My Accident Destiny

My Accident Destiny
My Accident Destiny Part 24 " Pertemuan Tak Terduga "


__ADS_3

Suatu sore Shelo tampak sibuk dengan pekerjaannya, beberapa persediaan toko berdatangan dengan jumlah yang cukup banyak mulai dari berbagai macam pakaian wanita model terbaru, segala aksesoris cantik, sepatu dan tas wanita.


Semakin banyak brand menengah ke atas yang mempercayakan Mishela boutique sebagai distributor membuat Shelo semakin semangat bekerja.


Dengan rambut yang semua terikat keatas secangkir kopi dan laptop, Shelo fokus menyelesaikan pekerjaannya. Saat ini adalah giliran nya berjaga di Mis One bersama satu wanita muda sebagai karyawannya bernama Diva.



“ Semua nya uda masuk Div ?? Ga ada yang terlewat kan ?? ” Tanya Shelo sambil memeriksa beberapa surat jalan yang di bawa kurir supplier.


“ Sudah semua kak. Sesuai. ” Jawab Diva yang 2 tahun lebih muda dari Shelo.


“ Oke. Hari ini kita bakal lembur nih display dan restock barang. Semua yang datang hari ini, harus jadi main course ya. ”


“ Baik kak. ” Jawab Diva semangat.


“ Bulan ini omset kita harus makin naik. ” Kata Shelo memberi motivasi dengan senyuman manisnya.


Mereka berdua melanjutkan pekerjaan dengan semangat dan mood yang baik.


Sebaliknya, Arvi yang kemarin melihat Shelo untuk pertama kalinya setelah perpisahan mereka 2 tahun lalu nampak murung. Arvi lebih banyak menghabiskan waktu untuk melamun hingga tidak fokus pada apa yang dikerjakannya.


“ Pak. Bagaimana menurut anda ??” Tanya Resa yang selama menjelaskan masalah pekerjaan tidak mendapat respon dari Arvi.


“ Pak. ” Sahut Resa lagi hingga Arvi tersadar dari lamunan nya.


“ Ya.. gimana Res, sorry. ” Kata Arvi sambil melonggarkan dasinya dan lesu.


“ Bapak ada masalah ?? ” Tanya Resa khawatir.


“ Gak ada. Cuma lagi ga mood kerja aja. Kamu ambil alih ya, sekiranya bisa kamu selesaikan. Gak perlu pendapat saya, lakukan aja. ” Jawabn Arvi yang begitu percaya kepada Resa yang sudah lama bekerja dengannya bahkan mengetahui cerita suka duka Arvi.


Di tengah-tengah pembicaraan Resa dan Arvi, seseorang datang tanpa permisi masuk ke ruang kerja Arvi. Lelaki dengan setelan jas rapi dan branded itu adalah Evan,putra bungsu Osmond Group yang 2 tahun ini tidak memiliki hubungan baik dengan Arvi.


Setelah kejadian 2 tahun silam, Evan kembali ke Amerika untuk menyelesaikan studi nya. Setelah lulus, ia mengelola salah satu anak cabang Osmond Group yang ada di Jakarta sebagai pimpinan.


“ Hai kak. ” Sapa Evan, namun suasana menjadi tidak nyaman bagi Arvi. Resa pun keluar dari ruangan dan meninggalkan mereka berdua untuk berbincang.


“ Ada perlu apa kesini ? ” Tanya Arvi tanpa basa basi.


“ Ada yang penting yang harus kita bahas. ” Jawab Evan sambil duduk di sofa Arvi dan mau tidak mau Arvi menghampirinya.


“ Masalah apa ??” Tanya Arvi lagi.


“ Aku butuh tambahan anggaran kak ??” Jawab Evan dengan santainya.


“ Anggaran dana ?? Apa maksudmu ?? ” Tanya Arvi mulai kesal.


“ Aku mau buat produk baru kak. ” Kata Evan tanpa pikir panjang.


“ Jangan bercanda. Produk baru Osmond akan launching kurang dari sebulan, dan kamu mau buat produk baru ?? Jangan omong kosong. ” Arvi pun begitu heran dengan pemikiran Evan yang tidak masuk akal menurut Arvi.

__ADS_1


“ Aku serius kak. Setelah aku mengelola kantor cabang, aku merasa bosan. Aku butuh sesuatu yang baru. Kakak tinggal memberiku anggaran, dan semua beres. ”


“ Jangan mimpi. Belajar dulu yang benar, baru memikirkan produk baru. Masih terlalu jauh, kamu baru 3 bulan mengelola cabang tapi sudah tidak fokus. Selama 3 bulan ini kamu juga belum menunjukkan kinerja yang baik, profit cabang malah turun 5% dari sebelumnya. Sebelum memikirkan lebih jauh, lebih baik kamu pikirkan gimana caranya menjaga profit cabang. ” Arvi menegur Evan dengan fakta yang ia ketahui namun Evan merasad direndahkandan tersulut emosi.


