My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 35 (Bagian 1)


__ADS_3

"Ya, Nona? Ada yang bisa saya bantu?" Pelayan toko yang lain mendatangi Helia.


"Saya ingin membeli jam yang itu. Tolong dibungkus," ulang Helia lagi sambil kembali menunjuk jam tangan yang ada di tangan Zetta.


"Tapi, Nona ...." Pelayan tersebut hendak mengatakan sesuatu tapi Helia langsung menahannya.


"Saya tidak masalah berapapun harganya. Saya akan membayarnya bahkan jika harus membayar dua kali lebih mahal dari yang narus dibayar oleh orang lain, karena jam tangan itu hadiah untuk tunangan saya,' ujar Helia sambil melirik sekilas ke arah Zetta.


Perempuan itu tampak puas sekali karena berpikir telah membuat Zetta kesal sekaligus merasa cemburu. Dia tak tahu jika saat ini Zetta tengah setengah mati menahan tawa karena tingkah konyolnya yang terkesan sangat murahan itu.


Helia berpikir diamnya Zetta saat ini karena merasa kalah dan tak berdaya menghadapi dirinya. Tentu saja, sekarang kan Helia sudah menjadi tunangan Keenan secara resmi. Sebentar lagi mereka berdua akan segera menikah. Tentu saja Zetta hanya bisa gigit jari dan meratapi nasibnya. Itulah yang ada dalam pikiran Helia saat ini sehingga dia mengangkat wajah ke arah Zetta dengan congkaknya. Dia tak tahu jika Zetta tak mengatakan apapun dikarenakan perempuan itu tak merasa perlu mengeluarkan suaranya yang berharga untuk menanggapi kelakuan norak Helia.


Toh, sebentar lagi juga para pelayan toko yang melayani Helia akan mengatakan sesuatu yang bisa membuat tunangan Keenan itu malu. Jadi Zetta hanya tinggal menyaksikan sembari memberikan tepuk tangan saja.


"Maaf, Nona. Anda tidak bisa membeli jam ini meskipun bersedia membayar dua kali lipat," ujar pelayan yang melayani Helia kemudian.


Hampir saja Zetta kelepasan tertawa mendengar itu, terlebih saat melihat ekspresi wajah Helia saat ini.


"Apa maksudnya saya tidak bisa membeli jam itu?" tanya Helia tak terima.


"Jam itu adalah jam tangan koleksi eksklusif toko ini, Nona. Hanya member toko ini saja yang bisa membelinya, seperti Nona Zetta," sahut pelayan toko itu menjelaskan.


"Apa?" Helia mengerutkan keningnya. Terlihat semakin tak terima. Baru saja sebelumnya dia merasa menang dari Zetta, sekarang malah harus dipermalukan seperti ini.


"Apa-apaan peraturan seperti itu? Omong kosong," sanggah Helia tak terima.


"Tapi memang seperti itu, Nona. Jam tangan koleksi toko kami pada umumnya bisa dibeli oleh siapa saja. Tapi khusus untuk koleksi eksklusif, hanya member toko kami saja yang bisa membelinya. Dan Nona Zetta sudah menjadi member toko kami selama dua tahun lebih," sahut pelayan toko itu lagi menjelaskan.

__ADS_1


Zetta memang telah menjadi member toko jam tangan ini sejak lama. Dulu, dia jatuh cinta pada salah satu desain jam tangan di toko ini dan membelinya karena merasa jam tangan tersebut akan sangat cocok dikenakan oleh Keenan. Sejak saat itu pula dia jadi sering membeli jam tangan di toko ini hingga kemudian mendaftar menjadi member. Dan semua jam tangan yang pernah dibelinya dia hadiahkan pada Keenan, yang tentunya tak pernah sekalipun dipakai oleh lelaki itu.


Ish, jika mengingat berapa uang yang telah Zetta keluarkan untuk semua jam tangan itu, rasanya benar-benar sangat disayangkan. Entah kenapa dulu Zetta bisa begitu bodoh, seolah tak memiliki otak di kepalanya. Mestinya kan lebih baik uang yang digunakannya untuk membeli semua jam tangan itu dia donasikan saja pada panti asuhan. Jauh lebih bermanfaat.


