
Zetta tersenyum miring saat mendengar pertanyaan Keenan. Entah sebodoh apa mantan suaminya itu sekarang, kebenaran sudah ada di mata, tetapi masih pura-pura buta.
"Tidak ada yang perlu kamu lakukan karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan dia, dan masalah ini juga tidak akan kulupakan begitu saja. Aku akan memanggil polisi agar kekasih tercintamu itu mendekam di penjara!" Mata Zetta melotot tajam, selaras dengan suaranya yang tinggi penuh emosi.
Keenan menarik nafas panjang. Dia sadar bahwa menghadapi Zetta bukan hal yang mudah. Wanita itu sekarang banyak berubah, tidak lemah lembut dan pemaaf seperti dulu lagi.
Di saat Keenan masih memikirkan cara untuk meluluhkan Zetta, tiba-tiba Helia menyahut dan mengatakan kalimat yang membuat Keenan terkejut.
"Panggil saja, Zetta. Jika itu yang membuatmu puas dan bisa memaafkan aku, maka lakukanlah! Polisi juga akan tahu, mana yang salah dan mana yang benar," ucap Helia.
Dia sengaja menyetujui niat itu agar Zetta percaya bahwa dirinya tidak sengaja. Dengan begitu maka Zetta akan menggagalkan niatnya dan memberikan maaf untuknya. Namun, yang terjadi sungguh di luar dugaan. Zetta sama sekali tidak terpengaruh dan tetap pada niat awal.
"Theo, bantu aku menghubungi polisi dan ahli hipnotis. Aku penasaran bagaimana dia akan menjelaskan kejahatannya." Zetta menatap Helia sambil mengulas senyum kemenangan.
Mendengar perintah Zetta kepada Theo, Helia gemetar sesaat. Wajahnya sangat masam karena bukan seperti itu yang ia inginkan. Dia hanya menggertak dan tentu tidak berharap Zetta akan menanggapinya dengan serius.
Karena Theo sudah mengeluarkan ponselnya dan siap menghubungi polisi, Helia pun menggenggam tangan Keenan. Dengan mata yang menatap sendu, ia mengiba di hadapan Keenan. Harapannya Keenan akan luluh dan membantunya menggagalkan niat Zetta. Helia tak ingin masalah itu dibawa ke ranah hukum.
"Keenan, aku benar-benar tidak sengaja. Tapi, dia bersikeras menyalahkanku. Apa karena aku bersamamu, jadi dia selalu buruk dalam menilaiku?" ujar Helia. Suaranya pelan dan syarat akan penyesalan, membuat Zetta dan Theo ingin muntah mendengarnya.
Namun, berbeda dengan Keenan. Lelaki itu menanggapi pengakuan Helia dengan lembut, bahkan tangannya dengan mesra mengusap wajah yang masih memasang raut masam. Entah apa yang mendasari Keenan melakukan itu meski dia tahu Helia memang sengaja hendak mencelakai Zetta.
"Tenanglah, apapun yang terjadi, polisi tidak akan menangkapmu," ujarnya pada Helia.
__ADS_1
Helia langsung tersenyum saat mendengar jawaban Keenan. Ia bangga karena posisinya lebih unggul dari Zetta.
"Kamu sama sekali tidak ada artinya bagi dia. Sampai kapanpun jangan bermimpi untuk bersaing denganku, karena sekarang atau nanti yang Keenan cintai hanya aku," batinnya sambil melirik Zetta.
"Aku tidak tahu sebutan apa yang paling pas untukmu, Keenan. Bodoh atau sangat bodoh. Aku tahu sebenarnya kamu sudah sadar kalau Helia itu salah. Tapi, kamu sengaja menutupi semua ini demi melindungi dia. Benar, kan?" ejek Theo dengan sangat kesal. Ia sungguh muak melihat kebodohan Keenan yang tidak ada habisnya.
"Benar, aku tahu kalau Helia memang melakukan itu dengan sengaja. Tapi aku memastikan jika dia tidak akan mengulangi hal itu lagi. Makanya, aku juga harus memastikan Zetta tidak memperpanjang masalah ini." Keenan dengan tegas mengakui tuduhan Theo, tanpa memedulikan pandangan Theo terhadap dirinya atau perasaan Zetta yang pernah mencintainya.
"Kamu keterlaluan, Keenan," sahut Zetta.
