My Accident Destiny

My Accident Destiny
My Accident Destiny Part 22 " Kembali Ke Tempat Semula "


__ADS_3

Waktu semakin larut, sudah hampir 3 jam Arvi menghabiskan waktu untuk terus mengarahkan pandangannya pada gerak gerik Shelo yang sibuk bekerja. Perasaan nyaman tentu saja dirasakan oleh wanita ini, namun dia ingin menyangkal kehadiran Arvi dengan menganggapnya sebagai orang asing yang tidak dia kenal. Bahkan untuk melihat keberadaan Arvi saja Shelo tidak mau, ia terus menyibukkan diri hingga waktu kerjanya selesai.


Selangkah demi selangkah Shelo berjalan pulang ke rumahnya yang berjarak cukup dekat sekitar 1 km. Langkah kaki Arvi pun mengikuti Shelo dengan diam dari belakang, walau Arvi hanya bisa melihat punggung Shelo namun itu sudah cukup baginya.


Perasaan tidak nyaman semakin membuat Shelo resah, ia pun mengingat bahwa dengan Arvi mengikutinya pulang.. Arvi akan mengetahui tempat tinggalnya saat ini.


Dengan segera Shelo menghentikan langkahnya dan memalingkan tubuhnya, membuat Arvi juga berhenti berjalan sambil membawa jas yang sedari tadi dia lepas di tangan kanannya.


“ Sampai kapan kamu ingin seperti ini ?” Tanya Shelo mendadak.


“ Sampai aku tenang melihatmu baik-baik saja. “ Jawab Arvi dengan senyum tipis di wajahnya.


“ Aku baik-baik saja tanpa kamu. Pergilah dan jangan pernah kembali lagi. ” Kata Shelo mengusir Arvi.


“ Bagaimana kamu bisa baik-baik saja dengan kondisi seperti ini. Seharusnya kamu tidak bekerja dan menjaga dirimu. ” Jawab Arvi khawatir membuat Shelo tersenyum sinis.


“ Aku bukan orang kaya sepertimu yang bisa menghabiskan uang dan waktu untuk memanfaatkan orang lain. ” Sindir Shelo tanpa ampun.


“ Kamu benar. Sebelum bertemu dengan mu, itulah dunia ku. Take and give. Tapi semua sudah berbeda sekarang.. ” Jawab Arvi mencoba menjelaskan.


“ Benar, sekarang semua sudah berbeda. Kita sudah bercerai. ” Kata Shelo tajam mengingatkan status mereka saat ini.


Di lain sisi, sebuah mobil jasa pengiriman ikan yang berada di tikungan jalan terus mengawasi mereka. Orang bayaran ayah Arvi ternyata masih memantau keberadaan Shelo bahkan setelah perceraian itu. Setiap gerak gerik Shelo selalu dilaporkan ke ayah Arvi yang kejam dan begitu menentang Shelo.


“ Putra anda sedang bersamanya saat ini. Mereka berduaan sejak beberapa jam yang lalu. ” Lapor orang suruhan itu dengan penyamarannya sebagai pengemudi jasa pengiriman ikan di daerah itu.


“ Kurang ajar. Ternyata mereka masih bertemu diam-diam. Kali ini tidak ada ampun untuk wanita kurang ajar itu. ” Kata ayah Arvi begitu marah dan merencanakan sesuatu terhadap Shelo.


Arvi dan Shelo yang masih berdebat serius di tengah jalan yang sangat sepi, karena sudah larut malam tidak memperhatikan bahwa sebuah kendaraan perlahan mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


Arvi yang masih belum memperhatikan terus berusaha menahan Shelo lebih lama untuk berbincang. Semakin dekat dan semakin dekat, mobil itu menambah kecepatannya dan melaju dari arah belakang Shelo.


Secepat khilat Arvi meraih tubuh Shelo dan mendorongnya cukup keras hingga membentur ke bahu jalan.


BRAAKKK… Arvi pun tertabrak hingga terpental ke belakang mobil dengan darah yang bercucuran di kepalanya ia menahan kesakitan.


Sambil menahan rasa sakit ia berusaha bangkit berdiri untuk memastikan keadaan Shelo yang juga terjatuh tanpa mempedulikan mobil yang melaju dengan kencang setelah menabrak mereka.


Terlihat Shelo menangis dan merintih kesakitan sambil memegang perutnya. Arvi semakin berusaha sekuat tenaga mendekat ke arah Shelo yang kesakitan, dalam sekejap Shelo meremas tangan Arvi dengan kesakitan.


Arvi yang juga terluka lebih parah berusaha menyelamatkan Shelo dan menggendong Shelo dengan sisa kekuatan yang ia miliki.


