My Accident Destiny

My Accident Destiny
My Accident Destiny Part 38 " Bertahanlah Arvi "


__ADS_3

" Berita terbaru pagi ini, CEO Osmond Group.. Arvinas Javier Osmond mengalami kecelakaan di sekitar jalan pemuda pagi ini pukul 8.20.. Korban mengalami luka serius dan tak sadarkan diri, saat ini korban sudah di tangani oleh rumah sakit untuk menjalani perawatan. Di duga mobil yang dikendarai mengalami rem blong, menurut pengakuan sekretarisnya yang berinisial R,dirinya selalu rutin melakukan pengecekan terhadap mobil yang dikendarai oleh Arvinas, namun pagi ini secara mengejutkan ia kelolosan karena pekerjaan mendadak yang tidak bisa ditinggalkannya dan membuat Arvinas harus berkendara sendiri. Penyelidikan akan dilakukan lebih lanjut oleh pihak keluarga Osmond. Demikian sekilas info "


Berita buruk yang mengguncang media sosial dalam hitungan menit. Bahkan Shelo dan keluarga nya yang sedang berkumpul untuk menikmati sarapan, begitu terkejut mendengar berita yang disiarkan lewat beberapa stasiun televisi pagi ini.


" Ya Tuhan. Itu beneran Arvi?? Kasihan sekali. " Kata mama Shelo merasa iba.


" Mudah mudah an ga parah parah banget. " Sahut Sesil sembari menggigit roti selai nya.


Namun Shelo nampak masih shock dan melamun melihat ke arah televisi, pikirannya langsung kacau dan dadanya ikut berdebar menandakan rasa khawatir nya.


" Shel, kamu gapapa?? " Tanya mama yang memperhatikan ekspresi Shelo.


" Oh.. gapapa kok ma. Kaget aja. " Jawab Shelo gugup.


" Kamu khawatir ya? " Tanya mama lagi to the point.


" Ga ma. Biasa aja. Kan kita uda ga ada hubungan apa apa lagi. " Jawab Shelo mengelak.


" Mau bagaimana pun kamu tutupi, mama akan selalu tau nak. " Jawab mama lembut pengertian.


" Sorry ya ma. Aku juga sebenernya ga pengen khawatir, tapi ga tau kenapa jadi kepikiran. Mama jangan marah ya. " Kata Shelo takut jika mama nya salah paham.


" Shel, kenapa mama harus marah. Seharusnya malah bangga, karena itu artinya anak mama tidak menyimpan dendam. Sebenci apapun mama kepada Arvi, bagaimana pun dia pernah menjadi menantu mama. Apa yang sudah berakhir biarlah berakhir, asal kita tidak mendendam. Karena itu hanya akan membuat kita tidak bebas, cukup jalani hidup masing-masing tanpa membenci. " Nasehat dari mama yang sangat bijaksana membuat hati Shelo nyaman.


Sudah kurang lebih dari 2 jam Arvi dokter memeriksa seluruh tubuh Arvi yang masih belum sadarkan diri. Ibu dan ayahnya sudah menunggu di depan pintu ICU dengan khawatir, terlebih lagi ibunya yang menangis ter sedu sedu.


Sedangkan para wartawan sudah berkerumun di pintu lobi rumah sakit namun dihalangi oleh para pengawal suruhan ayah Arvi.


Jika semakin dibiarkan, para wartawan itu tentu sangat mengganggu aktifitas di rumah sakit, hingga mau tidak mau beliau harus tampil mewakili anaknya.


" Sebagai seorang ayah, saya sangat sedih dengan musibah ini. Arvi masih dalam pemeriksaan dokter, mohon doanya agar anak saya bisa segera pulih. Saya tidak bisa memberikan banyak keterangan apapun saat ini. Jubir saya yang akan menjadi mediator untuk menyampaikan perkembangan kesehatan Arvi. Mohon pengertiannya. Selamat pagi. " Penjelasan tegas ayah Arvi yang juga di dampingi Resa.


Mereka kemudian kembali ke ruang ICU menemui ibu Arvi yang masih shock.

__ADS_1


" Resa.. selidiki sampai tuntas apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ini hanya kecelakaan biasa atau ulah seseorang. " Bisik ayah Arvi memberi tanggung jawab kepada Resa, orang kepercayaan Arvi.


" Baik pak. Saya akan pastikan untuk menyelidiki semuanya. " Jawab Resa sigap.


Beberapa saat dokter richard yang memeriksa Arvi pun keluar dari ICU untuk menyampaikan keadaan Arvi.


" Pak, Bu.. pasien berhasil kami selamatkan. Ada luka cukup parah di kepala dan tulang rusuknya karena benturan yang mengakibatkan pendarahan. Pasien harus segera dioperasi sebelum organ tubuh nya membengkak dan mengganggu organ yang lain. "


Pesan dokter Richard menjelaskan. Tanpa pikir panjang orang tua Arvi tentu mengijinkan asalkan anaknya bisa selamat.


