
Setelah malam yang romantis, Shelo dan Arvi begitu nyenyak dalam tidur mereka. Semalam adalah moment yang begitu di tunggu oleh Arvi, yaitu malam pertama mereka sesungguhnya sebagai suami istri.
Tiba-tiba terdengar panggilan masuk ke hp Arvi dan ternyata berasal dari Resa.
“ Pak, saya sudah menunggu di lobby apartmen. ”
Seketika Arvi melupakan bahwa sudah waktunya untuk berangkat bekerja, ia berdiri dengan santainya dan menjauh dari ranjang agar tidak membangunkan Shelo dengan percakapannya.
“ Hari ini saya akan datang siang.. Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan di rumah. ” Jawab Arvi malas pergi kekantor.
Ketika percakapannya dengan Resa sudah selesai, Arvi memalingkan tubuhnya dan terlihat Shelo yang sudah terbangun dari tidur.
Shelo pun kaget melihat pemandangan pagi hari nya pertama kali adalah Arvi yang sudah menghabiskan malam dengannya, karena rasa malu-malu Shelo menutupi matanya dengan kedua tangannya.
Arvi pun merasa lucu dan mendekati menggoda Shelo sambil berusaha membuka kedua tangan istrinya agar tidak menutupi matanya.
“ Kenapa kamu harus malu ?? Percuma kamu tutupi, kamu sudah melihat semuanya. ” Canda Arvi semakin membuat Shelo malu.
“ Jangan iseng. ” Kata Shelo kekeh menutup matanya dari pemandangan itu.
Kemudian dengan segera Arvi mendekati dan menggelitik Shelo.
“ Arvi hentikaan… ” Teriak Shelo diikuti tawa geli di dalam selimut.
Pagi hari ini tentu akan menjadi hari yang tak terlupakan pagi kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara ini, terutama sepanjang malam yang menghabiskan waktu ber jam jam menguras energi, menjadi malam pertama mendebarkan yang paling indah dalam hidup mereka.
Ketika hari mulai berlalu, di sore hari terlihat Kara yang sedang duduk santai di sebuah café sedang menunggu seseorang dengan riang gembira. Beberapa saat kemudian tampak seorang lelaki muda berkaca mata yang datang menghampirinya, ternyata dia adalah seorang wartawan di salah satu media online yang cukup ternama.
Mereka tidak terlihat cukup akrab untuk saling bertemu, namun ini adalah cara licik yang digunakan Kara untuk menggemparkan keluarga Osmond menggunakan video yang ia rekam saat Evan mabuk dengan pengakuaannya tanpa memikirkan berapapun biayanya.
Kara tidak mau turun tangan secara langsung untuk mengupload video itu secara sembarangan karena akan berbahaya baginya jika sampai diketahui oleh keluarga Arvi.
“ Saya sudah mentransfer sebagian uangnya ke rekening yang kamu minta. Jadi saatnya kamu bekerja serapi mungkin. ” Kata Kara pelan sambil menyerahkan sebuah flashdisk kecil kepada wartawan yang dikenal dengan nama Dito.
“ Tenang saja. Saya akan mengerjakan ini selama 2 hari dengan sangat mulus seperti biasanya. Banyak artis ternama yang menggunakan jasa saya untuk saling menyerang rivalnya tanpa jejak. ” Sahut Dito percaya diri, mendengar itu Kara begitu optimis dan bahagia.
“ Aku mengandalkanmu. Satu lagi yang paling penting, jangan pernah menyangkut pautkan saya dengan masalah ini. Atau saya bisa berbuat sesuatu yang mengerikan kepadamu. ” Ancam Kara demi melindungi dirinya sendiri.
“ Baik. Serahkan padaku dan pastikan pembayaran beres. ”
“ Uang bukan hal yang sulit untukku berapapun kamu minta. Jika masalah ini benar-benar bisa menghancurkan mereka, tentu akan ada bonus untukmu. ” Lanjut Kara bersbisik pelan kepada Dito sambil menatap dengan mata jahatnya yang penuh iri hati dan kebencian dengan memanfaatkan keadaan Evan.
