
Arvi dan Shelo mengakhiri bulan madu palsu mereka setelah kejadian tidak menyenangkan sehari sebelumnya. Sepanjang perjalanan selama 9 jam di pesawat menuju bandar Soekarno Hatta Jakarta, mereka berdua tidak saling berbicara sepatah kata pun. Bertahan pada ego masing-masing dan menyimpan rasa kesal dalam hati dengan sudut pandang mereka yang bertolak belakang.
Sesampainya di bandara, terlihat Resa sudah standby menjemput mereka dan waktu menunjukkan pukul 5 sore. Arvi dan Shelo membuat suasana semakin canggung dan dingin disepanjang perjalanan pulang ke apartmen.
“Kenapa ya mereka, apa bulan madunya ga berjalan lancar. ” Kata hati Resa yang jadi ikut gelisah melihat situasi ini, namun apa daya tidak ada keberanian untuk memulai sebuah percakapan terlebih melihat raut wajah bos yang sudah 7 tahun ini dia layani dan pahami.
Setibanya di apartmen, suasana masih hening dan membisu. Shelo bergegas masuk ke kamarnya dan menenangkan hati dengan memberi kabar pada ibu atas kepulangannya dari Maldives. Sedangkan Arvi memilih melanjutkan beberapa pekerjaan bersama Resa di ruang kerja nya karna ada beberapa proyek yang delay membutuhkan persetujuan Arvi.
Melihat suasana hati Arvi yang sedang tidak baik, Resa sangat berhati-hati menghadapi Arvi.
“ Shiiitt…. Bikin ga fokus kerja aja. “ Gerutu Arvi sambil melempar dokumen pekerjaan ke meja kerjanya.
“ Kenapa pak? Apa ada yang bisa saya bantu. ” Tanya Resa menawarkan bantuan.
“ Gak. Bukan apa-apa. Dasar wanita ga tau diri. ” Perkataan Arvi membuat Resa menyadari bahwa pasti terjadi sesuatu antara Arvi dan Shelo ketika berbulan madu.
“ Tenang pak, sabar. Semua bisa dibicarakan baik-baik.”
“ Ya coba kamu bayangin deh, kamu sudah berusaha bersikap baik tapi mala dituduh ini itu. Emang tampang saya seperti tampang kriminal. ” Sahut Arvi emosional.
“ Sabar pak, jangan terbawa emosi. Mungkin semua hanya salah paham. ”
Keesokan pagi, ketika Arvi keluar dari kamar dengan pakaian rapi bersiap berangkat ke kantor, terlihat Shelo sudah ada di dapur dengan celemek yang digunakan untuk menyiapkan sarapan walau hanya berupa toast, salad sayuran dan secangkir kopi.
“ Sarapan dulu. ” Ajak Shelo dengan tampang jutek.
“ Ga perlu. Takut ada racun. ” Jawab Arvi menghina.
“ Bisa-bisanya sih kepikiran begitu. Jangan sembarangan nuduh orang. ” Teriak Shelo merasa tersinggung.
“ Kenapa?? Bukannya kamu juga hobi nuduh aku yang engga-engga. ” Bagai senjata makan tuan, Arvi membalikkan keadaan tanpa ragu.
__ADS_1
“ Ya udah kalau gamau sarapan. Ga rugi juga kok aku." Dengan segera Shelo mengambil piring salad dari meja makan dan membuangnya.
Arvi pun tidak peduli dan buang muka, ia melanjutkan perjalanan nya ke kantor dengan raut wajah yang kesal.
“ Sial banget sih, pagi-pagi mesti ketemu dia. ” Gerutu Arvi di dalam lift.
Kegiatan Shelo saat ini adalah sibuk mengurus KRS untuk kembali masuk kuliah setelah beberapa bulan karena insiden bertubi-tubi membuatnya harus cuti kuliah. Ia memberanikan diri dan berusaha bersikap seperti biasanya saat datang ke kampus. Ayu dan Mia yang sudah beberapa bulan tidak bertemu dengan Shelo seketika menghampiri sahabatnya dan berpelukan dengan riang gembira.
“ Sheeelll… kemana aja siihh. Kangen tauuu… ” Kata ayu sambil memeluk Shelo erat.
“ Iya, kemana aja siihh… tanpa mu, tugas kita jadi berantakan. ” Canda Mia
“ Panjang banget ceritanya. Pasti kalian ga akan percaya. ”
Mereka bertiga kemudian duduk santai mengobrol di bangku taman kampus, disitu Shelo menceritakan semua dari awal sampai akhir kecuali insiden pelecehan yang dia alami karena mengingat bahwa ia sudah sepakat untuk tidak membuat nama Osmond Group tercemar.
“ Gue masih ga percaya Shel, lo memutuskan menikah semuda ini. ” Kata Ayu menyayangkan.
“ Percaya ga percaya, gue beneran uda jadi istri orang. ” Jawab Shelo sambil menunjukkan jari manis di tangan kanannya, cincin pernikahan manis melingkar disana.
“ Ya gitu deh, suami khilat gue ga lain ga bukan adalah donatur gue. ” Jawab Shelo sambil menghela nafas panjang.