" Tolong selamatkan anak saya dok.. Saya tidak bisa kehilangan dia. Berapa pun biaya nya, apapun yang diperlukan.. saya siap dok, asal anak saya bisa selamat. " Kata mama Arvi sambil menangis histeris.


" Benar. Saya percayakan keselamatan Arvi pada tim dokter. Apapun yang bisa menyelamatkan anak saya, lakukan saja. " Sambung ayah Arvi memberi ijin.


Setelah menandatangani surat persetujuan dan menyelesaikan berbagai administrasi, akhirnya Arvi yang sudah berada dalam pengaruh obat bius dipindahkan ke ruanh operasi. Terlihat para perawat, dokter dan asisten dokter sudah bersiap dengan berbagai peralatan untuk menyelamatkan Arvi.


Rasa cemas dan khawatir sangat nampak pada raut wajah Shelo, hingga membuatnya tidak fokus dalam bekerja. Sesekali ia melihat ke layar hp namun di abaikannya kembali, seperti tarik ulur.


" Mending lo tanya aja Shel ke sekretarisnya, daripada lo kepikiran. Seharian ini lo ga fokus ngerjain apa apa. Makan juga engga, minum juga engga. " Sahut Mia yang memperhatikan perilaku Shelo dari pagi.


" Ga usah bohong. Kita sahabatan uda ber tahun tahun, gue tau banget kalo lo lagi khawatir. " Pungkas Mia yang hafal dengan sifat Shelo.


Namun, di tengah pembicaraan mereka.. Shelo mendapatkan panggilan dan secepat khilat ia meresponnya seperti sesuatu yang memang dia tunggu sedari tadi.


" Halo Resa. "


" Bu Shelo. Maaf pagi pagi menyita waktu anda. " Kata Resa yang menelepon Shelo diam diam di tangga darurat.


" Gapapa Res. Gimana Arvi?? Aku uda liat berita nya. Apa kata dokter? "


" Pak Arvi sedang di operasi, luka nya cukup parah. Kepala dan tulang rusuknya mengalami pendarahan karena benturan yang keras. "


Mendengar itu, Shelo pun semakin khawatir hingga ia tidak sadar air matanya menetes.

__ADS_1


" Bu Shelo.. Halo??? "


" Iya Res, saya dengar kok. Nanti kamu kabari saya lagi ya hasil operasi nya gimana. "


" Saya harap bu Shelo bisa datang menemani Pak Arvi. Saya tahu permintaan saya pasti sangat lancang, tapi beliau butuh semangat hidup. "


" Ga mungkin Res. Aku ga mau terlibat lagi dengan Arvi, apalagi aku tau kalau keluarga nya pasti disana. "


" Saya akan cari cara untuk membantu anda. Tolong bu, sekali saja sempatkan untuk menemui pak Arvi. "


" Ehmm... oke Res. Kamu kabari aja perkembangan Arvi ya. " Jawab Shelo sambil menghapus air matanya berusaha untuk positif thinking.


" Baik bu. Terima kasih. Kalau begitu saya akhiri dulu. "


Perbincangan mereka pun berhenti. Shelo begitu shock mendengar kondisi Arvi yang cukup parah, ia merasa tidak bersemangat dan berdoa dalam hatinya agar operasi Arvi berjalan dengan lancar.


Mia yang ada di samping Shelo pun ikut memberikan semangat dan menepuk nepuk bahu Shelo.


" Sabar Shel. Semua akan baik baik saja. " Kata Mia merasakan kesedihan Shelo.


7 jam lebih Arvi berada di ruang operasi, berjuang antara hidup dan mati. Orangtua Arvi dengan setia terus menunggu hasil operasi yang saat ini masih berjalan.


" Its oke ma. Arvi anak yang kuat, dia pasti bisa melalui masa kritisnya. " Kata ayah Arvi menghibur istrinya yang tidak henti henti nya menangis.


Beberapa saat kemudian, dr Richard yang bertanggunh jawab atas operasi Arvi keluar dari ruangan.


" Gimana dok? gimana anak saya? " Tanpa memberi celah, ibu Arvi langsung agresif bertanya pada dokter.


" Syukurlah. Operasi berjalan dengan lancar dan pasien berhasil melewati masa kritis. Saat ini kita hanya perlu menunggu beliau sadar dan menjalani perawatan selanjutnya. " Jawaban dokter membuat orangtua dan juga Resa sangat lega mendengarnya.


Mereka begitu bahagia dan akhirnya bisa bernafas lega setelah mengetahui bahwa Arvi bisa diselamatkan.


" Terima kasih dok. " Kata orang tua Arvi bahagia.

__ADS_1


Resa pun tak lupa mengirimkan pesan kepada Shelo tanpa pikir panjang.


" Good job Arvi. Terima kasih kamu sudah bertahan " Gerutu Shelo sangat dan sangat lega setelah membaca pesan singkat dari Resa.


__ADS_2