Evan yang tersadar dari mabuk berat semalam bersama Kara, masih belum menyadari apa saja yang sudah terjadi dan ia katakan kepada Kara.
Bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga, itulah yang dialami Shelo dan Arvi yang sedang hangat-hangat nya dalam percintaan. Hari-hari penuh rintangan masih menunggu mereka bahkan menunggu dengan fakta yang lebih kejam.
‘Dia yang datengin gue ke hotel Osmond dan akhirny gue tidurin dia.. Hahahaha. Kakak gue nikahin dia cuma karena kasihan dan manfaatin cewek kampung itu supaya ga jadi di jodohin sama nyokap gue.’ Sepenggal kalimat Evan yang terkutip di berbagai media social manapun, mengubah perjalanan hidup Shelo sekali lagi.
“ Masa Kelam Menantu Osmond”, “ Di Gilir Osmond Bersaudara ”, “ Kisah Masa Lalu Istri Arvinas Osmond.”
__ADS_1
Lagi dan lagi, belum selesai satu masalah yang mereka hadapi mengenai video kekerasan Shelo yang menampar Kara di tempat umum, muncul berita tentang masa lalu Shelo yang tidur bersama Evan membuat masyarakat semakin membenci dan menghujatnya termasuk keluarga Osmond yang otomatis terkena imbasnya.
Bahkan ada beberapa situs yang membagikan video percakapan Evan yang sedang mabuk dengan sangat jelas.
Hp Arvi terus berbunyi hingga membangunkan tidurnya yang masih terlelap di pagi-pagi buta. Ada 10 panggilan tk terjawab dari Resa yang lebih dulu mengetahui berita itu, perlahan Arvi turun dari ranjangnya dan berusaha agar tidak mengganggu tidur Shelo yang lelap disampingnya.
" Kenapa Res ?? ” Kata Arvi sambil menjauh ke dekat jendela kamarnya.
“ Pak.. Gawat, anda harus segera melihat berita yang baru saja terupload di media social. Tentang Bu Shelo. ” Jawab Resa begitu khawatir.
Arvi pun terkejut dan segera membuka link berita yang dikirim oleh Resa, seketika mata Arvi terbuka lebar dan diam terpaku.
“ Sialan… Siapa yang berani melakukan ini semua. ” Kemarahan Arvi pun segera memuncak di pagi itu dan bergegas menghubungi Resa lagi.
“ Saya tidak mau tau bagaimana pun caranya, cegah semua berita tentang Shelo agar tidak semakin meluas.. cari tau, lacak secepat mungkin orang pertama yang mengupload berita ini. ” Kata Arvi bergegas melakukan sesuatu untuk melindungi Shelo.
Beberapa jam kemudian tepatnya pukul 7 pagi, Shelo terbangun dari tidurnya akan tetapi Arvi sudah pergi meninggalkan rumah. Shelo yang belum tau apapun mencari-cari hp miliknya namun tidak menemukan apapun. Terlihat ada catatan kecil di pintu kulkas dan itu dari Arvi.
“ Hari ini di rumah saja. Jangan pergi kemanapun. ” Tulis pesan singkat Arvi membuat Shelo bertanya Tanya penasaran.
Kecemasan dan rasa marah melingkupi Arvi yang sedang dalam perjalanan ke rumah nya untuk menemui Evan yang baru diketahuinya bahwa adik badungnya itu sudah kembali ke Indonesia 2 hari yang lalu. Arvi sengaja menyembunyikan hp dan ipad Shelo karena takut kalau Shelo akan mendengar berita memalukan itu.
Sesampainya di rumah, Arvi bergegas mencari Evan ke setiap sudut rumah dan menemukannya sedang santai minum segelas air di meja makan dengan tampilan acak-acakan baru bangun tidur.
Kepalan Arvi pun tidak tertahan dan menghantam wajah Evan dengan cepat.
