My Accident Destiny

My Accident Destiny
My Accident Destiny Part 14 " Dia Menjadi Bagian Keluarga Sederhanaku "


__ADS_3

Hari Minggu pagi di kediaman ibu Shelo..



“ Ma.. ma… barusan kak Shelo kasih kabar kalau dia lulus maa… ” Kata Sesil yang dengan sigapya menemui dan memberitahukan berita bahagia itu kepada ibu yang sedang berada di halaman rumah sambil menyirami bunga.


“ Benarkah ??? Syukurlaahhh… Akhirnya apa yang diharapkan Shelo tercapai juga. Suruh kak Shelo dan suaminya mampir kesini, mama mau ajak mereka makan malam di rumah. Cepat bantu mama persiapkan semuanya. ” Mendengar itu, ibu Shelo begitu bahagia dan bersemangat mempersiapkan bahan-bahan yang akan dia masak untuk malam ini.


Beberapa saat setelah menerima kabar dari Sesil, Shelo bergegas mengetuk pintu kamar tidur Arvi yang masih begitu tenang menandakan Arvi belum bangun dari tidurnya.


Tuk… tuk.. tuk… Beberapa ketukan membangunkan Arvi dan pintu terbuka. Betapa shocknya Shelo melihat lelaki yang biasanya terlihat segar di pagi hari, berpenampilan kacau dengan rambut acak-acakan, kantung mata dan wajah yang kusam.


“ Arvi, kamu sakit ??” Sahut Shelo begitu terkejut melihat Arvi, padahal semalam Arvi terlihat sehat-sehat saja.


“ Aku ga bisa tidur sampai jam 4 pagi gara-gara kamu nih. ” Jawab Arvi merasa kesal melihat Shelo yang menertawakan penampilannya.


“ Oohhh… aku tau, sabar ya anak baik. ” Goda Shelo yang memahami situasi Arvi sambil membelai kepalanya.


Alasan Arvi tidak bisa tidur adalah ciuman mereka semalam yang terus membangkitkan nafsu Arvi sebagai lelaki normal, akan tetapi ia terus berjuang menahanya demi kenyamanan Shelo yang belum siap.


“ Berarti kamu harus tanggung jawab. ” Sahut Arvi seraya memeluk Shelo dengan manjanya.


“ Dasar… cepat mandi dan sarapan supaya lebih segar di badan. Oyaa… nanti sore kita ke rumah mama Maudy ya, makan malam. ” Shelo menyampaikan pesan dari mamanya.


“ Makan malam ?? Iya juga yaa.. setelah menikah, aku belum pernah berkunjung kesana. ” Arvi pun merasa bersalah dan menyadari keangkuhannya selama ini yang sama sekali tidak memperhatikan ibu mertuanya.


Ia bergegas kembali ke kamar dan menghubungi Resa, walaupun ia tau bahwa ini hari Minggu namun Resa tetap yang selalu bisa diandalkan. Shelo yang tidak tau menau tentang apa yang dilakukan Arvi nampak cuek dan kembali ke meja makan menyiapkan sarapan.

__ADS_1


Sore hari tepatnya pukul 17.10 pemandangan kacau pun terlihat di rumah ibu Shelo. Ibu, Shelo dan Sesil yang sudah berkumpul hanya bisa terdiam kehabisan kata melihat perbuatan Arvi yang memenuhi halaman rumah mereka dengan berbagai barang elektronik mahal mulai dari mesin cuci, kulkas 2 pintu, TV sebesar 163 inch, kursi pijat elektronik, sofa model terbaru milik Osmond, 2 spring bed ukuran 180 Osmond, meja dan kursi makan model terbaru milik Osmond, 3 buah AC, bahkan mobil Alphard baru untuk ibu dan Sesil.


Ketika para pekerja sibuk membawa barang-barang itu ke halaman, Arvi hanya berdiri santai sambil sedikit mengarahkan.


“ Kak.. aku ga nyangka rumah kita akan jadi begini. ” Gerutu Sesil bengong.


“ Aku juga ga nyangka kalau putra konglomerat bisa sekonyol ini. ” Jawab Shelo geram karna sikap Arvi yang semaunya membuat ibunya tidak nyaman.


“ Nak Arvi… ” Kata ibu mendekati Arvi yang hari ini tampil santai dengan kaos puma hitam berkerah dan celana jeans dilengkapi sepatu converse putih.


“ Maaf ma, baru bisa mengunjungi mama. Gimana? Ada yang mama butuhkan lagi?” Tanya Arvi antusias dan percaya diri.


