
“ Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah Arvi, mamanya menghubungi ku untuk segera datang menemui beliau sekarang. ” Terlihat Shelo yang sudah berpakaian cukup rapi menggunakan blouse polos warna biru muda dan jeans hitam sedang berada di dalam mobil yang ibu Arvi kirim untuk menjemputnya.
“ Nyonya Vena menyuruh anda datang ??” Sahut Resa yang ternyata sedang dalam panggilan dengan Shelo, awalnya Resa ingin menyampaikan pesan yang diminta oleh Arvi tentang gala dinner besok dan menjadwalkan Shelo agar bisa reservasi beberapa perawatan kecantikan dan berbelanja beberapa aksesoris yang dibutuhkan. Namun mendengar posisi bu bos baru nya saat ini seketika feeling Resa kurang mengenakkan, karena disisi lain dia tau bagaimana karakter keluarga Osmond satu demi satu.
“ Iya, mendadak asistennya menghubungi ku dan menjemputku, katanya ada urusan penting. ” Jawab Shelo tanpa berpikiran negatif terhadap ibu mertuanya.
“ Apa pak Arvi tau tentang ini? ” Tanya Resa mencari informasi.
“ Ehm.. spertinya dia tidak tau. Kita sudahi dulu ya, sekarang aku sudah sampai di pintu gerbang rumahnya. Bye. ” Percakapan berakhir dengan segera, tanpa pikir panjang Resa menghampiri ruangan Arvi untuk memberitahukannya.
Selangkah demi selangkah, perhatian beberapa pekerja di rumah keluarga Arvi terpusat pada kehadiran Shelo. Rasa cemas, rasa takut tentu menghantui Shelo saat ini, apalagi tanpa Arvi yang menemaninya. Sekalipun mereka berdua sering bahkan hampir setiap hari bertengkar, akan tetapi rasa aman dimiliki Shelo ketika bersama Arvi.
“ Selamat siang.. ma.. ” Sapa Shelo kepada ibu mertuanya yang sudah duduk di ruang tamu menunggu dengan sinis.
Keadaan menjadi aneh ketika dirinya melihat ada dokter perempuan yang terlihat dekat dengan ibu Arvi beserta seorang perawat yang duduk bersama mereka.
“ Kemarilah. Silahkan duduk. ” Perintah ibu Arvi mempersilahkan Shelo duduk perlahan.
“ Jangan khawatir, hari ini hanya check up rutin. Keluarga kami selalu melakukannya setiap bulan untuk memastikan kesehatan kami baik-baik saja. ” Kata ibu Arvi menjelaskan.
Dokter pun segera mengeluarkan formulir yang harus diisi oleh Shelo. Meski tampak ragu, Shelo mengambil form itu dan mulai mengisinya.
“ Usahakan jangan ada yang terlewat dan jangan lupa setelah selesai tanda tangan di bawah sini. ” Kata dokter membantu Shelo. Firasat Shelo pun menjadi buruk, tanpa penjelasan lebih mendalam ibu mertuanya ingin dia menjalani pemeriksaan.
Dengan mencari alasan, Shelo menaruh form itu dan mengulur waktu untuk pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
“ Saya ijin ke kamar mandi dulu ya. ” Pamit Shelo kepada orang yang ada disana. Asisten ibu Arvi pun menunjukkan arah kamar mandi utama yang tidak jauh dari sana. Shelo diam-diam mengantongi hpnya dan dengan segera masuk ke kamar mandi untuk menghubungi Resa akan tetapi panggilan teralih.
Dirinya sama sekali tidak ada niatan untuk menghubungi Arvi melihat hubungan mereka yang masih tidak baik terlebih Arvi yang beberapa hari ini terus mengasarinya, tentu Shelo tidak berharap lebih padanya.
“ Its oke Shel…. Ini Cuma check up biasa. Jangan berpikir macam-macam. ” Gerutu Shelo memberanikan diri sambil menepuk nepuk ringan di dadanya yang jujur merasa aneh dan takut. Ketika perlahan keluar dari kamar mandi, dan bermaksud melanjutkan permintaan ibu Arvi tanpa sengaja ia mendengar percakapan mertuanya dengan dokter itu.
“ Saya tidak mau tau, kali ini harus berhasil. Saya tidak sudi kalau Arvi memiliki anak dengan gadis itu. ” Kata ibu Arvi jahat.
“ Tenang saja nyonya, kami bisa meyakinkan wanita itu dan menjamin tidak ada yang tau. Kontribusi nyonya untuk rumah sakit saya sangat besar, apapun yang anda inginkan pasti saya penuhi. ”
“ Tentuuu.. uang yang saya berikan ke kamu bukan nominal yang sedikit, jika obat yang kamu berikan memang terbukti membuat gadis itu tidak bisa hamil pasti ada bonus sendiri untukmu. ”
Shelo pun tidak percaya mendengar percakapan mereka, tangannya seraya bergetar ketakutan dan mata mulai ber kaca-kaca. Inilah awal dari apa yang dikatakan Arvi tentang keluarga nya yang bisa berbuat apa saja demi tujuan mereka. Hal ini seolah menyadarkan Shelo bahwa secara tidak langsung, dari awal mereka bertemu maksud dan tujuan Arvi adalah melindungi dirinya.
