
Usai keluar dari lapangan, Roan langsung mendatangi Zetta yang masih setia menunggunya. Langkahnya terlihat cepat dan senyum terus terkulum di bibirnya.
"Aku berhasil, Kak!" Roan bersorak girang. Kini bukan hanya senyum lagi yang ia pamerkan, melainkan tawa renyah.
"Bagus. Dengan begitu aku tidak sia-sia datang ke sini, tidak rugi waktu," jawab Zetta.
"Terima kasih ya, Kak." Roan tetap tersenyum. Sama sekali tidak tersinggung dengan jawaban Zetta yang agak ketus. Dia tahu di balik kalimat itu terselip kebaikan hati yang tulus.
"Roan, selamat ya kamu berhasil menyelesaikan pertandingan dengan baik. Sekarang kamu resmi bergabung menjadi pemain inti," ujar pelatih basket yang saat itu sudah berada di hadapan Roan dan Zetta.
"Terima kasih banyak, Pak. Semua ini juga berkat bantuan Bapak. Terima kasih atas krspatannya." Roan menjawab sambil menunduk hormat.
"Setelah ini jangan bosan atau malas berlatih, terus tingkatkan kemampuanmu. Tunjukkan bahwa kamu benar-benar layak berada di posisi ini."
"Pasti, Pak. Saya janji akan berlatih lebih keras lagi," jawab Roan dengan tegas.
"Bagus. Pertahankan semangatmu." Pelatih basket menepuk pundak Roan beberapa kali.
Setelah itu, pelatih basket menyodorkan surat kontrak resmi kepada Zetta. Wanita itu pun menerimanya dengan senyum lebar, kemudian kembali membubuhkan tanda tangannya. Dan kali ini bukan hanya Zetta saja, melainkan Roan pula ikut tanda tangan di sana.
Tak jauh dari tempat mereka, kawan-kawan yang juga tergabung dalam tim ikut serta menyaksikan keberhasilan Roan. Ada rasa tak percaya dalam benak mereka, mengingat kemampuan Roan yang sebelumnya biasa saja. Namun, hari ini sungguh luar biasa. Dia berhasil mematahkan asumsi orang lain yang yakin bahwa dirinya akan gagal.
__ADS_1
"Selamat untuk kalian semua yang sudah tergabung dalam tim inti. Kita akan diberikan fasilitas yang terbaik, termasuk mobil ketika kalian akan bertanding. Jadi, kalian juga jangan malas berlatih. Teruslah berusaha dan tunjukkan bahwa kalian yang terbaik. Ingat, ada begitu banyak harapan yang digantungkan kepada kalian. Jadi, tetap semangat dan jangan pernah menyerah!" ujar pelatih basket menyemangati anak didiknya.
"Siap, Pak," sahut Roan dan kawan-kawan lain dengan serempak.
Tak lama kemudian, pelatih meninggalkan tempat itu dan menyuruh mereka beristirahat. Namun, Roan tetap bergeming di tempatnya. Dia hanya menunduk dan memandangi surat kontrak yang masih digenggam, tidak ada sedikit pun niatan untuk beranjak dari sana.
Roan terlalu bahagia dengan hasil hari ini, sehingga tak ada hal lain lagi yang lebih menarik. Rasanya masih seperti mimpi bisa mendapatkan posisi itu. Setelah sekian lama diharapkan dan diperjuangkan, akhirnya hari ini berhasil diraih. Sungguh merupakan pencapain terbaik sepanjang hidupnya. Sebuah pencapaian yang belum pernah terbayangkan.
Sebelum Zetta tiba, Roan memang sempat menyerah. Di saat wali murid lain sudah berdatangan, Zetta belum juga menampakkan batang hidungnya. Roan pikir Zetta memang tidak akan datang, karena setelah pertemuan terakhir tidak ada konfirmasi lagi dari wanita itu. Roan sangat sedih tadi, rasanya sudah tak ada kesempatan untuk mencoba.
Di satu sisi, Zetta memang bukan siapa-siapa baginya. Dia hanyalah mantan kakak ipar yang dulu tidak pernah dianggap, bahkan oleh dirinya sekalipun. Namun di sisi lain, Roan tak punya harapan lagi selain Zetta. Kakak dan ibunya tak mau mengerti dengan keinginannya, sedangkan calon kakak ipar juga enggan memberikan bantuan.
