
Hari yang ditunggu tiba, tepat pukul 7 malam Shelo sudah berada di salah satu salon milik teman Arvi dan hampir selesai bersiap dengan mengenakan gaun maroon yang dibeli bersama Arvi kemarin. Shelo tampak lebih percaya diri dengan riasan elegan diwajah manisnya, rambut setengah terikat ke atas dilengkapi hiasan rambut kecil sebagai pemanis. Lipstik merah pekat terlihat menonjol pada riasan Shelo malam ini, memberi kesan dewasa dan confidence kemudian seorang asisten MUA mengambil sepatu untuk melengkapi kepiawaian Shelo malam ini.
Tak disangka sepatu yang Shelo pilih adalah warna merah pemberian Arvi secara pribadi yang sudah ia ketahui ketika berada di apartmen sepulang berbelanja.
Arvi yang sudah siap dengan menggunakan tuxedo hitam keabu abuan lengkap dengan dasi kupu-kupu hitam di kerah kemeja putihnya nampak begitu tampan berkharisma. Ketika ia menunggu Shelo dengan sabar, begitu berdebar hati Arvi di iringi senyum merekah di wajah tampannya ketika melihat bahwa Shelo memakai sepasang sepatu yang Arvi pilihkan.
“ Perfect. ” Kata Arvi menghampiri Shelo, semua staf salon yang ada disekitar mereka berdua begitu terpukau sampai terbawa perasaan melihat keserasian dua sejoli ini.
“ Thankyou. ” Kata Shelo anggun dengan senyum manis di wajahnya membuat bibirnya merah merekah dengan indah.
“ Are you ready Mrs. Arvi ?” Dengan gentle Arvi memberikan lengan kanan nya dan Shelo tanpa pikir panjang menyambut gandengan tangan Arvi.
Perjalanan menuju balroom hotel Osmond tidak begitu lama karena jarak yang tidak jauh. Mobil Alpard Shelo dan Arvi sampai di depan loby hotel, disambut beberapa awak media yang mengambil gambar di luar garis pembatas red karpet bak menerima penghargaan selebriti. Acara ini menjadi begitu menarik perhatian karena banyaknya tamu dan klien Osmond Group yang juga berpengaruh besar bagi masyarakat bahkan tak luput selebriti tanah air ikut datang memeriahkan acara gala dinner tersebut.
Dengan percaya diri langkah kaki Shelo selalu mengikuti seiring sejalan dengan Arvi yang memeluk pinggang nya dengan nyaman persis seperti pasangan umum yang lain. Mereka melengkapi satu sama lain terutama Arvi yang baru pertama kali ini membawa pasangan di acara mewah perushaannya.
Memasuki balroom, terlihat semua dekorasi tertata dengan cantik dan elegan diterangi lighting yang menyorot setiap tamu yang datang. Kehadiran mereka berdua tentu menerima banyak perhatian, karena bagaimanapun pasangan pengantin baru ini masih menjadi perbincangan hangat terutama di tengah kolega dan rekan bisnis Arvi.
Sepasang mata wanita cantik bergaun purple yaitu Kara tidak lepas memandang Shelo sedetikpun yang berjalan mengikuti Arvi dengan senyuman manis menyapa setiap tamu. Kara yang hadir bersama orangtuanya juga mendapat giliran sapa dari Arvi dan Shelo.
__ADS_1
“ Selamat malam om.. tante.. Thankyou for coming. ” Sapa Arvi dengan look berwibawa dan tenang.
“ Hai Arvi… lama tidak berjumpa. Selamat ya buat pernikahan mu. Maaf baru sempat bertemu, Om dan tante baru pulang dari Eropa. ” Sapa ayah Kara bersikap ramah.
“ Terima kasih om.. ini istri saya, Shelomita Deana Putri. ” Shelo pun berjabat tangan dengan ayah, ibu dan Kara. Tatapan benci dan hina tidak luput dari pandangan mereka mengetahui latar belakang Kara seorang gadis biasa penjual bunga.
“ Dengar-dengar, kamu masih muda ya? Masih belum selesai kuliah. ” Sindir ibu Kara diikuti senyum sinis anaknya yang sedari tadi bersikap tidak nyaman dengan pemandangan ini.
“ Iya tante.. saya masih kuliah di Harapan Indonesia semester akhir. ” Jawab Shelo santun.
“ Oohh.. kuliah disana, bukankah itu universitas yang menerima donatur terbesar dari Osmond Group. ” Sindir ibu Kara sekali lagi membuat Kara begitu puas tertawa kecil seakan mengatakan bahwa mereka tidak selevel.
“ Benar sekali. Saya salah satu penerima beasiswa Arvi. ” Dengan tenang dan percaya diri, Shelo menanggapi perkataan ibu Kara.
“ Tentu. Bertemu dengan Arvi adalah sebuah anugerah.” Balas Shelo tetap dengan tenang dan malah membuat Kara terbakar api cemburu. Senyum tipis pun terlintas di wajah Arvi yang mendengar jawaban Shelo, ia memutuskan untuk membawa istrinya pergi menyapa kolega yang lain.
“ Kami permisi dulu ya.. ada beberapa kolega yang harus kami sapa. Selamat menikmati pestanya. ” Kata Arvi sambil meninggalkan mereka bertiga.
Kara semakin kesal melihat Arvi yang tidak terpengaruh dan merasa malu sama sekali mendengar istrinya di sindir tajam oleh ibunya.
