My Accident Destiny

My Accident Destiny
My Accident Destiny Part 23 " Dua Tahun Kemudian "


__ADS_3

2 tahun berlalu..


Mereka kembali bangkit dan memiliki kehidupan masing-masing. Semua kembali menjadi asing.. hambar dan hilang di telan waktu..


“ Good morning guys… ” Sapaan ceria dari gadis 23 tahun yang berhasil bangkit dari keterpurukannya.



Shelomita sekarang menjadi lebih dewasa dengan pembawaannya yang memulai kembali kehidupannya di tengah kerasnya ibu kota.


Tampilan Shelo menjadi lebih dewasa dengan rambut yang terurai panjang dan pakaian yang fashionable. Ia masuk ke sebuah outlet khusus menjual pakaian dan aksesoris wanita yang bernama Mishela boutique.. Gabungan dari nama Mia, Shelo dan Ayu yang akhirnya dapat mewujudkan bisnis yang sempat mereka rencanakan namun tertunda karena permasalahan Shelo yang begitu pelik.


Sudah 1 tahun mereka mengelola Mishela mulai dari toko kecil dengan pengunjung yang sedikit kemudian meningkat setiap bulannya, hingga ada 2 cabang yang mereka kelola saat ini. Salah adalah yang saat ini sedang mereka jalankan di kompleks pertokoan menengah keatas di tengah ibu kota Jakarta, sederet dengan berbagai toko sejenis lainnya di sepanjang jalan.


“ Pemesanan kita dijadwalkan datang hari ini.. Siapa hari ini yang giliran ke Mis One?” Tanya Mia sambil memeriksa laporan persediaan di meja kasir. Shelo pun mengangkat tangan menandakan hari ini giliran dia yang harus ke Mis One ( Julukan outlet mereka yang pertama ).



“ Giliran gue.. ” Kata Shelo. Mereka bekerja sama cukup solid, setiap minggu sellu terdapat giliran jaga di outlet pertama bersama 1 karyawan tambahan. Ketiga sahabat ini belum berani memperkerjakan banyak orang, mengingat mereka masih tergolong baru dan harus menghemat biaya.


Mia dan Ayu adalah sahabat terbaik Shelo yang terus ada di sisinya walau mereka sempat kehilangan keberadaan Shelo beberapa waktu, namun akhirnya bertemu lagi dan mengetahui semua kisah memilukan yang dialami Shelo hingga rasa benci pun turut memenuhi hati mereka terhadap keluarga Arvi.


Setelah kurang lebih 6 bulan Shelo dan keluarga berada di rumah terpencilnya di pesisir pantai, mereka memberanikan diri untuk kembali ke kehidupan kota dan memulai semuanya dari awal.


Ibu Shelo berjuang kembali dengan usaha floris yng sempat ditinggalkannya dan Sesil kembali melanjutkan sekolahnya walau harus berpindah sekolah, sedangkan Shelo… ia berusaha bangkit dari keterpurukannya dengan bekerja keras dan melupakan semua yang terjadi. Pintu hati SHelo seakan sudha menutup dan membeku setelah semua yang dia alami.

__ADS_1


Sama halnya dengan Shelo, kehidupan Arvi kembali seperti semula dengan segala keangkuhan dan kerja keras yang membuat nama Osmond Group kembali Berjaya. Beberapa perubahan yang dilakukan Arvi lebih cenderung ke hal yang negative seperti menjadi penggemar alkohol, suka bermain wanita lebih tepatnya meniduri beberapa wanita panggilan untuk menyalurkan kepuasannya.



Meski apa yang dilakukan Arvi hanya untuk mengisi kekosongan hatinya, namun semua itu sia-sia. Resa yang masih setia bekerja untuk Arvi hanya bisa mengawasi, namun untuk urusan pribadi Arvi.. tidak ada yang bisa dilakukannya. Perbuatan Arvi tentu membuat orang tuanya makin geram, mereka pikir dengan menyingkirkan Shelo semua akan beres.. namun itu sama sekali tidak berlaku untuk Arvi.


Terlihat Arvi yang tanpa pakaian baru saja bangun dari tidur nya yang ditemani oleh seorang wanita tanpa busana tertutupi selimut berada di sampingnya. Arvi yang saat ini berusia 33 tahun itu bahkan menato punggung bagian kirinya dengan gambar berukiran abstrak, sebagai salah satu bentuk frustasinya kala itu.