“ What ??? Apa-apaan kak ?? Kenapa kakak memukul ku. ” Sahut Evan yang terkejut setengah mati sambil menahan sakit di wajahnya yang lebam.
“ Bagaimana bisa kamu setega itu pada Shelo. ” Kata Arvi menarik kerah baju Evan.
“ AKu ga mengerti apa yang kakak maksud, aku baru kembali dari Amerika. AKu ga tau apa-apa. ” Jawab Evan tidak menyadari kesalahan yang ia perbuat.
“ CUKUP ARVII.. ” Bentak ayahnya yang baru sampai rumah setelah mendengar kabar memalukan itu.
“ Papa ? ” Arvi begitu terkejut melihat orangtuanya pulang lebih cepat di luar dugaannya, bahkan dia belum selesai melakukan apapun untuk menyelesaikan masalah.
Mereka berempat berkumpul di ruang tengah dengan suasana yang tegang, sambil menyadarkan Evan tentang video pernyataannya yang tersebar dengan cepat ke media jejaring social. Dia sendiri tidak ingat kejadian ini dan sangat terkejut.
‘ Siaall… Kara manfaatin gue. ‘ Batin Evan kesal.
“ Bisa-bisanya kalian melakukan hal memalukan seperti itu dengan wanita yang sekarang masuk dalam keluarga kita. ” Teriak Ayah mereka dengan sangat marah.
“ Pa... ini semua kesalahan Evan. Mereka bukan melakukannya karena saling suka. Tapi Evan yang melecehkan Shelo. ”
Arvi pun tidaktanggung-tanggung mengatakan yang sebenarnya, ia tidak mau membela kesalahan adiknya untuk yang ke sekian kali.
“ Kenapa sekarang kakak jadi nyalahin aku sih. Kakak sendiri yang bilang mau bertanggung jawab dan manfaatin dia. ” Evan dan Arvi pun jadi bertengkar lagi di hadapan orangtuanya,
“ Hentikan kalian berdua…. ” Sahut ibu mereka yang juga memanfaatkan masalah ini untuk menyingkirkan Shelo.
__ADS_1
“ Jangan lagi saling menyalahkan. Semua ini bersumber paa wanita tidak tau diri itu. Dari awal aku sangat tidak menyukainya dan terbukti benar. ” lanjut ibu mereka semakin membuat suaminya emosi.
“ Seharusnya sejak awal kita menyingkirkan dia. ” Jawab ayah Arvi dengan kejamnya.
“ Tidak pa… Dia ga bersalah. Dia cuma korban dan aku menolongnya. Jangan sakiti dia.” Kata Arvi memohon kepada ayahnya yang bisa melakukan apa saja untuk nama baik Osmond.
“ Terlambat Arvi, sekarang semua sudah tau tentang masalah ini. Jika kita tidak menyingkirkan sumber masalahnya, Osmond bisa rapuh dan hancur. Nama baik keluarga kita lebih penting daripada wanita itu. ” Kata ayah Arvi dengan tegas.
Betapa bahagianya ibu dan Evan mendengar perkataan dan keputusan ayahnya, mereka tidak perlu repot-repot menyingkirkan Shelo sedangkan Arvi begitu sesak dalam ketakutannya membayangkan apa yang akan dilakukan ayahnya kepada istri yang sudah mengisi hari-hari bahagianya.
Arvi dengan frustasi keluar dari rumahnya, disana terlihat Resa yang menunggu dengan sabar. Melihat ekspresi tak berdaya Arvi, ia bisa menebak apa yang terjadi di dalam. Hari ini Arvi memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dan segera pulang menemui Shelo sambil memikirkan cara apa yang harus dilakukannya untuk melindungi Shelo dari peringatan ayahnya.
Sesampainya di apartmen, terlihat Shelo yang duduk terdiam di ruang tengah dengan tatapan kosong. Arvi dengan segera mendekati Shelo dan berusaha menunjukkan tidak ada sesuatu aapun yang terjadi.
