
Tepat pukul 05.56 pagi waktu Maldives, matahari mulai terbit menampakkan cahayanya dan membuat keindahan pantai terlihat kembali. Arvi dan Shelo masih tertidur lelap di ranjang yang sama, dengan pakaian yang sama saat mereka melakukan private dinner romantis semalam. Shelo terlihat begitu nyenyak tidur di lengan Arvi yang cukup berotot dan hangat, seakan mimpi buruk tentang trauma pelecehannya hilang begitu saja.
Perlahan ia membuka mata, sedikit demi sedikit ia mulai menyadarkan diri dan mengetahui bahwa dia tidur dipelukan Arvi yang masih terlelap.
“ Aaaaaaa….. “ Teriak Shelo terkejut seraya membangunkan Arvi dari tidurnya.
“ Apa ini? Kenapa kita tidur bersama? “ Shelo merasa panik dan segera menjaga jarak dari Arvi yang masih berusaha mengumpulkan kesadaran dari tidurnya.
“ Ssstt… jangan berisik, jangan bikin kekacauan. “ Sahut Arvi yang sudah 100% terbangun. “Kita ga melakukan apa-apa kok. Ga usah khawatir. “ Kata Arvi santai, sambil menuangkan segelas air dan memberikan kepada wanita yang masih terlihat cemas dan pucat itu.
“ Apa kamu serius? “ Tanya Shelo tidak percaya.
“ Kemarin waktu dinner, kamu terlalu menikmati wine tapi ga tau batas kemampuan mu. Kamu mengeluh pusing dan aku mengantarmu ke kamar. Ehm.. aku bermaksud tidur di sofa. Tapi kamu terlihat gelisah dalam tidur mu, ga tau kamu mimpi apa sampai merengek bikin orang ga nyaman. “
“ Terus ? kenapa kamu bisa tidur di ranjang? “
“ Yaa… yaa daripada aku ga bisa tidur, aku berusaha membantu. Tapi aku berani sumpah, ga aneh-aneh. Aku tipe yang pegang omongan kok. Cuma nepuk-nepuk bahu kamu aja sampe ikut ketiduran. “ Jawaban mengejutkan keluar dari mulut Arvi yang ternyata memiliki sisi baik dari perlakuannya, dan seketika membayangkan apa yang diceritakan Arvi.. jantung Shelo berdegup dengan kencang.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Arvi, tapi ia berusaha tidak mengakuinya dan menganggap itu semua hanya karena naluri biasa sebagai pria pada normalnya.
“ Udah.. ga usah dibahas lagi, intinya semua itu demi kenyamanan ku sendiri. Bukan kamu, jadi jangan geer. “ Sela Arvi kembali ke karakter asalnya.
Ia berjalan masuk ke kamar mandi dan melepas pakaiannya, entah kenapa ia memikirkan Shelo dan merasa kasihan padanya karena kelakuan brutal Evan berakibat pada psikis Shelo bahkan hingga menimbulkan trauma.
__ADS_1
Arvi dan Shelo menikmati sarapan pagi di balkon vila mereka sambil di iringi kicauan burung dan suara ombak. Scrambel egg, croissant, buah-buahan, susu dan air meniral menghiasi meja makan mereka yang hening. Mereka berdua tiba-tiba merasa canggung setelah kejadian tadi pagi, kemudian datang salah satu servant wanita menemui mereka di tengah keheningan sarapan.
“ Good morning Mr and Mrs Arvi.. “ Sapa servant separuh baya bernama Monic yang merupakan manajer resort yang bekerja untuk Ricky.
“ Hai.. morning.. “ Jawab Arvi dengan senyum tipis di pagi hari yang dapat meluluhkan hati setiap wanita.
“ Mr Ricky asked me to recommend to you the main activities that newlyweds often do after breakfast at our resort, apart from just enjoying the beach. Are you both interested in triying it ? ” Kata Monic menawarkan fasilitas andalan resortnya yaitu pemandian air hangat yang biasa di buat private terutama untuk pengantin baru.
