My Accident Destiny

My Accident Destiny
My Accident Destiny Part 39 " Berjuang bersamaku "


__ADS_3

Satu minggu semenjak operasi Arvi berhasil, dirinya masih melakukan perawatan intensif di rumah sakit. Perban di kepala dan di bagian dadanya masih melekat erat dan setiap 2hari harus diganti.


Resa masih belum bisa memberikan timing yang pas untuk mempertemukan Shelo dengan Arvi karena pengawasan ibu Arvi yang sangat ketat. 24 jam selama seminggu, beliau merawat Arvi tanpa lelah dan tidak membiarkan Arvi seorang diri di rumah sakit. Sedangkan Ayah nya harus menyelesaikan berbagai pekerjaan yang menumpuk ditambah lagi karena Arvi masih belum bisa bekerja, sehingga harus diambil alih ayahnya dan sesekali dibantu oleh Evan.


" Mama pulang aja. Nanti malah ikutan sakit juga karena kecapekan. " Kata Arvi yang merasa tertekan dengan kehadiran ibu yang tidak pernah akur dengannya, apalagi semenjak kejadian Shelo yang disakiti oleh ibunya.


" No no no. Mama ga akan ninggalin kamu sampe kamu bener bener sembuh. " Jawab ibu Arvi kekeh.


" Benar apa kata Pak Arvi, anda sebaiknya istirahat. Saya bisa 24 jam menjaga pak Arvi. " Tambah Resa mendukung Arvi demi kelancaran rencananya.


" Iya ma. Ada Resa, semua beres. " Kata Arvi lagi.


" Kamu tau ga sih. Betapa takutnya mama kehilangan kamu. Mana bisa mama ninggalin kamu dengan keadaan begini. " Jawab ibu Arvi penuh kasih sayang yang membuat Arvi merasa heran.


" Tumben mama bisa menjalankan peran sebagai ibu dengan baik. Coba aja dari dulu begini, aku ga perlu melepas kebahagiaan ku. " Sindir Arvi yang mengingat masa lalu.


" Maafkan mama kalau selama ini tidak bisa jadi ibu yang sempurna buat kamu. Tapi percayalah, semua yang mama lakukan untuk kebaikan kamu. " Jawab ibu Arvi tidak mau kalah.


" Kalau gitu mama dengerin saran ku juga. Mama pulang, istirahat di rumah. Sehariiii aja.. aku kan juga butuh waktu sendiri. Kalau ada apa apa, Resa pasti juga hubungi mama. " Kata Arvi tidak menyerah.


" Iya iya.. nanti malam mama pulang. Mama tidur di rumah. Kamu kalau uda membaik, jadi bawel. " Jawab ibu Arvi dengan terpaksa.


Senyum sumringah pun terlihat dari wajah Resa yang akhirnya menemukan waktu yang tepat untuk membawa Shelo menemui Arvi.


Dengan segera ia keluar dari kamar vvip Arvi dan diam diam memberi kabar kepada Shelo.


Tepat pukul 11 malam, waktu dimana semua orang umumnya sudah beristirahat. Tampak Shelo yang menggunakan masker dan topi hitam perlahan memasuki kamar Arvi yang hening.


Atas bantuan Resa, akhirnya rasa khawatir Sheli yang membuatnya tidak bisa tidur tidak nafsu makan terbayar dengan melihat Arvi yang sedang tidur terbaring di ranjang nya.

__ADS_1


Tangis yang tak terbendung membuat Shelo ingin memeluk Arvi, namun dia takut mengganggu tidurnya.


Ia hanya memegang lembut tangan Arvi, dan mendekap nya erat dengan penuh ucapan syukur karena lelaki itu berhasil bertahan.


Arvi yang belum tertidur pulas, merasakan pergerakan itu dan terkejut melihat Shelo sudah berada di sampingnya sambil menggenggam tangan nya.


" Shelo?? " Sahut Arvi tak percaya.


" Sssttt... Jangan ribut. " Kata Shelo reflek menutup mulut Arvi dengan tangannya sejenak.


Shelo melepas topi dan maskernya, agar pandangan Arvi semakin jelas kepadanya.


Tanpa pikir panjang, Arvi menarik Shelo hingga tubuh Shelo menindih tubuh Arvi yang sebenarnya masih terluka. Namun rasa rindu mengalahkan rasa sakit Arvi.


" Akhirnya kamu datang juga. " Kata Arvi sangat bahagia.