Namun ketika melihat Arvi berdiri di depannya, air mata Shelo menetes mengungkapkan segala kesedihan dalam hatinya.
“ Shiiitt… “ Gerutu Arvi yang menyadari bahwa Shelo telah mengetahuinya entah dari mana padahal Arvi sudah menjauhkan segala media elektronik yang memuat tentang masalah itu.
“ Shel.. Dengerin aku dulu.. ” Kata Arvi mendekat sambil berlutut di depan Sheo yang masih terduduk diam di sofa.
“ Ga ada yang perlu kamu jelasin. Aku sudah tau semuanya. Kamu bahkan lebih jahat, Arvi. ” Kata Shelo dengan tatapan benci seperti pertama kali mereka bertemu.
“ Shel.. apa yang kamu pikirkan ga semua nya benar. ” Pembelaan Arvi.
“ Aku memang terlalu bodoh percaya kepadamu begitu saja. Kakak adik sama hinanya. Suka melecehkan dan memanfaatkan wanita demi kepentingan kalian. Dasar brengs*k.. aku sangat membenci mu Arvi.. ” Sahut Shelo dengan begitu marahnya dan memukul Arvi yang tidak tau harus berbuat apa.
Setelah puas memukul Arvi, Shelo pun mengambil koper dari kamar dan bergegas keluar dari apartmen itu. Arvi tentu menahan dengan segala kemampuannya agar wanita yang dia cintai tidak pergi meninggalkannya.
“ Jangan pergi Shel… aku benr-bener mencintai kamu.. Kamu yang melembutkan hatiku, mengubah duniaku tidak seperti dulu.. ” Namun perkataan Arvi tidak mendapatkan respon sedikitpun dari Shelo yang tetap bersikeras keluar dari apartmen itu.
Hati yang hancur, perasaan malu dan sakit hati seakan melekat pada Shelo saat ini. Luka yang selama 8 bulan ini terobati oleh kesehariannya dengan Arvi hilang begitu saja dalam satu malam. Arvi terus mengejar Shelo hingga ke lobby dan menahan tangan Shelo agar tidak pergi meninggalkannya.
“ Please Shel.. kita bisa perbaiki ini semua. ” Kata Arvi tidak berhenti memohon.
Melihat pemandangan itu, ternyata ibu Shelo dan Sesil yang memberi kabar pada Shelo sudah menunggu di bawah. Mereka begitu merasa tertipu dan sakit melihat Shelo dipermalukan seperti itu hingga seluruh masyarakat mencemooh Shelo dengan luar biasa.
" Cukup Arvi.. ” Kata ibu Shelo membantu Shelo lepas dari genggaman tangan Arvi.
“ Mama ?? ” Kata Arvi terkejut.
“ Hentikan semua ini. Mama sudah mendengar semuanya dan bergegas datang menjemput Shelo. Biarkan dia kembali ke kehidupannya semula sebelum terlibat dengan keluarga mu. ” Terlihat tataan marah dan sangat kecewa terlalu dalam pada raut wajah ibu Shelo yang selama ini menganggap Arvi sebagai anaknya.
“ Tapi ma… Aku ga bisa menjalani kehidupan ku tanpa Shelo.. ” Jawab Arvi putus asa.
“ Aku juga tidak bisa hidup melihat putri yang kubesarkan selama 21 tahun menderita seperti ini dengan penghinaan yang luar biasa. Ayo pulang.. Shelo.. Sesil.. ” Ibu Shelo dengan tegas membawa putrinya pulang ke rumah.
Shelo yang tidak punya pilihan lain memilih pergi bersama keluarga yang sebenarnya. Air mata terus mengalir membasahi pipi Shelo, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menoleh ke belakang karena ia takut cintanya pada Arvi akan membuatnya lemah dan berbalik lagi.
Arvi yang melihat Shelo semakin menjauh pun tersungkur lemah tak berdaya merasakan hatinya yang semakin terasa sesak dan begitu sakit.
__ADS_1