
Tak terasa pagi pun tiba, Shelo dan Arvi yang terhanyut dalam hangatnya suasana malam masih tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit tanpa mempedulikan waktu. Kenyamanan yang sekian lama hilang dari hidup mereka, akhirnya hadir kembali.
Resa yang menyiapkan semua ini ikut merasa senang namun juga kelelahan dan tertidur di ruang tunggu tanpa memperhatikan jam, karena seharusnya ia membawa Shelo pulang saat dini hari.
" APA APAAN INI??? " Teriak ibu Arvi terkejut seketika melihat Arvi tidur pulas sambil memeluk mantan menantu nya itu.
Teriakan itu tentu mengejutkan dan membangunkan mereka dari mimpi indah mereka. Shelo yang melihat kehadiran ibu Arvi, ternganga kaget dan tidak tahu harus berbuat apa. Sejenak pikiran nya kacau, sambil ia merapikan rambutnya dan memakai kembali sepatu nya.
" Ma... Jangan ribut pagi-pagi.. " Kata Arvi mencegah hal hal buruk terjadi.
" Gimana ga ribut? berani berani nya wanita ini datang kesini. " Jawab ibu Arvi mulai emosi sambil menunjuk nunjuk Shelo yang masih terdiam menyiapkan mental, karena dia tau bagaimana jahatnya ibu Arvi.
" Why not??? Dia wanita yang aku butuhkan. Sudah seharusnya dia disini. " Jawab Arvi tidak mau kalah kali ini walaupun ia masih merasakan sakit karena luka nya yang belum sembuh total.
" Dasar wanita ga tau diri.. Kamu pengaruhin anak ku lagi ya.. Sudah bagus, kamu bercerai dan pergi jauh dari Arvi.. Kenapa?? kamu kehabisan uang?? " Ibu Arvi terus menghina Shelo.
" MA.. Stop.. Jangan ikut campur. Sudah cukup mama papa hancurin hidup ku dan Shelo. " Sahut Arvi terpancing emosi juga.
Susasana jadi semakin memanas dan Shelo memutuskan untuk tidak bersembunyi di belakang Arvi lagi, dengan berani dia melangkahkan kaki mendekat ke arah ibu Arvi.
" Bukan uang. Aku sudah cukup memiliki nya. Yang ingin aku ambil adalah.. dia " Kata Shelo percaya diri sambil menggenggam tangan Arvi.
Ibu Arvi semakin tidak percaya dengan perubahan Shelo, tatapan mata yang tanpa rasa takut dan senyuman sinis yang seakan mengalahkan ibu Arvi membuatnya semakin marah dan " Plaakkk " tamparan pun mendarat di pipi kiri Shelo.
Namun itu tak membuatnya gentar.
" Kurang ajar. Berani berani nya.. " Sahut ibu Arvi sangat kesal.
" Tamparan anda tidak cukup menyakitkan daripada aku harus melepaskan Arvi lagi. " Kata Shelo tidak terpengaruh dan lemah karena tamparan itu, Arvi pun begitu tercengang dengan perubahan sikap Shelo yang dewasa.
__ADS_1
" Pergiiii... Pergiii kamu.. " Usir ibu Arvi saking geramnya.
" Tidak tante. Saya ga akan pergi, sebelum saya bisa mendapatkan restu tante. " Jawab Shelo tidak menyerah.
Akhirnya ibu Arvi menarik tangan Shelo dan mengajaknya keluar, Arvi berusaha menahan Shelo agar tidak mengikuti ibunya karena khawatir, namun Shelo tidak mengindahkannya dan tetap pergi dengan tenang.
Mereka berdua duduk di taman rumah sakit yang terlihat masih sepi di pagi hari.
Mereka mendinginkan pikiran masing masing sebelum memulai pembicaraan, apalagi ibu Arvi yang terbakar emosi.
" Sebenarnya apa mau mu?? Belum puas kah kamu menghancurkan hidup anak saya. " Kata ibu Arvi memulai pembicaraan.
" Bukan saya yang menghancurkan Arvi. Tapi diri tante sendiri. " Jawab Shelo berani.
" Apa kamu bilang?? Lancang.. bagaimanapun saya ini ibu yang melahirkan Arvi, apapun akan saya lakukan untuk melindungi anak saya. "
" Apa maksud mu?? " Tanya ibu Arvi tidak paham perkataan Shelo.
" Apa anda tau apa yang membuat kami begitu hancur?? kami tidak hanya kehilangan satu sama lain.. tapi kami juga kehilangan anak kami, di malam itu. Kecelakaan yang kalian buat. "
Begitu terkejutnya ibu Arvi mendengar hal yang baru diketahuinya selama 2 tahun ini.
