
Usai berbincang dengan Devan pada malam itu, Sherin tak lagi menghabiskan waktu di kamar. Walau hatinya masih kacau dan kerap gelisah, tetapi ia bisa menutupinya dengan senyum dan sikap normal.
Kini, sudah dua hari berlalu sejak Devan mengajaknya bicara empat mata. Namun, belum ada tanda-tanda kehadiran Juna di rumahnya. Entah belum atau memang tidak akan datang, ahh.
Kecewa. Lagi-lagi dia kecewa dalam asmara. Meski sekadar penantian yang dari awal memang belum pasti, tetapi Sherin sudah cukup kecewa dibuatnya. Sebuah rasa yang akhirnya membuat dia mengambil keputusan berat—tidak kembali ke Malang. Ke depannya, dia akan fokus dengan bisnis di Surabaya saja, tidak akan menginjakkan kaki di tempat yang mempertemukan dia dengan Juna.
"Ma!" panggil Sherin usai makan pagi bersama.
"Iya, Rin." Dewi menoleh sekilas, lalu kembali fokus dengan ponselnya.
"Mulai besok aku balik kerja di sini, Ma. Di Malang biar Mas Devan aja yang menangani," ujar Sherin.
Dewi mengangguk sambil tersenyum. Meski terkesan plinplan, tetapi ia mengerti. Apa yang menimpa Sherin di masa lalu, bukanlah sesuatu yang sederhana. Beruntung dia masih bisa berkarier seperti sekarang.
__ADS_1
"Apa pun pilihanmu, percayalah ... Mama selalu mendoakan yang terbaik. Mama berharap suatu saat nanti kamu mendapatkan pasangan yang benar-benar mencintai kamu, seperti masmu yang bisa mendapatkan Mbak Alina," ujar Dewi dengan senyum yang makin lebar.
"Iya, Ma." Sekadar jawaban singkat yang keluar dari bibir Sherin.
Tak lama setelah itu, Sherin izin undur diri. Dia akan mengajak Bian jalan-jalan mumpung hari Minggu, sebelum besok harus dia tinggal kerja seharian.
Selepas kepergian Sherin, senyuman Dewi perlahan pudar. Ia dengan kuat menggigit bibirnya, menahan air mata yang sudah merebak. Bukan hanya Sherin yang menjadi beban dalam hatinya saat ini, melainkan juga Shaka. Sang putra yang sudah lama tiada, yang ternyata menyimpan rahasia kelam. Sialnya, baru beberapa hari lalu Dewi mengetahui rahasia itu.
Pikirannya kini penuh dengan penggalan-penggalan kenangan masa lalu, di mana dia marah dan tak henti memaki Tiara, menganggap dia sangat hina karena mengkhianati Shaka dan Sherin. Namun, tanpa dia sadari ternyata Shaka tak jauh beda. Malah seandainya kecelakaan itu tidak terjadi dan pernikahan tetap berlanjut, Tiara-lah pihak yang paling dirugikan. Walau dia membawa anak dari lelaki lain, tetapi masih tak seberapa dibandingkan dengan apa yang dibawa Shaka.
_______
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Namun, Sherin masih sibuk dengan persiapan kerjanya. Dia terlalu bersemangat kali ini. Mungkin, karena itulah jalan terbaik untuk melupakan harapannya terhadap Juna.
__ADS_1
Ketika Sherin sedang larut dalam kesibukannya, tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar, Sherin pun bangkit dan membukanya dengan lebar.
"Ada apa, Bi?"
"Ada tamu yang mencari Non Sherin."
Sherin mengernyit, "Siapa, Bi?"
"Aduh, Non, maaf, saya tidak sempat tanya namanya. Tapi, dia laki-laki. Tadi sudah ketemu sama Nyonya, cuma masih mencari Non Sherin."
Keterangan dari pelayan membuat harapan Sherin kembali melambung. Dalam beberapa waktu ini, dia tidak ada janji dengan siapa pun, dan satu-satunya yang ditunggu kedatangannya hanyalah Juna. Namun, benarkah lelaki itu adalah dia?
Bersambung...
__ADS_1