My Accident Destiny

My Accident Destiny
My Accident Destiny Part 13 " Dia Membuatku Berharga"


__ADS_3

Dua bulan kemudian, suasana pagi yang tenang begitu terasa di Universitas Harapan Indonesia namun terlihat beberapa mahasiswa dengan pakaian rapi memakai jas almamater sesuai jurusan sedang berada di koridor aula dengan wajah penuh khawatir.



Hari dimana mereka harus memperjuangkan skripsi yang sudah mereka buat di hadapan para penguji pun tiba. Mahasiswa yang sudah melewati dan berhasil dengan proposal skripsi diperbolehkan untuk mengikuti sidang skripsi gelombang pertama pada hari ini.


Terlihat Shelo menjadi salah satu peserta yang gugup sambil terus membaca dan menghafalkan setiap materi yang telah ia susun sebaik mungkin berharap hari ini semua akan berjalan dengan lancar, termasuk Ayu dan Mia yang biasanya terlihat lebih santai dari Shelo.. kini juga harus berjuang dengan sungguh-sungguh. Giliran Shelo hampir tiba dengan nomor urut 15 dan setiap mahasiswa memiliki waktu 45-60 menit untuk memberikan presentasi serta Tanya jawab dengan para dosen penguji.


“ Nomor urut 15, Shelomita Deana Putri fakultas ekonomi bisnis. ” Panggil salah satu asisten dosen. Shelo menghela nafas dalam-dalam agar ia lebih relaks, merapikan jas almamater serta ikatan rambutnya seraya berjalan dengan yakin memasuki aula.


Sudah ada 3 penguji yang duduk disana menyambut Shelo dengan hardcopy skripsi yang Shelo serahkan lima hari sebelum ujian proposal. Suasana tampak tenang dan tentu saja tegang bagi Shelo yang berharap bisa segera menyelesaikan kuliahnya meski sempat tertunda 1 semester.


Presentasi dimulai, satu demi satu Shelo memberikan penjelasan tentang penelitian yang dia ambil tanpa ada kesalahan. Ekspresi para dosen penguji nampak cukup puas dengan sesekali menganggukkan kepala menyetujui pendapat Shelo… 20 menit berlalu untuk presentasi, saatnya masuk ke sesi Tanya jawab dimana setiap jawaban yang Shelo berikan menjadi penentu yang sangat besar bagi kelulusannya. Tanpa ragu setiap pertanyaan yang diberikan mampu Shelo jawab dengan baik, meski tentu saja pasti ada revisi pada skripsinya namun dirinya merasa cukup yakin bahwa hasilnya akan sesuai dengan apa yang memang sudah sungguh-sungguh kerjakan dan pelajari tanpa memplagiat dari siapapun. Para dosen penguji menilai secara objektif secara keseluruhan hasil skripsi Shelo dan mempersilahkan dirinya keluar.


Singkat cerita, semua peseta sebanyak 25 mahasiswa sudah melalui dan memberikan perjuangan yang maksimal untuk skripsi mereka masing-masing. Hasil keputusan sudah di tangan para dosen penguji yang semakin membuat para peserta begitu tegang menantikannya.


Ketegangan dan kekhawatiran tidak hanya dialami oleh Shelo, namun juga dialami oleh Arvi yang saat ini sedang menunggu kabar di ruangan kerjanya. Berkali-kali ia memeriksa layar hp miliknya berharap mendapatkan kabar dari hasil sidang Shelo hari ini. Arvi berkontribusi cukup besar dalam membantu Shelo menyelesaikan skripsi, terutama dalam hal tenaga.


Ia dengan setia menemani Shelo yang hampir setiap hari selama dua bulan ini begadang sampai terkadang lupa makan, quality time mereka berdua yang baru-baru ini sedang kasmaran juga secara otomatis hilang karena Shelo yang fokus pada skripsinya.


Sambil melonggarkan dasinya, Arvi menggerutu menunggu kabar dan terus memantau hpnya. Resa yang berdiri di hadapannya namun seakan tidak terlihat tertawa kecil melihat kelakuan bosnya yang baru pertama kali ini kehilangan kewibawaannya di depan Resa.


“ Ehem.. ehem.. ” Resa sengaja memberikan pertanda keberadaan dirinya di hadapan Arvi yang hanya fokus melihat layar hp. Memang tidak di pungkiri bahwa seharian ini Arvi tidak fokus pada pekerjaannya dan memikirkan seseorang yang terus mengisi relung hatinya.


