My Accident Destiny

My Accident Destiny
My Accident Destiny Part 12 " Kasmaran "


__ADS_3

Suasana romantis masih melekat pada benak Shelo dan Arvi yang kembali menjadi bahan perbincangan dalam semalam karena adegan tak terduga mereka di acara gala dinner malam ini. Shelo dan Arvi berjalan memasuki apartmen dengan malu-malu dan salah tingkah mengingat apa yang mereka lakukan layaknya pasangan dimabuk asmara.


Walaupun Arvi sudah berusia 30 tahun dan terhitung matang, namun ekspresi bahagia bak anak kecil di wajahnya tidak dapat dipungkiri.


“ Istirahatlah. ” Kata Arvi lembut kepada Shelo. Saat ini perasaan mereka berdua menjadi terbuka dan berani menunjukkan perhatian secara langsung satu sama lain.


“ Kamu juga. ” Jawab Shelo malu-malu. Namun saat akan membuka pintu kamarnya, Arvi menghampiri dan secara tiba-tiba memeluk Shelo dari belakang.


“ Aku belum pernah mengalami hal seistimewa dan mendebarkan seperti ini. Tapi waktu-waktu yang kita lalui bersama entah kenapa menimbulkan perasaan seperti ini. Aku harap kamu tidak pergi menjauh atau berpikiran yang tidak-tidak kepada ku. ” Kata Arvi khawatir jika apa yang mereka barusan lakukan dapat mempengaruhi rasa trauma Shelo sehingga muncul kembali.


“ Aku juga tidak mengerti sejak kapan perasaan ini tumbuh. Tapi satu hal yang aku yakini, sebanyak apapun aku membenci mu.. hatiku tetap merasa aman saat bersama dengan mu. ” Jawab Shelo mengutarakan isi hati yang dirasakannya secara jujur.


Malam indah ini tidak akan terlupakan oleh mereka berdua, rasa bahagia rasa haru rasa nyaman semua berpadu sempurna dalam hati hingga tidak terbendung dan berakhir dengan ciuman romantic.


Sedangkan di rumah Kara, tepatnya setelah acara berakhir…


Barang-barang yang ada di dalam kamar Kara menjadi pelampiasan kemarahan dirinya yang begitu hebat, betapa frustasinya Kara melihat pria yang dia sukai lebih memilih wanita lain yang bahkan memiliki banyak kekurangan daripada dirinya. Rasa kesal rasa marah rasa sedih semua bergejolak dalam hati Kara.


“ Aku ga akan membiarkan usahaku untuk bisa bersama Arvi selama ini sia-sia begitu saja. ” Gumam Kara dengan begitu marah.


Keesokan pagi yang cerah, secerah hati Shelo dan Arvi yang sedang dimabuk asmara. Terlihat Arvi yang keluar dari kamar dengan setelan kemeja hitam dan celana kain silver sambil membawa tas kerjanya. Shelo yang sudah bangun lebih pagi menyambutnya dengan senyuman hangat, segelas kopi dan croissant di atas meja makan. Namun ada satu yang menarik perhatian Shelo, karena seperti ada sesuatu yang kurang pada Arvi tidak seperti biasanya.


“ Good morning. ” Sapa Arvi sambil menghampiri meja makan untuk sarapan.

__ADS_1


“ Hai.. morning. Silahkan sarapan. ” Kata Shelo melayani Arvi layaknya suami istri sesungguhnya untuk pertama kali sejak menikah.


“ Hari ini ada yang kurang. Ehm… mana dasi mu ?” Tanya Shelo seketika setelah selesai memeriksa Arvi untuk menjawab rasa penasarannya.


“ Aku belum sempat mengambilnya. Hari ini aku harus mempersiapkan presentasi bersama beberapa klien dari Shanghai. Pikiran ku jadi ga fokus. ” Jawab Arvi sambil menikmati sarapannya. Mendengar itu Shelo dengan tanggap mengambil dasi dari lemari kamar Arvi, dasi hitam dengan motif garis rapat menjadi pilihan wanita yang sedang kasmaran ini.


“ Thankyou. Bisa tolong pakaikan sekalian. Tangan ku habis pegang croissant. ” Kata Arvi yang terlihat begitu lucu jika menampakkan sisi manja dengan alasan sederhana.


Arvi pun duduk menyamping agar mudah digapai oleh Shelo dan dengan senang hati dasi itu melingkar pada kerah kemeja Arvi. Perlahan dan rapi Shelo fokus memasangkan dasi kepada Arvi yang tidak bosan memandang Shelo dari dekat.


“ Nah… selesai. ” Sahut Shelo sambil sedikit merapikan kerah kemeja Arvi. Kecupan singkat di bibir Shelo pun diberikan oleh Arvi dan membuatnya terperanjat kaget.


