
Dengan langkah yang tergesa-gesa, Sherin keluar kamar dan langsung menuju ruang tamu. Saking terburu-burunya, Sherin sampai melupakan tatanan rambutnya yang hanya digulung asal. Biarlah. Yang penting dia segera tahu siapa lelaki yang mencarinya. Benar Juna atau bukan.
"Saya tulus mencintai Sherin. Jika diizinkan, saya siap menikahinya kapanpun. Saya memang bukan orang kaya, tapi saya berjanji akan bertanggung jawab. Sherin dan anaknya tidak akan kekurangan hidup bersama saya."
Jantung Sherin langsung berdetak cepat ketika menginjakkan kaki di ruang tamu. Meski lelaki itu duduk membelakanginya, tetapi Sherin tahu pasti siapa dia—Juna. Postur tubuh dan gaya rambut yang familier, pun dengan suara yang akhir-akhir ini sering ia rindukan.
"Ucapanmu cukup meyakinkan. Tapi ... apa menurutmu Sherin juga memiliki rasa yang sama?" Dewi bertanya sambil melirik ke arah Sherin, yang saat itu masih menghentikan langkahnya.
"Jika Sherin tidak mencintai saya, saya bersedia mundur. Saya tidak akan memaksa jika memang Sherin mencintai calon suaminya. Kebahagiaan dia, sudah cukup bagi saya untuk bahagia," jawab Juna, begitu indah terdengar di telinga Sherin.
"Bicaralah sendiri dengannya." Dewi bangkit dan menunjuk ke arah Sherin.
Juna terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Perasaannya campur aduk ketika mendapati sosok wanita pujaan. Sedikit bahagia karena melihat dia baik-baik saja, tetapi sedikit sakit juga karena kemungkinan dia akan menjadi milik lelaki lain.
Sebelum Sherin dan Juna saling menyapa, Dewi melangkah pergi guna memberi ruang bagi mereka untuk bicara empat mata.
"Kamu apa kabar?" tanya Juna ketika Sherin sudah duduk di hadapannya.
"Aku baik. Kamu sendiri gimana?" Sherin balik bertanya, dengan gugup tentunya.
__ADS_1
Juna menunduk, "Sejak mendengar kabar kamu akan menikah, kabarku nggak baik."
"Kenapa?"
Juna mendongak dan menatap Sherin dengan lekat, "Maaf kalau aku lancang, aku ... mencintai kamu, Sherin. Aku menganggap lebih kebersamaan kita selama ini. Aku ... ke sini untuk memastikan, kamu beneran mencintai calon suami kamu atau nggak."
"Kalau iya?"
"Aku akan mundur. Nggak ada yang lebih utama dari kebahagiaan kamu, sekalipun bukan dengan aku."
"Kalau nggak?"
Dengan pipi yang merona, Sherin mengulas senyuman yang lebar. Ada banyak kelegaan dalam hatinya karena Juna benar-benar datang dan menyatakan cinta secara jantan. Dengan begini, kesempatan mereka untuk bersama makin besar, kan?
"Aku nggak mau nikah kok. Waktu itu ... emang ada yang mau niat ngelamar, tapi aku nggak mau. Aku nggak cinta sama dia, jadi mana mungkin merencanakan pernikahan dengan dia," ucap Sherin.
Juna terdiam sesaat, mencoba mencerna dan mencocokkan jawaban Sherin dengan kata-kata Devan waktu itu. Bertolak belakang.
"Ponselku hilang, makanya nggak bisa hubungi kamu lagi. Aku nggak hafal nomormu," ujar Sherin lagi. Kali ini memilih berbohong. Agak sulit berterus terang dan mengatakan bahwa nomornya sengaja dinonaktifkan atas perintah Devan.
__ADS_1
Juna menganggu-angguk. Ia mulai mengerti dengan keadaan yang terjadi. Devan ... telah berbohong padanya. Namun, Juna belum tahu alasan di balik itu semua, sengaja agar dirinya mundur atau ... justru sebuah trik untuk menguji keseriusannya. Entahlah.
"Baguslah kalau kamu nggak nikah dengan orang lain. Jadi, masih bisa mempertimbangkan aku, kan?" Juna kembali mengumpulkan keberaniannya, guna mengejar jawaban Sherin.
"Kamu ... kenapa mencintaiku?" Sebelum jujur akan perasaannya, Sherin ingin tahu dulu alasan cinta yang dipersembahkan Juna.
Namun, laki-laki itu malah menggeleng pelan. "Aku juga nggak tahu apa alasan yang paling tepat untuk cinta ini. Aku nyaman sama kamu, aku bahagia melihat kamu tersenyum, dan ... aku selalu kagum dengan semua yang ada pada dirimu. Alasanku mencintaimu, lebih dari sekedar cantik, cerdas, atau baik hati."
Lagi-lagi Sherin merona. Meski sederhana, nyatanya Juna sangat pandai membuat hatinya luluh.
"Sebenarnya, aku juga nyaman sama kamu," ucap Sherin agak tertahan. Masih terselip malu dalam menyatakan kalimat itu.
"Jadi, kamu juga memiliki perasaan yang sama? Kamu juga bersedia menikah denganku?" tanya Juna dengan semangat.
Belum sempat Sherin menjawab, Devan sudah datang bersama istri dan anak angkatnya. Alina dan anaknya langsung masuk ke ruang keluarga, sedangkan Devan duduk di ruang tamu, tepat di sebelah Sherin.
"Pak Devan," sapa Juna dengan sopan.
Dia pula memilih menunduk karena tatapan Devan tidak sedap dipandang.
__ADS_1
Bersambung...