
' kenapa aku masih berdebar seperti waktu dulu ' Kata hati Shelo saat bibir merona nya mendapat ciuman mendadak dari Arvi yang tidak bisa menahan diri.
Seperti dejavu, rasa yang sama.. orang yang sama dan irama debaran jantung yang sama dirasakannya..
Hingga beberapa detik ia menyadari bahwa semua ini tidak boleh terjadi, kedua tangan Shelo mendorong tubuh Arvi menjauh dan ciuman itu berakhir.
" Apa yang kamu lakukan?? " Tanya Shelo memperjelas keadaan.
" Itulah yang aku rasakan. Dua tahun menahan diri untuk tidak menemui mu, melampiaskan kepada siapa pun. Namun rasa ini hanya ada saat bersama mu. " Jawab Arvi jujur dengan perasaannya.
" Semua ini tidak benar.Apa yang sudah berakhir, biarlah berakhir. Jangan membuat masalah lagi. Aku tidak mau jatuh untuk kedua kalinya. " Kata Shelo pesimis.
" Aku tau. Semua sangat sulit untuk kita berdua. Tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mencampuri urusan mu. Apalagi kalau kamu bertemu dengan lelaki yang salah lagi. " Jawab Arvi khawatir dengan hubungan Shelo bersama Jacob.
" Jadi maksud mu, kamu khawatir tentang Jacob? " Sindir Shelo tepat sasaran.
" Aku sudah mencari tahu semua tentang nya. Dunia nya yang kelam dan penuh kekerasan. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskan mu pada lelaki seperti itu. "
Mendengar kekhawatiran Arvi membuat Shelo tertawa kecil dan sinis.
" Lalu, bagaimana dengan mu? terlahir dari keluarga kaya.. terhormat.. tetapi, kalian juga tidak lebih baik dari Jacob. " Perkataan Shelo tajam mengingat kejadian pahit saat masih berhubungan dengan Arvi.
Arvi pun tidak bisa membela diri karena apa yang dikatakan Shelo adalah benar, dimana ia gagal melindungi wanitanya bahkan calon anak mereka.
" Pergi Arvi. Hari ini aku sangat lelah. Kamu dan Jacob sangat memusingkan. Aku tidak mau berurusan lagi dengan kalian. " Tanpa segan Shelo menarik tangan Arvi dan membawa nya keluar dari toko.
" Shel.. " Arvi masih merasa belum selesai berbincang dengan Shelo.
" Cukup Arvi. Anggap saja hari ini tidak pernah ada. " Kata Shelo sambil meninggalkan Arvi di depan toko nya.
Begitu berjuang nya Shelo menutupi apa yang ia rasakan, karna jantung nya yang masih berdebar tidak karuan setelah mendapat ciuman dari Arvi.
Kekosongan dalam hati nya seakan kembali terisi walau hanya hitungan detik, namun tidak bisa dipungkiri bahwa ia masih memendam rasa kecewa yang teramat dalam karna keputusan Arvi yang melepaskannya.
Bahkan perbuatan orang tua Arvi yang sangat keterlaluan.
Malam hari nya di rumah Shelo..
Tampak dirinya sedang duduk merenung di teras rumah nya yang nyaman dan di kelilingi bunga-bunga milik ibunya.
Sesil yanh selesai mengerjakan tugas keluar untuk menemani kakaknya mengobrol.
" Ngapain kak? nglamun teruusss. " Goda Sesil tiba tiba sambil duduk di sebelah Shelo.
" Ga ada apa apa. Cuma nikmati angin malam aja. " Alasan Shelo sedikit salah tingkah.
__ADS_1
" Ga mungkin. Pasti ada sesuatu. " Kata Sesil curiga.
Kemudian Shelo pun memeriksa keadaan, memastikan ibu nya tidak berada dekat dengan mereka.
" Sebenernya hari ini, kakak ketemu Arvi. " Kata Shelo to the point sambil berbisik kepada Sesil.
" Apa?? Arvinas.. si pangeran kaktus itu. " Sahut Sesil terperanjat kaget. Shelo pun memukul lengan adiknya karena terlalu berisik.
" Jangan keras keras. Nanti mama dengar. "
" Ya kan aku shock kak. Setelah ngilang gitu aja, ngapain sekarang muncul lagi. Gila ya tuh orang, minta dihajar. " Sahut Sesil kesal dan begitu membenci Arvi.
" Semua nya terjadi tiba tiba. Kacau deh pokoknya, susah dijelasin. " Jawab Shelo frustasi sambil mengacak acak rambutnya.
" Usir aja kak. Dia orang asing. " Kata Sesil tegas.
" Ya jelas lah. Kakak usir.. tapiii... " Jawab Shelo dan terbersit di pikiran nya tentang ciuman mendadak yang terjadi beberapa jam lalu di toko nya.
" Tapi kenapaaa.. kakak masih suka sama dia? " Perkataan spontan Sesil seakan menusuk dada Shelo dan membuat nya salah tingkah.
" Mana.. mana mungkin sil, dia cuma masa lalu. " Jawab Shelo berusaha mengelak namun malah tergagap.
