
Setelah mengurus semua investigasi dan segala macam prosedur untuk menuntut Evan, Arvi dan Jacob dengan sigap membawa Shelo ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Obat penenang dan cairan infus membuat Shelo dapat beristirahat dengan tenang. Sedangkan Arvi memberi kabar kepada keluarga Shelo bahwa ia sedang di rawat karena kecapekan, sesuai permintaan Shelo agar keluarga nya tidak khawatir.
Arvi dan Jacob yang setia menemani Shelo, memutuskan untuk keluar dari kamar agar tidak mengganggu istirahat Shelo yang terlihat lelah. Mereka berjalan di lorong rumah sakit menuju taman yang sudah sepi karena larut malam.
" Thankyou. Gue ga tau apa jadinya kalo lo ga dateng." Kata Arvi dengan sopan memulai pembicaraan.
" Its okey. Kebetulan aja. Gue emang suka nyamperin Shelo, atau berada di sekitaran dia. " Jawab Jacob santai sambil menikmati hisapan rokok nya.
" Apa yang lo mau?? Gue ga suka punya utang. " Kata Arvi menawarkan tanpa basa basi.
" Ehm.. Shelo. " Jawab Jacob tanpa pikir panjang dengan senyum nakal nya.
" Kalo itu, mending lo coba bunuh gue dulu. " Jawab Arvi tidak mau kalah.
" No hard feeling bro. Gue emang cinta sama cewek menyebalkan itu, tapi gue sadar kalo di hati dia cuma ada lo. " Kata Jacob mulai serius.
" Jadi, jangan coba coba ambil dia dari gue. " Timpal Arvi lagi.
" Yes.. gue akuin gue kalah, tapi bukan berarti dia ga bisa gue rebut. Jadi, gue saranin.. jangan lengah. " Kata Jacob memperingatkan Arvi.
" Thankyou. " Ucap Arvi sambil mengulurkan tangan kepada Jacob.
" Gue masih ada 1 permintaan. Dan gue rasa lo pasti ga keberatan. " Jawab Jacob dan menerima jabat tangan Arvi untuk pertama kalinya, tanpa perdebatan tanpa perkelahian.
Setelah semalaman Shelo bisa tidur dengan nyenyak dan dijaga oleh 2 lelaki setianya, Shelo terbangun di pagi hari dengan suasana hati yang lebih baik dan tubuh yang terasa ringan.
__ADS_1
Namun ketika ia membuka matanya, terlihat banyak orang sudah menunggu nya yaitu Arvi, ibu Shelo, Sesil, Resa dan juga orangtua Arvi.
Shelo sangat terkejut melihat keberadaan mereka yang bisa berada di satu ruangan yang sama. Shelo nampak bingung dan tidak tau harus memulai pembicaraan darimana.
" Are you ok?? " Kata Arvi menghampiri dan memeluknya.
" Ada apa ini Arvi?? " Tanya Shelo penasaran.
" Papa dan mama ingin bicara sama kamu. " Arvi berbisik sambil tersenyum jail kepada Shelo yang masih tidak memahami situasi ini.
Entah apa lagi yang akan dia hadapi, seakan tidak pernah selesai dan berhenti. Arvi pun mengajak ibu Shelo Sesil dan Resa untuk meninggalkan mereka berdua. Jantung Shelo pun berdegup kencang karena gugup, dan tidak tau apa yang akan dia hadapi.
Hendra Osmond, ayah Arvi yang begitu membenci Shelo perlahan mendekat ke arah Shelo tanpa mengurangi wibawanya dan terlihat begitu menyeramkan di mata Shelo.
" Kamu baik baik saja?? " Tanya ayah Arvi tegas.
" Jangan takut. Aku kesini bukan untuk meminta mu menarik kesaksian dan membebaskan Evan. " Kata ayah Arvi to the point.
" Maksud anda?? " Tanya Shelo yang masih tidak mengerti.
Perlahan ayah Arvi memegang tangan mungil Shelo untuk pertama kalinya.
" Aku sudah membuat kalian hancur, membunuh cucu ku sendiri yang masih sangat kecil.. Maafkan aku. " Kata Ayah Arvi tiba tiba dengan penuh penyesalan.
Shelo pun mulai teringat kejadian itu dan meneteskan air mata tanpa tau apa yang harus ia katakan.
" Tanpa pikir panjang, hanya demi kepuasan ku.. hanya demi nama Osmond.. hanya demi harga diri anak anak ku.. aku mengorbankan darah daging Arvi.. Perbuatan ku begitu menjijikan.. Bahkan aku tidak sempat membiarkan anak kalian lahir.. " Lanjut ayah Arvi menyesal. Shelo dan ibu Arvi yang menangis tersedu sedu dan suasana menjadi begitu haru.
__ADS_1
Arvi, Resa, ibu Shelo dan Sesil yang mendengarkan di balik pintu juga tak kuasa menahan air mata mereka melihat perjalanan dan penderitaan Shelo yang begitu menyakitkan.
" Apa.. apa yang harus aku lakukan agar dia memaafkan kakek yang tidak berguna ini?? " Kata ayah Arvi yang meneteskan air mata untuk pertama kalinya di hadapan Shelo setelah mendengar semua cerita dari ibu Arvi.
" Terima kasih. Terima kasih sudah mengatakan semua ini. Itu sudah lebih dari cukup bagi ku. " Jawab Shelo sambil menangis tersedu sedu.
" Maafkan aku. " Kata ayah Arvi lagi dan kemudian memeluk Shelo begitu juga ibu Arvi.
Rasa sakit yang dilalui Shelo bertubi tubi, seakan semakin terobati sengan satu kata Maaf yang selama ini ia nantikan keluar dari mulut orangtua Arvi.
Walaupun dalam keluarga mereka masih ada 1 manusia yang tidak bisa dimaafkan, namun bagi Shelo hari ini adalah hari yang sangat ia tunggu ketika kasih sayang seorang mertua tidak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya yang cukup singkat.
Suasana sedih dan bahagia pun menyatu di hari yang sama, hari yang juga dinantikan oleh Arvi selama beberapa tahun ini. Berharap orangtua nya dapat berubah, berharap semua berjalan dengan baik dan berharap kehidupannya tidak diatur oleh keinginan orangtuanya.
Dan satu lagi harapan Arvi yaitu hukuman untuk Evan yang sekarang ini sedang di proses.
Sudah tidak ada yang berada disisi Evan, melihat perbuatannya yang begitu jahat hingga merencanakan untuk membunuh kakak kandungnya sendiri.
Bahkan orangtua Arvi sama sekali tidak mentolerir perbuatan itu, sudah cukup banyak yang mereka lakukan untuk melindungi Evan.
Sekalipun ia juga membawa nama baik Osmond, tetapi perbuatannya sudah melampaui batas dan tidak dapat diampuni begitu saja.
Orangtua Arvi menyerahkan semua kepada Arvi, apapun yang menjadi keputusan nya adalah yang terbaik dan Arvi selalu membuktikan nya.
Baik dalam bisnis Osmond atau dalam kehidupan pribadinya.
Hidup Arvi adalah milik Arvi.
__ADS_1