"Aduh, maaf sekali ya, Roan. Aku sibuk, banyak urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Sebenarnya aku juga tidak enak menolak begini, tapi mau bagaimana lagi, aku benar-benar tidak sempat. Sekali lagi maaf ya, Roan," tolak Helia ketika Roan menelepon dan meminta tolong padanya. Memang terdengar halus, tetapi tetap saja membuat Roan kecewa.
"Kenapa?" tanya Zetta ketika melihat tatapan Roan yang agak aneh.
"Kak Zetta baik sekali. Meskipun dulu aku sudah bersikap buruk, tapi Kakak tetap baik sama aku. Terima kasih banyak ya, Kak. Kalau tidak ada Kak Zetta, pencapaian ini tidak akan pernah kudapat." Roan memuji Zetta tanpa mengalihkan tatapannya.
"Aku tidak sebaik yang kamu kira," sahut Zetta dengan asal. Namun, tanpa sepengetahuan Roan ia juga mengulum senyum. Harapannya, hari ini menjadi awal yang baik bagi masa depan Roan.
"Tidak apa-apa. Seburuk-buruknya Kak Zetta, bagiku tetap yang terbaik."
__ADS_1
Zetta tak bisa berkata-kata ketika mendengar jawaban Roan. Dia hanya mengulas senyum tipis sambil sedikit menaikkan satu alisnya, tak habis pikir dengan tingkah Roan yang berlebihan. Mungkin, basket memang sangat berarti bagi pemuda itu. Jadi, dia mengekspresikan rasa bahagianya tanpa rasa malu.
Sementara itu, di samping Zetta, Rayden tertawa renyah. Dia tahu bagaimana perlakuan Roan dulu terhadap Zetta, dan sekarang sikapnya sangat bertolak belakang dengan kala itu. Rayden merasa lucu dibuatnya.
"Kamu bersikap seperti ini pada Zetta, apa tidak takut kakakmu marah?" goda Rayden sambil menaikkan kedua alisnya.
Roan tidak menjawab. Dia hanya membuang muka sambil berdecak kesal. Rayden pun makin tertawa melihatnya.
Tak lama kemudian, Zetta mengambil ponselnya karena ada notifikasi pesan, ternyata dari nomor orang yang pernah one night stand dengannya. Zetta mengernyit bingung saat membaca pesan darinya. Lelaki itu memberitahukan informasi tentang keberadaan direktur perusahaan yang akan diakuisisi olehnya.
"Kenapa dia bisa tahu kalau aku merencanakan hal ini?" batin Zetta sambil berpikir keras.
Karena tak ingin penasaran terlalu lama, Zetta pun membalas pesan tersebut. Dia bertanya tentang siapa lelaki itu, juga bagaimana bisa tahu bahwa dirinya akan mengakuisisi sebuah perusahaan. Zetta tak mengalihkan pandangan dari layar ponsel ketika pesan sudah terkirim, sangat tak sabar menunggu balasan darinya.
Sementara itu, di ruang kerjanya Keenan mengerutkan kening. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah Zetta belum tahu bahwa itu dirinya?
"Berarti malam itu dia sama sekali tidak mengingat wajahku," gumam Keenan.
Kemudian, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk berbohong pada Zetta. Keenan tak mengaku bahwa itu dirinya, melainkan mengaku sebagai teman Alex.
"Jika dia tahu ini nomorku, pasti nanti langsung menghindar. Lebih baik seperti ini saja. Kulihat dia cukup dekat dengan Alex, jadi pasti mau juga dekat dengan temannya." Keenan menatap pesan yang sudah terkirim sembari berdialog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Benar saja dugaannya. Tak lama berselang, Zetta sudah membalas pesannya. Bahasa yang digunakan lebih luwes dan tidak terkesan menyudutkan seperti tadi. Bahkan, Zetta juga sempat mengucapkan terima kasih padanya.
Keenan bergeming sejenak usai membaca pesan tersebut. Dalam benaknya ada rasa lega, tetapi ada pula rasa miris. Kemudian, perasaan bersalah yang makin mendominasi.