
Keesokan harinya, Shelo dengan aura yang kembali segar datang ke tokonya tepat pukul 9 pagi dan mulai mempersiapkan meja kasir untuk menyambut para customer yang datang. Disana juga terlihat Diva yang sudah rajin membersihkan kaca toko seperti pekerjaan sehari harinya selain melayani customer yang datang.
“ Gimana ?? Semalam kamu dan Nana gpp ?” Tanya Shelo khawatir.
“ Iya kak. Semua karena bantuan kakak. Aku juga sudah cerita sama mama, dan pilihan terakhir kami adalah menjual rumah peninggalan papa. ”
Begitu sedih hati Shelo mendengar perkataan putus asa Diva beserta keluarganya, namun Shelo juga masih belum bisa membantu sebanyak itu dalam hal materi mengingat dia juga punya ibu dan Sesil yang harus dijaga.
Ditengah percakapan Shelo dan Diva, terlihat sebuah mobil Fortuner hitam yang sedari tadi bahkan sebelum Shelo datang sudah parkir di seberang toko Shelo. Orang itu adalah Jacob, sambil menikmati rokok nya, ia terus mengarahkan pandangannya pada gadis yang semalam menghampiri clubnya.
Wajah manis Shelo, penampilan anggunnya yang memakai dress polo berwarna hitam dan sepatu kets putih membuatnya tampak segar dan menarik di mata Jacob.
“ Bingo.. ” Kata Jacob sambil memakai kacamata hitam, dengan kemeja hitam yang 2 kancing atasnya terbuka. Jacob turun dari mobil dan segera menghampiri toko Shelo yang masih terlihat sepi di pagi hari tanpa sepengetahuan wanita itu.
“ Selamat da… ” Sambutan Shelo dan Diva pun terhenti melihat kedatangan Jacob.
Diva yang ketakutan lari ke belakang Shelo yang berada di meja kasir.
“ Mau apa kamu datang kesini ? Aku kan udah transfer sejumlah uang untuk membayar cicilan hutang Diva. ” Kata Shelo juga takut melihat kedatangan mendadak lelaki itu di tempat kerjanya.
“ Aku kesini untuk menghabiskan uang. ” Kata Jacob dengan santainya, dan mencoba menyalakan sebatang rokok untuk dihisapnya, namun dengan berani Shelo mengambil batang rokok itu kemudian mematahkan serta membuangnya.
“ Ga bisa baca ya. NO SMOKING AREA. ” Kata Shelo tegas membuat Jacob tersenyum.
“ Sekarang aku tau, kenapa aku bisa sampai disini.. ” Sindir Jacob membingungkan Shelo.
“ Jangan ganggu dan cepat pergi dari sini. Kalau ingin hutang Diva cepat terbayar, jangan datang ke tempat kerja nya. ” Sahut Shelo memperingatkan.
“ Aku disini bukan untuk itu, kan aku sudah bilang kalau aku ingin menghabiskan uang.” Jawab Jacob tidak mempedulikan peringatan Shelo dan mulai berkeliling melihat barang yang terpampang rapi dan cantik di setiap side toko Shelo.
__ADS_1
“ Div, kalau aku kasih tanda. Segera hubungi polisi ya. ” Sahut Shelo berbisik dan meninggalkan meja kasir menghampiri Jacob.
“ Apa yang kamu cari ?? Aku bantu, supaya kamu cepat pergi. ” Kata Shelo sinis mendekati Jacob yang memilah-milah pakaian wanita tanpa tujuan.
“ Waww.. ini bagus. Ini juga, ini juga. ” Jacob tanpa ragu mengambil beberapa pakaian yang tergantung dan melemparkannya pada Shelo yang berdiri di sebelahnya.
Tentu saja Shelo merasa geram dengan perbuatan Jacob yang seenaknya, namun ia berusaha menahan emosi agar tidak terjadi keributan.
“ Sepatu ini juga bagus. ” Sahut Jacob sambil memilih sepasang flat Shoes silver berhiaskan pita.
“ Berapa ukuran yang kamu mau ?” Tanya Shelo memastikan ukuran yng dibutuhkan.
“ Ehm…… ukuran, mungkin seperti ukuran mu. ” Jawab Jacob memandang Shelo lebih dekat.
