My Beloved Ex-wife

My Beloved Ex-wife
Bab 70


__ADS_3

Pemberitaan tentang Helia yang dilecehkan membuat publik gempar. Meski Jordan maupun Keenan berusaha sebaik mungkin agar hal itu tidak sampai oleh orang lain, tapi tetap saja beritanya bocor. Tentu saja hal itu membuat Helia menjadi menjadi tertekan secara mental. Dia seringkali menjadi histeris dan menangis sendirian, sehingga mesti ditenangkan dengan menggunakan obat penenang.


"Zetta, pasti perempuan itu yang telah melakukan semua ini. Pasti dia!" Jordan menggeram dengan penuh emosi, sedangkan Alma hanya menangis melihat keadaan Helia.


Keenan diam. Sebenarnya dia tak yakin jika Zetta yang melakukan semua itu. Tapi melihat perubahan diri Zetta belakangan ini, kecurigaan itu mau tak mau muncul di hatinya. Mungkinkah Zetta ingin membalas dendam pada sikap Keenan selama ini melalui Helia.


Keenan pun bangkit dan pergi tanpa berkata-kata. Tujuannya tak lain untuk menemui Zetta dan meminta penjelasan"" dari mantan istrinya itu.


"Ada perlu apa kamu kemari?" tanya Zetta saat Keenan tiba-tiba saja muncul di rumahnya dan memaksa agar mereka bicara


"Kamu yang melakukan itu pada Helia?" tanya Keenan tanpa basa-basi.


Terang saja Zetta terperangah mendengar pertanyaan itu. Sejurus kemudian, dia tertawa terbahak-bahak, membuat wajah Keenan memgeras.


"Kenapa aku harus melakukan itu pada Helia? Apa saat ini kamu mengakui jika dia sering melakukan sesuatu yang sangat buruk padaku, sehingga aku membalas dendam padanya dengan cara membuatnya dilecehkan oleh banyak lelaki?" tanya Zetta. Pertanyaan yang begitu memprovokasi, sehingga mata Keenan tampak menatapnya dengan marah.


"Kalau kamu memang pelakunya, kamu sungguh keterlaluan, Zetta!" sergah Keenan.


"Yang keterlaluan itu kamu, Keenan! Bahkan sampai sejauh ini matamu tetap saja buta! Kamu pikir, aku kurang kerjaan sampai harus mengerjai Helia seperti itu?" Zetta balik menyergah.


"Tidak masalah kalau kamu ingin menutup mata pada sosok asli Helia. Dia memang belahan jiwamu. Kalian berdua adalah pasangan serasi yang sangat cocok satu sama lain. Tapi jangan pernah libatkan aku atas apa yang terjadi pada kalian berdua. Tidak ada alasan bagiku untuk mencelakai Helia karena aku tidak peduli pada hubungan Kalian," tambah Zetta lagi dengan tajam.


Keenan masih menatap Zetta nyalang, tapi mulutnya tak mampu berkata apa-apa lagi.


"Jika kamu datang hanya untuk menanyakan hal ini, lebih baik sekarang kamu pergi! Aku tidak ada urusan dengan Helia, ataupun denganmu. Kalian berdua tidak cukup penting untukku, sampai aku mesti repot-repot melakukan sesuatu di luar nalar." Zetta membuka pintu rumahnya lebar-lebar dan mempersilakan Keenan pergi.

__ADS_1


Keenan akhirnya pergi dengan memendam kekesalan yang dia sendiri tak bisa pahami.


Beberapa hari sejak kejadian itu, belum ada polisi yang mendatangi Zetta untuk menyelidiki apa Zetta terlibat dalam insiden yang menimpa Helia atau tidak. Namun, beberapa kali Zetta mengalami kejadian aneh yang sedikit membuatnya takut. Seperti ada orang yang selalu mengikutinya dan hendak mencelakainya. Zetta menceritakan hal itu pada Theo dan juga Alex.


"Tenang saja, Kak Zetta. Aku akan membuat orang-orang yang berniat jahat padamu menjadi tak bisa melakukan apa-apa lagi," ujar Alex pada Zetta sembari memasang raut wajah yang tak bisa ditebak.


"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Zetta tak terlalu yakin.


"Entahlah. Mungkin kali ini aku benar-benar harus menghancurkan mereka semua," sahut Alex.


