
Pagi hari di rumah pelarian Shelo. Terlihat sebuah Alpard sudah parkir di depan rumahnya. Mereka yang berpakaian rapi berjumlah dua orang dengan tampang seperti bodyguard ternyata adalah suruhan Ayah Arvi yang dari beberapa hari lalu sudah memantau keberadaan Shelo.
Hari ini kondisi Shelo tampak kurang sehat, wajahnya pucat tubuhnya lemas dan tidak nafsu makan setelah masalah bertubi-tubi yang dialaminya.
“ Tuan Hendra Osmond ingin anda menemuinya. ” Pesan salah satu lelaki suruhan Ayah Arvi.
Perasaan Shelo pun menjadi tidak enak, namun ia berusaha bekerja sama untuk segera menyelesaikan semua kericuhan ini bagaimanapun caranya. Ia segera berganti pakaian cukup rapi memakai dress katun putih dan ditutupi dengan jaket rajut berwarna biru muda.
Setelah selesai bersiap, mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah orangtua Arvi yang memakan waktu hampir 6 jam karena daerah rumah Shelo yang begitu jauh dari pusat kota. Kondisi Shelo semakin tidak karuan di dalam perjalanan yang berliku, pusing dan mual terus mengusiknya.
Waktu yang di tunggu oleh keluarga Osmond tiba, setelah sekian bulan untuk kedua kalinya Shelo memasuki rumah orangtua Arvi disambut dengan suasana tegang dan terlihat ayah Arvi sudah duduk bersama pengacara nya.
“ Tanda tangani ini. ” Kata ayah Shelo tanpa basa basi.
Begitu terkejutnya wanita malang ini melihat bahwa yang disodorkan kepadanya adalah surat gugatan cerai dan yang lebih membuatnya sedih adalah sudah ada tanda tangan Arvi disana. Air mata pun tak tertahan begitu saja, namun semua itu sama sekali tidak menggoyahkan hati ayah Arvi.
“ Setelah kamu menanda tangani nya, hubungan mu dengan keluarga ku berakhir. Ambil uang tunjangan dan pergi. Jangan pernah menemui anak-anak ku lagi.” Kata ayah Arvi kejam.
“ Aku tidak butuh uang anda. ” Jawab Shelo tanpa rasa takut.
“ Jangan sok jual mahal. Gadis murahan sepertimu tidak pantas bicara seperti itu. Kamu memang cukup hebat, sudah membuat kedua anakku meniduri mu. Tapi bagi ku menyingkirkan serangga sepertimu sangat mudah. Anggap saja aku sedang berbaik hati, mengingat kamu pernah menjadi istri Arvi. ” Tindas ayah Arvi tanpa ampun membuat Shelo begitu semakin membencinya.
Ia pun mengambil sebuah pulpen hitam yang sudah disediakan diatas meja dan berniat menandatangani nya, namun ia sempat terhenti ragu karena hatinya masih mencintai Arvi.
‘ Penghinaan, kesakitan, dan percintaan ini.. sudah cukup Shel.. ‘ Kata hati Shelo mencoba meyakinkan diri hingga pada akhirnya, tanda tangan Shelo membuat perceraian mereka sungguh-sungguh terjadi.
Keadaan Shelo semakin tak karuan, semakin pucat dan lemah ia berjalan keluar dari rumah orangtua Arvi. Ia memutuskan untuk naik taksi menuju terminal terdekat agar bisa segera pulang, namun saat di perjalanan Shelo merasa tubuhnya tidak kuat lagi untuk menjaga kesadaran. Sopir taksi yang menyadarinya pun jadi bingung dan ketakutan.
__ADS_1
“ Non.. anda baik-baik saja ?” Tanya sopir taksi itu namun tidak mendapat jawaban. Ketika ia menoleh kebelakang, Shelo sudah tak sadarkan diri.
Mau tidak mau, ia mengantar Shelo ke rumah sakit terdekat, sopir taksi itu bingung harus mengabari siapa karena dia sama sekali tidak mengenal Shelo.
Kemudian ketika dokter memeriksanya, ia merasa familiar dengan wajah manis Shelo yang terbaring dengan infus di tangannya.
Takdir membawa Shelo ke rumah sakit tempat dokter yang dulu sempat merawatnya di apartmen Arvi ketika hendak disakiti oleh ibu mertuanya. Tanpa pikir panjang, dokter itu menghubungi sekretaris Arvi yaitu Resa untuk menyampaikan kabar bahwa Shelo sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit.
