
" i'm sorry.. i cant accompany you to hotel. My girlfriend is sick. " Kata Arvi meminta maaf tidak bisa mengantar Presdir Hwang dan keluarga kembali ke hotel.
" its oke. Take your time. " Jawab Presdir Hwang pengertian.
Arvi terpaksa menugaskan Resa untuk mengantar presdir Hwang, sedangkan ia menemani dan membantu keadaan Shelo.
Arvi terlihat panik dan bingung harus bagaimana. Di tengah banyak orang, ia mencoba mencari solusi untuk melindungi Shelo yang sedang datang bulan secara tak terduga.
Di samping itu baik Arvi maupun Shelo tidak membawa jaket, sehingga Arvi memikirkan cara bagaimana melindungi Shelo agar tidak menjadi pusat perhatian karena darah haid yang mengenai pakaian bagian belakang Shelo.
" Malu malu in banget sih Shel.. " Gerutu Shelo menyalahkan diri sendiri sambil menahan kram perutnya.
" Shel.. ayo aku antar kamu, kita segera ke mobil. " Ajak Arvi.
" Tapi banyak orang. Apa yang harus aku lakukan?" Jawab Shelo malu.
" Aku akan menutupi mu dari belakang. Berjalan lah di depan ku dengan santai. Tidak akan ada yang curiga. " Kata Arvi mengusulkan satu satu nya cara untuk pergi dari tempat itu dan Shelo menuruti nya.
Ia perlahan berdiri dan dengan sigap Arvi berpindah ke belakang Shelo. Kedua tangan Arvi memegang pinggang kanan dan kiri Shelo serta mendekatkan tubuhnya untuk bisa menutupi pakaian Shelo yang kotor karena darah.
" Jalan perlahan, aku akan mengikuti langkah mu. " Bisik Arvi sangat dekat dengan Shelo, hingga debaran jantung Shelo semakin kencang.
Dengan gelisah dan perlahan Shelo melangkahkan kaki di ikuti Arvi tepat 1 cm di belakang Shelo sambil memperhatikan sekitarnya memastikan tidak memancing perhatian.
Namun beberapa orang yang berada dekat di sekitar mereka, tertawa lucu melihat pemandangan romantis itu.
" Sorry.. Aku ngrepotin kamu. " Kata Shelo sambil terus berjalan menuju area parkir mobil.
" Jangan sungkan. Aku sangat senang bisa berguna buat kamu. " Jawab Arvi perhatian.
Setelah sampai area parkir, dengan segera Shelo masuk ke mobil alphard yang di gunakan Arvi untuk akomodasi dan di ikuti Arvi yanh duduk di sebelahnya.
Arvi mengambil selimut dan memberikannya kepada Shelo untuk menutupi tubuh bagian bawah Shelo.
" Nanti kalau ada minimarket, berhenti ya. " Perintah Arvi ke driver nya.
" Baik pak. "
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Arvi terus mengamati jalan berharap segera menemukan minimarket untuk membeli pembalut. Sedangkan Shelo tampak murung karena gelisah dan merasakan sakitnya kram perut di hari pertama haid.
Setelah 30 menit perjalanan, mereka berhenti di salah satu minimarket. Tanpa banyak bertanya dan ragu, Arvi segera turun untuk membeli pembalut.
Beberapa menit kemudian Arvi kembali membawa pembalut, dan Shelo memeriksa yang dibeli Arvi.
" Kamu.. kok tau apa yang biasa aku pakai. " Kata Shelo heran karena tanpa bertanya, Arvi membeli merk dan jenis pembalut yang biasa Shelo pakai.
" Semua tentang kamu. Aku masih mengingatnya. " Jawab Arvi dengan mudahnya dan membuat Shelo salah tingkah.
Perjalanan mereka untuk kembali ke villa masih kurang lebih 40 menit, jalan yang mereka lalui terlihat lebih padat dan macet dari sebelumnya ketika mereka berangkat. Terlihat Shelo yang semakin merintih kesakitan karena kram perutnya dan Arvi tidak tega melihatnya.
" Kita berhenti di hotel dekat sini saja ya bli. " Kata Arvi tiba tiba.
" Maksud bapak, kita tidak kembali ke hotel? " Tanya driver bingung.
" Terlalu lama. " Jawab Arvi tegas sambil memperhatikan Shelo yang sama sekali tidak mempedulikan percakapan Arvi.