“ Of course.. let me know. “ Jawab Arvi santai sambil menikmati irisan buah dipiringnya, sedangkan Shelo hanya mendengarkan saja. Semua tergantung Arvi pikirnya.
“ I have prepared a warm pool of water mixed Himalayan salt wich very good for skin and can make you relax. Mr Ricky will be very happy if you can enjoy all of our resort facilities and give an assessment. ”
Mendengar pemandian air hangat membuat Shelo tersedak dan batuk, meski ia terlihat hanya sebagai pendengar namun ia memahami percakapan ini.
“ Kita ga mungkin mandi bersama. ” Kata Shelo langsung menyela Arvi.
“ Aku ga mungkin menolak kebaikan hati seorang teman, kenapa kamu selalu mengeluh ini dan itu. Cukup ikuti saja, apa kamu masih juga ga percaya sama aku ?” Arvi mulai merasa kesal karna Shelo selalu berpikiran berlebihan terhadap dirinya.
Dengan perasaan campur aduk Shelo masuk ke ruang ganti yang hanyamenyediakan beberapa set handuk putih yang seharusnya dipakai setelah selesai berendam. Pemandian air hangat di resort Ricky berada di sebuah ruangan tertutup yang pemandangan luarnya langsung mengarah ke laut. Kelopak bunga, air yang sudah beruap dan 2 gelas wine di pinggiran kolam semakin melengkapi suasana canggung tapi romantis ini.
Terlihat Arvi yang sudah telanjang dada berada dalam kolam seluas 5 x 5 meter sedang menikmati pemandangan. Perlahan namun pasti Shelo mendekat sambil memegang erat handuk yang melingkar dan menutupi sebagian tubuhnya.
Arvi seketika menoleh dan kembali berdebar melihat Shelo untuk pertama kalinya dengan penampilan cukup terbuka dan air yang mulai membasahi tubuh dan rambutnya.
__ADS_1
“ Puas ??? “ Kata Shelo sinis.
“ Aku ga punya maksud apa-apa terhadapmu. Jangan berlebihan. Duduk tenang dan nikmati saja. ” Jawab Arvi santai.
“ Aku pikir kamu memang sengaja menguji ku. Terus memancing dengan mengatur suasana-suasana menjijikan seperti ini. ” Nada bicara Shelo pun mulai emosional.
“ Bua tapa Shel ? Aku itu ga tertarik sama kamu. Jangan berhalusinasi, aku ga punya waktu untuk mengatur hal-hal semacam ini. ” Sahut Arvi yang sedikit terpancing emosi karena memang sedari kemarin Shelo selalu mengeluh.
“ Benarkah ? tapi ga tau kenapa, perkataan mu terdengar bohong bagi ku. ”
Arvi pun akhirnya sungguh terpancing emosi mndengar tanggapan Shelo yang menurut nya berlebihan, ia menarik Shelo hingga berada di pangkuannya.
“ Arvii.. Apa yang kamu lakukan. ” Teriak Shelo sambil bersaha melepas pelkan Arvi dan turun dari pangkuannya.
“ Kenapa ?? takut?? Dari pada hanya sebatas imajinasi mu, lebih baik kita lakukan bulan madu yang sesungguhnya. ” Jawab Arvi dengan ekspresi kesal dan mendekatkan bibirnya hingga menyentuh bibir Shelo dalam hitungan detik.
Air mata tak terbendung keluar dari mata Shelo yang shock dengan perbuatan Arvi yang memaksa, terasa jauh berbeda dengan perlakuan hangatnya kemarin.
Arvi yang masih kesal, akhirnya mendorong Shelo menjauh dari pangkuannya dan keluar dari kolam pemandian meninggalkan Shelo sendiri.
“ Jangan manfaatkan beberapa kebaikan ku dengan hal-hal tidak berguna. Kamu tidak cukup layak untuk tidur dengan ku. “
Kata-kata menyakitkan keluar begitu saja dari mulut Arvi tanpa sadar, emosi membuatnya menjadi pria yang jahat. Shelo hanya bisa menangis dan merasa bahwa apa yang dikatakan Arvi benar, dirinya sudah ternoda.
__ADS_1