“ Bukan ini yang mama butuhkan. ” Jawab ibu Shelo dengan sabar, ia memahami bahwa apa yang dilakukan Arvi bertujuan baik namun bagi dirinya materi bukan hal terpenting. Perlahan ibu Shelo memeluk Arvi dan membuat Arvi terdiam.


Ada kenyamanan dan kehangatan di hati Arvi yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Kasih sayang dan ketulusan ibu Shelo begitu menyentuh hati Arvi seketika itu.


Suasana pun menjadi begitu emosional, walaupun air mata tidak nampak pada wajah Arvi namun hatinya yang tersentuh tidak bisa berbohong bahkan ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata apapun. Belum sempat ia masuk ke dalam rumah, sambutan hangat dan kekeluargaan sudah memenuhi hatinya, Sesil pun menyusul memberikan pelukan kepada kakak iparnya.


“ Sudah lama Sesil nunggu kak Arvi kesini. Welcome. ”


Sapa Sesil tulus menyisakan senyuman di wajah Arvi.


Shelo yang saat itu hanya sebagai penonton, begitu merasakan apa yang dirasakan Arvi dan mewakili perasaan Arvi dengan air mata.


‘ Dia bisa membeli segalanya dengan uang, tapi dia tidak akan pernah bisa membeli kehangatan dalam keluarga dengan uang. Hari ini, satu hal lagi yang kupahami tentang lelaki arogan ini bahwa dia kesepian dan haus kasih sayang. Kedua matanya tidak bisa mengelak bahwa dia bahagia dengan moment singkat ini.’ Kata hati Shelo yang turut bahagia sambil terus melihat pemandangan indah antara ibu, Sesil dan anggota keluarga baru yaitu Arvi.


Hari mulai gelap dan canda tawa pun berlanjut di meja makan, terlihat beberapa hidangan yang telah dimasak oleh ibu Shelo seperti tumis sayuran, rendang daging, beberapa gorengan tahu dan tempe, serta ayam goreng telur asin kesukaan Shelo.

__ADS_1



“ Semoga kamu suka dengan masakan sederhana mama yaa.. mama ga masak banyak hari ini. ” Kata mama kepada Arvi yang duduk bersebalahan dengan Shelo.


“ Ini… lebih dari cukup kok ma. Terimakasih. ” Jawab Arvi sopan.


“ Coba ini deh kak. Ini makanan kesukaan kak Shelo. ” Sesil memberikan sepotong ayam goreng telur asin ke piring Arvi.


“ Kamu pasti ketagihan. Enaaakkk banget. ” Sahut Shelo menambahkan.


Makan malam pun berlanjut dengan nyaman dan kekeluargaan, terutama bagi Arvi yang selama ini sering makan sendirian sebelum mengenal Shelo. Merupakan hal yang langka baginya melihat ayah ibu dan Evan untuk duduk makan malam dalam satu meja karena mereka lebih mementingkan kesenangan masing-masing.


Selesai makan mereka berempat bersama-sama saling membantu membersihkan meja makan. Arvi yang berniat membantu mengambil satu kain lap namun ia bingung harus mulai dari mana. Melihat itu, Shelo yang selesai mengoper piring kotor ke Sesil seketika menghampiri Arvi.


“ Sini biar aku aja. Duduk aja, nanti kubawakan teh. ” Kata Shelo sambil mengambil kain lap dari tangan Arvi.


“ Kenapa bengong ??” Tanya Shelo kepada Arvi yang terdiam melihat apa yang dilakukan Shelo.


“ Aku Cuma penasaran aja gimana melakukannya. ” Jawab Arvi polos mengundang tawa Shelo.


“ Gampang.. tinggal spray meja pake pembersih ini terus di lap pakai kain. Beres deh. ” Kata Shelo sambil memeragakan.


“ Keluarga kamu kompak ya. Walaupun Cuma kalian bertiga tapi saling mengisi. ” perkataan Arvi seraya membuat Shelo semakin menyadari betapa kesepiannya Arvi.


Shelo menghentikan apa yang dilakukannya dan fokus melihat Arvi.


“ Sekarang bukan bertiga. Tapi berempat. ” Jawab Shelo tersenyum sambil memberikan kain lapnya kepada Arvi agar melanjutkan pekerjaannya. Arvi pun tersenyum dan melakukan sesuai dengan apa yang diajarkan Shelo.

__ADS_1


__ADS_2