
Pagi hari yang cerah, Shelo bangun dari tidur pulas nya dengan kondisi yang lebih baik. Namun situasi dan kondisi nya saat ini begitu membuat nya terkejut ketika melihat Arvi yang tidur di samping mya sambil memegang perut Shelo.
Pergerakan Shelo yamg berusaha memindahkan tangam Arvi seketika itu membuat nya terbangun juga.
" Sorry Shel. Aku ga ngapa ngapa in kamu kok. " Kalimat pertama yamg di ucapkan Arvi karena takut Shelo salah paham.
" Aku tau kok. Sorry udah ngrepotin kamu. " Jawab Shelo tidak enak.
" Gimana? Kamu masih sakit? " Tanya Arvi khawatir sambil memandang wajah polos wanita yang baru bangun tidur itu.
" Sudah mendingan. Ehm.. aku mandi dulu, teman teman ku pasti khawatir. " Jawab Shelo mulai menghindari Arvi lagi.
" Tenang aja. Aku udah suruh Resa untuk kasi kabar ke mereka. " Kata Arvi tanggung jawab.
Pagi hari yang mendebarkan itu membuat mereka berdua salah tingkah, setelah melewati sepanjang malam bersama.
Rasa nyaman yang mulai hadir kembali, membuat Shelo takut.. takut jika hatinya akan luluh lagi kepada Arvi..
Tanpa banyak bicara lagi, Shelo segera masuk ke kamar mandi untuk bersiap diri dengan harapan segera berpisah dengan Arvi.
Arvi yang mengetahui sikap Shelo yang mulai menghindar lagi tampak begitu khawatir, karena baginya waktu untuk bersama wanita itu adalah yang saat ini dia inginkan.
Beberapa jam beralu, tampak Shelo dan Arvi selesai berbenah diri dan keluar menuju lobby hotel. Beberapa mata mengarahkan pandangannya kepada mereka berdua, terlebih lagi mengingat Arvi bukan lah orang sembarangan. Dia adalah pengusaha ternama yang cukup dikenal banyak orang. Hal itu tentu membuat Shelo tidak nyaman dan trauma jika harus berurusan dengan media dan gosip.
" Kamu pergi dulu aja. Aku akan naik taksi. Aku ga mau muncul berita yang bisa merugikan mu. " Kata Shelo ingin berlalu pergi meninggalkan Arvi, namun dengan cepat Arvi menahan dan menggenggam erat tangan Shelo.
" Aku tidak akan melepaskan mu kali ini. Aku tidak peduli dengan apa kata orang. Bahkan aku tidak peduli jika harus meninggalkan Osmond. Aku sudah muak dan tidak bisa menahan lebih lama lagi. " Pengakuan tiba tiba Arvi yang cukup mencuri perhatian beberapa orang di sekitar situ dan membuat Shelo gelisah.
" Arvi, kamu jangan seperti ini. " Kata Shelo mencoba melepas genggaman tangan Arvi namun sulit.
__ADS_1
" Coba saja kalau kamu bisa. " Jawab Arvi tegas.
Ia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Shelo untuk melepaskan genggamannya.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan bak sepasang kekasih di mata beberapa orang yang melihat, bahkan berita perceraian mereka yang sudah menyebar membuat orang heran melihatnya.. Apakah mereka rujuk kembali..
Selama perjalanan bahkan saat di dalam mobil, genggaman tangan Arvi tidak lepas sedetikpun walau Shelo sudah berusaha sekuat tenaga.
" Arvi, tangan ku sakit. " Kata Shelo mencoba mencari cara untuk mengelabuhi Arvi, namun Arvi hanya melonggarkan genggamannya tapi tetap tidak melepaskan tangan Shelo.
Mereka pun sampai di depan villa tempat Shelo dan teman temannya menginap. Arvi ikut turun dari mobil untuk berpamitan dengan Shelo, karena ia harus mengantar Presdir Hwang ke bandara.
" Terpaksa, hari ini sampai disini dulu. " Kata Arvi sedih dan akhirnya melepaskan tangan Shelo.
" Bukan hari ini. Tapi aku berharap tidak terlibat dengan mu lagi. " Jawab Shelo ketus meninggalkan Arvi. Namun baru 3 langkah ia menjauh, Arvi segera memeluk Shelo dengan lembut.