“ Kakak kira aku tidak bisa membuat Osmond sukses ? Semua yang aku rencanakan juga demi perusahaan kita. Jangan meremehkan aku kak. ” Jawab Evan emosional.


“ Aku butuh bukti, bukan omong kosong. ” Jawab Arvi tegas dan pergi kembali ke meja kerjanya, namun langkahnya terheti ketika Evan menyinggung masa lalunya.


“ Jangan terlalu percaya diri. Kakak bisa menjaga Osmond, tapi tidak bisa menjaga wanita itu. ” Sahut Evan dengan senyuman sinis menyindir Arvi.


Tangan Arvi pun mengepal ingin sekali memukul Evan yang mengungkit masa lalunya, namun ia berpikir dua kali dan tidak ingin membuat keributan yang dapat meresahkan karyawan di sekitar ruangannya.


“ Pergi. Atau aku bisa memukulmu. ” Ancam Arvi marah.


“ Kenapa kakak marah ? Apa yang aku katakana benar. Kakak memanfaatkannya, kemudian mencintainya lalu melepaskannya. Mungkin kakak hebat dalam bisnis, tapi tidak dengan wanita. ” Lanjut Evan yang berusaha terus memanasi Arvi, hingga emosi Arvi tidak tertahankan dan satu pukulan mendarat di wajah Evan.


BUUKK…


“ Sekali lagi kamu mengungkitnya, aku akan berbuat lebih. ”


Bibir Evan yang terluka karena pukulan Arvi tidak membuatnya jera, ia tersenyum seakan menang karena mengetahui kelemahan kakaknya yang arogan itu.


“ Oke aku pergi. Tapi secepatnya aku akan kembali membawa proposal ku. ” Jawab Evan dengan melangkah santai meninggalkan ruang kerja Arvi.


“ Sialan.. kalau saja kamu bukan adik ku, aku pasti sudah membunuhmu. ” Gerutu arvi dengan kekesalan yang amat dalam jika mengingat apa yang sudah diperbuat oleh adik kandungnya sendiri, yang membuatnya harus memilih dan kehilangan Shelo.


Segera setelah kejadian itu, Arvi bergegas keluar dari ruangan dengan raut wajah yang sangat marah dan tidak mempedulikan pekerjaan dan orang-orang disekitarnya. Dengan langkah cepat ia turun ke lobby perusahaan dan terlihat salah satu driver sudah menyiapkan mobil mercy hitam Arvi.



Tepat pukul 10 malam, Shelo dan Diva masih menyelesaikan pekerjaan di toko dengan rajin. Terlihat beberapa display pakaian dengan model-model terbaru juga aksesoris, sepatu dan beberapa tas sudah tersusun rapi di dalam toko mereka.


Walaupun terlihat lelah, namun Shelo dan Diva terus menegrjakan hingga selesai.


“ Selesai. ” Kata Shelo lega dengan sedikit berantakan pada rambutnya.


“ Akhirnya selesai juga kak. ” Jawab Diva senang.


“ Iya. Kamu bisa pulang sekarang Div, udah jam segini ” Kata Shelo baik hati.


“ Jangan kak. Pulang sama-sama aja. ” Kata Diva pengertian.


“ Beneran gpp kok Div. Mama kamu pasti udah nunggu. ” Suruh Shelo lagi.


“ Oke deh kak.. makasih banyak ya. Aku siap siap dul, sekalian buang sampah. ” Jawab Diva menuruti perkataan Shelo dan bergegas pergi ke dalam untuk mengambi tas. Shelo pun dengan senang hati membereskan beberapa kotak sebelum dirinya juga pulang.


“ Aku pulang duluan ya kak. Kakak juga cepat pulang ya. ” kata Diva berpamitan.


“ Iya. Kamu hati-hati ya. ” Jawab Shelo.


Diva pun bergegas keluar dari toko dan berlalu pulang, sisa Shelo seorang diri yang juga mulai prepare untuk membereskan meja kasir dan pulang.

__ADS_1


Belum ada 10 menit Diva pergi, ia kembali menemui Sheo dengan nafas terengah engah dan menangis.


“ Kak.. Tolongin Diva. ” Sahut Diva sambil menangis dan membuat Shelo begitu terkejut.


“ Diva?? Kamu kenapa?? Ada apa?? ” Tanya Shelo ikut panik sambil menghampiri Diva yang terlihat takut dan menangis.


“ Aku harus gimana kak ?? Adik ku di bawa sama penagih hutang. Barusan orang itu telepon aku,kalau aku ga bawa uang.. adik ku mau di jual ke tepat prostitusi. ” Diva menangis sambil menceritakan kejadian tak terduga yang di alami oleh adik perempuannya yang masih sangat belia berusia 17 tahun bernama Nana.


