selain itu, hubungan untuk keduanya sudah mendapat lampu hijau. Sedangkan di sisi lain, Devan dan Dewi juga merasa lega. Mereka bisa menangkap kesungguhan dalam niat Juna, ya ... meski harus dibuktikan lagi keseriusan itu.


Sementara itu, di tempat yang berbeda, Novan senyum-senyum sendiri memandangi ponselnya. Sang istri yang baru masuk ke kamar pun mengernyitkan kening. Merasa heran karena tak biasanya Novan bersikap begitu.


"Kenapa, Mas?" tanya Tiara.


Novan mendongak dan menatap istrinya dengan lembut. Lantas, senyumnya makin lebar ketika menunjukkan layar ponsel miliknya.


"Juna berhasil," ucapnya.


Tiara tidak langsung menyahut. Ia terlebih dahulu duduk di sebelah Novan dan melihat riwayat pesan suaminya dengan Juna.


"Dia bahagia banget, katanya Om Bagas dan Tante Nimas langsung suruh nyusul ke sana besok. Aku ikut seneng juga, mudah-mudahan ... dengan ini dia punya kehidupan yang lebih baik lagi," ujar Novan sebelum Tiara membuka suara.


Setelah beberapa detik diam, Tiara menarik napas panjang. Lantas, menatap Novan yang berada tepat di sebelahnya.


"Tapi ... apa nggak papa Juna sama Sherin?" tanya Tiara.


"Katanya, sekarang Sherin udah banyak berubah, dan keluarganya juga menerima Juna dengan baik. Harusnya sih nggak apa-apa."

__ADS_1


"Apa mereka nggak tahu kalau Juna teman kamu?" Tiara bertanya lagi.


"Tahu. Juna pernah ngomong kok kalau dia temanku. Yah, nggak tahu sih kenapa Devan nggak mempermasalahkan itu. Entah karena kebahagiaan Sherin atau ... mungkin udah melupakan masalah dulu," jawab Novan, dan Tiara hanya mengangguk-angguk mendengarnya.


Namun, pikiran Tiara sedikit bekerja. Menurutnya, mustahil Devan melupakan masalah dulu. Kalaupun iya, tentunya ada alasan lain yang membuat hal itu menjadi mungkin, yang tidak ada kaitannya dengan Sherin.


_________


Sesuai dengan keinginan Juna, keesokan harinya Bagas dan Nimas menyusul ke Surabaya. Hampir senja keduanya tiba di penginapan tempat Juna berada.


Juna menyambut mereka dengan bahagia, membayangkan bahwa pernikahannya dengan Sherin sudah ada di ambang mata. Sebuah rasa yang mampu mengikis kekecewaan yang selama ini bersarang dalam benaknya.


"Kamu sudah besar, Juna, sudah memikirkan pernikahan. Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Maafkan Mama yang dulu meninggalkan kamu," ujar Nimas sambil mengusap-usap bahu Juna. Kala itu mereka hanya berdua, sementara Bagas masih di kamar mandi.


Nimas menghela napas panjang, "Sebenarnya ... bukan ekonomi yang menjadi alasan utama Mama untuk pergi dari ayah kamu."


Juna tersentak, "Maksud Mama?"


Nimas memejam sesaat, demi mengusir sesak yang lagi-lagi menyeruak.


"Ayah kamu bukanlah pria normal. Menikah dengan Mama hanyalah kedok untuk menutupi penyimpangannya, sekaligus cara untuk punya anak. Lama-lama Mama nggak tahan, apalagi sejak kenal dengan Mas Bagas. Mama berpikir, untuk apa bertahan dalam pernikahan yang seperti itu. Dan Mama nggak bisa membawa kamu karena ayahmu sendiri yang memaksa kamu untuk tetap tinggal. Itu pula yang membuat Mama nggak pernah mengurusi kebutuhan kamu, ayahmu yang melarang."


Juna nyaris tak bisa berkata-kata. Penjelasan ibunya sungguh di luar dugaan.

__ADS_1


"Tapi, Mama dulu kan___"


"Iya. Demi kamu Mama nggak ngomong yang sebenarnya ke orang-orang, termasuk kamu juga. Mama nggak mau kamu malu karena punya ayah yang menyimpang."


Juna masih tak percaya. Ayah yang selalu dia sanjung, ternyata___


"Kalau hanya ekonomi, dari dulu ayah kamu keadaannya seperti itu. Kalau memang Mama mata duitan, nggak mungkin ada pernikahan di antara kami," ucap Nimas lagi.


Cukup masuk akal. Apalagi, dulu ayahnya memang punya sahabat laki-laki yang sangat dekat, bahkan sering menginap di rumahnya. Mungkin saja ... itulah seseorang yang ayahnya cintai.


"Dulu Mama memang nggak lama pacaran sama ayahmu. Mama pikir, dia tulus karena nggak pernah tergoda dengan wanita lain. Mama nggak ngira kalau ternyata ... tergodanya dengan sesama lelaki." Nimas kembali bicara, tatapannya tampak sendu. Begitu pahit masa lalunya dulu.


Juna masih diam.


"Maafin Mama ya. Karena nggak bisa bertahan, kamu jadi mengalami masa-masa sulit sendirian. Juna, sekarang kamu udah dewasa. Apa pun yang kamu tahu tentang ayahmu, jangan membencinya. Tetap sayangi dia, seperti dia menyayangimu," ucap Nimas.


Juna mengangguk. Namun, belum tahu harus bersikap bagaimana. Percaya atau tidak, entahlah. Selama ini ayahnya adalah sosok terbaik dalam hidupnya, dan sekarang malah dihadapakan dengan fakta yang tak mengenakkan.


Selagi Juna dan Nimas masih saling diam, tiba-tiba Bagas datang dan menghampiri keduanya.


"Juna ... Papa ingin bicara sama kamu," ucapnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2