
Beberapa hari berlalu setelah acara berkunjung dan menginap di rumah ibu Shelo, hubungan kedua sejoli ini semakin tak terpisahkan. Jarak diantara mereka yang berawal dari angka nol kini semakin dekat dan semakin dekat. Seiring berjalannya waktu, cinta dalam hati mereka terus bertumbuh dan rasa trauma Shelo semakin menghilang terlupakan karena kasih sayang Arvi yang hanya ditujukan kepadanya.
Saling perhatian, pengertian, support dan melengkapi… hubungan semacam itulah yang saat ini mereka jalani. Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin tinggi pohon akan semakin kencang angin yang menerpa mencoba untuk merobohkan cinta mereka termasuk dari sisi keluarga Arvi.
Hal tersebut tidak membuat Arvi gentar untuk terus melindungi istri kecilnya yang sudah begitu mempercayai Arvi.
Setiap hari Minggu atau di sela waktu luang Arvi, mereka selalu menghabiskan waktu dengan kencan romantis. Tidak melulu tentang kemewahan, sejak bersama Shelo hari-hari yang dilalui Arvi juga bisa dengan hal-hal sederhana misalnya makan malam di pedagang kaki lima, jalan bergandengan tangan menikmati udara sore hari di taman, nonton bioskop umum layaknya pasangan biasa.
Beberapa moment tentu sempat tertangkap kamera media yang dengan cepat menyebar luas.
“ Arvinas Osmond Mencoba Kuliner Kaki Lima. ”, “Standar yang menurun, Arvinas Memilih Transportasi Umum.”, “ Romansa Unik Arvinas di Taman Sore Ini.”, “Bagaimana Nasib Osmond Group Saat Arvinas Fokus Dengan Asmaranya. ”
Dan masih banyak artikel-artikel lain yang di unggah baik oleh media ternama maupun blog pribadi seseorang yang tanpa sengaja bertemu dengan Arvi.
Hingga beberapa artikel tersebut sampai ke ibu dan ayah Arvi yang ternyata selama ini diam-diam meski berada di London tetapi tetap memantau Arvi dalam menjalankan bisnis di Indonesia. Mereka berusaha memaklumi kehidupan pribadi Arvi bersama istri yang sebenarnya tidak mereka harapkan, asalkan tidak berpengaruh pada nama baik dan harga saham Osmond Group.
Beberapa orang terdekat Arvi lainnya juga tentu membaca beberapa artikel mereka, termasuk Kara yang begitu geram dan semakin benci terhadap dua sejoli ini terutama Shelo. Melihat ketidak pedulian Arvi pada berbagai berita membuatnya semakin marah dan marah.
Di lain sisi, seorang pria berambut pirang dengan pakaian kekinian serba branded sedang duduk santai di business class pesawat sambil membaca beberapa artikel tentang Arvi.. ia pun tersenyum sinis. Pria itu adalah Evan, dia sedang dalam perjalanan kembali ke Indonesia setelah melalui beberapa semester perkuliahannya di Amerika.
Evan yang tampak lebih liar dari penampilannya tidak percaya bahwa hubungan kakak dan gadis yang menjadi korban pelecahannya akan berkembang baik seperti ini.
“ Benar-benar menjijikan. ” gerutu Evan sambil menutup salah satu situs web yang mengupload artikel itu.
__ADS_1
Situasi di ruang meeting Arvi tampak aneh dan tidak nyaman. Beberapa staf dan pejabat yang mengikuti meeting itu tampak sedang bergunjing saat Arvi melakukan presentasi dibantu oleh Resa sebagai mediator. Arvi berusaha sebaik mungkin untuk mengabaikan gunjingan yang jelas terdengar di telinga Arvi.
Sebagaimana diketahui bahwa Arvi adalah pria yang bertanggung jawab atas pekerjaannya, sehingga dia tidak mau ambil hati atas beberapa perkataan atau berita yang tersebar di perusahaan tentang dirinya yang dianggap menurunkan standar hidup sejak menikah dan tidak cocok bagi dirinya yang sudah dari kecil menyandang status putra sulung Osmond Group.
Resa yang begitu setia pada Arvi ikut geram ketika mendengar bahwa bos yang selama hampir 8 tahun dilayaninya mendapat gunjingan yang tidak mengenakkan.
Selesai presentansi, Arvi kembali ke kursinya dan membuka forum untuk menampung berbagai pendapat dari jajaran direksi yang ada disana sekitar 20 orang banyakanya.
“ Untuk pengembangan market furniture terbaru Osmond di wilayah Eropa, saya berharap bisa mencapai target profit minimal 30% sesuai perhitungan.” Kata Arvi tegas sebagai kesimpulan meeting hari ini.
“ Pak Arvi.. Sayaa ingin bertanya tentang kekhawatiran beberapa divisi disini, dengan citra bapak saat ini apakah mungkin bisa mendongkrak market Osmond? Selama ini anda banyak dikagumi oleh kaum hawa, furniture Osmond 70% penjualan berasal dari mereka baik luar maupun dalam negeri. ” Tanya salah seorang senior direksi tanpa ragu mengagetkan orang-orang yang ada disana.
