
Setelah tiba di tempat skating, Zetta dan Theo memutuskan untuk bermain sebentar. Namun, Zetta merasa bingung saat melihat peralatan yang akan digunakan. Semuanya berukuran sama, ia tak tahu harus memilih yang mana.
"Kenapa?" tanya Theo ketika melihat Zetta kebingungan.
"Sama semua. Tidak tahu harus ambil yang mana," jawab Zetta.
Theo tertawa. Kemudian, mengambil satu dan memasangkannya ke kaki Zetta. Wanita itu tidak menolak, sekadar diam dan memandangi arena bermain.
"Sudah siap. Ayo!"
Zetta bergeming dan tidak mengindahkan ajakan Theo. Meski peralatan sudah terpasang, tetapi ia tak berani bergerak. Selama ini Zetta tak pernah bermain ice skating, jadi dia agak takut untuk memulainya.
"Kenapa lagi?" Theo memandangi Zetta yang berulang kali mengembuskan nafas kasar.
Zetta tidak menjawab pertanyaan Theo. Namun, lelaki itu paham setelah melihat arah pandangan Zetta yang tak lepas dari arena. Selain itu, dalam wajahnya juga tergambar jelas raut kegelisahan.
"Jangan takut, ada aku di sini. Ayo aku ajari!" ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Pelan-pelan ya, awas saja kalau aku sampai jatuh." Meski bibirnya mengomel, tetapi Zetta menyambut uluran tangan Theo.
"Kamu itu istimewa, mana mungkin kubiarkan jatuh."
Alih-alih terharu atau terbawa perasaan, Zetta justru mencibir ketika mendengar jawaban Theo. Entah serius ataupun tidak ucapan sahabatnya itu, Zetta tetap menganggapnya sebagai candaan.
Tak lama kemudian, Theo dan Zetta mulai berseluncur. Keduanya beriringan dengan tangan yang saling bertautan. Tawa renyah terukir di bibir Zetta, ternyata bermain ice skating tidak seburuk yang dia bayangkan.
Akan tetapi, tawa Zetta mendadak hilang dalam beberapa saat setelah berseluncur. Dia bertemu dengan dua orang yang sangat dihindari, siapa lagi kalau bukan Keenan dan Helia. Mereka juga berseluncur di sana. Dunia memang sangat sempit, di mana-mana harus bertemu dengan mereka, pikir Zetta saat itu.
"Sayang sekali, tempat sebagus ini harus ternoda karena ada pengunjung yang tidak tahu malu mengumbar kemesraan," sindir Helia ketika melihat Zetta dan Theo bergandengan tangan.
Awalnya, Zetta tak acuh dan mengabaikan mereka begitu saja. Namun setelah mendengar sindiran itu, Zetta berhenti dengan tangan yang mengepal. Akan tetapi, sebelum dia memberikan jawaban yang tak kalah pedas, ternyata Theo yang lebih dulu menyahut.
__ADS_1
"Sebenarnya, bergandengan tangan dengan pasangan itu adalah hal wajar. Tapi, jika hati sudah dipenuhi iri dan dengki, jatuhnya tetap salah dan bikin emosi. Tak heran sih, sudah kelihatan kalau hubungannya sendiri tidak harmonis. Mungkin saja ... pasangannya masih mencintai mantan," ucap Theo sambil tersenyum miring.
Berbeda dengan Zetta yang menahan tawa, Helia merasa kesal dibuatnya. Ucapan Theo langsung mengingatkannya pada kejadian malam itu, di mana Keenan menggendong Zetta dan membawanya masuk ke ruangan. Sebuah kejadian yang membuatnya nekat menjatuhkan diri di tangga darurat.
"Aku dan Keenan saling mencintai. Dari dulu sampai sekarang hanya aku yang dia cintai, bahkan perbuatan licik seseorang pun tidak bisa mematahkan kenyataan itu. Oh ya, kalau kamu bicara tentang mantan, harusnya bicarakan itu dengan pasanganmu. Dia pernah mencintai seseorang sangat dalam, benarkah sekarang sudah move on?" Helia tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa puas karena berhasil membalikkan omongan Theo.
"Jika pasanganmu benar-benar jujur, harusnya kamu tahu siapa yang menggugat cerai. Dia atau Zetta? Dari sana akan terlihat jelas, siapa yang move on lebih dulu," jawab Theo masih tak mau kalah.
"Bisa saja dia menggugat cerai karena terpaksa, karena tidak ada pilihan lain selain pisah. Kamu sudah tahu, kan, kalau Keenan akan menikahiku? Jadi, apa menurutmu masih ada gunanya mempertahankan pernikahan tanpa cinta itu?" Mata Helia memicing tajam meski suaranya tidak terlalu tinggi. Ia sangat kesal dengan Theo.