10 menit kemudian, mereka menemukan hotel terdekat. Walaupun tidak semewah hotel Arvi, namun yang terpenting Shelo bisa segera mendapatkan tempat yang nyaman.
" Perjalanan kembali ke villa terlalu lama. Aku ga bisa membiarkan kamu merasa tidak nyaman. " Jawab Arvi sambil membantu Shelo turun dari mobil, dan menutupi tubuh nya dengan selimut.
Arvi pun memesan 1 kamar vvip yang ada di hotel itu dan memapah Shelo yang kram perut masuk ke kamar.
" Aku akan pesan minuman hangat dan obat di bawah. Gunakan waktu sesuka mu untuk membersihkan diri. " Kata Arvi lembut dan sangat pengertian.
Setelah Arvi memberi waktu privasi kepada Shelo dan pergi meninggalkan kamar, Shelo pun bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya serta pakaian nya yang terdapat bercak darah lumayan banyak.
Arvi yang menunggu selama 2 jam di lobby, kemudian mencoba memeriksa keadaan Shelo dan kembali ke kamar.
Terlihat Shelo yang sudah terlihat memakai kimono dan membersihkan dirinya, namun wajah kesakitan Shelo masih terlihat jelas.
Arvi datang bersama layanan kamar yang membawa air hangat dan obat pereda nyeri untuk Shelo.
" Minum obat nya. " Kata Arvi perhatian membantu Shelo minum obat.
" Makasih. " Jawab Shelo sambil menahan sakit.
__ADS_1
" Apa yang bisa aku bantu untuk meringankan rasa sakit mu. " Tanya Arvi tidak tega.
" Ga apa apa. Nanti juga hilang sendiri. " Jawab Shelo tidak ingin merepotkan Arvi dan membaringkan diri untuk mengurangi rasa kram nya.
" Aku tidak bisa melihat kamu kesakitan. Biarkan aku mengusap usap perut mu supaya hangat. " Sahut Arvi mengambil inisiatif.
Shelo yang sudah tidak bertenaga untuk berdebat, membiarkan tangan hangat Arvi mengusap perlahan perut nya yang kram.
Begitu hangat dan nyaman, itulah yang dirasakan Shelo ketika menerima begitu banyak perhatian dari Arvi.
" Ini salah mu. Kalau saja, kamu ga menyeretku dalam urusan mu. Pasti aku sekarang sudah bersama teman teman ku. " Kata Shelo menyalahkan Arvi.
" Hmm.. aku minta maaf. Hanya itu alasan yang bisa aku buat supaya bisa lebih lama bersama mu. " Jawab Arvi to the point sambil terus mengusap perut Shelo.
" Jangan bicara semau mu. Hubungan kita sudah berakhir Arvi. " Sahut Shelo membuat batasan untuk Arvi.
" Aku tahu, tapi perasaan ku tidak pernah berakhir. " Jawab Arvi lagi dengan tatapan penuh ketulusan membuat Shelo terdiam.
Waktu terus berlalu, tanpa lelah Arvi menjaga dan merawat Shelo hingga wanita itu tertidur melupakan rasa kram pada perut nya.
Tangan Arvi yang sedari tadi tidak berhenti mengusap perut Shelo, ikut merasa sakit namun Arvi tidak peduli.
Melihat Shelo tertidur dan tidak kesakitan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Arvi. Dia memanfaatkan waktu dengan terus memandang wajah Shelo yang tidur dengan pulas karena pengaruh obat dan kehangatan usapan tangan Arvi.
Dengan lembut Arvi menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh Shelo agar tetap terjaga hangat.
Sesekali ia membelai kepala Shelo dengan penuh kasih sayang dan senyuman bahagia di wajah nya.
" Seperti mimpi, bisa menyentuh mu lagi seperti ini. Aku berharap malam ini waktu berhenti, supaya besok ketika sudah membaik kamu ga meninggalkan aku. " Kata Arvi berbisik lembut.
Arvi mendekatkan wajah nya dan mencium lembut kening Shelo yang sama sekali tidak terganggu karena tertidur pulas.
" I love you Shelomita. " Ucap Arvi lembut setelah mencium lembut kening Shelo.
Sekali lagi, malam indah dilalui oleh mereka berdua khususnya Arvi.
Walau keadaan buruk terus terjadi di antara mereka, namun cinta tetaplah cinta.
__ADS_1