
“ Aksi Brutal Menantu Osmond”, “ Pertengkaran Seru Istri Arvinas Osmond”, “ Hilang Kendali Berakibat Malu”, “ Tamparan Kuat Wanita Arvinas”
Dalam sekejap berita pertengkaran Shelo dengan Kara di hadapan umum tersebar luas. Netizen yang melihat menyimpulkan dari berbagai sisi, yang benci makin benci, yang netral jadi benci dan banyak sekali hujatan yang mengarah kepada Shelo.
Rata-rata sebanyak 1 juta views didapatkan dalam 1 hari di berbagai media social dan tidak lupa beberapa netizen mengetag nama Arvi dan tentunya Osmond.
Kabar mengejutkan ini tentu sampai ke telinga Arvi yang saat ini dalam perjalanan pulang untuk menemui Shelo yang sementara ini tidak berani menampakkan diri kemanapun.
“ Pilih istri kok kampungan. “
“ Merusak nama baik Osmond.”
“ Jadi ga respek deh sama nih cewek.”
“ Pantes aja brutal, anak yatim. ”
“ Ga tau malu banget jadi cewek. Gila harta. ”
Kurang lebih seperti itulah komentar netizen yang mengarah kepada Shelo saat ini, sedangkan Kara yang terlihat sedikit memar di pipi kirinya tertawa puas melihat keberhasilan rencananya. Suatu berkah tidak terduga dengan kejadian ini, dimana ia bisa memancing Shelo yang lebih muda darinya semudah itu.
“ Mampus lo… Tunggu aja sbentar lagi, orang tua Arvi ga bakal tinggal diam. ” Gerutu Kara puas merayakan kemenangannya, kemudian mendadak hp Kara menerima panggilan dan ternyata berasal dari Evan.
Berpindah ke Arvi yang baru saja sampai di lobby apartmen nya, dengan cepat ia segera masuk ke lift dan menuju lantai apartmennya. Sesampainya disana, terlihat Shelo dengan lesu dan semakin merasa bersalah sedang murung duduk di sofa sambil membaca beberapa unggahan komentar netizen yang tentu saja diketahuinya.
Arvi dengan segera mengambil paksa ipad Shelo dan membuangnya menjauh untuk tidak membacanya, melihat perbuatan Arvi tangis haru Shelo pun tak terbendung lagi.
“ Arvi maafin aku. ” kata Shelo merasa bersalah dan menangis.
Arvi pun merasa sedih jika melihat Shelo sedih, ia menghampiri dan memeluk Shelo lembut di dadanya sambil menepuk-nepuk bahu Shelo.
__ADS_1
“ Aku percaya kamu melakukan itu karena suatu alasan. Jangan merasa bersalah, aku akan menanganinya. ” Jawab Arvi berusaha menenangkan Shelo.
Hingga larut malam Arvi mencoba membereskan masalah ini hingga melewatkan makan malamnya, masalah menjadi sedikit rumit karena sudah banyak tersebar kemana-mana membuat wajah Arvi nampak lelah dan ikut frustasi dengan kejadian ini, yang lebih ia takutkan adalah jika orangtuanya yang berada di London sudah mengetahui hal ini, pasti mereka tidak akan tinggal diam.
Shelo melihat betapa Arvi sibuk membereskan masalah yang diperbuatnya, ia mendekati Arvi bermaksud membantu memberikan solusi untuk menyelesaikan ini semua.
“ Arvi… biar aku saja yang menyelesaikannya. Aku akan minta maaf kepada Kara. ” Kata Shelo memasuki kamar Arvi.
“ Jangan, aku tau kamu ga akan berbuat begini tanpa alasan. Aku lebih tau sifat Kara yang memang sejak awal mengincarmu. ”
“ Tapi bagaimanapun, aku melakukan kekerasan dengan menamparnya. ” Jawab Shelo tetap kekeh ingin menemui Kara dan minta maaf.
Bagi Shelo melihat betapa Arvi sangat mengkhawatirkan dan berusaha keras untuk membantunya.. itu semua sudah cukup. Memiliki kekuatan disamping nya yang tidak pernah pergi dan meninggalkan dirinya adalah suatu anugerah bagi Shelo.
“ Percaya saja padaku. Aku bisa menyelesaikannya. ” Kata Arvi menghampiri Shelo dan meyakinkannya dengan memegang kedua lengan Shelo serta menatapnya yakin.
Tangan kanan Shelo seketika menyentuh wajah Arvi dengan senyuman tulus disertai air mata haru kemudian Shelo mencium tipis bibir Arvi.
