My Accident Destiny

My Accident Destiny
My Accident Destiny Part 8 " Tamu Tak Diundang "


__ADS_3

Suatu malam di sebuah resto terkenal dan mewah di pusat ibukota yang tidak bisa di nikmati oleh sembarangan tamu, terlihat ibu Arvi dengan berbagai barang branded melekat padanya sedang menikmati secangkir kopi dan sepotong cake sambil menunggu seseorang dengan penuh antusias.


Perawakan tinggi, tubuh yang indah, wajah yang cantik berambut panjang berwarna coklat tampak melambai dari kejauhan kearah ibu Arvi. Wanita itu adalah Kara Wijaya, putri salah satu pengusaha sukses di bidang property yang sering bekerja sama dengan Osmond Group, wanita 25 tahun lulusan Harvard yang pada awalnya akan dijodohkan dengan Arvi.



“ Long time no see… tantee…. ” Sapa Kara sangat ramah dan antusias sambil memeluk ibu Arvi, Vena Dewanti Osmond.


“ Sayaang… tante kangen sekali sama kamu nak. ” Sambut ibu Arvi dengan sangat welcome. Mereka pun segera saling mengobrol dan menghabiskan waktu bersama.


“ You know Kara, tante sudah berusaha menghentikan Arvi untuk menikahi perempuan kampung itu, tapi kamu tau sendiri bagaimana sikap Arvi jika sudah membuat keputusan. ” Kata ibu Arvi memberi penjelasan.


“ Its oke tante.. yaahh, emang awalnya aku ga bisa menerima ini semua. Penantian ku selama ini, motivasi ku untuk cepat lulus kuliah dan jadi pendamping Arvi hilang dalam sekejap. Mau gimana lagi. ” Jawab Kara kecewa.


“ Tenang nak, tante pasti akan cari cara untuk mendekatkan kamu sama Arvi. Bagaimana pun juga, hanya kamu yang layak jadi menantu keluarga Osmond.” Sahut ibu Arvi sambil meraih tangan Kara meyakinkan.


“ Sudah terlambat tante. Arvi sudah terikat sebuah pernikahan, menghancurkan pernikahannya sama dengan menghancurkan nama baik keluarga. ”


“ Kecuali, kita buat wanita kampung itu yang menjadi penyebab utama kegagalan rumah tangga mereka. Menjadi korban tidak akan disalahkan.” Jawab ibu Arvi seperti sudah memikirkan sesuatu yang jahat.


Di apartmen, Arvi menikmati masakan Shelo yang masih tergolong pas-pasan namun masih bisa dirasakan. Arvi makan dengan tenang tanpa menatap Shelo yang menunggu duduk diam dihadapannya sambil main hp.


Suasana masih dan tetap canggung saat itu, Shelo mengambil kesempatan berusaha membuka topik pembicaraan kepada Arvi.


“ Minggu depan aku sudah bisa mengikuti beberapa kelas seminar untuk bimbingan skripsi. ”

__ADS_1


“ Oh. ” Jawab Arvi tidak peduli.


“ Mungkin aku bisa pulang malam, lebih sibuk dari biasanya. ”


“ Hmm. ” Jawab Arvi tidak peduli lagi membuat Shelo geram.


“ Kamu tau gak sih, kalau aku lagi memperbaiki keadaan. ” Sahut Shelo sedikit emosional. Arvi pun berhenti makan dan menaruh sendok garpunya dengan keras hingga mengagetkan Shelo.


“ Terus, mau kamu.. aku harus gimana. Bukannya selama ini mau aku baik atau jahat, sama jeleknya di matamu. ” Kata Arvi membahas pertengkaran mereka yang belum selesai.


“ Aku minta maaf. Aku terlalu berburuk sangka. ” Permintaan maaf Shelo membuat Arvi terdiam dan bingung harus mengatakan apa.


“ Sudah lah, ga perlu dibahas. Bikin sakit perut. ” Kata Arvi tidak mengindahkan permintaan maaf Shelo dan berencana untuk masuk ke kamar, akan tetapi Shelo dengan lebih lantang menyampaikan isi hatinya.


“ Kamu bilang aku ga cukup layak untuk tidur dengan mu. Aku tau, pernikahan ini Cuma sebatas rasa kasihan rasa tanggung jawab atas perbuatan adikmu. Tapi apa aku salah, kalau rasa trauma ku masih belum hilang ?? Kenapa kamu harus merendahkan aku sampai seperti itu. ” Shelo mengeluarkan perkataan yang dia pendam selama ini tanpa basa basi dan menghentikan langkah Arvi.


