My Accident Destiny

My Accident Destiny
My Accident Destiny Part 15 " Tidur Bersama Untuk Pertama Kali "


__ADS_3

Malam semakin larut namun kehangatan keluarga terus Arvi rasakan di rumah Shelo, mereka berempat berbincang sambil minum teh di ruang keluarga yang tidak ada apa-apanya dibanding apartmen mewah yang ditinggali Arvi dan Shelo.


Meskipun demikian, Arvi merasa lebih betah berada disana, bahkan dengan santainya ia ikut berbincang dan sesekali menceritakan tentang kehidupan pribadi maupun beberapa bisnisnya.


“ Kalian menginap aja disini. Sudah terlalu larut malam untuk pulang, kalian pasti capek kan seharian ini bantuin mama. ” Kata mama tiba-tiba.


“ Iya kak, nginep aja. Besok pagi kita rangkai bunga sama-sama. Udah lama kita ga kerjain bunga bersama niih. ” Sahut Sesil menambahkan dengan manja sambil memeluk lengan Shelo seakan rindu mereka belum terobati.


Jawaban Shelo bergantung pada ijin Arvi yang duduk di sebelehnya, tanpa pikir panjang Arvi mengangguk memberi ijin.


Keadaan beruah menjadi canggung di dalam kamar tidur Shelo yang sederhana. Secara tidak langsung malam ini mereka harus tidur bersama dalam 1 ranjang.



Shelo yang terlihat sudah memakai baju tidur Sesil merasa gugup dan jantung nya berdegup kencang disusul Arvi yang selesai berganti pakaian, ia memakai kaos ayah Shelo walau sedikit lebih kecil ukurannya di tubuh Arvi serta celana training yang menggantung terlalu pendek diatas mata kaki.


Shelo tak kuasa menahan tawanya melihat outfit Arvi yang serba tidak pas dan membuatnya lucu. Candaan Shelo sedikit menyinggung Arvi yang begitu menjaga image dimanapun dan kapanpun ia berada.


“ Apa aku suruh Resa ambil pakaian di rumah ya. ” Kata Arvi sambil memegang hp berencana menghubungi Resa selarut ini.


Shelo dengan sigap meraih hp Arvi dan mencegahnya.


“ Ini udah tengah malam, kasian dia. Tidur aja dengan pakaian seadanya. ” Sahut Shelo bijak dan pengertian.


Mereka dengan malu-malu berbaring di ranjang lama ukuran 160 milik Shelo yang sudah bertahun tahun menemani hari-hari Shelo di rumah.


“ Gak kusangka malam pertama kita.. tidur di ranjang tua milikmu ini. ” Kata Arvi yang belum bisa tidur sambil tersenyum menggoda Shelo.


“ Walaupun tua, tapi nyaman. ” Jawab Shelo seakan tidak terima atas penghinaan Arvi.

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka sebelum tidur, awal canggung dan rasa takut Shelo lama kelamaan menghilang digantikan dengan rasa percaya yang sudah ia tanamkan kepada Arvi yang berbaring disebelahnya.


Arvi memberikan lengannya sebagai bantal kepala Shelo, sehingga tubuh mereka tidak memiliki jarak lagi.


“ Aku mungkin malam ini akan sulit tidur lagi. Tapi setidaknya kamu jangan meragukan aku. Aku hanya akan memelukmu seperti ini. ” Kata Arvi lembut, sedangkan Shelo yang sudah setengah tertidur hanya bisa tersenyum kecil dan lelap dalam tidurnya di pelukan Arvi.


Keesokan pagi, para wanita sudah bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan walau hanya sekedar susu dan roti selai. Terlihat Arvi yang sudah selesai mandi keluar menuju meja makan dan menyapa ibu, Sesil juga Shelo disana.


“ Hari ini kamu ngantor ?” Tanya Shelo sambil memberikan segelas susu pada Arvi.


“ Iya, tapi aku mau pulang dulu berganti pakaian. ” Jawab Arvi sambil meminum susu pemberian Shelo.


“ Kalau begitu tunggu sebentar ya nak. ” Sahut ibu Shelo yang tiba-tiba bergegas ke dapur menyiapkan sesuatu untuk Arvi tanpa sepengetahuan Shelo, sedangkan Sesil bersiap berangkat ke sekolah.


“ Kak.. aku berangkat dulu ya. ” Pamit Sesil pada kedua kakajnya yang ada di meja makan bersamanya.


“ Sesil… bawa ini. ” Arvi menghentikan Sesil sambil memberikan black card dari dompetnya tanpa pikir panjang.


“ Aku ga perlu itu kak.. Jangan repot-repot. ” Tolak Sesil sopan.


“ Kamu harus ambil ini. Anggap ini uang jajan dari kakak. Beli apapun yang kamu mau pake kartu ini. Oke ?”