Arvi tersenyum sambil melonggarkan dasinya yang tertata rapi berkat bantuan Shelo pagi ini.
“ Tapi pak, akhir-akhir ini banyak berita murahan tentang anda yang terekspos di media…. ” Lanjut salah satu senior direksi lagi mengkhawatirkan citra Arvi sebagai wajah perusahaan.
“ Ini sangat konyol. Itu adalah kehidupan pribadi saya bersama istri, lagipula saya bukan artis.. jadi tidak perlu menanggapi berita murahan yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Sekian untuk hari ini. ” Pungkas Arvi sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan meeting diikuti oleh Resa.
“ Baru kali ini saya dapat pertanyaan konyol saat meeting. Gak penting. ” Gerutu Arvi kepada Resa sambil terus berjalan ke ruangannya.
Hal yang sama juga dilalui oleh Shelo yang kembali menjadi pergunjingan banyak orang bak seorang artis yang memiliki skandal. Di suatu cafe yang tidak begitu ramai pengunjung terlihat Ayu, Mia dan Shelo sedang menikmati minuman mereka sambil membahas beberapa projek kerjasama yang ingin mereka lakukan.
Setelah menyelesaikan pendidikan, ketiga sahabat ini memutuskan untuk fokus memulai sebuah bisnis bersama di bidang aksesoris wanita daripada mencari pekerjaan di perusahaan yang akan menjadi rutinitas.
__ADS_1
Mereka berencana menyewa salah satu outlet di sebuah mall untuk merintis usaha yang masih mereka anggarkan ini. Terlihat disana Shelo menjadi satu-satunya yang tidak antusias dan lebih banyak melamun.
“ Shel.. kenapa siiihh ?? Jangan cemberut teruuss.. ” Kata Ayu menarik perhatian Shelo.
“ Akhir-akhir ini gue jadi moody banget. Gue ngerasa bersalah sama Arvi, dia jadi masuk banyak pemberitaan karena nurutin kemauan gue. ” Jawab Shelo lesu.
“ Yaelaahh… ngapain juga ngerasa bersalah,dia kan emang suami lo. Terserah kalian dong mau ngapain. ” Jawab Mia mulai emosional.
“ Awalnya gue kira juga begitu, tapi masyarakat khususnya para fangirls dia ga bisa berpikiran begitu. Gue sampai heran padahal Arvi kan bukan artis. ” Kata Shelo sambil menghela nafas lesunya.
Di tengah-tengah percakapan mereka, hal tak terduga pun terjadi. Seseorang dengan mata penuh kebencian tanpa sengaja mendengar percakapan mereka bertiga datang menghampiri.
“ Arvi emang bukan artis, tapi harusnya lo tau dong kalau dia itu pebisnis muda yang sangat diperhitungkan di Indonesia. ” Sahut Kara ketus dengan geram.
“ Kamu ??? ” Kata Sheo terhentak kaget bisa bertemu Kara di café tersebut. Ayu dan Mia pun bertanya-tanya tentang wanita jutek yang tiba-tiba menghampiri mereka.
“ Seharusnya kalau lo punya otak, pikir-pikir dulu sebelum nikahin orang. Lagian lo kan masih muda, gampang banget diajak nikah. Silau ya sama hartanya Arvi. ” Suara Kara cukup keras hingga memancing perhatian pengunjung lain yang tadinya tidak seberapa memperhatikan Shelo.
“ Sekarang gue tau.. kenapa Arvi nolak lo. Emang bener lo itu kaya, cantik dan punya segalanya. Cuma sayang, ga punya manner. ” Balas Shelo tidak merasa takut. Mia dan Ayu pun mencoba mencegah sahabatnya agar tidak makin terpancing.
“ Cewek miskin kayak lo, yang Cuma bergantung dari janda penjual bunga.. tau apa tentang manner. ” Balas Kara lebih sadis bahkan membawa profesi ibu yang selama ini begitu disayangi Shelo.
PLAAKK… tamparan cukup keras mendarat ke wajah cantik Kara. Beberapa pengunjung usil yang mengetahui kejadian itu segera mengabadikan dengan hp mereka. Kara yang begitu geram memperhatikan sekeliling dan playing victim.
“ Naahh… Sekarang kalian lihat sendiri kan, dia ini menantu Osmond Group. Suka kekerasan dan tidak pantas menjadi istri seorang panutan pebisnis muda. ” Sahut Kara memojokkan Shelo yang masih emosi ingin menyerang Kara namun Mia dan Ayu terus mencegahnya.
UPLOAD… itulah pekerjaan kebanyakan manusia jaman sekarang, menyebarkan berita yang dianggap bisa viral dengan segera melalui Inst*gram, T*kTok dan berbagai media lainnya.
__ADS_1