Begitu bahagia nya Arvi mendengar kalimat yang selama ini tidak pernah mereka ucapkan satu sama lain, dan untuk pertama kalinya air mata Arvi mengalir begitu saja tak berdaya di hadapan Shelo.
“ Kamu mengubah duniaku.. memberiku keluarga dan kehangatan yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan.. Kamu mengisi hari-hariku dengan canda tawa juga air mata.. Satu hal yang harus kamu ketahui, bahwa aku lebih dan lebih mencintaimu… ” Jawab Arvi dengan perasaan yang tulus, jari jemari nya tak kuasa untuk ingin terus menyentuh wanita yang sekarang tepat berada di hadapannya.
Mata Shelo…
Hidung Shelo..
Bibir Shelo..
Serta leher Shelo… disentuhnya dengan lembut, ciuman Arvi berlanjut semakin intens dan membara namun sekali lagi sebelum dia hilang kendali, Arvi menghentikan ciumannya dari bibir Shelo.
__ADS_1
Namun reaksi tak terduga datang dari Shelo, ia sudah mengetahui ketulusan hati Arvi yang selama ini menjaganya melindunginya dengan segala kekuatan yang dimilikinya, membuat Shelo akhirnya memutuskan untuk tidak beranjak pergi dari hadapan Arvi. Shelo yang tetap tenang dan penuh keyakinan menarik kedua tangan Arvi dan meletakkan di kedua pipi Shelo yang hangat sambil mengatakan hal yang selama ini ditunggu oleh Arvi..
“ Aku milikmu seutuhnya.. ” Kata Shelo tersenyum lembut.
Situasi berpindah ke sebuah club malam di tengah padatnya kota metropolitan. Club malam itu berisikan begitu banyak anak muda mencari kebebasan dan menikmati dunia malam, termasuk Evan dan Kara yang ternyata sudah saling menghubungi dan memutuskan untuk bersenang-senang malam itu.
Mereka tampak hanyut dengan minuman keras dan music yang memeriahkan suasana. Menari, minum dan tertawa senang sedang mereka nikmati malam itu di tengah gemerlapnya lampu disko.
“ Gila.. udah berapa tahun kita ga hangout bareng. ” Kata Evan yang sudah sedikit terpengaruh oleh alcohol.
“ Lo ngajak hangout di waktu yang sangat tepat. Gue lagi happy banget malem ini. ” Jawab Kara tidak bisa menutupi kebahagiaannya setelah membuat masalah dengan Shelo.
“ Bagus sih. Cewe itu emang pantes dapet pelajaran. ” Perkataan Evan mengundang rasa penasaran Kara karena tiba-tiba tatapan benci dan sinis terlihat dari raut wajah Evan seketika itu.
“ Minum… minuum duluuu supaya lo lebih enjoy.” Kara memulai triknya lagi untuk mencoba peruntungannya mendapatkan informasi dari Evan, berharap bisa semakin menghancurkan Shelo.
Di tengah keadaan Evan yang sudah sangat mabuk, Kara memapah Evan keluar dari club malam yang sangat berisik itu demi kelancaran rencananya. Ia mengajak Evan duduk di dalam mobilnya kemudian memancing dengan berbagai pertanyaan seputar Shelo dan menyiapkan blind video di hp Kara yang tidak diketahui Evan.
“ Btw.. lo kenal ya sama Shelo, istri Arvinas ?” Tanya Kara memulai penyelidikan.
“ Jelas kenal lah.. dia itu sekampus sama gue. Susaaahh banget dapetin dia waktu itu, sok jual mahal tapi bisa juga… ” Jawaban Evan yang sudah di bawah pengaruh alcohol dan cenderung jujur.
“ Maksud lo BISA juga itu apa sih ? Ga paham gue. ”
“ Bisa gue tidurin. Hahhaha… ” Betapa terkejutnya Kara mendengar penyataan Evan.
“ Maksud lo… lo pernah tidur sama Shelo?? Yakin lo?? Istri kakak lo sendiri ????”
“ Ga ada kata menyerah dalam kamus gue.. Dia yang datengin gue ke hotel Osmond dan akhirnya gue tidurin dia.. Hahahaha. Kakak gue nikahin dia cuma karena kasihan dan manfaatin cewek kampung itu supaya ga jadi di jodoh2in sama nyokap gue. ” Pernyataan terus mengalir dari mulut Evan yang kehilangan kesadaran karena alkohol.
__ADS_1
“ Waahhh… gila.. gilaaa… berita besar ini. ” Sahut Kara sambil mematikan kamera hpnya karna tujuannya sudah tercapai dan dia tidak menyangka akan mendapatkan berita sebagus ini.