My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 69


__ADS_3

Mendengar laporan dari bawahan, pria bertopeng menegakkan duduknya sambil melipat tangan di dada. Kemudian, dia memberikan perintah keji tanpa memikirkan tanggapan Keenan ataupun Jordan.


"Jika dia belum sadar, manfaatkan kesempatan untuk bersenang-senang! Sentuh dia sesukamu, lampiaskan hasrat sampai kau puas!"


Rahang Keenan mengeras, bersamaan dengan tangan yang mengepal erat. Andai saja pria bertopeng ada di hadapannya, pasti langsung dihajar tanpa ampun. Namun, kini mereka hanya terhubung lewat panggilan video, jadi Keenan hanya bisa mengumpat dan memaki.


"Dasar lelaki brengsek! Pengecut kamu! Awas saja jika kamu berani menyentuh Helia, aku tidak akan segan untuk membunuhmu!" umpat Keenan disertai tatapan tajam. Meski kini posisinya dan Jordan berada dalam pihak yang cenderung kalah, tentu dia bisa diam saja melihat kekasihnya itu hendak dilecehkan.


Jordan sendiri juga sampai menggebrak meja saking murkanya.


Akan tetapi, pria di seberang sana sama sekali tidak gentar. Dia hanya tertawa saat mendengar umpatan dari mulut Keenan serta Jordan, seolah itu adalah sesuatu yang menggelikan, bukan menakutkan.


Merasa diremehkan, Keenan maupun Jordan kembali mengumpat dengan lebih kasar. Sampai akhirnya, pria di seberang sana beranjak sambil membentak.


"Cukup!"


Keenan masih bergeming sembari mengatur deru nafas yang sangat memburu. Tatapannya menyiratkan kebencian yang tidak terkira.


"Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah melakukan hal buruk terhadap Zetta! Entah itu pada fisiknya ataupun bisnisnya! Jika kamu atau anakmu tetap mengusik dia, aku tidak akan segan-segan menghancurkan perusahaanmu, Jordan!" bentak pria itu. Terdengar mengerikan, terlebih tidak ada sebutan 'tuan' lagi. Bisa ditebak betapa besar amarahnya.


Belum sempat Keenan atau Jordan menyahut, tiba-tiba panggilan tersebut sudah berakhir. Layar ponsel kembali gelap dan sosok pria bertopeng hilang begitu saja. Yang tersisa hanya Jordan dan Keenan, yang masih dilanda kepanikan.


"Nomornya tertinggal, kita bisa melacak lokasinya dengan ini," ujar Jordan sambil menatap deretan nomor milik pria bertopeng dalam riwayat panggilan.


"Benar, Paman. Kita harus bergerak cepat, jangan sampai kehilangan jejaknya." Keenan menyahut sambil mengambil ponselnya sendiri. Dia menghubungi Gerry, menyuruhnya bekerja sama dengan orang-orang suruhan Jordan. Mereka ditugaskan melacak keberadaan pria bertopeng dan juga Helia.


Karena bukan masalah yang sepele, mereka menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menemukan lokasi Helia.


Setelah berhasil tiba di lokasi pun, mereka masih dihadapkan pada masalah pelik. Gerry beserta orang-orang suruhan Jordan, harus melawan pria bertopeng yang jumlahnya ternyata ada beberapa orang. Entah yang mana pria bertopeng yang berbicara kurang ajar pada Keenan dan Jordan tadi.


Rombongan pria bertopeng itu terdesak dan melarikan diri dengan menggunakan sebuah mobil tanpa plat nomor. Sepertinya mereka hanya anak buah saja, sedangkan bos mereka yang ada di panggilan video sebelumnya sudah kabur terlebih dahulu.


"Helia! Helia!" teriak Keenan sambil berlari memasuki ruangan. Dia sangat terkejut mendapati Helia dengan keadaan Helia yang mengenaskan.


"Nona Helia masih pingsan, Tuan," jawab Gerry. Meski cukup keras ia berusaha membangunkannya, tetapi Helia tetap setia menutup mata.

__ADS_1


Pikiran Keenan mendadak kalut. Ucapan pria bertopeng yang menyuruh anak buahnya untuk melecehkan Helia, kini kembali terngiang. Lalu dalam hati bertanya-tanya, apakah mereka benar-benar menyentuh Helia?


"Arghh!" Keenan menggeram kesal, sangat benci dengan pikiran itu. Dirinya saja tak pernah menyentuh Helia, jangan sampai orang-orang biadab itu menyentuhnya lebih dulu.


Sementara itu, Jordan datang beberapa saat kemudian, terlihat tak kalah syok melihat keadaan putrinya.


"Cepat bawa Helia ke rumah sakit!" teriak Jordan panik.


Keenan bergegas mengangkat tubuh Helia dan membawanya pergi dari sana. Ia melangkah cepat menuju mobil dan membaringkan Helia di bangku belakang.


'Kamu harus selamat, Helia,' batin Keenan sembari mengambil posisi di kursi kemudi.


Beberapa saat kemudian, mobil Keenan sudah melaju meninggalkan tempat itu. Ia menginjak pedal gas kuat-kuat dan melesat menembus jalanan yang padat. Tak peduli meski banyak kendaraan yang berlalu-lalang, Keenan dengan berani mengemudi dalam kecepatan tinggi. Yang ada dalam pikirannya saat itu hanya satu, rumah sakit. Harus tiba tepat waktu, jangan sampai terlambat dan berakibat fatal.