Kemudian sopir taksi yang baik hati itu meninggalkan Shelo sendiri ketika sudah mengetahui bahwa walinya akan segera datang.
Beberapa jam kemudian terlihat Arvi dan Resa yang berlarian memasuki rumah sakit mencari keberadaan Shelo dan mereka menemukannya.
Shelo yang sudah tersadar dan duduk lemas di ranjang rumah sakit, begitu terkejut melihat kedatangan Arvi yang sudah ber minggu-minggu tidak ia lihat begitu juga dengan Arvi.
Bagaikan mimpi di siang bolong, mereka bisa secara kebetulan bertemu dengan kondisi Shelo yang seperti ini. Resa yang pengertian dan memahami situasi ini segera keluar meninggalkan mereka berdua.
“ Shel.. Apa yang terjadi padamu ??” Kata Arvi mendekati Shelo dan duduk di sampingnya seraya memegang tangan Shelo, namun Shelo menghindarinya.
“ Aku sudah cari kamu kemana-mana. Kamu ga tau betapa aku sangat khawatir sama kamu. ” Kata Arvi mengutarakan kerinduannya tanpa menyadari bahwa saat ini, tepatnya beberapa jam yang lalu mereka sudah sepakat bercerai.
“ Arvi.. hentikan. Kita sudah tidak punya hubungan apapun. ” Jawab Shelo memandang tajam ke arah Arvi.
Dalam benak Shelo dengan jelas terbayang bahwa tanda tangan Arvi sudah lebih dulu ada di atas surat perceraian mereka.
“ Shel.. ” belum selesai Arvi bicara, Shelo menyela “Kita sudah bercerai. “
Mendengar perkataan Shelo, Arvi pun menyadari bahwa kedatangan dan kemunculan Shelo pasti memiliki alasan.
__ADS_1
“ Apa jangan-jangan… kamu sudah… ” Kata Arvi ragu.
“ Iya.. aku sudah menemui papa mu dan menanda tangani surat perceraian kita. Sama seperti yang kamu lakukan. ” Sindir Shelo dengan segala kebencian kepada Arvi.
Di tengah obrolan serius mereka, dokter datang membawa hasil pemeriksaan Shelo dengan aura bahagia tanpa mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya terjadi saat ini.
“ Hasil pemeriksaan bu Shelo sudah keluar. Selamat ya, anda sedang mengandung. Usia janin anda saat ini berjalan 3 minggu. ”
Begitu terkejutnya Shelo dan Arvi mendengar berita yang tak terduga itu, malam pertama indah yang mereka lalui membawa hasil yang tidak mereka sangka.
“ Apa ??? saya hamil ?? ” Sahut Shelo tercengang, perasaannya campur aduk saat ini apalagi di tengah situasi yang berantakan antara hubungannya dengan Arvi.
“ Benar bu. Saya sudah memeriksanya dan memang hasilnya positif. Namun anda harus benar-benar banyak istirahat karena kandungan anda sedang dalam usia yang rentan.” Lanjut dokter memberikan penjelasan.
Arvi pun terdiam dan dalam hati merasa sangat bahagia, akan tetapi dia juga tidak melupakan apa yang saat ini sedang ia alami bersama Shelo.
Setelah dokter keluar dari ruangan, mereka melanjutkan pembicaraan serius dan sekarang bertambah satu lagi yang harus mereka pikirkan.
“ Shel.. aku bahagia banget, kamu hamil. ” Kata Arvi sambil memegang lembut perut Shelo.
“ Tinggalkan aku sendiri Arvi.. Aku perlu berpikir. ”
“ Apa maksudmu Shel.. apa yang perlu di pikirkan, saat ini yang terpenting kita harus menjaga anak kita. ”
Kata Arvi nampak bersemangat dan seakan melupakan apa yang sudah terjadi, namun hal itu berbeda bagi Shelo.
“ Sadar Arvi.. Kita sudah bercerai bahkan sebelum bayi ini lahir. Jangan sentuh dia.” Sahut Shelo sambil menyingkirkan tangan Arvi dari perutnya.
__ADS_1
“ Aku tidak mau anak ku menjadi bagian dari keluarga Osmond. ”
Kabar bahagia itu tidak bisa membuat Shelo luluh ladi setelah segala penderitaan yang dialaminya. Saat ini yang ada di benak Shelo adalah melindungi bayinya sendirian dan tidak ingin bayi tidak bersalah ini terlibat dengan keluarga kejam yang sudah membuang Shelo.