" Yakiiin?? tapi aku liat mata kakak.. masih ber binar binar waktu nyebut namanya. " Goda Sesil lagi.
" Aahh... ga tau aahh... susah curhat sama anak kecil."
Keesokan hari nya, Shelo pergi ke toko seperti biasa dan sampai pukul 9 pagi.
Terlihat Mia dan Ayu sudah ada disana dan membicarakan sesuatu yang menyenangkan.
" Morning guys... " Sapa Shelo ceria dengan jumpsuit panjang nya yang santai.
" Hai Shel.. gimana gimana?? " Tanya Ayu
" Apa nya yang gimana? lo kok disini sih? Diva sendirian dong. " Kata Shelo penasaran, karena seharusnya Ayu berada di cabang kedua.
" Ya gimana lagi.. gue khawatir, kata Mia.. kemarin Arvi kesini. " Sahut Ayu geram.
" Iya. Tapi gue usir. " Jawab Shelo santai sambil menata meja kasir nya.
" Bener banget. Ngapain juga masih ganggu hidup lo. " Sahut Mia yang kemarin menjadi saksi pertemuan mereka.
" Tapi yakin nih.. ga ada yang terjadi kemarin?" Tanya Ayu masih penasaran.
Shelo pun menghindari pertanyaan Ayu dan mencob mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
" Ehm... besok lusa long weekend nih. Main yuk. " Ajak Shelo tiba tiba.
" Waaaa.. tumben. Jarang jarang nih lo ngajak main, biasa nya yang paliiiing rajiiin.. Ga berubah dari dulu. " Kata Mia menggoda Shelo.
" Bagus deh. Ke bali yuk. Uda lama nih kita ga stay cation. " Sahut Ayu langsung setuju.
" Oke deh. Ide bagus. " Jawab Shelo juga langsung setuju.
Tujuan Shelo adalah untuk melupakan kejadian kemarin dengan pergi berlibur bersama sahabat sahabatnya, berharap pikiran nya yang kacau karena kedatangan Arvi bisa jernih kembali.
Selain itu juga, Shelo berniat menghindari Jacob yang sedang bermasalah.
Ketiga sahabat ini pun sangat antusias dengan rencana liburan mereka. Mulai dari book tiket pesawat dan villa, kemudian menyelesaikan berbagai pekerjaan di toko, serta memberitahu Diva untuk menutup toko selama long weekend kali ini.
Mereka bahkan memilih beberapa pakaian di toko yang mereka sukai untuk pergi berlibur.
Tawa dan senyuman Shelo pun kembali merekah pada wajah manisnya.
Sedangkan di kantor Arvi..
Masih dengan rasa rindu yang mendalam, pikiran Arvi terus diisi oleh wajah Shelo. Wanita yang kembali membayangi kehidupannya dan mendapatkan ciuman manis darinya.
Namun disamping semua itu, Arvi juga takut untuk melangkah maju mengingat kejadian masa lalu yang begitu menyakiti Shelo karena ulah keluarga nya.
Dilema yang semakin bergejolak dalam hati Arvi membuatnya pusing dan tidak mood bekerja, tentu saja sekretaris setianya mengetahui apa yang sedang dilalui Arvi.
" Anda ingin saya pesankan room malam ini pak? " Tanya Resa yang sudah hafal apa yang harus dilakukan nya 2 tahun belakangam ini jika sang boss sedang dalam mood buruk.
Minuman keras dan wanita penghibur. Kesan itu lah yang sekarang tertanam dalam benak Resa.
" Room?? " Tanya Arvi tidak paham maksud Resa.
" Iya. Saya akan suruh mereka memberikan minuman termahal dan wanita cantik untuk anda. Seperti yang biasanya anda suka. " Jawab Resa detail dan sengaja menyindir Arvi yang seakan melupakan perbuatan perbuatan buruk nya dalam sehari.
" Oh. hahaha " Perkataan Resa malah membuatnya tertawa.
" Apa yang lucu pak?" Resa pun menjadi semakin bingung dan merasa aneh dengan kelakuan bos nya.
" Aku rasa aku sudah gila. Ternyata selama ini, kesukaan ku berubah seperti itu. Kenapa aku baru merasa malu sekarang ya.. waktu kamu bilang begitu. " Jawab Arvi yang baru menemukan urat malu nya dengan perbuatan rendahan yang selama ini dia pikir bisa membuatnya melupakan Shelo.
" Apa terjadi sesuatu kemarin pak? "
" Aku bertemu, berbicara bahkan mencium nya. Hmmm... Setelah sekian lama, wanita itu kembali membuat aku malu. " Kata Arvi jujur dan membuat Resa tercengang.
" Jadi kalian, rujuk ???" Pertanyaan polos Resa membuat Arvi tersenyum.
__ADS_1
" Perjuangan masih panjang Res. " Jawab Arvi santai dan berjalan sambil menepuk bahu Resa keluar ruangan.
" Akan lebih baik kalau itu benar benar terjadi. Arvinas yang dulu berwibawa dan tidak suka bertindak murahan, bisa kembali. Hmmmm " Gerutu Resa berharap sambil menghela nafas panjang.