
Kebencian Shelo tidak dapat dibendung lagi, namun hari-hari yang ia jalani semakin hampa. Entah sedih atau bahagia perasaan Shelo atas kehamilan pertamanya dengan Arvi. Dia memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah kecil pesisir pantai secara diam-diam. Namun Arvi tidak kehabisan akal, ia menugaskan Resa untuk mengikuti dan menjaga Shelo sampai waktu yang belum ditentukan. Saat ini Arvi tidak ingin memaksakan kehendaknya kepada Shelo agar tidak mengganggu kandungannya.
Resa yang begitu setia dengan sabar dan hati-hati mengikuti Shelo dan memantau keadaannya setiap saat. Laporan dari Resa terus sampai ke telinga Arvi yang berada di apartmen penuh kenangannya bersama Shelo.
Secara hukum mereka bukan pasangan suami istri lagi, meski begitu rasa cinta di hati mereka masih sangat melekat. Kehidupan keluarga Osmond berjalan sesuai dengan kehendak ayahnya, dan berita tentang Shelo yang mempengaruhi nama baik Osmond semakin tenggelam digantikan oleh berita terbaru lainnya, hal itu juga merupakan salah satu hasil kerja keras Arvi untuk menghapus sebisa mungkin jejak rekam digital di setiap situs yang menguploadnya. Meski itu semua tidak mengubah keadaan, bahwa dia kehilangan wanitanya.
“ Terus awasi dia. Apapun yang dilakukan cepat beriathukan kepadaku dan yang terpenting jangan sampai dia dan anakku terluka. ” Kata Arvi dalam panggilan telepon dengan Resa.
“ Baik pak. Saat ini mereka sedang berkumpul bersama di dalam rumah. Aku belum bisa memantau nya lebih jauh lagi. Kapan anda berencana mengunjungi bu Shelo ?” Kata Resa yang memantau dari kejauhan bahkan sampai menyewa sebuah penginapan kumuh yang cukup dekat dengan Shelo.
“ Hubungan kami masih sangat kacau setelah perceraian paksa kemarin. Shelo saat ini sangat emosional, aku hanya takut itu bisa berdampak buruk bagi janinnya. Dia butuh waktu. ” Jawab Arvi putus asa.
Suasana malam yang dingin begitu terasa apalagi angin laut yang menembus setia celah dinding rumah Shelo yang sederhana. Ketika ibu dan Sesil sudah terlelap, tinggal Shelo sendiri yang duduk merenung di teras rumahnya. Dia belum memberitahukan tentang kehamilan nya pada ibu dan Sesil karena takut akan menambah beban pikiran ibunya. Semua beban dan kesedihan dipendamnya sendirian dalam tangis serta dalam diamnya.
Cincin pernikahan sudah tidak melingkar lagi di jari manisnya, mengingat segala kebahagiaannya yang sudah hancur dalam sekejap.
Shelo dengan lembut dan penuh kasih sayang membelai perut nya yang memiliki janin kecil masih sepanjang 2cm. Isak tangis nya menemani malam Shelo yang sendirian, dia sekuat tenaga menutup bibirnya agar tidak mengeluarkan suara yang dapat membangunkan ibu serta Sesil.
Pemandangan yang Resa lihat begitu membuatnya semakin prihatin akan jalan cerita hidup wanita itu, wanita yang dicintai oleh tuannya.
Pesta ulang tahun ibu Arvi yang mewah digelar seminggu kemudian, terlihat rumah mewahnya berhiaskan begitu banyak dekorasi mahal dan lampu-lampu cantic. Beberapa kerabat dan kolega sosialitanya datang memberi selamat kepada ibu Arvi yang nampak bahagia di balut dengan gaun mahal berhiaskan mutiara di bagian dada.
__ADS_1
Tentu saja hal ini bukan sekedar pesta ulang tahun, tetapi juga perayaan karena sudah berhasil menyingkirkan Shelo walaupun saat ini putra sulungnya harus berstatus duda.
Selain itu,kesempatan Kara yang hadir pada pesta itu terbuka lebar kembali, dengan sengaja ia berdandan begitu cantic dengan gaun malam silver sambil mendekati Arvi yang merenung sendirian di sudut kolam renang degan segelas wine di tangan kanannya.
“ Hai… Arvi. ” Sapa Kara mendekati Arvi yang begitu tampan dengan setelan jas putih gold.
“ Hai. ” Jawab Arvi cuek.