Sebagai sahabat, mereka berdua hanya bisa mendukung dan mendoakan segala sesuatu yang terbaik untuk Shelo. Pembicaraan pun terus berlanjut, canda tawa kembali menghiasi hari-hari Shelo yang sudah tidak sabar melanjutkan kuliahnya di awal bulan depan. Ketika bersama dengan sahabat, waktu terasa berjalan begitu cepat dari terang sampai hari mulai gelap dan membuat mereka harus menyudahi pertemuan itu.
Tiba di apartmen, Shelo belum melihat adanya tanda-tanda Arvi pulang. Ia segera mandi dan berganti pakaian santai, kaos dan celana tidur sambil mencari bahan-bahan referensi penunjang materi skripsi untuk persiapan nanti. Shelo mengambil jurusan ekonomi bisnis, sehingga ia secara otomatis mempelajari beberapa artikel tentang dunia bisnis sebagai acuan pembahasan masalah yang akan diteliti.
Salah satu artikel membahas tentang pebisnis-pebisnis muda seperti Arvinas Javier Osmond, melihat biografi Arvi terpampang di laptop nya membuat Shelo muak tetapi kedua matanya tidak berhenti membaca artikel itu. Bahkan berita tentang pernikahan mereka banyak dimuat di beberapa web media social.
Salah satu artikel 2 tahun lalu terungkap, bahwa media pernah membahas tentang kedekatan Arvi dengan seorang wanita cantik nan kaya bernama Kara.
“ Cantik, tinggi, kaya.. hmm, emang bener sih gue ga layak. Ga ada apa-apa nya sama cewe selera dia ini. ” Gerutu Shelo insecure.
__ADS_1
Di tengah keasyikan Shelo membaca beberapa artikel tentang Arvi, terdengar seseorang menekan password apartmen dan sudah jelas bahwa itu Arvi. Wajah lelah Arvi begitu terlihat karena hari ini harus menyelesaikan banyak pekerjaan yang tertunda akibat kepergiannya ke Maldives.
Arvi menaruh tas, jas dan dasi di sembarang tempat. Shelo dengan tanggap merapikann dan meletakkan jas Arvi di keranjang pakaian kotor.
Tanpa sapaan, tanpa basa-basi.. Arvi masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Antara ya atau tidak, Shelo berniat menawarkan makan malam apa yang Arvi inginkan tapi rasa kesal yang masih tersisa di hati Shelo membuat nya ragu-ragu.
Tuk.. tuk.. tuk.. Shelo mengetuk pintu kamar Arvi, dan beberapa saat terlihat Arvi yang sudah tampak segar dan rambutnya masih setengah basah membuka pintu.
“ Ada apa??” Tanya Arvi ketus seperti biasa.
“ Cuma mau nanya. Perlu di siapin makan malam apa engga. ” Tanya Shelo juga tidak kalah ketus.
“ Ga usah repot-repot, jangan sok jadi istri teladan. ”
Di tengah omelan Arvi, terdengar suara perut yang lapar dan itu tentu saja perut Arvi. Shelo tak kuasa menahan tawanya, ia tertawa kecil dihadapan Arvi yang jadi kikuk sambil memegang perutnya.
“ Tunggu 10 menit, aku buat spageti. ” Jawab Shelo sambil berlalu pergi ke dapur.
Dengan kemampuan sebisanya, Shelo membuat spageti carbonara untuk Arvi yang masih berganti pakaian dan menahan malu di dalam kamar.
Ketika Arvi keluar untuk melihat apakah Shelo sudah selesai, ia tertegun mendapati dapur mahalnya menjadi sangat berantakan. Peralatan yang kesana kemari, remah-remah pasta yang tercecer dan beberapa potongan sayuran yang jatuh di lantai.
“ Dapur ratusan juta ku, berubah jadi kaki lima dalam 10 menit. ” Sindir Arvi sambil menyilangkan tangan di dada. Perkataan itu menyadarkan Shelo bahwa dapur yang tadinya rapi menjadi sangat berantakan hanya untuk sepiring spageti.
“ Hampir selesai kok, nanti aku bersihin. ” Katanya sambil meniriskan pasta yang sudah hampir siap disajikan. Arvi yang merasa risih melihat keadaan dapur yang baru pertama kali seberantakan itu, mengambil inisiatif untuk membersihkan sisi meja dengan tisu yang ada disana. Shelo yang merasa tidak enak hati, mencegah Arvi melakukannya.
“ Jangan, biar aku aja. Duduk aja di meja makan. ” Kata Shelo sambil berusaha mengambil gulungan tisu dari tangan Arvi.
“ Udah. Ga usah ikut campur. Bikin sakit mata tau. ” Jawab Arvi tidak mau kalah. Perebutan gulungan tisu pun terjadi membuat Shelo nyaris menyentuh pasta yang baru saja mendidih dan tentu nya sangat panas.
“ Awas. ” Dengan sigap Arvi menarik lengan Shelo hingga jatuh ke pelukannya dan terhindar dari luka bakar.
__ADS_1
Tak bisa di pungkiri, jantung mereka kembali berdegup lagi setelah sempat hampa karena pertengkaran mereka yang membuat saling membenci beberapa waktu lalu.
“ Kenapa sih, jadi orang ceroboh banget. ” Arvi menjauhkan Shelo dari pelukannya dengan segera, karna dia takut Shelo mendengar degup jantungnya yang semakin kencang dimana ia sendiri tidak tau apa penyebabnya.