Sakit dan sesak dalam hatinya saat mendengar pengakuan Keenan yang begitu gamblang. Tidak ada keraguan atau kebimbangan sedikit pun bagi Keenan untuk membela Helia, meskipun perempuan itu telah melakukan sebuah kejahatan yang serius.
Zetta jadi teringat dengan kehidupannya selama enam tahun bersama Keenan. Apa pun yang ia lakukan tidak ada benarnya, semua selalu salah di mata lelaki itu. Padahal, dirinya sudah mengorbankan waktu dan harga diri.
"Baiklah jika memang ini yang kamu mau, Keenan. Aku tidak akan segan lagi." Zetta bermonolog dalam hati sambil tersenyum sinis. Dia punya rencana brilian untuk mengambil keuntungan dari kebodohan Keenan.
Sementara itu, Keenan membuang psmdangannya dan menghindari tatapan Zetta yang sangat tajam. Dia tahu sikapnya salah dan pasti membuat Zetta muak padanya, tetapi apa boleh buat. Dia tidak ingin Helia masuk penjara, seperti halnya dulu dia tak ingin Zetta masuk penjara.
"Aku bisa saja memaafkan dia dan menganggap masalah ini selesai tanpa harus melibatkan polisi. Tapi ... dengan satu syarat," ucap Zetta dengan lantang.
Seketika Keenan mendongak dan membalas tatapan Zetta, "Apa syaratnya?"
Zetta tersenyum miring, "Gara-gara dia aku sampai masuk rumah sakit. Jadi aku minta kompensasi untuk itu."
__ADS_1
"Berapa yang kamu mau?"
"Aku tidak mau uang."
"Lalu?" tanya Keenan, penasaran dengan apa yang Zetta inginkan. Dan bukan hanya Keenan saja, melainkan juga Theo dan Helia. Ketiganya penasaran dengan keuntungan yang akan diambil oleh Zetta.
"Aku mau sebidang tanah yang akan kamu jadikan hadiah pernikahan untuk Helia," kata Zetta dengan tenang.
Keenan dan Helia terkejut karena permintaan Zetta agak keterlaluan. Setelah dulu mengambil hadiah pertunangan, sekarang menginginkan hadiah pernikahan. Entah sejak kapan dia berubah menjadi wanita yang selicik itu.
Keenan pun menggelengkan kepala, sama sekali tidak setuju dengan keinginan Zetta yang melewati batas.
"Aku tidak bisa. Itu adalah hadiah pernikahan, jadi tak akan kuberikan pada orang lain," ujarnya.
"Tidak masalah. Pilihan ada di tanganmu, aku tidak akan memaksa. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu. Polisi dan hukum tidak tunduk di bawah kakimu. Boleh saja kamu melindungi dia sekeras yang kamu bisa, tapi hukum akan berjalan sebagaimana mestinya. Kamu pikir setelah melaporkannya, aku hanya akan menunggu dengan diam? Maaf, aku tidak sebodoh kamu. Aku pasti melakukan sesuatu untuk melawanmu, Keenan." Senyuman Zetta makin mengembang. Puas sekali menggertak hingga Keenan terlihat cemas.
Keenan tidak langsung menjawab. Dia masih berpikir keras karena yakin ucapan Zetta barusan bukan hanya candaan. Kemudian, Keenan teringat dengan keberadaan Theo dan Alex. Mudah saja mereka membantu Zetta untuk menjebloskan Helia ke penjara.
"Tuduhanku bukan tidak berdasar. Helia memang bersalah dan kamu pun sudah mengakui itu. Jadi, kamu pasti mengerti bahwa aku bisa mencari barang bukti. Dengan kenyataan yang seperti ini, yakin kamu bisa melindungi Helia?" Zetta bicara lagi karena Keenan tidak juga memberikan jawaban.
Zetta menunggu saat. Namun, Keenan masih tetap diam.
"Atau jangan-jangan ... kamu lebih mencintai sebidang tanah itu dibandingkan dia? Jadi tidak masalah dia dipenjara, asalkan tanah itu tetap menjadi milikmu. Masuk akal sih, wanita bisa dicari lagi, tapi kalau harta agak susah karena butuh kerja keras."
__ADS_1
"Baik, aku setuju. Aku akan memberikan tanah itu sebagai kompensasi," sahut Keenan dengan cepat. Panas hatinya ketika mendengar ucapan terakhir Zetta.