“ Arviii…. ” Rintih Shelo kesakitan sambil mencengkeram kemeja Arvi yang berlumur banyak darah. Arvi hanya fokus untuk menyelamatkan Shelo dan anak mereka melebihi dirinya sendiri. Resa datang tepat waktu dan panik melihat kondisi mereka berdua terutama Arvi yang menahan sakit dengan banyak darah yang terus mengalir.


“ Selamatkan dia.. ” kata Arvi menyerahkan Shelo kepada Resa, Arvi kehabisan tenaga dan jatuh tak sadarkan diri.


Keesokan harinya, mata Arvi terbuka dan ia menyadari bahwa dirinya sudah berada di rumah sakit pinggiran kota. Kepala Arvi terbalut kain kasa dan beberapa memar di dapatinya pada bagian wajah. Pusing dan rasa nyeri masih dirasakan Arvi yang memaksakan diri bangun dari posisi tidurnya namun Resa yang berjaga semalaman disana mencegah Arvi.


“ Tunggu.. bagaimana dengan Shelo ?? Dimana dia ?? ” Mendengar pertanyaan Arvi, langkah kaki Resa terhenti dan ia pun tampak murung seakan tidak tega mengatakan yang sebenarnya.


“ Bu Shelo sudah membaik.. tapi… dia kehilangan bayinya. ” Kata Resa lirih dengan sedihnya.


“ Apa ?? Bayiku… bayi kami… ” Arvi begitu shock mendengar kabar dari Resa.


Tanpa memikirkan dirinya sendiri yang belum pulih, ia melepas jarum infus yang ada di tangannya dan pergi ke ruangan Shelo sambil ditemani oleh Resa.


Disana ia melihat Shelo masih terbaring belum sadarkan diri karna ia begitu frustasi semalam mengetahui bahwa kandungannya tidak bisa diselamatkan. Ibu dan Sesil sudah berjaga disana dengan mata sendu dan sedih.


Arvi berusaha mendekat ke arah Shelo namun tiba-tiba ibu SHelo berlutut di hadapan Arvi sambil menangis dan memohon.

__ADS_1


“ Apa yang mama lakukan ?? ” Kata Arvi terkejut, berusaha membantu ibu Shelo berdiri namun gagal.


“ Aku mohon.. lepaskan dia. ” Kata ibu Shelo dengan tulus memohon kepada Arvi.


“ Aku tidak bisa melihat putriku menderita bertubi-tubi seperti ini. Semua kesalahanku, karena mengobati ibu yang tidak berguna ini, ia harus menikahimu dan jadi seperti ini. Tolong lepaskan dia… lepaskan dan tinggalkan putri ku… “ Lanjut ibu Shelo sambil menangis tersedu-sedu berlutut di hadapan Arvi yang tidak tau harus bagaimana.


Ia ingin sekali mendekat ke arah Shelo, menyentuhnya, memeluknya dan menciumnya. Namun wanita itu terasa semakin jauh. Arvi hanya bisa menangis dan sangat frustasi menghadapi semua ini.


“ jika kamu mencintainya, lindungi dia.. tinggalkan dia.” Sambung ibu Shelo terus mempengaruhi Arvi yang putus asa bahkan belum sempat menyentuh Shelo yang berbaring di ranjang.


Arvi perlahan mundur dan mengurungkan niatnya untuk mendekati Shelo yang masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat penenang.


“ Maafkan aku. Aku gagal menjaga dan membuatnya bahagia. Maafkan aku. ” Jawab Arvi dengan penuh rasa bersalah dan penyesalan kepada ibu Shelo kemudian bergegas pergi meninggalkan ruangan Shelo.



Arvi berjalan sempoyongan di koridor rumah sakit dan menahan dirinya untuk tetap kuat namun tidak bisa.


“ Pak.. anda harus istirahat. Anda masih tidak boleh banyak bergerak. ” Kata Resa sambil memapah tubuh Arvi yang tak bertenaga.


Sekali lagi Arvi mencoba menegakkan tubuhnya, ia menghapus semua air mata yang keluar membasahi pipinya dan dengan menahan rasa sakitnya ia berkata kepada Resa.


“ Kita kembali ke Jakarta. Jangan pernah kembali dan bertemu dengan nya lagi. Kita kembalikan semua ke tempat semula. ”


Kata Arvi dan berlalu pergi dengan penuh keyakinan.


‘Jika berpisah dan tidak saling mengenal adalah satu-satunya cara untuk melindungimu, maka aku harus melakukannya’ Arvinas Javier Osmond.


__ADS_1


...2 tahun kemudian...


BERSAMBUNG...


__ADS_2