My Accident Destiny

My Accident Destiny
My Accident Destiny Part 10 " Semakin Aman Dan Nyaman Di Dekatmu "


__ADS_3

Situasi nampak masih sangat nyata dalam ingatan Shelo bahkan menjadi mimpi sangat buruk dalam tidurnya. Saat ini Shelo sudah berada di kamar tidurnya di apartmen tempat mereka tinggal. Terlihat Arvi menyeka dan mengompres wajah Shelo dengan air dingin karena ada bekas lebam di pipi kiri wanita menyedihkan itu. Sejenak Shelo yang sesampainya di rumah meminum obat penenang dari dokter Arvi, terbangun dari tidurnya dan melihat Arvi berada sampingnya.


Arvi yang bahkan tidak sempat mengganti pakaian dan masih memakai kemeja kerja dengan sigap merawat Shelo.


“ Terimakasih. ” Kata pertama yang Shelo ucapkan ketika sadar.


“ Dasar bodoh. Biasanya kamu ahli berburuk sangka, tapi bisa-bisanya dengan mudah masuk ke perangkap mama. ” Perkataan tidak mengenakkan Arvi membuat Shelo kesal dan hampir menangis.


“ Jangan pernah kesana lagi tanpa aku. Mama memang orang seperti itu, apalagi kalau menyangkut sesuatu yang tidak disukai. ” Lanjut Arvi menjelaskan tanpa basa basi.


“ Aku ga menyangka hidupku akan jadi serumit ini. ” Jawab Shelo dengan senyum pahit masih tidak percaya untuk pertama kalinya bertemu kejahatan seperti ini.


“ Mama benar-benar bertindak terlalu jauh, mengkhawatirkan sesuatu yang ga akan terjadi. ” Gerutu Arvi sambil menggulung lengan kemeja panjang nya. Mendengar itu Shelo jadi menyadari bahwa Arvi sempat ikut mendengarkan perkataan jahat ibunya tentang ketakutan memiliki keturunan.


“ Menjadi keluarga kaya dan terpandang itu mengerikan ya. Bahkan merencanakan sesuatu melebihi kehendak Tuhan. ” Kata Shelo sambil menyingkirkan handuk basah yang akan mendarat ke wajah lebam nya karena bantuan Arvi.


“ Setidaknya sekarang kamu punya pengalaman dengan keluarga ku. Apa yang aku katakan dari awal bukan sekedar omong kosong. Hmmm.. kembalilah istirahat, jika butuh sesuatu temui aku di ruang kerjaku. Gara-gara menyusulmu, pekerjaan ku jadi tertunda. ” Pamit Arvi berjalan keluar dari kamar Shelo.


Rasa sakit, penghinaan, kekerasan seakan mencabik-cabik hati Shelo dan membuatnya kembali menangis jika mengingatnya. Namun semakin ia mengingat kejadian itu rasa marah pada dirinya membakar seluruh jiwanya, walau airmata belum juga kering ingin rasanya Shelo membalas perbuatan jahat itu. Kepercayaan diri Shelo pun mulai timbul kembali supaya hal ini tidak akan terulang lagi.


Sore hari di apartmen, beberapa jam setelah insiden di rumah ibu nya terjadi membuat Arvi merasa berat untuk meninggalkan Shelo sendirian dan memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan di rumah. Selesai mengambil istirahat sejenak, ia bermaksud berjalan ke dapur untuk membuat secangkir kopi, namun ia melihat Shelo dengan aura yang sudah membaik sedang membuat secangkir kopi di dapur.


“ Ngapain kamu ? ” Tanya Arvi menghampirinya.


“ Bikin kopi buat kamu. ” Jawab Shelo lembut dengan senyuman hangat. Arvi pun heran melihat sikap Shelo yang jadi lembut berbeda dengan biasanya.

__ADS_1


“ Perlu aku panggilkan dokter lagi ?” Tanya Arvi sedikit curiga.


“ Ga perlu, aku sudah baikan kok. Silahkan. ” Jawab Shelo sambil memberikan kopi buatannya kepada Arvi.


Tatapan curiga tak lepas dari pandangan Arvi yang merasa aneh dengan perlakuan Shelo.


“ Jangan tiba-tiba jadi aneh. Mending omongin aja. ” Sahut Arvi mendekat pada Shelo yang sekarang berdiri dekat di hadapannya.


“ Ga ada yang aneh. Aku sedang berusaha kembali menjadi diri sendiri aja. Tidak mudah terintimidasi dan kuat. ” Jawab Shelo percaya diri.


“ Oya, apa pekerjaan mu sudah selesai ? ” Pertanyaan Shelo selanjutnya tiba-tiba.