"Kamu benar, menikah dengan dia memang tidak ada gunanya. Maka dari itu, dengan suka rela Zetta memilih pisah. Tapi yang kuherankan, kenapa kamu dengan bangga menggantikan posisi Zetta? Sekarang dia meninggalkan Zetta demi kamu, tidak menutup kemungkinan nanti kamu juga ditinggalkan demi wanita lain. Mungkin ... dari dulu dia memang pacarmu. Tapi, setelah enam tahun menikah dengan Zetta, kamu yakin perasaannya masih sama seperti dulu?"
Helia mengepal erat, emosinya kali ini sudah mencapai ubun-ubun. Kalimat yang terlontar dari mulut Theo sangat tajam dan tepat sasaran, sialnya ia harus memutar otak untuk menjawabnya.
"Sudah, ayo pergi!" ujar Keenan sebelum Helia menjawab perkataan Theo.
"Tapi ...," ucapan Helia terhenti begitu saja. Ia gagal melayangkan protes karena wajah Keenan sangat masam. Ia tak ingin memperburuk suasana hati lelaki itu.
"Mulutmu pedas," ucapnya.
"Biar dia mikir ulang kalau mau mengganggu kamu lagi," sahut Theo.
"Benar juga sih. Tapi ... apa dia sungguh percaya kalau kita ini pasangan?"
Theo mengangkat bahu dengan asal. Namun, beberapa saat kemudian ia kembali membuka suara.
"Kalau kamu mau meyakinkan dia, kita jadi pasangan yang sungguhan saja. Aku lebih tampan daripada Keenan, kok. Kamu tidak akan rugi membuang lelaki itu demi aku," ucapnya.
"Dasar!" Zetta memukul lengan Theo sambil pura-pura melotot. Kemudian, keduanya tertawa bersama-sama.
Tak jauh dari tempat mereka, Keenan mengerutkan dahi dengan perasaan yang mulai dikuasai emosi. Dia tidak suka dengan kedekatan Zetta dan Theo. Apalagi jika mengingat ucapan Zetta malam itu, ah makin sebal saja dia.
__ADS_1
Saking kesalnya dengan Zetta dan Theo, Keenan sampai kurang fokus dengan Helia. Obrolan kekasihnya itu hanya ditanggapi dengan satu-dua kata saja. Bahkan, saat Helia mengajaknya berseluncur, Keenan hanya mengiyakan di tempat. Kakinya tetap diam dan tak ada niatan mengejar Helia.
"Aku juga bisa berseluncur seperti dia," ucap Zetta yang juga melihat aksi Helia. Wanita itu berseluncur bebas dan Zetta tak ingin kalah darinya.
"Aku temani." Theo menanggapi.
"Tidak, aku sendiri saja. Dia bisa, aku juga pasti bisa." Usai menolak tawaran Theo, Zetta langsung menggerakkan kakinya dan ia pun berseluncur seorang diri.
Melihat Zetta berseluncur, Keenan tergerak untuk mengikutinya. Tanpa membuang waktu, ia langsung mengambil posisi di belakang mantan istrinya itu.
Tak lama kemudian, Zetta meluncur cepat dan mulai kehilangan kendali. Niat hati ingin mengimbangi Helia, malah gagal karena tubuhnya kehilangan keseimbangan. Akhirnya, dia jatuh terjerembab di arena skating tersebut.
"Aduh!" Zetta agak kesakitan karena terjatuh cukup keras. Ia berusaha bangkit, tetapi sulit karena lututnya terasa nyeri.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Keenan sambil merangkul tubuh Zetta dan membantunya berdiri. Pandangan matanya penuh kekhawatiran, seakan-akan takut jika terjadi sesuatu dengan Zetta.
"Iya, terima kasih," jawab Zetta dengan singkat. Menyesal dia menolak tawaran Theo karena akhirnya malah jatuh dan ditolong Keenan, sangat menyebalkan.
"Biar aku bantu," ujar Keenan saat melihat Zetta kesulitan melangkah.
"Tidak usah, aku bisa sendiri." Zetta bersikeras menghindar. Pikirnya, lebih baik menahan nyeri di lutut daripada kembali menerima bantuan dari Keenan.
***
Yang kesel dengan jalan ceritanya, pengen maki-maki, dipersilakan.
Yang ga sabar karena rahasia Helia belum juga ketahuan sama Keenan, terus mau menghujat, dipersilakan.
Jangankan kalian, Emak aja sebel nulisnya. Ga tahu NT mau cerita ini dibawa kemana, muter-muter kayak komedi puter. Ngeselin🙄
Semoga aja ntar Zetta nikah sama Theo, Alex, Rayden atau Roan. Terserah mau sama siapa aja, yang penting jangan balik sama Keenan😑
__ADS_1