My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 36


__ADS_3

Regina agak terperangah, tak menduga jika wanita beraura jahat itulah yang menjadi tunangan Keenan. Sangat aneh karena dilihat dari segi mana pun, Helia tidak lebih baik dari Zetta.


Lalu, dia kembali menatap ke arah mereka, termasuk wanita yang berpenampilan mewah. Regina mengenalinya, dia adalah Razta, cucu dari seorang panglima tertinggi di negara tersebut.


"Abaikan saja," ujar Zetta. Dia sudah malas berurusan dengan wanita penuh sandiwara itu.


Namun meskipun Regina mengiyakan ajakan Zetta, tetapi mereka berdua gagal pergi dari sana karena Razta menahannya. Dengan langkah angkuh wanita itu mendekati Zetta dan menatap remeh.


"Kenapa buru-buru? Terlalu sakit, ya, menerima kenyataan jika lelaki yang kamu cintai lebih memilih temanku?" ujarnya.


"Apa hidupmu sangat membosankan, jadi lebih tertarik mengurusi hidup orang lain?" Suara Zetta pelan, tetapi penuh penekanan.


Razta sangat kesal. Dalam hatinya dia menggeram, sangat benci dengan jawaban Zetta yang terkesan melawan.


"Dengar-dengar kau sangat pandai bermain kartu. Bagaimana kalau sekarang bermain melawan Helia, berani?" tantang Razta sambil tersenyum licik. Dia yakin rencananya kali ini berhasil menjatuhkan Zetta.


"Aku setuju, sepertinya itu seru. Tapi, kamu beneran berani kan, Zetta? Kabar burung yang mengatakan kamu pernah kalah puluhan juta, itu tidak benar, kan?" sindir Helia sambil melipat tangan di dada.


Regina muak melihatnya. Selain ucapannya yang menjengkelkan, tatapan wanita itu juga sinis. Tampak jelas jika dia sangat membenci Zetta.


"Dasar wanita ini," batin Regina dengan kesal.


Berbeda dengan Regina yang muak dan kesal, Zetta malah tenang-tenang saja dan berniat menerima tantangan itu. Dia ingat bahwa Theo akan datang terlambat, jadi tidak ada salahnya bermain sebentar dengan mereka. Zetta juga tidak mau jika harga dirinya diinjak-injak begitu saja.


"Oke, kita main bersama," ucap Zetta sambil membalas tatapan Helia. Tidak ada sedikit pun rasa takut yang terpancar dari wajahnya.


Helia dan kedua temannya tersenyum senang saat mendengar jawaban Zetta. Mereka tahu wanita itu pernah main kartu dengan Graham, salah seorang CEO yang pernah menjadi rekan mendiang ayahnya, dan Zetta kalah hingga jutaan rupiah.


"Kenapa kamu setuju? Mereka pasti sengaja untuk mempermalukan kamu?" sesal Regina pada Zetta.


Sama seperti Helia dan kedua temannya, Regina pun pernah mendengar tentang kemampuan Zetta, yang sama sekali tidak mahir dalam bermain kartu. Regina sangat menyayangkan keputusan Zetta. Dia khawatir jika Helia merencanakan hal buruk pada wanita itu.

__ADS_1


"Taruhannya, jika aku yang kalah maka aku akan meninggalkan Keenan dan juga kota ini. Selamanya aku tidak akan kembali. Tapi jika kamu yang kalah, kamu harus mencuci bersih tato yang ada di pinggangmu. Deal?" Helia menyodorkan tangannya dengan penuh percaya diri.


Sebelumnya dia sudah tahu Zetta memiliki tato nama Keenan di pinggangnya. Karena yakin akan menang, Helia memilih hal itu sebagai taruhan. Dia tidak rela jika nama Keenan terus melekat di tubuh Zetta.


"Oke, deal." Zetta menjabat tangan Helia dengan sikap yang masih tenang, tidak ada kekhawatiran ataupun penyesalan atas tantangan itu.


Regina makin tak nyaman melihatnya. Dia menyenggol lengan Zetta, berharap agar wanita itu membatalkan tantangan yang tak masuk akal. Namun, Zetta hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. Tatapan matanya menegaskan bahwa semua akan baik-baik saja.


Akhirnya, Regina hanya bisa mengembuskan nafas panjang. Tidak bisa lagi menahan keputusan Zetta.