Sesil pun masih ragu untuk menerimanya, ia melihat ke arah Shelo yang jadi merasa tidak enak.


“ Arvi… jangan berlebihan. Sesil masih sekolah, ga perlu uang jajan sebanyak itu. Dia bisa berbagi sama aku kok. ” Kata Shelo pengertian dan berusaha menghemat uang suaminya yang tidak pernah pikir panjang sebelum menghamburkannya.


“ Jangan. Kamu kan ga setiap hari sama mereka. Kartu ini juga bisa dipake buat keperluan mama. Kamu ga perlu sungkan, kan kamu sendiri yang bilang kalau aku bagian dari keluarga kalian. Pakai saja ketika kalian butuh, pakai saat ga butuh pun juga malah lebih baik.” Pungkas Arvi membuat Shelo tidak bisa berkata-kata lagi, Arvi dengan paksa memberikan black card unlimited nya kepada Sesil.


“ Terima kasih banyak ya kak. Kalau gitu aku berangkat dulu. ” Pamit Sesil berlalu pergi.

__ADS_1


Kemudian tanpa mengetahui papun, ibu Shelo keluar dari dapur sambil membawa kotak makan siang yang sudah berisi nasi hangat dan lauk pauk. Shelo jadi heran melihat kotak makan siang yang dulu sering ia gunakan saat sekolah.



“ Buat siapa ma ?? Sesil udah berangkat. ” Kata Shelo salah mengartikan tujuan ibunya.


“ Bukan buat Sesil, tapi buat Arvi. Biar dia bisa makan siang di kantor, ga perlu repot beli makanan.” Pemikiran sederhana ibu Shelo mengejutkan Arvi.


“ Ehmm… ma, kayaknya Arvi ga terbiasa dengan kotak makan siang deh. ” Gerutu Shelo pelan di samping ibunya namun tanpa di duga Arvi mengambil kotak makan siang itu menghargai usaha ibu mertuanya.


“ Makasih ya ma. Nanti pasti kumakan. Seumur-umur, aku belum pernah dapat kotak makan siang seperti ini dari mamaku. ” Kata Arvi tersenyum bahagia dan keceplosan mengatakan keadaannya, hal itu tentu membuat ibu Shelo merasa terenyuh.


“ Kapan saja kamu mau, bilang mama ya. Akan mama buatkan makanan kesukaan mu. ” Jawab ibu Shelo penuh perhatian sambil membelai pipi kanan Arvi yang terlihat begitu sendu namun juga bahagia mendapatkan kasih sayang yang tak ternilai dari seorang ibu.


Arvi bergegas pergi ke kantor dengan mobilnya, sedangkan ibu dan Shelo mulai merapikan beberapa barang yang kemarin dibawa oleh Arvi dan memenuhi halaman rumahnya saat ini.


“ Oya.. aku lupa nanya. Semua barang ini mau di apakan ma. Rumah kita mana cukup. ” Sahut Shelo tampak frustasi melihat kerapian rumahnya yang hilang dalam sekejap karena perbuatan Arvi, begitu juga dengan ibu Shelo yang tidak tau harus berbuat apa.


Siang hari di perusahaan, Arvi terlihat duduk tenang sambil tersenyum kecil memandangi kotak makan dari ibu Shelo yang sedari tadi berada di atas meja kerjanya.


Resa masuk ke ruangan menemui Arvi membawa beberapa dokumen yang membutuhkan persetujuan Arvi, betapa kagetnya dia melihat sesuatu yang sangat langka di hadapan Arvi.


“ Waah… sejak kapan anda suka membawa kotak makan pak ?” Tanya resa tanpa rasa ragu.


“ Aku juga tidak tau kenapa membawa ini sampai kesini. Lucu kan. ” Kata Arvi sambil tersenyum tak percaya dengan apa yang dia lakukan.


“ Kalau anda merasa terganggu, saya bisa menyingkirkannya pak. ” Jawab Resa bertujuan baik, demi kenyamanan Arvi.


Namun seketika itu, Arvi memegang kotak makan itu dengan kedua tangannya seakan miliknya yang berharga.

__ADS_1


“ Jangan sentuh. Ini buatan mamanya Shelo khusus buat aku. Kamu ga akan tau betapa berharganya ini, karena kamu kan masih single, makanya buruan nikah.” Sahut Arvi tiba-tiba menyombongkan diri dan mencemooh Resa yang tertawa lucu melihat tingkah bos arogannya.


‘ Hmmm.. Bu Shelo memang hebat. Bisa melatih seekor harimau menjadi seperti kucing yang lucu.’ Batin Resa tak kuasa menahan tawa sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Arvi yang kekanak kanakan.


__ADS_2