" Aku tidak bisa, sungguh tidak bisa jauh dari mu. Bisakah kita memulai semuanya kembali?" Sahut Arvi penuh harapan sambil memeluk wanita yang mulai terharu dan tanpa sadar meneteskan air mata.
" Arvi.. sejak awal, pertemuan kita terjadi karena kesalahan. Hubungan kita terjadi karena kesepakatan. Apa yang dimulai dengan buruk, berakhir dengan buruk juga. Selama ini aku berjuang untuk bangkit, untuk melupakan mu.. tapi kenapa kamu harus hadir kembali mengingatkan rasa sakitku. " Kata Shelo dengan air mata yang terus tak terbendung.
" Aku tahu aku salah. Karena tidak bisa melindungi mu. Tapi perasaan ku sama sekali tidak berubah kepadamu. Setiap hari aku merindukan mu, setiap hari aku berharap bisa bangun di sisi mu. Untuk itu aku memberanikan diri untuk memperbaiki semuamya Shel." Jawab Arvi berusaha meyakinkan Shelo.
Setelag terdiam sejenak, Shelo melepaskan diri dari pelukam Arvi dan berbalik memandang wajah Arvi yang putus asa.
" Terlalu banyak luka yang sudah terjadi, bahkan calon anak kita pun menjadi korban. Aku tidak punya kepercayaan diri lagi, untuk memulai semua dari awal bersama mu lagi. " Tolak Shelo sekali lagi.
Anehnya, setiap kata penolakan yang keluar dari mulut Shelo menyisakan sakit di dadanya.
Shelo membohongi dirinya sendiri, setelah beberapa moment bersama Arvi yang membuatnya menyadari bahwa dirinya masih mencintai lelaki ini.
__ADS_1
Perbincangan pun segera di akhiri oleh Shelo karena takut hatinya akan luluh dan ia memutuskan meninggalkan Arvi yang putus asa.
Liburan telah berakhir, sepanjang perjalanan kembali ke Jakarta terlihat Shelo hanya diam termenung dan mood yang buruk tampak di wajahnya.
Ayu dan Mia hanya bisa menyemangati serta menghibur Shelo, walau sangat sulit membuatnya tersenyum.
Mereka memahami apa yang dirasakan Shelo, namun di satu sisi mereka tidak bisa banyak membantu masalah pribadi Shelo karena semua itu berhubungan dengan hati.
Setiba nya di rumah, Shelo shock ketika melihat Jacob sudah standby di depan rumahnya. Belum selesai satu masalah dengan Arvi, muncul lagi Jacob yang terobsesi padanya.
" Finally.. Aku bisa liat kamu. " Kata Jacob senang melihat kedatangan Shelo yang tampak murung.
" Hari ini mood ku kacau. Pergilah. " Usir Shelo tidak mempedulikan Jacob.
" Eits.. sudah berhari hari aku mencari mu, semua kontak ku tidak bisa menghubungi mu. Dan sekarang ku mau pergi begitu saja. Tidak semudah itu. " Jawab Jacob menahan Shelo dengan santainya.
" Apa yang kamu mau? Kenapa terus menerus mengganggu ku? " Kata Shelo mulai emosional.
" Apa yang terjadi di Bali? ekspresi mu tidak seperti orang yang selesai berlibur. " Tanya Jacob curiga melihat perbedaan mood Shelo yang tampak lebih murung dari biasanya.
" Bukan urusan mu. " Jawab Shelo singkat.
" Jangan mengacuhkan aku. Kamu itu milik ku. " Nada bicara Jacob mulai menakutkan ketika ia semakin terobsesi mendapatkan Shelo.
Bahkan tanpa segan Jacob mencengkeram kedua lengan Shelo hingga membuatnya kesakitan.
" Lepas. Aku bukan milik mu. Jangan pernah punga pikiran gila seperti itu. " Kata Shelo marah.
" Kenapa? Karena Arvinas Javier Osmond? " Akhirnya Jacob membuka kartu yang selama ini ia pegang, bahwa ia sebenarnya sudah mengetahui masa lalu Shelo bersama Arvi.
__ADS_1
Shelo sempat tersentak kaget, namun karena Jacob yang mulai keterlaluan membuat Shelo membencinya.
" Iya. Karena lelaki itu. Dan sampai kapan pun karena lelaki itu. Lelaki yang tidak bisa kulupakan. " Jawab Shelo yang akhirnya mengutarakan kejujuran dalam hatinya tanpa pikir panjang.