“ Butuh setidaknya kurang lebih 3 kali injeksi, cairan ini biasa dipakai untuk ibu-ibu yang dirasa cukup memiliki anak dan mensterilkan rahim mereka agar tidak dapat dibuahi lagi. Dengan menambahkan sedikit dosisnya, saya bisa jamin akan sulit bagi mereka memiliki keturunan. Tapi saya mohon pastikan juga agar tidak ada yang tau, karena lisensi saya dipertaruhkan disini. ” Sambung dokter itu dengan suara sangat pelan semakin meyakinkan ibu Arvi.
“ Lepas.. lepaskan aku. ” Teriak Shelo meronta dan melawan kehendak ibu Arvi.
“ DIAM. ” Gertak ibu Arvi yang sangat marah seraya menampar Shelo di depan semua orang yang ada disana.
“ Apa yang anda rencanakan, saya sudah mengetahui semuanya. Bisa-bisanya anda berbuat seperti itu. ”
Shelo yang merasa sakit atas perbuatan mereka mulai berani melawan dan melindungi dirinya.
“ Ternyata kamu tidak begitu bodoh. Ini semua demi kebaikan Arvi. Anak saya. Kamu kira saya akan membiarkan dia memiliki keturunan dari wanita kampung seperti kamu. Ingat !!! pernikahan kalian tidak akan pernah berlalu dengan mudah begitu saja. ” Ancam ibu Arvi dengan tatapan penuh kebencian dan penghinaan pada Shelo, 2 laki-laki penjaga kepercayaan ibu Arvi pun datang dan memegang Shelo agar tidak kabur.
__ADS_1
“ Sudah, jangan di tunda-tunda. Lakukan sekarang. ”
Mendengar itu, dokter dan perawat yang ditugaskan segera menyiapkan jarum suntik dan mengisinya dengan cairan bening sebanyak 2 cc. Shelo menangis sekencang-kencangnya berharap ada yang menolongnya, namun sia-sia.
Tidak ada yang berani melawan perintah ibu Arvi sama sekali, Shelo terus meronta dan berusaha kabur.
" Tolooong.. ” Teriak Shelo sambil menangis.
Ibu Arvi pun semakin geram melihat dokter yang kesulitan mengendalikan Shelo yang terus memberontak hingga pukulan kedua melayang dengan sangat keras ke wajah Shelo membuatnya kesakitan dan tak berdaya terjatuh ke lantai.
“ Tolooong… Arvi.. ” Batin Shelo dalam keputus asaan nya walau kemungkinan Arvi datang menolong hanya 1% yang diyakini, melihat hubungan di antara mereka yang buruk.
Jarum suntik pun dengan mudah mengarah ke lengan kiri Shelo, akan tetapi rasa putus asa Shelo terjawab dengan satu tendangan dari Arvi yang membuat dokter itu tersungkur menjauh.
“ Dasar Baj*ngan. ” Kata Arvi kasar menendang dokter itu, tanpa memandang wanita sekalipun. Semua mata terkejut melihat kedatangan Arvi yang mendadak di tengah-tengah keributan ini.
“ Arvi ?? ” Kata ibunya terbelalak kaget. Tanpa mempedulikan ibu dan orang lain, pandangan Arvi tertuju pada Shelo yang tampak kacau balau dan lemah tidak berdaya. Penjaga yang memegangi Shelo menjadi takut melihat ekspresi marah Arvi seakan ingin membunuh mereka.
Dengan kedua tangannya sendiri, ia menggendong Shelo yang menangis hingga terasa tubuh Shelo yang bergetar ketakutan. Setelah berada di pelukan Arvi, Shelo menyembunyikan wajahnya di bahu lelaki penyelamat itu.
Dekapan tangan Shelo di leher Arvi semakin kuat menandakan rasa takut yang begitu amat dalam dan berharap Arvi tidak meninggalkannya.
“ Jangan sentuh dia. Atau kalian semua akan tau akibatnya. ” Dengan nada datar dan dingin Arvi melihat ke sekeliling tanpa takut, termasuk ibunya.
“ Arvi, jangan bodoh. Apa sebenarnya yang kamu pikirkan. Jika hanya sekedar bermain-main dengan wanita ini, mama tidak peduli. Tapi mama tidak sudi memiliki menantu yang bukan pilihan mama. ” Lanjut ibu Arvi tanpa rasa takut terus melawan Arvi.
__ADS_1
“ Mama ga akan bisa berkata seperti itu kalau saja mama tau yang sebenarnya. ” Hampir saja Arvi mengatakan keadaan sesungguhnya tentang Shelo yang menjadi korban pelecehan Evan, namun sebelum itu terjadi Shelo yang mulai merasa cukup aman di gendongan Arvi menghentikan perkataan itu dengan mencengkeram bahu Arvi sebagai pertanda.
“ Sudahlah. Aku tidak mau ber lama-lama disini. Sekali lagi, jangan sentuh dia. Atau aku juga bisa melakukan hal yang sama gilanya seperti kalian. ” Ancam Arvi sambil menggendong Shelo pergi dari tempat mengerikan itu. Ibu Arvi sangat marah melihat anaknya membela wanita yang sangat ia benci, beberapa perabotan disekitarnya dihantam sampai pecah untuk melampiaskan kemarahan membuat seisi rumah takut melihatnya.