“ Oh, sorry Res, lagi ga fokus. ” Sahut Arvi setelah menyadari kehadiran Resa.


“ Lagi khawatirin bu Shelo ya pak ?” Goda Resa to the point.


“ Engga juga sih.. penasaran aja sama hasil sidang skripsinya. Uda sore tapi belum ada kabar. ” Jawab Arvi sambil melihat jam tangan Rolex yang melingkar di tangan kirinya.


“ Mungkin sebentar lagi pak. Tapi saya percaya kok dengan kemampuan bu Shelo pasti lulus. ” Kata Resa menyemangati Arvi yang ikut gelisah.

__ADS_1


“ Yaahh.. semoga aja Res, tadi pagi dia karena gugupnya sampai ga sarapan. Padahal sarapan itu kan penting buat performance dia hari ini, disiapin vitamin juga ga dibawa.” Lanjut Arvi sedikit mengomel namun terkesan lucu di telinga Resa yang melihat begitu banyak perubahan semenjak kedua sejoli ini berhubungan baik.


“ Waahh.. baru kali ini saya melihat bapak sampai sekhawatir ini. Sangat terlihat begitu pentingnya bu Shelo di hati bapak. ” Kata Resa meledek Arvi yang akhirnya jadi salah tingkah seakan gengsi untuk mengakui.


“ Aahh.. ga juga. Kamu berlebihan. Kalau sudah tidak ada yang perlu di kerjakan, saya mau pulang. ” Jawab Arvi menghindari Resa yang suah membuatnya salah tingkah, Arvi memakai kembali jas coklat tuanya dan melangkah menuju keluar ruangan.


Langkah Arvi terhenti ketika melihat Shelo dengan wajah riang gembira berlari mendekat dan memeluk Arvi dengan penuh semangat, hingga membuat Arvi terkejut di hadapan beberapa staf yang ada disana.


“ Arviii… aku luluuusss. ” Teriak Shelo bahagia dengan posisi memeluk Arvi semakin erat tanpa menyadari bahwa beberapa pasang mata tersenyum melihat mereka.


“ Aku tau kamu senang, tapi jaga wibawa ku juga dong di depan karyawan. ” Jawab Arvi berbisik di telinga gadis mungil ini dan seketika membuatnya tersadar tanpa pikir panjang melepaskan pelukannya dari tubuh proporsional Arvi.


“ Hehehe… Sorry, kebawa suasana. ” Kata Shelo sambil tertunduk malu menutupi wajahnya. Arvi pun segera menggandeng tangan Shelo dan berjalan keluar menuju lobby perusahaan berniat membawa Shelo pulang.


Sesampainya di apartmen, bucket bunga besar dan boneka beruang teddy berwarna coklat setingggi 1 meter menyambut kedatangan Shelo. Setelah keberangkatan Shelo ke kampus, Arvi bergegas mempersiapkan itu semua sebagai kejutan kecil.


“ Congratulation. ” Kata Arvi yang berada di sebelahnya.


“ Ga perlu nunggu hasil, aku percaya kok perjuangan mu selama 2 bulan terakhir ini pasti membuahkan hasil yang terbaik. Good job Shelomita Deana Putri. ” Kata Arvi sambil menghampiri dan memeluk Shelo dengan perasaan bahagia serta membelai kepala Shelo. Air mata bahagia pun tak terhindarkan di moment keberhasilan Shelo atas pendidikannya, pelukan hangat Arvi mengingatkan dan membuatnya merindukan sosok seorang ayah yang telah lama meninggalkannya.


“ Nyaman. Mungkin kalau papa masih hidup, dia juga akan memelukku dengan hangat seperti ini. ” Kata Shelo masih nyaman berada di pelukan Arvi yang semakin erat.


Setelah suasana romantis dan emosional itu, mereka berganti pakaian di kamar masing-masing. Shelo yang sudah mandi dan memakai piyama keluar dari kamar bermaksud membuat makan malam diikuti dengan Arvi yang juga baru selesai mandi keluar dari kamarnya.



“ Malam ini kita dinner di luar aja. Ga usah repot masak. ” Sahut Arvi sambil mengambil sekaleng soda dari kulkas.


“ Kamu tau kan, semenjak jadi perhatian media.. aku jadi malas keluar rumah kalau ga terlalu penting. ” Jawab Shelo sambil mencuci beberapa sayuran dan daging untuk dia olah.