"Karena semua sudah deal. Kita mulai sekarang," ujar Razta. Kemudian, dia melangkah menuju salah satu room untuk memulai permainan. Yang lain pun mengikutinya di belakang, termasuk Zetta dan Regina.


Setibanya di dalam room, Zetta dan Helia duduk berhadapan, sedangkan Razta dan Kania duduk di tempat yang sedikit jauh dari mereka.


"Zetta, aku ke toilet dulu ya," pamit Regina ketika permainan sudah dimulai. Dia merasa Zetta akan kalah total, makanya menghindar sejenak untuk menenangkan perasaan.


"Iya."


"Semoga Zetta baik-baik saja," gumamnya.


Setelah menghabiskan satu batang, Regina keluar dan siap kembali ke tempat Zetta. Perasaanya sudah lebih tenang sekarang. Namun, baru saja berjalan beberapa langkah, Regina melihat sosok lelaki yang dikenalnya, Rayden.


"Hai, kamu Rayden, kan? Regina menyapa Rayden sambil menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Saat itu Rayden sedang mengenakan baju pelayan dan membawa nampan, seolah baru saja mengantar pesanan pelanggan.


"Hai, Regina." Rayden tersenyum agak kikuk.


"Aku baru tahu kalau kamu juga bekerja di sini," ujar Regina penuh simpati.


Rayden sedikit bingung. Dia tahu Regina sudah salah paham atas dirinya, tapi terlalu rumit juga untuk menjelaskan. Ya sudahlah, biarkan saja dia dengan pemikirannya.


"Ternyata selain bekerja di bengkel, dia juga menjadi pelayan di sini. Hidupnya pasti tidak mudah," batin Regina ketika melihat Rayden hanya diam. Yang dia simpulkan sebagai pembenaran atas pertanyaan.

__ADS_1


Regina telah salah menilai. Dia pikir Rayden sekadar lelaki miskin yang harus bekerja keras untuk menyambung hidup. Padahal, sebenarnya lelaki itu hanya main game dan kalah bertaruh. Makanya, dia dipaksa menjadi pelayan dan mengantarkan minuman ke teman-temannya.


"Ini nomorku." Regina menyodorkan ponselnya dan menunjukkan nomor miliknya.


Rayden tersenyum, lalu mengambil ponselnya dan kemudian mereka bertukar nomor.


"Aku punya teman seorang bos di perusahaan. Nanti kukenalkan sama dia, siapa tahu kamu bisa bekerja di perusahaannya. Lebih menguntungkan, Ray," ucap Regina menunjukkan kepeduliannya.


"Oh ya?" Rayden berpura-pura antusias. Sudah kepalang tanggung untuk menjelaskan, jadi sekalian saja berlagak seperti orang miskin.


"Iya, kebetulan ini tadi aku ke sini juga sama dia. Namanya Zetta, cantik dan masih muda," jawab Regina.


Rayden tersentak. Ekspresinya seketika berubah saat mendengar nama Zetta. Tapi, dia tidak bertanya macam-macam, justru mengubah kembali ekspresinya seperti semula. Dia bersikap seolah-olah tidak kenal dengan Zetta.


"Nanti kalau ada kesempatan aku kenalin ya. Sekarang aku mau ke sana dulu, dia sudah menunggu." Regina tersenyum tipis sebelum melangkah meninggalkan Rayden.


"Iya, hati-hati."


Rayden tetap menatap punggung Regina sampai wanita itu menghilang di balik dinding. Ketika dirinya masih bergeming di posisi yang sama, ada seorang pelayan yang datang menghampiri.


"Tuan Rayden, di salah satu room ada yang bermain kartu. Anda mau pergi menonton?" tanya pelayan.


"Siapa yang bermain?" Rayden balik bertanya.


"Entahlah, kudengar dua perempuan muda dan kaya. Kalau tidak salah namanya Zetta dan Helia."


Jawaban pelayan membuat Rayden kembali terkejut. Zetta dan Helia sedang bermain bersama, sungguh menarik. Saking menariknya, Rayden sampai tak sadar telah mengulas senyum.


"Lebih menarik lagi kalau hal ini aku beritahukan Keenan. Aku penasaran seperti apa ekspresinya nanti. Mantan istri dan tunangan, ah pasti seru," batin Rayden sambil tetap tersenyum.


"Tuan Rayden!" Pelayan keheranan karena Rayden hanya diam dan senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Ah iya, aku pasti akan menonton," jawabnya dengan penuh semangat.


__ADS_2