
Bangkai yang disimpan rapat pada akhirnya akan tercium juga. Tabir rahasia itu akhirnya tersingkap. Bukan hanya satu kebusukan Jordan, tapi juga kebusukan-kebusukannya yang lain. Melenyapkan Akram Pieters yang saat itu menjadi rival sejatinya. Membuat ayah Zetta terpuruk dan kehilangan perusahaan, sampai harus kehilangan nyawa juga. Penipuan, penyuapan, penganiayaan. Hampir semua tindakan kejahatan telah dilakukan oleh Jordan. Semua itu terungkap sejak video rekaman CCTV tempo hari beredar luar.
Pihak kepolisian akhirnya dengan mudah mendapatkan bukti semua kejahatan Jordan, padahal selama ini bukti-bukti tersebut seolah telah dibersihkan. Seperti ada yang telah menyiapkan semuanya untuk ditemukan. Tapi entah siapa yang melakukan semua itu.
Nyonya Brenda meratap di depan makam suaminya. Dulu saat ditemukan terjatuh dari atas gedung, pihak kepolisian langsung menyatakan jika Akram Pieters sengaja mengakhiri hidupnya sendiri. Semua percaya dan tak memperpanjang kasus itu. Kini saat semua terungkap, sungguh hal itu bagaikan sebuah petir yang menyambar Nyonya Brenda. Suaminya bukan mengakhiri hidup sendiri, tapi dilenyapkan oleh orang lain. Ironisnya, orang yang melakukan itu adalah Jordan, sosok yang sangat dia agungkan. Bahkan, anak perempuan dari lelaki itupun dia perlakukan layaknya tuan putri.
"Tidak ada gunanya kau menangis sebanyak apapun, Brenda. Hal itu tak akan mengubah keadaan. Anakku tidak akan bangkit lagi." Nenek Amy yang sejak tadi duduk di samping Nyonya Brenda akhirnya bersuara.
"Aku telah melakukan kesalahan yang sangat fatal, Ibu. Bagaimana bisa selama ini aku bersikap dengan begitu baik pada orang yang telah membunuh suamiku. Putrinya ... putri lelaki itu hampir saja menjadi menantuku. Dan aku begitu memujinya di setiap kesempatan," sahut Nyonya Brenda dengan terisak.
"Benar, kau telah membuat kesalahan yang amat fatal. Itu semua karena kau menutup mata pada kebaikan yang sejati. Sekarang terima saja semuanya. Anggap saja Tuhan sedang membantu membukakan matamu yang selama ini kau biarkan buta." Nenek Amy membalas lagi dengan tajam.
Nyonya Brenda mengatup mulutnya. Dia tahu jika ucapan Nenek Amy pasti mengarah pada perlakuannya yang sangat tak manusiawi pada Zetta selama ini. Dia telah bersikap kejam hanya karena ingin Helia yang menjadi menantunya. Siapa sangka jika Helia justru anak dari lelaki yang menghabisi suaminya.
Nenek Amy memejamkan mata sejenak, lalu menoleh ke arah belakang. Di sana tampak Keenan, Griselle dan Roan sedang menunduk dalam. Seperti halnya Nyonya Brenda, ketiga bersaudara itu pasti juga merasakan gejolak kemarahan dan penyesalan di hati mereka.
Helia, gadis itu tidaklah sebaik yang mereka kira. Setelah fakta tentang Jordan, Keenan juga baru saja mendapatkan fakta baru lagi, yaitu tentang identitas dari gadis yang dulu bertukar surat dengannya. Gadis itu bukan Helia, melainkan Zetta.
Keenan melangkah menjauh dari makam ayahnya, lalu menyandarkan tubuh pada sebatang pohon. Ingatan tentang prasangka buruk dan perlakuan tak manusiawinya pada Zetta kembali terlintas di ingatannya. Semua itu tak lain karena dirinya mengira jika Helia adalah sahabat penanya, perempuan yang dia selalu rindukan meski tak pernah saling bertatap muka.
Semakin banyak Keenan mengingat, semakin sesak pula dadanya terasa. Keenan tertawa sambil menengadahkan wajahnya. Menertawakan kebodohannya selama ini. Bahkan, terakhir kali dia masih menuduh Zetta sebagai pelaku pelecehan terhadap Helia. Benar-benar bodoh.
__ADS_1
Keenan akhirnya pergi lebih dulu karena pihak kepolisian hendak meminta keterangan darinya. Di kantor polisi, dia berpapasan dengan Helia dan juga Alma. Kedua perempuan itu tentu saja dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
"Keenan," panggil Helia.