" Arvi, lepasin dulu. Nanti kamu terluka lagi. "


" Maaf, aku baru bisa jenguk kamu. Aku harus kesini ketika keluarga mu pergi. " Jawab Shelo perlahan melepaskan pelukan Arvi.


" Aku yang harusnya minta maaf ke kamu. Karena kondisi ku seperti ini, aku jadi menghilang tanpa kabar. " Kata Arvi merasa bersalah namun Shelo tersenyum kecil mendengarnya.


" Tanpa kabar?? Kamu itu lagi trending topic.. Arvinas Javier Osmond. " Sindir Shelo yang selalu mengikuti berita tentang Arvi.


" Kamu tidur aja, istirahat. " Kata Shelo lagi sambil menyelimuti Arvi.


" Aku ga ngantuk. Aku ga mau melewatkan malam ini, hanya kita berdua. Aku takut kalau aku tidur, kamu pergi. " Jawab Arvi tidak melepaskan genggamannya.


" Aku ga bisa lama lama Arvi. Aku cuma mau memastikan keadaan kamu, dan sepertinya udah membaik. " Kata Shelo ti the point.

__ADS_1


" Kenapa?? Kamu khawatir?? " Tanya Arvi to the point juga membuat Shelo salah tingkah.


" Ehm.. ya mana mungkin aku ga khawatir. Aku kan bukan orang jahat. " Jawab Shelo gugup mencari alasan.


" Jangan pergi Shel. " Kata Arvi memelas.


" Aku akan pergi saat dini hari. Aku ga mau bikin keributan disini. "


Kemudian Arvi menggeser tubuhnya sedikit ke pinggir, untuk memberikan tempat bagi Shelo.


" Berbaringlah di sebelahku. " Kata Arvi sambil menengadahkan tangan kirinya yang tidak terdapat infus.


" Ga usah, aku duduk disini aja. " Tolak Shelo.


" Aku harus memastikan kamu berada di dekat ku sampai dini hari nanti. Aku butuh charging energi supaya cepat sembuh. " Ajak Arvi tidak menyerah.


Kemudian Shelo pun mengalah untuk mengakhiri perdebatan itu, ia berbaring di samping Arvi dan membelakangi Arvi yang memeluknya dari belakang dengan nyaman.


" Terima kasih ya Shel, kamu mau datang. Kamu itu semangat hidup buat aku, kamu selalu jadi harapan untuk aku menjalani hidup. " Sahut Arvi lembut sambil memeluk wanita yang berbaring di sebelahnya itu, yang berhasil membuat rasa sakitnya seakan hilang tidak pernah ada.


" Aku.. aku sebenarnya bingung harus menyikapi hubungan ini seperti apa. Kamu terus datang dan mengetuk pintu hati ku yang terkunci rapat selama 2 tahun ini. Aku mencoba membenci mu, melupakan mu dan menjauhi mu.. tapi tidak berhasil. " Pengakuan yang tidak disangka keluar dari bibir Shelo di malam yang hening dan dingin itu.


Rasa haru dan bahagia Arvi tidak terbendung ketika mendengarnya, jawaban yang selama ini dia tunggu akhirnya keluar dari bibir wanita yang semakin erat dipeluknya saat itu.


" Terimakasih Shel.. terimakasiiihh.. Aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik dan membahagiakan kamu. Perjuangan ini tanggung jawabku, dan bahagia adalah bagianmu. " Jawab Arvi sangat senang.


" Kelemahan ku adalah tidak bisa membohongi diri sendiri. Mungkin ini adalah keputusan yang salah, dan akan mulai banyak hal yang mencobai kita. Karena itu, cepat lah sembuh dan kita berjuang bersama. " Kata Shelo yang sudah mulai mengantuk dan tertidur di lengan Arvi.


Resa yang terus mengawasi mereka dari luar kamar Arvi, ikut senang melihat keromantisan mereka berdua yang tidur terlelap bersama. Rasa lelah Resa pun terbayar melihat Arvi menemukan semangat hidupnya kembali dan berharap bahwa kesempatan kedua yang mereka ambil akan menghasilkan akhir yang jauh lebih bahagia.

__ADS_1


Melihat betapa banyak nya penderitaan, saling melepaskan saling menyakiti diantara mereka membuat Resa ingin terus membantu hubungan mereka agar bisa bersatu lagi.


" Good luck, boss. " Gerutu Resa tersenyum bahagia sambil melihat ke dalam ruangan Arvi tanpa mengganggu suasana romantis mereka.


__ADS_2