Keadaan yang diharapkan membaik, malah menjadi semakin memanas lagi. Menyatukan dua ego yang berbeda sangat sulit bagi mereka, apalagi tanpa dilandasi rasa cinta. Shelo yang masih muda, tidak bisa dengan mudahnya menilai karakter Arvi yang sempat membuatnya nyaman, sedangkan Arvi yang jauh lebih matang dan dewasa tidak bisa menerima sikap Shelo yang selalu negatif thinking kepadanya.


Malam itupun masih dilalui dengan kesunyian dan dengan ego masing-masing yang tidak mau mengalah satu sama lain.


Keesokan pagi, seperti biasa Arvi bersiap untuk berangkat ke kantor, ketika ia keluar dari kamar tak terlihat sosok Shelo baik di dapur maupun di ruang keluarga dimana ia biasa terlihat oleh Arvi di pagi hari sebelim berangkat kerja. Mata Arvi tak dapat membohongi bahwa ia sempat berharap ada yang menyambutnya ketika ia akan pergi ke kantor.


Tanpa pikir panjang, Arvi melanjutkan langkahnya dan pergi ke loby menemui Resa yang sudah standby menjemputnya seperti biasa. Pagi hari Arvi diawali dengan kehampaan.


Sesampainya di kantor, kegiatan berjalan seperti biasa. Arvi dengan wibawa dan kharismanya disambut oleh setiap staf yang berpapasan dengannya.

__ADS_1


“ Pagi pak. ”


“ Selamat pagi pak. ”


Sesekali ia menanggapi sapaan pagi, sesekali ia hanya tersenyum kecil. Berjalan memasuki ruangannya, terlihat Kara yang sudah menunggunya dengan penampilan cantik serba branded serta senyuman merekah di wajahnya.


“ Arviiii… ” Panggil Kara yang dengan cepat memeluk Arvi yang masih tercengang kaget tidak menduga kehadiran wanita yang sempat dijodohkan dengannya.


“ Oh, hai… apa kabar ? ” Sapa Arvi kaku sambil perlahan melepas pelukan Kara yang begitu erat.


“I’m fine.. I miss you so much. ” Kata Kara tanpa basa-basi. Resa yang sedari tadi mengikuti Arvi segera keluar dari ruangan itu karna tidak ingin mengganggu perjumpaan mereka.


“ Arvi. By the way.. Congrats ya buat pernikahan mu. ” Sahut Kara dengan senyum palsunya.


“ Thanks Kar. Sorry ga sempat undang kamu, cuma acara sederhana dan keluarga aja. ” Kata Arvi sambil berjalan menuju meja kerjanya.


“ Sederhana tapi jadi trending topik dalam 1 malam. Seorang putra sulung Osmond menikahi gadis biasa. ” Sindir Kara terang-terangan.


Arvi tidak mempedulikan perkataan Kara yang terus berusaha mendekati dan mencuri perhatian Arvi.


“ Kenapa harus dia Arvi ? Kamu tau kan kalau selama ber tahun-tahun, aku…. ” Belum selesai Kara berbicara, Arvi berusaha mengbah topik dan menghindarinya.


“ Sorry Kara, mungkin kita bisa ngobrol lebih santai di lain waktu, Aku harus segera meeting dengan klien. ” Pangkas Arvi dengan dinginnya.


“ Oh, its oke.. take your time. Aku selalu ada waktu luang kok buat kamu. See you di gala dinner besok ya Arvi. Aku ga sabar banget kenalan sama istrimu. ” Kata Kara sinis sambil berlalu pergi.

__ADS_1


Mendengar perkataan Kara, Arvi pun jadi teringat bahwa besok malam ada gala dinner di hotel Osmond atas kemenangan projek perusahaannya dalam ekspansi market di Shanghai. Banyak kolega dan klien-klien penting yang akan datang dalam acara tersebut, ia menghampiri Resa untuk memerintahkan beberapa tugas kepadanya.


“ Res, beritahu Shelo. Besok penampilan perdananya bertemu klien-klien kita di gala dinner. Pastikan dia untuk tidak pergi atau set acara kemana pun. ”


__ADS_2