Jordan sendiri menyusul juga dengan mengendarai mobilnya. Wajah lelaki itu tampak kaku. Entah apa yang ada dalam benaknya saat ini.


Usai menempuh perjalanan yang menegangkan, Keenan sampai juga di rumah sakit. Dengan cepat ia turun dan memanggil bantuan.


"Berikan penanganan yang terbaik untuk dia," ucap Keenan ketika tubuh Helia sudah dibaringkan ke atas brankar.


"Apa yang terjadi pada Helia?" gumam seseorang yang tak lain adalah Theo. Saat itu ia dan Zetta sedang berada di sana karena kebetulan sedang membesuk seseorang.


Karena penasaran, Theo melangkah pelan dan mendekati Keenan, mencari tahu apa sebenarnya terjadi.


'Dia korban penculikan!'


Satu kalimat yang berhasil Theo tangkap ketika berdiri cukup dekat dengan Keenan.


Sebuah informasi yang membuatnya mengernyitkan kening.


Mengapa bisa? Siapa yang menculik? Pikirnya.


Usai mendapat jawaban, Theo bergegas pergi menemui Zetta. Ternyata, sahabatnya itu sudah keluar dari ruangan. Theo langsung mendekatinya dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Aku barusan melihat Keenan, dia membawa Helia ke sini. Katanya perempuan itu jadi korban penculikan dan sekarang kondisinya cukup buruk."

__ADS_1


"Hah? Kamu serius?" tanya Zetta. Matanya membelalak, nyaris tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


Theo mengangguk, "Iya. Aku juga sempat terkejut tadi."


"Siapa kira-kira yang menculik Helia?"


Theo mengedikkan bahu, tidak tahu dan tak bisa menebak siapa seseorang yang menjadi dalang dari penculikan Helia.


"Ya sudahlah, bukan urusan kita. Jordan juga bukan orang baik, mungkin saja salah satu musuhnya. Ayo pulang saja, aku lelah hari ini!" ucap Zetta beberapa saat kemudian. Dia berusaha untuk tak peduli dan tak mau tahu pada perempuan yang suka mencari gara-gara dengannya itu, meskipun hati nuraninya sendiri tentu merasa sedikit tercubit.


"Baiklah, ayo." Theo tidak membantah, langsung saja setuju dengan ajakan Zetta.


Namun, ketika keduanya belum jauh melangkah, tiba-tiba Keenan datang dan menghentikannya. Zetta membuang nafas kasar sambil memutar bola mata, sangat jengah karena harus berhadapan lagi dengan Keenan.


"Zetta, kenapa kamu ada di sini?" tanya Keenan dengan tatapan yang menelisik.


"Menjenguk orang sakit." Zetta menjawab datar.


"Siapa?"


Zetta berdecak kesal, "Alex. Sudah ya, aku mau pergi. Jangan tanya-tanya terus, karena itu tidak ada hubungannya dengan kamu!"


Keenan diam seketika. Selama ini dia tahu Alex berada di luar negeri dan belum ada tanda-tanda pulang. Lalu, mengapa tiba-tiba ada di sini dalam keadaan sakit. Apakah ada sesuatu yang tidak Keenan tahu?


'Apakah dia ... pria bertopeng itu? Selama ini dia sangat dekat dengan Zetta, kan?' batin Keenan dalam diamnya.


Tanpa mengucap satu kata pun, Keenan berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Zetta. Kemudian, menghubungi Gerry dan menyuruh lelaki itu untuk menyelidiki Alex. Pria bertopeng benar-benar dia atau bukan. Karena terus terang, saat ini Keenan sangat curiga dengannya.


"Aku ingat dia pernah mengirim cincin mahal untuk Zetta. Aku yakin dia bukan orang sembarangan, dan mereka pasti punya hubungan yang tidak sederhana," gumam Keenan setelah selesai menghubungi Gerry.


***


Hai, Kakak2 semua. Saya mau kasih informasi kalo bab ini bab terakhir saya ikut outline dari NT. Rencananya ke depannya novel ini akan saya tulis sesuai dengan alur saya sendiri, tentunya setelah minta izin ke editor. Semoga nanti alurnya jadi lebih jelas dan ga terkesan muter-muter lagi. Saya juga berusaha untuk menamatkan cerita ini secepatnya dengan memberikan ending yang memuaskan.


Jadi, mohon untuk kembali bersabar, ya. Sekarang saya sedang menyusun outline gimana supaya cerita ini bisa lebih berbobot dan semua permasalahannya bisa terselesaikan dengan baik tanpa kesan bertele-tele. Spoiler, versi asli cerita ini mungkin Keenan sama Zetta bakal dibikin balik, tapi saya bakal improve. Keenan udah terlanjur bego, jadi saya ga sudi bikin dia balik sama Zetta. Jadi kalian tenang aja. Saya juga lega saat dapat izin buat menyelesaikan cerita ini versi saya, ga sesuai dengan versi aslinya. Tapi sekali lagi, sediain stok sabar yang banyak, ya.

__ADS_1


__ADS_2