“ Untuk hari ini sudah cukup. Kenapa ? ”


Sikap Shelo yang mendadak berubah memang terlihat sedikit aneh bagi Arvi, namun menurutnya jika perubahan itu menjadi lebih baik.. maka Arvi dengan senang hati menurutinya. Setelah beberapa menit bersiap, mereka berdua turun ke basement parkiran apartmen untuk segera berangkat.. kali ini Arvi mengemudi sendiri menggunakan lamborgini merah miliknya.


Shelo Nampak antusias dengan kegiatan ini, memakai kaos hitam dan celana jeans pendek berwarna putih ia tampak lebih fresh. Sampai di salah satu mall terbesar di pusat kota, Arvi mengikuti setiap langkah Shelo pergi.


Mereka memasuki salah satu butik ternama di sana yang menyediakan berbagai pakaian dan gaun branded, dengan sabar Arvi menilai pakaian yang dicoba oleh Shelo.


“ Biasa. ”


“ Lumayan. ”


“ Big No. ”

__ADS_1


“ Lumayan. ”


Dan berulang seperti itu untuk beberapa kali, hingga Shelo mencoba satu gaun berwarna merah maroon berbahan dasar satin sutra dengan tidak terlalu banyak pernak pernik menghiasinya. Shelo melangkah keluar mengenakannya, detail gaun menunjukkan keanggunan dengan model kemben terbalut kain kaca sebagai luaran yang menutupi kulit Shelo dengan transparan.


“ Pakai ini untuk acara besok. ” Kata Arvi singkat menjatuhkan pilihan pada gaun yang mencuri perhatian dan menambah pesona Shelo.


Selesai belanja beberapa pakaian dan gaun, mereka beralih ke outlet sepatu branded sekelas Christian Louboutin. Kedua Mata Shelo segera mencari sepasang sepatu heels yang sesuai seleranya, meskipun ia merasa lebih nyaman menggunakan sepatu kets dalam kesehariannya.


Arvi juga ikut membantu melihat beberapa sepatu yang mencuri perhatiannya dan tertuju pada sepasang sepatu berwarna merah gelap dengan heels setinggi 7 cm, dihiasi pita cantik pada bagian depan sepatu yang tertutup. Sedangkan Shelo sudah memilih yang dia sukai dan mencobanya, sepatu heels berwarna putih dengan sedikit pernak Pernik pada bagian samping sepatu.


Diam-diam Arvi memberikan sepatu pilihannya kepada manager outlet yang melayani mereka secara langsung tanpa bertanya kepada Shelo terlebih dahulu.


“ Aku ambil yang ini, cari ukuran yang sama dengan yang dia pakai sekarang. ” Perintah Arvi sambil memperhatikan Shelo yang sibuk mencoba sepatu lain.


Kebutuhan sepatu terpenuhi, hasil belanjaan yang kian bertambah membuat Arvi menyewa beberapa jasa pegawai outlet untuk membawakan tas belanjaan. Menurut Shelo apa yang dibelinya sudah cukup, ketika hendak menuju pintu keluar.. Arvi menarik tangan Shelo untuk mengikutinya masuk ke outlet berlian ternama yaitu Cartier.


“ Aku ga butuh perhiasan. Kamu sudah memberi aku ini dan ini cukup. ” Tolak Shelo sambil menunjukkan kalung bersimbol A yang pernah Arvi berikan.


“ Itu saja tidak cukup. Coba yang ini. ” Arvi memasangkan sebuah gelang yang dihiasi oleh emerald-emerald kecil berwarna hijau. Arvi tidak membutuhkan waktu lama untuk memilihnya, karena ia ternyata sudah mempersiapkan itu ketika mereka dalam perjalanan menuju mall.


“ Jangan, Ini terlalu berlebihan. ” Kata Shelo menolak sopan.


“ Sudah, turuti saja apa kataku. Besok kamu akan ikut menemui pemilik outlet ini, aku ingin menunjukkan kalau aku juga ikut menghabiskan banyak uang untuk membeli perhiasannya menambah laba usahanya. ” Jawab Arvi dengan sombong sambil mengeluarkan kartu dari dompetnya hendak membayar.


Kehidupan mewah yang diberikan Arvi kepadanya membuat Shelo semakin miris untuk menilainya, apalagi ketika ia mengingat kelakuan buruk ibu Arvi yang sungguh tidak senilai dengan harta yang dimiliki. Meski begitu, Shelo yang terdiam nyaman menatap Arvi merasa bersyukur karena setidaknya Arvi memiliki sisi baik dan melindunginya dibalik sikap yang arogan.

__ADS_1


__ADS_2