Sambil menikmati alunan live musik dan berbagai macam hidangan yang tersedia, para tamu undangan begitu menikmati acara tersebut. Tak terlihat kedua orang tua Arvi disana, karena mereka sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, terutama ibu Arvi yang memilih pergi memanjakan diri ke beberapa negara setelah insiden yang membuatnya kesal setengah mati.
Berada di tengah acara, Arvi memberikan sambutan formal kepada semua yang hadir dengan segala rasa syukur terlebih suasana hatinya yang malam ini entah mengapa begitu bahagia. Kedua mata Shelo tidak lepas dari pandangannya kepada Arvi yang begitu berkharisma dan mengagumkan malam ini, tidak salah jika dia bisa menjadi pria yang sukses dan di ingini banyak wanita melihat betapa bertanggung jawabnya Arvi pada pekerjaan. Shelo pun juga memang sudah menyadari keberadaan kara yang terus memperhatikan kemanapun dia pergi, dirinya mengingat artikel yang sempat ia baca tentang hubungan perjodohan Arvi dan Kara dua tahun yang lalu ditambah lagi sikap keluarga Kara terhadapnya yang membuat semakin jelas bahwa Kara menaruh hati pada Arvi sejak lama.
__ADS_1
Vibes pengantin baru masih melekat pada mereka berdua, beberapa kolega baik Arvi menghampiri Shelo kemudian menyorakinya untuk memberikan sepatah dua patah kata di samping Arvi yang ada di depan menjadi trade center. Awalnya Shelo ragu dan malu-malu, namun di satu sisi ia menyadari bahwa dirinya ingin menjaga nama baik Arvi sebagai seorang istri.
Shelo memberanikan diri melangkah ke depan menyusul Arvi yang ikut salah tingkah dengan kejadian mendadak tersebut. MC acara memberikan microfon kepada Shelo untuk menyampaikan sesuatu walau hanya sebentar.
“ Ciihh.. dia memang suka menjadi bahan tertawaan. Akan lebih sempurna kalau aku yang berada disana. ” Gerutu Kara di sebelah ibunya yang ikut tersenyum menghina.
Shelo mengambil nafas dalam dan mulai dengan percaya diri memegang microfon sambil sesekali tersenyum memandang Arvi yang lebih gugup melihat Shelo.
“ Selamat malam semuanya. Saya.... tidak menyiapkan banyak kata-kata yang indah karena... berdiri disini dengan mendadak. ” Sapa Shelo mencoba santai dan mengundang gelak tawa dari para tamu yang melihat mereka dengan lucu.
“ Saya tau saat ini di luar sana, di berbagai media social sedang ramai membicarakan pernikahan kami. Seperti berada di negeri dongeng, pangeran dan upik abu. ” Kalimat pembuka Shelo menarik perhatian semua yang mendengarkan terutama Arvi yang berdiri di sebelahnya.
“ Menikah dengan seorang Arvinas Javier Osmond bukanlah suatu hal yang mudah. Selain mental yang harus kuat menghadapi publik, saya juga harus belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan baru yang sebelumnya tidak pernah saya miliki. Saya terlahir sebagai anak seorang wanita penjual bunga, mahasiswi penerima beasiswa dan selalu mengambil kerja paruh waktu saat libur semester tiba. Mungkin yang saya katakan ini membuat beberapa orang menyayangkan kenapa Arvi memilih saya untuk dijadikan istri. ” Mata mulai ber kaca-kaca terharu sambil berusaha meneruskan kalimatnya. Sedangkan Arvi terus menatap Shelo dan hatinya seakan tersentuh oleh pengakuan Shelo yang berani jujur apa adanya di hadapan para tamu tanpa ragu.
“ Terlepas dari itu semua, Arvi tetap melindungi dan menerima saya dengan penuh tanggung jawab. Semua rasa tertekan yang saya alami perlahan berubah menjadi rasa syukur karena memiliki suami seperti Arvi. Yaa.. Walaupun dia sedikit bodoh dalam hal wanita, karena lebih memilih wanita biasa seperti saya daripada puluhan wanita cantik lainnya di luaran sana." Canda Shelo untuk mencairkan suasana, walaupun air mata yang keluar tidak bisa membohongi perasaan harunya saat ini.
“ Satu hal yang ingin saya sampaikan pada lelaki ini adalah.... Thankyou Arvi, you complete me. ” Kalimat tulus keluar dari bibir merah Shelo untuk satu-satu nya lelaki yang saat ini hanyut dalam tatapan hangat dihadapan nya.
Arvi perlahan mendekati Shelo, jantungnya berdegup begitu kencang namun langkahnya tak terhenti untuk terus mendekat. Semakin dekat dan semakin dekat, tangan kiri Arvi meraih pinggang Shelo diikuti tangan kanannya memegang leher Shelo yang diam terpaku memandang Arvi.
Ciuman lembut dari bibir Arvi mendarat sempurna di bibir Shelo sehingga membuat seisi ruangan bersorak terbawa momet romantis ini.
Ciuman terhenti sejenak, mereka berdua saling menatap tanpa kata seakan hati mereka menemukan irama dan alur yang sama. Microfon Shelo terjatuh dan kedua tangan nya memeluk punggung Arvi, membebaskan Arvi untuk mengikuti keinginan hatinya.
__ADS_1
Mata Shelo terpejam dan sekali lagi mereka berciuman lebih intens tanpa jeda, untuk beberapa menit ke depan dunia terasa hanya milik mereka berdua.