Arvi meletakkan minumannya kemudian tiba-tiba mendekati Shelo yang masih sibuk mencuci sayuran dan perlahan memeluk Shelo dari belakang dengan ekspresi manja yang jarang terjadi.

__ADS_1


“ Ehm… Oya, aku mau bahas sesuatu sama kamu. ” Kata Arvi sedikit ragu.


“ Mau bahas apa ?? ” Tanya Shelo tanpa curiga.


“ Kapan kamu siap tidur bersama di kamar utama ?” Pertanyaan Arvi seketika menghentikan pekerjaan yang dilakukan Shelo.


“ Maksudmu… kita.... ” Belum selesai Shelo menjelaskan perkataannya, Arvi dengan peka menjelaskan maksud perkataannya.


“ Jangan berpikir yang seperti itu dulu. Maksudku kita tidur di ranjang yang sama. Itu aja. Aku kan sudah pernah bilang, kalau aku bukan tipe pria sembarangan yang tanpa ijin menyentuh wanita. Apalagi aku tau kalau kamu masih trauma untuk melakukan hubungan yang lebih jauh. ” Sahut Arvi sambil sedikit terbata-bata karena takut kalau Shelo akan berpikir negative terhadap dirinya.


Akan tetapi apa yang ditakutkan Arvi tidak terjadi, Shelo malah tersenyum mendengar perkataan Arvi yang terbata-bata lucu serta memalingkan tubuh nya menghadap Arvi yang tidak melepaskan pelukannya sedari tadi.


“ Kenapa gugup, memang aku bilang kamu seperti itu ?” Jawab Shelo percaya diri jauh berbeda dengan sebelumnya yang selalu takut tentang suasana atau pembahasan lebih intim.


Mendengar jawaban dan senyuman di wajah Shelo, jantung Arvi menjadi berdegup kencang, ruangan berAC di apartmen menjadi seolah memanas dan membakar tubuhnya, mata Arvi tertuju pada wajah Shelo, kemudian mata… hidung… bibir dan leher Shelo. Sebagai pria dewasa pada umumnya, gejolak yang dirasakan Arvi begitu tak tertahankan.


Tangan kanan Arvi menyentuh pipi kiri Shelo dan suasana semakin intens diantara mereka berdua, tubuh dan wajah Arvi semakin mendekat kearah Shelo yang terdiam ikut hanyut dalam suasana.


“ Rasanya aku tidak bisa menahannya terlalu lama, tapi dengan memaksamu… itu akan menyakitiku juga. ” Kata Arvi mencoba menahan nafsunya.


“ Arviii… ” Sahut Shelo ragu dan menghindari tatapan Arvi.


“ Aku tidak akan melakukan hal itu tanpa ijin darimu, jadi jangan merasa tertekan. ” Kata Arvi lembut dan tersenyum berhasil mengendalikan diri. Mendengar itu Shelo pun kembali berani menatap Arvi dengan nyaman penuh kelegaan. Hatinya tersentuh melihat ketulusan Arvi, si orang asing yang awalnya hanya bisa menyakiti dirinya namun ternyata di balik semua itu ia penuh ketulusan ketika mencintai seorang wanita.


“ Tapi aku tidak bisa menahan yang satu ini. ” Sahut Arvi seraya mencium bibir Shelo dengan lembut.


Ciuman yang begitu intens seperti seorang kelaparan terus berlanjut, sesekali mereka menarik nafas dan melanjutkannya lagi dan lagi.. Arvi memegang pinggang Shelo dengan kedua tangannya dan mengangkat tubuh mungil Shelo ke sisi meja dekat wastafel yang masih memiliki cukup ruang untuk di duduki oleh Shelo, sekarang tinggi mereka menjadi sama dan ciuman terus berlanjut untuk beberapa menit ke depan.


Makan malam bukan menjadi hal penting bagi mereka sekarang, karena rasa suka di dalam hati Shelo dan Arvi tidak bisa terbendung dan terus menghangatkan suasana. Tanpa Arvi sadari, wanita yang saat ini berciuman intim dengannya begitu berharga sehingga mampu membuat Arvi menahan keinginan dan nalurinya sebagai pria yang 10 tahun lebih dewasa dari Shelo.


Arvi hanya bisa berharap, trauma Shelo atas pelecehan seksual yang dialaminya dapat segera menghilang di waktu yang tepat dan ia percaya bahwa hari dimana Shelo secara utuh menjadi milik Arvi akan tiba walau harus menunggu berapa lama lagi.

__ADS_1


__ADS_2