"Pelayanan toko kalian benar-benar buruk," cela Helia dengan raut wajah kesal.


"Maaf, Nona. Itu sudah jadi peraturan sejak lama dan tak ada pelanggan yang protes selama ini," sahut pelayan toko itu.


"Saya tidak terima kalian memperlakukan saya seperti ini. Saya akan membuat keluhan." Helia masih tak terima.


Mendengar itu, Zetta pun menghela nafasnya dan menoleh ke arah perempuan itu. Cukup sudah. Dia tak akan membiarkan Helia membuat keriibutan di toko ini karena dirinya.


"Hentikan, Helia. Apa kamu tidak malu mau membuat keributan di sini? Kalau Keenan sampai tahu, dia pasti akan sangat marah karena tunangannya membuat malu," ujar Zetta kemudian angkat bicara.


"Hubungi saja dia kalau berani. Dia pasti akan datang ke sini untuk membelaku." Helia malah agak menantang.


Wajah Helia terlihat berubah menjadi pias.


"Aku tidak bisa membayangkan reaksi Keenan saat melihat atitude tunangannya sangat jauh dari kata baik. Dia pasti akan langsung bertanya-tanya, apakah sikap lemah lembutmu selama ini hanya sandiwara saja?"


Helia menatap Zetta dengan kesal, kemudian berlalu dari hadapan Zetta dan meninggalkan toko jam tangan itu dengan kemarahan yang tak bisa disembunyikan. Dia benar-benar merasa murka karena Zetta selalu merebut miliknya, walaupun tentu itu hanya pemikiran Helia saja.


Zetta hanya bisa menghela nafasnya melihat tindakan tak sopan Helia. Dia merasa heran kenapa Keenan sampai jatuh hati pada perempuan yang banyak memiliki kepalsuan seperti Helia.


Zetta akhirnya membeli jam tangan yang sebelumnya mau direbut oleh Helia, lalu pergi untuk bertemu dengan Theo dan merayakan pesta ulang tahun sahabatnya itu. Tapi di dalam lift, Zetta bertemu dengan seorang perempuan yang terasa sangat familier untuk Zetta.


Perempuan itu tinggi, langsing dan juga terlihat sangat ceria. Ah, tak salah lagi. Dia adalah teman baik Theo. Namanya Regina.

__ADS_1


"Hai, ini betul Regina, kan?" tanya Zetta pada Regina dengan sedikit berbasa-basi.


Regina menoleh dan memperhatikan Zetta sejenak.


"Iya, betul, saya Regina. Tapi ini siapa, ya?" tanya Regina sambil mengingat-ingat siapakah gerangan orang yang menyapanya barusan.


"Saya Zetta, temannya Theo," sahut Zetta."


Raut wajah Regina langsung berubah semeringah mendengar itu.


"Ah, iya, Zetta. Maaf, aku tidak terlalu mengenalimu," ujar Regina merasa tidak enak.


Zetta tersenyum pada Regina.


"Tidak apa-apa," sahutnya tanpa drama.


"Tempo hari Theo menyarankan saya untuk meminta bantuan temannya. Dan temannya itu Anda, Nona Regina." Zetta bercerita.


"Ah iya .... Aku ingat. Theo memang mengatakan padaku untuk membantu temannya. Aku baru ingat sekarang. Maaf." sekali lagi Regina mengucapkan permohonan maaf untuk Zetta.


"Iya, tidak apa-apa. Yang penting sekarang kita sudah betemu. Bantuan bisa menyusul." Zetta tampak sangat senang dan bersemangat.


Regina tertawa renyah. Tak lama mereka terdiam, lalu turun dari lift.


"Ngomong-ngomong, Apa anda masih ada acara yang mesti di hadiri?" tanya Zetta.


"Em, tidak juga. Aku rencananya mau langsung pulang."

__ADS_1


"Wah, kalau begitu, kebetulan sekali. Sepertinya Nona Regina ikut saya saja, merayakan ulang tahun Theo," ujar Zetta sembari tersenyum pada Regina.


__ADS_2