Keenan menoleh dan menatap Helia dengan tajam dan dingin. Perempuan pembohong dan jago akting, kini Keenan tahu seperti apa sebenarnya Helia. Ada rasa jijik dan muak yang kini memenuhi hati Keenan melihat perempuan itu. Bukan hanya pada Helia, dia juga merasa jijik dan muak pada dirinya sendiri yang selama ini begitu mudah diperdaya.
"Kita harus bicara, Keenan. Apa yang dilakukan oleh Papaku sungguh tidak ada hubungannya denganku. Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak bersalah ... Papaku yang jahat, bukan aku ...." Helia meratap, mengeluarkan jurus andalannya. Alma yang berada di sampingnya tampak membeliak karena tak menyangka Helia bisa berkata seperti itu.
"Tutup mulutmu!" sergah Keenan. Setelah semuanya terungkap, kini perempuan itu seolah ingin cuci tangan.
"Jangan berpikir aku masih akan menerimamu setelah semua ini. Mau kau terlibat atau tidak, tetap saja kau perempuan menjijikkan yang penuh dengan kebohongan," geram Keenan dengan nada tertahan.
"A-apa?" Helia membeliak tak percaya mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Keenan untuknya.
"Enyahlah dari hadapanku selamanya. Jika tidak, aku juga akan menuntutmu atas banyak tuduhan. Kau akan menyusul ayahmu itu ke penjara dan aku pastikan kau akan membusuk di sana."
"Keenan?" Helia terlihat semakin tak percaya.
"Dengar, Helia. Membiarkan kau dan ibumu masih tetap menghirup udara bebas adalah batas kebaikanku pada kalian. Jangan memprovokasiku jika tidak ingin berakhir seperti ayahmu juga. Sekarang pergilah dari hadapanku dan jangan sampai kau terlihat olehku lagi!" Keenan membentak sembari memperlihatkan wajah murka, membuat beberapa orang petugas yang berjaga melihat ke arahnya.
"Sudah, Helia. Ayo, kita pergi." Alya menarik tangan Helia.
__ADS_1
Helia masih tak ingin pergi, tapi Alma menyeret gadis itu sekuat tenaga. Pada akhirnya Helia mengikuti langkah Alma, tapi matanya terus menatap ke arah Keenan dengan tatapan tak rela. Dia menolak percaya jika Keenan yang begitu memujanya berpaling dengan begitu cepat.
"Tidak, Ma!" Helia menyentak tangan Alma, lalu berlari memeluk Keenan.
"Jangan tinggalkan aku, Keenan. Aku mencintaimu. Kamu juga sangat mencintaiku. Aku tahu, sekarang kamu marah. Tapi semua itu tidak akan menghapus rasa cinta kita," ujar Helia sambil menangis terisak.
Dengan satu dorongan, pelukan Helia terlepas dan tubuhnya terjungkal ke lantai. Keenan menatap perempuan itu dengan tatapan nyalang yang begitu menusuk.
"Keenan?" Helia bergumam tak percaya.
"Pergi sebelum aku berpikir untuk melakukan sesuatu di luar batas padamu. Kesabaranku sudah mendekati batasnya, Helia," geram Keenan.
Alma menyusul Helia dan membantunya berdiri. Seorang petugas datang melihat keributan itu, tapi Keenan hanya menanggapi sekenanya sembari berlalu.
"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin ...." Helia tercenung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Keenan tidak mungkin meninggalkanku. Tidak mungkin!"
Helia histeris, membuat Alma kewalahan menghadapinya. Pada akhirnya, petugas yang ada di tempat itu membantu Alma menenangkan gadis itu, dan mengantar kedua perempuan itu pulang. Sekali lagi, obat penenang yang akhirnya membantu Helia.
"Tidak, kamu tidak boleh meninggalkanku, Keenan. Kamu hanya cinta padaku. Tidak boleh." Helia meracau di atas tempat tidurnya dengan bibir bergetar.
"Kamu milikku. Tidak ada yang bisa membuatmu berpaling dariku. Kamu milikku ... hahahaha ... kamu milikku, Keenan. Hahahaha!" Suara tawa Helia menggema, membuat Alma buru-buru masuk ke dalam kamar Helia.
__ADS_1
Alma mematung menatap ke arah Helia yang yang tertawa dan menangis secara bersamaan seperti orang gila.
Bersambung ....