“ Jangan bercanda. ” Jawab Shelo sambil menjauhkan diri selangkah namun Jacob menarik lengan Shelo hingga semua pakaian yang dipegang nya terjatuh.
“ Pergi !! Kalau kamu Cuma mau main-main. Pergi dari sini. ” Bentak Shelo mengusir Jacob.
“ Aku ingin membuat kesepakatan dengan pakaian-pakaian ini. ” Kata Jacob tiba-tiba sambil mengambil 3 buah pakaian pilihannya yang tercecer di lantai.
“ Aku sangat muak dengan kesepakatan. Jangan pernah datang ke tempat kerja ku lagi. ” Jawab Shelo yang terlihat sangat marah, kata kesepakatan begitu membuatnya muak dan kesal mengingat masa lalunya dengan Arvi juga berawal dari sebuah kesepakatan yang berakhir menghancurkan hati dan kehidupannya.
Melihat Shelo yang sudah berbeda auranya karena emosi yang menghiasi wajahnya, Jacob pun menyerah untuk saat ini.
Sebelum ia pergi, ia tetap membeli 3 pakaian itu dan dilayani oleh Diva di meja kasir dengan penuh ketakutan. Ketika Diva dengan gugup membungkus belanjaan Jacob, sebuah tulisan tangan di kartu nama Jacob pun diberikan kepada Diva.
“ Berikan ini pada bos cantik mu itu. Ini sungguh bisa membantumu. ” Kata Jacob sambil menitipkan sebuah pesan untuk Shelo yang masuk ke ruang persediaan karena kemarahan yang tak terbendung.
“ Baik. ” Jawab Diva takut. Jacob pun pergi meninggalkan toko Shelo.
__ADS_1
Beberapa saat setelah kepergian Jacob, terlihat mobil mercy hitam milik Arvi datang dan parkir di sebrang toko Shelo. Arvi yang berhasil menemukan keberadaan Shelo karena bantuan Resa, akhirnya tidak bisa menahan diri untuk datang dan memastikannya walau hanya melihat dari sebrang jalan.
Semenjak pertemuan tak terduga mereka, apalagi di tengah keadaan Arvi yang kelam membuatnya terus kepikiran dan begitu penasaran akan kehidupan Shelo setelah 2 tahun berpisah darinya.
Nampak Shelo yang sibuk dengan pekerjaannya dan sesekali menyambut customer yang datang menghampiri tokonya.
Arvi yang duduk di belakang, tidak sedetikpun melepaskan pandangannya kepada Shelo hingga beberapa menit tanpa lelah.
“ Pak, anda tidak ingin masuk ?” Tanya Resa yang mengemudikan mobil.
“ Cukup dari sini saja. 2 tahun berlalu dan dia tidak berubah. ” Kata Arvi sambil terus memandang Shelo.
“ Apa yang membuat anda ingin mencari Bu Shelo lagi ? Bukannya selama ini mendengar namanya saja, anda terganggu. ” Tanya Resa dengan berani mengingat kedekatan mereka.
“ Aku juga kesal karena rasa penasaran ini. Selama 2 tahun aku menahan untuk tidak memikirkan dia, tapi karena pertemuan singkat itu.. membuat aku terganggu. Dia melihat sisi diri ku yang sangat menjijikan. ” Jawab Arvi menjelaskan.
“ Jadi sebelum ini, anda sempat bertemu dengan Bu Shelo? ” Sahut Resa terkejut.
“ Dia melihatku minum dengan 2 pelac*r di club. ” Jawab Arvi mengingat kejadian malam itu.
Waktu terus berlalu namun Arvi masih betah untuk terus mengawasi Shelo dari kejauhan tanpa lelah tanpa memikirkan yang lain.
Melihat bagaimana Shelo bekerja mewujudkan bisnisnya, bangkit dari keterpurukan dan kembali menjalani kehidupan normal sama seperti sebelum ia terlibat dengan keluarga Osmond.
Di mata Arvi.. Shelo tersenyum, Shelo berbincang dengan santai seakan menggambarkan bahwa wanita itu sungguh bahagia setelah berpisah dari dirinya.
Kesimpulan itu muncul dalam pikiran Arvi sepanjang hari ini ketika ia melihat aktifitas Shelo.
“ Aku sudah tidak ada lagi dalam hatinya. ” Kata Arvi lesu dan lirih menyimpulkan perasaan Shelo.
__ADS_1