“ Kok bisa begitu ? Kita harus lapor polisi Div. ” Kata Shelo sambil mengambil hp ingin menghubungi polisi.


“ Jangan kak. Dia akan sakiti Nana. Banyak polisi yang bekerja sama dengan lintah darat itu. Aku gam au Nana di apa-apakan. ” Sahut Diva menghentikan Shelo yang nampak kebingungan.


“ Apa mama mu tau kalau Nana di culik ?? ” Tanya Shelo mencari informasi lebih lanjut.


“ Mama ga tau masalah ini kak. Karna aku berhutang atas nama ku sendiri, untuk biaya berobat mama. Selama ini yang beliau tau adalah uang hasil sumbangan dan kerja ku. ” Mendengar itu, Shelo begitu sedih dan ikut khawatir. Selama tahun lebih Diva bekerja bersamanya, Shelo tidak mengetahui bahwa kehidupan Diva begitu terpuruk dan menjadi tulang punggung keluarga dibalik semangat kerjanya selama ini.


“ Kalau begitu, kita selesaikan sendiri ya. Aku akan berusaha sebisa mungkin membantu kamu. Kalau boleh tau berapa uang yang kamu pinjam ?” Tanya Shelo berusaha membantu.


“ Awalnya aku meminjam 100 juta kak untuk operasi mama dan biaya sekolah nana dalam jangka waktu 1 tahun, tapi…. Sekarang sudah berjalan 2 tahun dan bunganya terus berjalan. Kemarin mereka meminta 200 juta kak. ” Nominal tak masuk akal yang disebutkan Diva membuat Shelo semakin pusing karena ia tidak memiliki cukup uang untuk membayar semuanya.


“ Kejam sekali mereka memberikan bunga yang tidak masuk akal. Div, sekarang yang terpenting adalah menemukan adik kamu. Kita harus menemui mereka dan bicara kepada mereka. ” Kata Shelo menyarankan dan berusaha membantu Diva.


Diva pun membawa Shelo menuju ke suatu club besar di tengah ibukota. Terlihat begitu banyak orang-orang keluar masuk mencari kesenangan di club yang cukup ternama itu.



“ Adik kamu disini ??” Tanya Shelo terkejut, ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa ia akan pergi ke tempat hiburan malam seperti ini.


“ Iya kak. Lintah darat itu pemilik tempat ini. Beberapa kali aku pernah kesini untuk menandatangani surat pinjaman. ” Jawab Diva ketakutan.


“ Hmm… Jangan takut. Kita selamatkan adik kamu, aku akan mencoba bicara pada mereka. ” Dengan langkah kaki yang cukup berat Shelo memberanikan diri untuk membantu Diva dan memasuki tempat hiburan malam itu.


Suara musik yang begitu keras, lampu gelap diiringi lampu sorot yang berputar-putar, terlihat banyak sekali orang yang hanyut dalam irama dan tarian sambil memegang botol minuman beralkohol. Begitu tidak nyaman dan sesak bagi Shelo yang pertama kali memasukinya, namun dengan kebaikan hatinya ia terus melangkah masuk sambil menggandeng Diva.



Ketika bertemu salah satu pelayan disana, Shelo menanyakan keberadaan para lintah darat yang menyiksa Diva hingga di tunjukkan suatu ruangan di lantai 2. Shelo dan Diva hendak berjalan ke sana namun tiba-tiba langkah kaki Shelo berhenti ketika tatapan matanya bertemu dengan Arvi yang berjarak tidak begitu jauh darinya.


Begitu terpaku dan terkejutnya Shelo melihat Arvi yang bukan seperti dulu lagi, dengan kemeja berantakan Arvi menikmati minumannya ditemani 2 wanita penghibur di kanan kirinya.


Sedikit demi sedikit Arvi tersadar dari kesenangannya, bahwa seseorang sedang menatapnya dari jauh.


Seakan semua orang tampak melambat, dentingan musik tak terdengar di telinga mereka dan pandangan mata tak lepas satu sama lain.


Tanpa senyuman tanpa sepatah kata yang keluar, mata Shelo mulai berair dan rasa sakit kembali menjalar di dadanya.


Arvi yang berdiri terdiam, tidak percaya akan apa yang dilihatnya.. sempat ia berpikir jika semuanya adalah halusinasi karena pengaruh alkohol namun bayangan itu tampak begitu nyata.


Kedua perempuan penghibur itu berusaha merayu Arvi, namun Arvi mendorong dan mengacuhkan mereka seakan tak ada.


Kedua mata Arvi saat ini hanya fokus melihat Shelo yang tidak dia sangka akan bertemu dengannya di tempat hiburan malam seperti ini.

__ADS_1


“ Brengs*k.. ” Gerutu Shelo kesal sambil memandang tajam ke arah Arvi namun sama sekali tidak ada keinginan untuk menghampirinya.


__ADS_2