Arvi melewatkan malam penuh gairah dengan sembarang wanita yang dia inginkan, ia beranjak dari ranjang serta memakai kimono putih sambil menghisap sebatang rokok yang dulunya tidak pernah ia sentuh dan berjalan tenang menikmati pemandangan kota dari balkon kamarnya.


Sejak berpisah dengan Shelo, Arvi sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya ke apartmen lama yang pernah menjadi tempat segala kenangan indahnya bersama Shelo. Ia lebih memilih menghamburkan uang dengan membeli apartmen baru di tengah ibu kota yang lebih mewah dari sebelumnya, meski begitu kemewahan yang ia beli tidak dapat mengisi kekosongan hatinya.


Sosok wanita yang tidur dengan Arvi sudah bangun dan berjalan mendekat memeluk Arvi yang masih menikmati hisapan batang rokoknya.


“ Aku sudah selesai dengan mu. Pergilah sebelum matahari terbit. ” Jawab Arvi ketus.


Wanita itu nampak kesal karena sikap dingin Arvi setelah beberapa malam yang mereka habiskan bersama.


“ Hanya ini ?? Aku masih ingin bersamamu. ” Kata wanita itu tidak menyerah.


“ Jangan terlalu lama bermain dengan ku. Ambil barang-barang mu dan pergilah, Sekretaris ku sudah mengirim sejumlah uang untuk waktu yang kamu habiskan dengan ku. ” Sahut Arvi tidak peduli bahkan melihat wanita itu pun tidak.


Matahari pun terbit, terlihat Arvi sudah berdiri dengan rapi di depan cermin bersiap untuk berangkat ke kantor, di belakangnya sudah ada Resa yang datang menjemput sambil menginformasikan beberapa jadwal yang harus dilakukan Arvi pada hari ini.


“ Pukul 10 ada pertemuan dengan vendor dari Malaysia tentang pameran bulan depan, kemudian pukul 1 siang anda harus menghadiri makan siang dengan CEO medalist untuk kelanjutan proyek kerja sama Osmond, pukul 3 sore anda… ” belum selesai Resa menjelaskan, Arvi menyela dirinya.

__ADS_1


“ Cukup. Ingatkan saja saat waktunya sudah tiba. ” Kata Arvi dingin.


“ Dan satu lagi pak.. Sejak minggu lalu, Pak Hendra ingin menemui anda.. tetapi belum semat karena jadwal anda yang sudah penuh. ” Kata Resa dengan ragu-ragu.


“ Katakan padanya, aku terlalu sibuk mencari tumpukan uang untuknya. Jadi jangan mengganggu ku. ” Jawab Arvi sambil berlalu pergi dari kamarnya dengan cuek.


Ketika berada dalam perjalanan, mobil yang di naiki Arvi berhenti di tengah traffic light. Ia yang duduk di belakang hanya terdiam dan memperhatikan beberapa kendaraan yang lalu lalang di sekitarnya. Jalanan nampak cukup padat karena hari dan rutinitas kerja warga ibu kota.


Tanpa sengaja mata Arvi tertuju pada seorang pejalan kaki yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya sejenak, bahkan ia menurunkan kaca mobil nya untuk memastikan pandangannya yang masih tertuju kepada orang itu.



'Shelo.. ‘ Kata hati Arvi yang sudah memastikan kebenaran orang yang dia lihat bukanlah suatu halusinasi ataupun mimpi.


Namun Arvi menghentikan pandangannya dan menutup kembali kaca jendela mobilnya tanpa ekspresi seakan tidak ingin mempedulikan apa yang dia lihat. Resa yang berada di bangku pengemudi pun tak luput menanyakan apa yang diperhatikan oleh Arvi.


“ Ada apa pak ?? ” Tanya Resa yang tidak mengetahui keberadaan Shelo yang sempat melintas di pandangan Arvi.


“ Bukan apa-apa. ” Jawab Arvi tenang.


Namun dalam hatinya…


‘ Dia baik-baik saja ‘


Perasaan sakit tiba-tiba muncul pada dada Arvi yang tanpa sengaja takdir membawanya untuk melihat wanita yang selama 2 tahun ini tidak pernah muncul di hadapannya walau hanya kebetulan. Melihat ketenangan di wajah Shelo dan sosoknya yang menjadi lebih dewasa, entah mengapa masih menyisakan rasa sakit di dada Arvi.

__ADS_1


__ADS_2