" Arvi hancur bukan karena saya. Tapi karena perbuatan kalian sendiri.. Dimana dia sudah berubah menjadi pria yang sangat baik, tanggung jawab dan penuh kasih sayang.. Dia mulai mengenal, apa yang namanya keluarga.. Apa anda tahu makanan kesukaan Arvi?? kebiasaan apa di rumah yang disukai nya?? kurasa tidak.. "
Perkataan Shelo seakan memukul batin ibu Arvi yang sekeras batu untuk pertama kalinya.
" Arvi sangat suka masakan rumah yang sederhana, bahkan sekotak bekal makan siang membuatnya begitu bahagia. Dia selalu bekerja keras untuk membuat Osmond semakin berjaya, meskipun dia lelah dan haus perhatian dari orang tuanya. Ketika dia di rumah, dia berubah menjadi seorang anak kecil yang ingin disayangi. " Lanjut Shelo lagi mengeluarkan semua apa yang ada di hati nya, bahkan air mata tak kuasa dibendung nya.
Ibu Arvi sama sekali tidak berkutik, bahkan sepatah kata pun tidak bisa ia keluarkan untuk membalas semua perkataan Shelo. Hanya air mata yang tiba tiba mengalir di pipinya, seakan tersentuh oleh perkataan Shelo yang membuat hatinya begitu sakit.
__ADS_1
" Hentikan.. Aku tidak mau dengar lagi. " Kata ibu Arvi mencoba menghindar agar tidak menunjukkan sisi lemahnya di hadapan wanita yang baru saja ia tampar.
" Masih ada kesempatan.. Mungkin waktu tidak bisa diputar kembali, tapi selalu ada kesempatan. Saya dan Arvi akan terus berjuang, kali ini kami akan memastikan untuk tidak saling melepaskan lagi. Tidak bisakah saya berada di sisinya setelah semua penderitaan ini?? " Kata Shelo melanjutkan lagi sambil menangis sedih.
Ibu Arvi terdiam sejenak dan menghapus air matanya. Ia mencoba menunjukkan sisi kuatnya dan berbalik memandang Shelo yang sedang menangis di hadapan nya.
" Sesuatu yang paling mengerikan di dunia ini bagi seorang ibu adalah kehilangan anaknya. Sama halnya dengan kecelakaan yang dialami Arvi kali ini begitu membuatku sesak untuk bernafas. Tetapi, meski Arvi ada di hadapan ku, aku selalu merasa dia berada sangat jauh karena dia membenci ku. Satu satu nya hal yang ingin kulakukan adalah melihatnya sehat kembali dan mendapatkan kembali hidup nya yang bahagia. " Jawab ibu Arvi panjang lebar tanpa mengurangi aura ketegasan nya.
Setelah mengatakan itu pada Shelo, ia pun bergegas pergi. Namun baru berapa langkah dia meninggalkan Shelo, langkah nya terhenti kembali.
" Besok waktunya Arvi melepas perbannya, pastikan dia mengikuti semua perkataan dokter. " Kata ibu Arvi tanpa berbalik memandang Shelo dan kemudian berlalu pergi.
Mendengar perkataan itu, Shelo pun mulai tersenyum lega dan menghapus air matanya. Seakan sebuah beban berat yang ada di hatinya selama 2 tahun terangkat begitu saja.
" Terima kasih. " Gerutu Shelo lembut sambil melihat ibu Arvi yang berjalan semakin menjauh dari pandangannya.
Sedangkan Arvi dan Resa yang sudah mengetahui keadaannya, sangat was was menunggu kabar dari Shelo yang belum juga kembali ke kamar Arvi.
" Res, jangan jangan dia dipukul lagi. Ini udah terlalu lama. Antar aku mencari mereka. " Kata Arvi tidak sabar.
" Tapi pak, anda masih harus istirahat. Biar saya saja yang cari, ini semua kesalahan saya yang lalai karena tertidur. " Jawab Resa merasa bersalah.
Namun di tengah pembicaraan itu, tiba tiba terlihat Shelo yang membuka pintu kamar dan lari menghampiri Arvi.. Dalam sekejap Shelo memeluk Arvi dengan semangat.
" Kita berhasil. " Kata Shelo sambil tersenyum bahagia.
Mendengar perkataan Shelo, Arvi pun langsung mengetahui bahwa perbincangan mereka berjalan dengan baik dan lancar.
" Good job, my girl. " Jawab Arvi membalas pelukan dan membelai lembut kepala Shelo
__ADS_1