“ Pagi-pagi sudah cari kesempatan. ” Kata Shelo mendadak malu.


“ Hahaha… ternyata seorang Arvinas Javier Osmond, bisa mengatakan hal-hal seperti itu ya. ” Jawab Shelo menanggapi candaan Arvi.


Waktu menunjukkan pukul 8 lebih 15, Arvi yang punya janji meeting pukul 10 dengan klien harus segera bergegas berangkat ke kantor. Kegiatan Shelo hari ini adalah pergi ke kampus untuk mempersiapkan proposal skripsi bersama Ayu dan Mia.


Setibanya di kampus, mereka segera bekumpul di salah satu ruangan kelas yang sedang tidak terpakai. Shelo yang fokus mengerjakan proposal skripsi terus menerus di goda oleh Ayu dan Mia tentang perkembangan hubungannya dengn Arvi. Namun Shelo tidak begitu menanggapi mereka karena malu-malu, selain itu ia juga masih merasa seperti mimpi mengingat hubungan nya dengan Arvi berbalik 180 derajat.


“ Shel, bosen nih. Gimana kalo kita nonton. Udah lama banget kita ga nonton. ” Ajak Ayu di sela-sela mengerjakan proposal mereka masing-masing.


“ Iya bener, setujuuuuu. Ayo Sheelll.. ” Mia pun langsung mendukung dengan antusias seakan melupakan proposal skripsi yang masih belum tuntas.

__ADS_1


“ Tapi ini belum selesai. Nanggung. ” Jawab Shelo ragu.


“ Kan bisa dilanjut di rumah Shel. Ya ya ya… kita nonton film yang jam 7. Pleeaseee.. Bosen niiihh… ” Kata Ayu mulai merengek membuat Shelo tentu saja luluh, disamping itu memang suasana ini yang dirindukan Shelo selama beberapa bulan belakangan.


Betapa bahagianya mereka bisa menghabiskan waktu bersama, dengan mengendarai mobil Ayu.. mereka dengan antusias pergi ke mall terdekat dari kampus untuk nonton film bersama. Kurang lebih 2 jam mereka menikmati keseruan film horror pilihan Mia dan terus bercanda gurau setelah film selesai. Ketika Shelo memeriksa hp nya, terlihat 5 kali panggilan tak terjawab dari Arvi.


“ Nah… panggilan alam. ” Kata Shelo sambil menunjukkan hp nya kepada dua sahabat kesayangan.


“ Ya beginilah jadinya kaau udah jadi istri orang. Its oke, yang penting hari ini kita bisa sempetin have fun. ”


Mereka bertiga harus berpisah, Ayu dan Mia pulang bersama kemudian tersisa Shelo yang menunggu jemputan Arvi di lobby mall. Terlihat Arvi datang dengan pakaian santai menjemput Shelo dan mereka bergegas pulang bersama.


Setibanya di apartmen, sekitar pukul 22.30.. Shelo bukan menggunakan waktunya untuk berisitirahat melainkan melanjutkan proposal skripsi nya yang terpotong karena ajakan Mia dan Ayu. Harapan Shelo bisa segera menyelesaikannya agar bisa mendapatkan nomor urut awal di gelombang pertama.


Arvi mendekati Shelo yang berada di ruang tengah, terlihat rambut Shelo yang acak-acak an menandakan inspirasi yang tidak kunjung datang ke kepala nya membuat ia frustasi. Arvi pun tersenyum melihat penampilan Shelo yang kacau balau, ia pun memperhatikan dan timbul inisiatif untuk membantu walaupun sebenarnya ia sendiri sudah lelah bekerja.


“ Ada yang bisa aku bantu ??” Kata Arvi menawarkan bantuan.


“ Ga ada kok. Kamu istirahat aja. Besok kan kerja. ” Jawab Shelo sedikit tersadar dan berusaha merapikan rambutnya.


“ Jangan terlalu dipaksa in. Semampunya aja. ” Kata Arvi santai sambil membaca-baca hasil tulisan Shelo.


“ Ini.. ini.. bagian pembahasan mu kurang. Harusnya dari umum ke khusus. ” Kata Arvi mengkoreksi pekerjaan Shelo. Melihat niat Arvi yang ternyata sangat membantu, mereka berdua pun lembur bersama demi menyelesaikan proposal skripsi Shelo hingga mereka tertidur dengan kepala beralaskan meja, dihiasi buku-buku berserakan di sekitar mereka berdua.

__ADS_1


Satu lagi moment kebersamaan mereka yang begitu intens tanpa ada pertengkaran, perdebatan dan saling menyakiti satu sama lain. Besar harapan mereka dalam lubuk hati masing-masing agar moment hangat seperti ini bisa terus berlanjut.


__ADS_2