“ Are you oke ??? ” Tanya Kara sok perhatian mengetahui bahwa Arvi sudah duda.
“ Menurutmu ?? ” Jawab Arvi tidak peduli lagi.
“ I know Arvi.. its gonna be better. ” Dengan lancang Kara tampak agresif, ia menggenggam tangan Arvi, namun dengan tiba-tiba Arvi melepaskan genggaman itu.
Usia janin Shelo pun genap 1 bulan, seperti halnya yang dialami ibu hamil muda.. Shelo mengalami mual dan pusing, apalagi saat ini ia memutuskan untuk menghabiskan waktu bekerja di salah satu minimarket yang ada di perkampungan itu.
Ia bekerja mengikis waktu untuk berusaha melupakan semua permasalahannya terlebih lagi tekad bulatnya untuk melupakan Arvi. Bekerja dari pagi hingga larut malam tanpa rasa lelah, dimana seharusnya saat ini dia banyak istirahat dan menerima perhatian lebih dari suaminya.
Sempat ia bermimpi begitu indah betapa bahagianya ada Arvi disisinya yang memerhatikan dan melindunginya, namun kembali lagi bahwa itu semua hanya mimpi yang ingin Shelo kubur jauh dari relung hatinya.
Resa yang hanya bisa mengawasi Shelo tidak bisa berbuat banyak, terkadang ia membayar seseorang untuk membantu Shelo dalam beberapa pekerjaan berat yang harus dilakukannya.
Bersamaan saat itu, mobil mercy hitam milik Arvi melaju dengan kecepatan 100km/jam menuju kediaman Shelo. Harus, ia merasa harus segera bertemu dengan Shelo setelah menahan keinginan itu selama 1 minggu penuh.
__ADS_1
Namun pikiran Arvi sama sekali tidak menemukan ketenangan, kabar dari Resa yang setiap saat dia terima juga tidak mengurangi rasa khawatirnya kepada Shelo, mantan istrinya.
Sesampainya disana dengan suasana yang sudah dingin dan gelap, Arvi menemui Resa yang menunjukkan keberadaan Shelo saat ini diminimarket tempat ia bekerja.
Shelo yang tampak kurus dengan sweater coklat yang melindungi nya dari cuaca dingin, sedang sibuk membuang bekar kaleng minuman pembeli yang lalu lalang mampir ke minimarket itu, dan akhirnya setelah beberapa hari Shelo terlihat dalam jarak pandang Arvi.
Melihat keadaan Shelo, begitu sakit dan sesak bergejolak dalam hati Arvi yang merasa gagal tidak bisa melindungi wanita yang ia cintai. Arvi yang masih rapi dengan setelan jasnya setelah kabur dari pesta ulang tahun ibunya memberanikan diri untuk melangkah mendekati Shelo yang tidak mengetahui kehadirannya.
Ia membantu Shelo dengan tiba-tiba dan membuang buntalan sampah yang cukup berat dibawa oleh Shelo.
Dalam hitungan detik, mata Shelo terarah dan memandang sendu ke arah Arvi. Baginya bertemu lelaki ini menjadi sebuah mimpi yang hanya ada dalam tidurnya, akan tetapi tekad Shelo untuk melupakan dan membenci Arvi lebih besar daripada rasa cinta yang tersisa.
“ Apa yang kamu lakukan disini ??” Tanya Shelo.
“ Aku sangat merindukanmu. ” Jawab Arvi tanpa keraguan dan tulus kepada Shelo.
Waktu mereka seakan berhenti, rasa ingin menggapai satu sama lain begitu nyata tetapi jarak yang saat ini begitu jauh dalam hubungan mereka membuat semua terasa sulit.
‘ Kalau aku tahu semua akan begitu menyakitkan seperti ini, seharusnya aku menyerah sejak dulu dan tidak mencintaimu ’ Kata hati Shelo ketika memandang Arvi yang berjarak kurang 1 meter di hadapannya.
“ Aku datang bukan untuk bertengkar dengan mu. Cukup biarkan aku duduk diam dan melihatmu. Kamu bisa menganggap ku tidak ada. ” Kata Arvi memberi penawaran asalkan ia bisa melihat Shelo.
__ADS_1
“ Lakukan apa saja maumu. Aku tidak peduli. Karna kamu memang orang asing bagiku.” Jawab Shelo dengan tenang dan kembali mengacuhkan Arvi untuk melanjutkan pekerjaannya.