"Heh?" Zetta menatap pemuda itu, lalu terkekeh pelan. Sementara Theo menatap ke arah Alex dengan tatapan menyelidik. Dia jadi semakin yakin jika pemuda itu yang bertanggung jawab atas insiden pelecehan terhadap Helia.


Alex, semakin hari dia menjadi semakin misterius. Dia bukan lagi tampak sebagai seorang model papan atas yang dulu disponsori oleh Zetta, tapi sosok lain yang jauh lebih berbahaya.


Selang beberapa saat, di tempat lain, Jordan yang tengah kesal karena orang-orang suruhannya selalu gagal mencelakai Zetta, tiba-tiba saja kembali menerima video call dari lelaki bertopeng.


Jordan menatap lelaki bertopeng itu dengan napas memburu.


"Siapa sebenarnya kau?" tanya Jordan.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku, tapi mestinya kau mendengarkan apa kataku. Susah kubilang untuk jangan mengusik Zetta lagi, tapi kau tetap melakukannya. Sepertinya kau benar-benar meremehkanku. Aku tidak punya pilihan lain selain membuatmu tak bisa melakukan apapun lagi." Lelaki bertopeng itu kembali melontarkan kalimat ancaman.


"Kau pasti orang suruhan Zetta. Perempuan berengsek itu ...."


"Tutup mulutmu dan bersiaplah. Kali ini, aku ragu kamu masih bisa bertahan," ujar lelaki bertopeng itu sambil mengakhiri panggilan videonya.

__ADS_1


"Hei, aku belum selesai bicara!" Jordan berusaha menghubungi balik lelaki bertopeng itu, tapi nomornya sudah tak bisa dihubungi.


"Sialan!" Jordan melempar ponselnya dengan marah. Dia tak terima dipermainkan seperti ini. Dia juga kesal karena para anak buahnya masih belum bisa menemukan siapa lelaki bertopeng itu. Dia juga tak bisa menyentuh Zetta karena pihak kepolisian mengatakan tak ada bukti keterlibatan perempuan itu.


Pagi menjelang saat sebuah pukulan kembali datang untuk Jordan. Anak buahnya datang dengan membawa sebuah kabar yang sangat mengejutkan. Sejak subuh tadi, telah beredar sebuah video lama yang dulu telah Jordan singkirkan. Sebuah rekaman CCTV di atap sebuah gedung yang memperlihatkan Jordan sedang mendorong seorang lelaki sampai terjatuh. Lelaki itu tak lain adalah Akram Pieters, ayah kandung Keenan.


"Apa ini? Kenapa rekaman ini bisa tersebar? Aku yakin sekali sudah menyingkirkannya." Jordan meracau dengan tangan gemetar. Sebuah rahasia besar yang dia simpan bertahun-tahun lamanya, bagaimana bisa sekarang terbongkar dan diketahui oleh semua orang?


"Jordan? Apa semua ini?" Alma yang tiba-tiba datang langsung memekik. "Kamu yang menghabisi ayah Keenan? Kamu ...?"


Jordan menatap ke arah istrinya itu dengan mata membeliak. Dia sungguh tak siap dengan situasi ini. Padahal kejadian itu telah terkubur dalam, bahkan telah hilang dari ingatannya. Lalu kenapa sekarang mesti muncul ke permukaan?


"Jordan! Jawab aku, jangan diam saja! Apa kamu sungguh melakukannya?" Alma kembali memekik karena Jordan tak menjawab pertanyaannya.


Belum sempat Jordan membuka mulut, mendadak pintu rumahnya digedor. Dengan ragu Alma pergi ke arah pintu dan membukanya. Beberapa orang petugas kepolisian tampak berdiri di sana.


"Tuan Jordan. Anda ditahan atas dugaan pembunuhan Tuan Akram Pieters sepuluh tahun yang lalu." Salah seorang petugas kepolisian berucap dengan tegas sembari memperlihatkan surat perintah penangkapan Jordan.


Jordan membeku di tempat dengan ekspresi yang sulit dijabarkan.


"Tidak ...." Alma menggelengkan kepalanya tatkala kedua tangan Jordan diborgol.


"Tidak! Jangan bawa suamiku! Tidak!" seru Alma histeris.


Jordan digiring menaiki mobil polisi tanpa perlawanan. Sekali lagi, dia sama sekali tak siap situasi ini sehingga tak tahu mesti berbuat apa.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2